cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kadar Nitrogen Urea Darah dan Kreatinin Ayam Pedaging yang Diberikan Tambahan Tepung Belatung Lalat Hitam dalam Pakan Komersial Utomo, Kurniawan Cahyo; Sulabda, I Nyoman; Suharsano, Hamong
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.869

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) dan kreatinin dalam darah broiler setelah diberi pakan tambahan tepung belatung Black Soldier Fly (Hemetia illucens). Objek penelitian adalah broiler (Gallus domesticus) galur CP 707 sebanyak 24 ekor yang dipelihara mulai dari Day Old Chick (DOC) dan mulai diberi perlakuan pada umur 14-35 hari. Broiler dikelompokkan menjadi empat perlakuan yaitu: perlakuan kontrol tanpa pemberian tepung belatung (P0); perlakuan dengan penambahan tepung belatung 1% dalam pakan (P1); perlakuan dengan penambahan tepung belatung 2% dalam pakan (P2); dan perlakuan dengan penambahan tepung belatung 3% dalam pakan (P3). Variabel yang diamati adalah kadar BUN dan kreatinin darah broiler dengan pengambilan sampel darah melalui vena Pectoralis externa, kemudian dimasukkan ke dalam tabung vacutainer Serum Separator Tube (SST) non-EDTA dan sampel darah diperiksa menggunakan alat photometer 5010 di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Bali. Hasil menunjukkan rata-rata kadar BUN ayam pedaging P0, P1, P2, P3 berturut-turut adalah 3,10 mg/dL, 2,83 mg/dL, 3,62 mg/dL, 3,98 mg/dL. Rata-rata kadar kreatinin ayam pedaging P0, P1, P2, P3 berturut-turut adalah 0,68 mg/dL, 0,68 mg/dL, 0,70 mg/dL, 0,70 mg/dL. Data BUN dan kreatinin dianalisis dengan uji sidik ragam dan menunjukkan hasil bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar BUN dan kreatinin darah broiler sehingga pemberian tepung belatung dalam pakan komersil masih relatif aman.
Nilai Eritrosit, Hemoglobin, Hematokrit, dan Indeks Eritrosit pada Anjing Penderita Dermatitis yang Diberikan Madu Trigona Sutadisastra, Nisha Aisya; Suartha, I Nyoman; Sudimartini, Luh Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.126

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian madu trigona segar dan madu trigona kapsul terhadap nilai eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit pada anjing penderita dermatitis. Penelitian ini menggunakan sampel darah dari 14 ekor anjing berusia antara 2-6 bulan yang dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok I (2 ekor) sebagai kelompok kontrol (tidak diberikan madu), kelompok II (6 ekor) diberi madu trigona segar sebanyak 5 mL/hari, dan kelompok III (6 ekor) diberi madu trigona kapsul dengan takaran 110 mg/hari. Pemberian madu trigona dilakukan secara oral setiap hari sekali pada sore hari selama 35 hari. Pengambilan darah dilakukan seminggu sekali pada minggu ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5. Pengujian sampel darah dilakukan dengan alat hematology analyzer, data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam pola berjenjang. Hasil analisis nilai eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit pada anjing penderita dermatitis menunjukkan bahwa pemberian madu trigona segar maupun madu trigona kapsul secara oral tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan pemberian madu trigona dengan takaran yang diberikan belum mampu meningkatkan jumlah eritrosit, hemoglobin, hematokrit, dan indeks eritrosit ke batas normal pada anjing penderita dermatitis.
Celup Kaki Tanpa Disinfektan Adalah Faktor Risiko Paling Tinggi Menyebabkan Babi Mati Mendadak pada Peternakan di Gianyar, Bali Adiwinata, Putu Diva; Agustina, Kadek Karang; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.39

Abstract

Usaha peternakan babi di Bali berkembang secara pesat seiring dengan meningkatnya kebutuhan produk asal babi. Keberadaan ternak babi tidak terlepas dari berbagai permasalahan salah satunya serangan penyakit. Beberapa penyebab terjadinya kematian babi secara mendadak adalah demam babi Afrika (African Swine Fever/ASF), hog cholera (Classical Swine Fever/CSF) dan streptococcosis. Hal ini disebabkan karena belum tersedianya vaksin untuk ASF dan sering terjadinya kegagalan vaksinasi pada S. suis dan CSF. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rancangan strategi pencegahan dan pengendalian yang disesuaikan dari pengetahuan tentang identifikasi dan alokasi risiko untuk masuknya penyakit yang dapat dihasilkan secara transparan melalui penilaian faktor risiko. Sebanyak 82 peternakan babi yang mengalami kematian mendadak pada bulan Januari sampai Desember 2020 dijadikan objek penelitian. Peternakan babi berada di Kecamatan Payangan, Tegalalang, dan Tampaksiring, Gianyar. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional dengan metode cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Data yang diperoleh ditabulasi selanjutnya dilakukan penghitungan Odd Ratio dan Confident interval 95% menggunakan Statistical Product and Service Solutions. Hasil analisis menunjukan 7 dari 12 parameter faktor risiko diidentifikasi sebagai faktor risiko potensial yang signifikan terhadap kejadian babi mati mendadak (P<0,05). Faktor risiko kejadian babi mati mendadak adalah peternakan yang tidak menerapkan akses terbatas memasuki kandang, tidak menggunakan celup kaki disinfektan, tidak menggunakan baju kandang khusus, tidak melakukan penyemprotan disinfektan, ditemukannya lalat dan serangga di areal kandang, memberikan pakan sisa, dan tidak menerapkan sistem produksi all in-all out. Simpulan dari penelitian ini adalah peternakan yang tidak menggunakan celup kaki disinfektan merupakan peternakan yang paling berisiko mengalami kematian babi.
Jenis Cacing dan Prevalensi Infeksi Trematoda pada Gajah Sumatera di Tempat Penangkaran Desa Bakas dan Desa Taro, Bali Wisana, Kadek Adya Arsa; Oka, Ida Bagus Made; Suratma, Nyoman Adi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.908

Abstract

Gajah Sumatera merupakan satwa asli dari Pulau Sumatera yang keberadaan populasinya terancam punah. Gajah Sumatera rentan terhadap penyakit parasit seperti cacing, yang dapat hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cacing Trematoda pada gajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park, Bali. Sampel feses yang digunakan sebanyak 39 yang terdiri dari 8 sampel dari Bakas Elephant Tour dan 31 sampel dari Taro Elephant Safari Park. Identifikasi telur cacing dilakukan dengan pemeriksaan feses menggunakan metode Parfitt and Banks dengan modifikasi. Jenis cacing yang ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan feses adalah cacing kelas Trematoda yaitu Paramphistomum sp. dan Fasciola sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi Trematoda pada gajah sumatera di Bakas Elephant Tour dan Taro Elephant Safari Park adalah 17,94%. Berdasarkan lokasinya, prevalensi di Bakas adalah 0% dan di Taro Elephant Safari Park adalah 22,58%.
Shedding Virus Vaksin Flu Burung Subtipe (H5N1) Isolat Dari Bali Tidak Ditemukan Pascavaksinasi Ayam Petelur Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Sari, Tri Komala; Wijaya, Dhyana Ayu Manggala; Suartha, I Nyoman; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.830

Abstract

Flu burung atau Avian influenza (AI) merupakan penyakit viral akut yang sudah tersebar luas di seluruh dunia, dan saat ini bersifat endemik di Indonesia. Avian Influenza digolongkan penyakit menular strategis prioritas karena bersifat zoonosis berbahaya yang dapat menyerang unggas dan mamalia maupun manusia. Unggas yang diternakkan secara massal lebih rentan terserang avian influenza, seperti ayam petelur, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan vaksinasi. Virus avian influenza mudah mengalami mutasi sehingga tidak dapat dikenali oleh antibodi yang sudah ada di dalam tubuh unggas, oleh karena itu perlu untuk selalu dilakukan pengembangan vaksin, contohnya adalah vaksin avian influenza subtipe H5N1. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah vaksin AI-H5N1 isolat dari Bali dapat digunakan pada peternakan ayam komersial dengan melihat kemamampuannya menekan shedding virus. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil 20 sampel swab kloaka secara acak dari 40 ekor ayam petelur yang sudah divaksin Avian Influenza subtipe H5N1 isolat dari Bali. Sampel swab selanjutnya diinokulasikan pada telur ayam berembrio melalui ruang alantois, diinkubasi dalam inkubator suhu 370C. Setelah 2-3 hari pascainokulasi, cairan alantois dipanen dan dilakukan uji HA/HI. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukannya shedding virus vaksin AI-H5N1 isolat dari Bali, ditandai dari semua sampel swab yang diambil pada periode 1-4 minggu pascavaksinasi menunjukkan hasil negatif pada uji HA.
Bakteri Escherichia coli pada Limbah Peternakan Babi di Kabupaten Badung Jauh Melampaui Baku Mutu Coliform Provinsi Bali Sousa, Rojelio Dias Trindade; Suada, I Ketut; Suarjana, I Gusti Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.85

Abstract

Peternakan babi merupakan salah satu usaha yang potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor, sumber protein, dan sumber pendapatan keluarga. Limbah babi berasal dari campuran sisa-sisa pakan, minuman, urin, feses, serta air cucian bekas memandikan babi. Limbah babi yang mengandung bakteri E. coli menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah bakteri E. coli yang terdapat pada limbah peternakan babi di Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dan pemilihan lokasi peternakan dilakukan secara purposive sampling. Lokasi pengambilan sampel di kecamatan Petang, Abiansemal, Mengwi dan Kuta Utara. Jumlah peternakan yang menjadi sampling di setiap kecamatan adalah sebanyak tiga peternakan. Volume sampel limbah yang diambil disetiap peternakan sebanyak 500 mL, selanjutnya dari tiga peternakan tersebut dilakukan komposit menjadi satu sampel. Media yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri E. coli adalah media Eosin Metilene Blue Agar (EMBA). Sampel yang ditumbuhkan dalam media EMBA di setiap kecamatan sebanyak 0,1 mL dengan menggunakan metode sebar (spread plate method). Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat bakteri E. coli dalam limbah peternakan babi di Kecamatan Petang sebesar 90 x 107CFU/mL, Abiansemal 33 x 107 CFU/mL, Mengwi 11 x 107 CFU/mL dan Kuta Utara 9 x 107 CFU/mL. Dapat disimpulkan bahwa limbah peternakan babi di Kecamatan Petang, Abiansemal, Mengwi, dan Kuta Utara Kabupaten Badung, Propinsi Bali mengandung bakteri E. coli yang jumlahnya melebihi standar baku mutu.
Titer Antibodi Sekunder Sebagai Respons Setelah Vaksinasi Aktif Penyakit Tetelo pada Ayam Petelur di Perean, Tabanan, Bali Remontara, Al Afuw Niha; Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.1

Abstract

Penyakit tetelo atau Newcastle disease (ND) merupakan salah satu penyakit penting pada ayam yang sangat merugikan peternakan. Usaha pencegahan yang dilakukan salah satunya dengan jalan vaksinasi untuk meningkatkan derajat imunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun ayam petelur pascavaksinasi tetelo. Penelitian dilakukan pada peternakan komersial di Desa Perean, Kabupaten Tabanan, Bali. Sampel penelitian sebanyak 20 ekor ayam petelur strain Novogen Brown yang diambil secara acak dari 100 ekor dan diberikan vaksin ND aktif strain lasota pada umur lima minggu melalui injeksi intramuskuler pada bagian otot paha (Musculus biceps brachii). Sampel darah diambil sebanyak lima kali, yaitu satu kali pravaksinasi dan empat kali pascavaksinasi. Cara pengambilan darah melalui pembuluh darah balik sayap (Vena Brachialis) dengan menggunakan disposable syringe volume 3 mL darah diambil sebanyak 1-2 mL. Darah dibiarkan beberapa jam hingga serumnya terpisah secara sempurna. Serum yang telah siap kemudian diuji serologi hemaglutination/hemaglutination inhibition (HA/HI). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam dilanjutkan uji Duncan menggunakan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) versi 25. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai Maret 2021 pada peternakan ayam petelur komersial di Desa Perean, Kabupaten Tabanan, serta pemeriksaan serologi dilakukan di Laboratorium Virologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Hasil penelitian terhadap respon imun sekunder ayam petelur pascavaksinasi tetelo aktif adalah titer antibodi ayam petelur terlihat naik secara signifikan sejak minggu ke-1 hingga minggu ke-4 dengan hasil titer minggu ke-1 yaitu 5,50 HI log 2, minggu ke-2 5,65 HI log 2, minggu ke-3 7,20 HI log 2, dan minggu ke-4 adalah 7,50 HI log 2. Periode pengambilan serum setiap minggu berpengaruh nyata terhadap peningkatan titer antibodi tetelo pascavaksinasi maka dari itu vaksin tetelo aktif strain lasota mampu menggertak pembentukan respon imun sekunder pascavaksinasi.
Total Leukosit dan Diferensial Leukosit Ayam Pedaging yang diberi Tepung Belatung sebagai Pakan Tambahan Ransum Lubis, Barata Sultan; Ardana, Ida Bagus Komang; Siswanto, Siswanto
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (6) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.6.877

Abstract

Tepung belatung Hermetia illucens memiliki kandungan protein 37,31% dan lemak 39,05%, sehingga dapat digunakan sebagai pakan tambahan dalam ransum. Sebagai bahan yang kaya dengan protein dan lemak, belatung black soldier fly (BSF) baik pula hubungannya dengan pembentukan sel darah putih (leukosit). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui total leukosit dan diferensial leukosit ayam pedaging yang diberi tepung belatung sebagai pakan tambahan dalam ransum. Sebanyak 24 ekor ayam pedaging jantan digunakan dalam penelitian ini. Ayam pedaging dikelompokkan menjadi empat sesuai dengan perlakuan: perlakuan P0 (kontrol), perlakuan P1 (1% dari pakan komersial), perlakuan P2 (2% dari pakan komersial), dan perlakuan P3 (3% dari pakan komersial). Perlakuan diberikan mulai hari ke-14 sampai hari ke-35. Sampel darah diambil dari vena pectoralis sebanyak 3 mL pada hari ke-36. Jumlah leukosit dan diferensial leukosit dihitung menggunakan auto hematology analyzer. Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam satu arah. Hasil penelitian menunjukkan total leukosit 81,92-97,98×103/µL, persentase heterofil 28,50-37,50%, persentase eosinofil 0%, persentase basofil 0%, persentase limfosit 51,67-64,17%, dan persentase monosit 7,33-10,83%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung belatung ke dalam pakan komersial meningkatkan total leukosit, persentase limfosit, dan menekan persentase heterofil ayam pedaging.
Laporan Kasus: Enukleasi Transkonjungtiva Prolapsus Bulbus Oculi Sinistra pada Kucing Persia Jantan Maharani, Nisa; Fanayoni, Aditana; Ayu Kurniawati, Ni Made; Putra Pemayun, I Gusti Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.137

Abstract

Prolapsus bulbus oculi adalah kondisi bola mata keluar dari cavum orbita yang dapat disebabkan oleh benturan, trauma atau tumor. Seekor kucing ras persia bernama Bobi, berumur 5 bulan, bobot badan 1,2 kg, berjenis kelamin jantan, dengan keadaan bola mata kiri keluar dari rongga mata dan telah mengalami nekrosis. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, hewan didiagnosis mengalami prolapsus bulbus oculi sinistra dengan prognosa infausta. Tindakan yang dilakukan untuk menangani kasus ini adalah operasi enukleasi bulbi dengan pendekatan subkonjungtiva. Terapi pascaoperasi yang diberikan adalah amoxicillin syrup 40 mg/kg BB diberikan tiga kali sehari selama tujuh hari, dexamethasone tablet 0,25 mg/kg BB diberikan dua kali sehari selama lima hari, dan salep mata gentamicyn sulfate 0,1% diberikan secukupnya selama dua hari sampai luka mengering. Tindakan operasi enukleasi prolapsus bulbus oculi sinistra pada kucing kasus berjalan dengan lancer. Selama tujuh hari perawatan kucing kasus menunjukkan hasil yang baik dengan luka bekas operasi sudah mengering dan kondisi kucing terpantau stabil serta tidak ada keluhan lain.
Laporan Kasus: Penanganan Batu Kantung Kemih (Cystolithiasis) pada Anjing Peking dengan Flushing, Pemberian Kejibeling, Asam Tolfenamat dan Ciprofloxacin Madania, Reydanisa Noor; Suartha, I Nyoman; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.783

Abstract

Urolithiasis merupakan pembentukan kalkuli atau urolith akibat saturasi kristal di dalam saluran perkencingan. Urolith yang spesifik berada pada vesica urinaria disebut cystolithiasis. Anjing Ras Peking jantan berumur 3 tahun 2 bulan dengan berat badan 7,1 kg datang dan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan kesakitan saat urinasi dan urin berwarna kemerahan. Pemeriksaan klinis menunjukkan pemeriksaan pada sistem kelamin dan perkencingan dalam kondisi abnormal yaitu pada saat diinspeksi anjing mengalami kesakitan saat urinasi dan saat abdomen dipalpasi terasa tegang dan adanya respon nyeri. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan adanya bentukan pasir dan peradangan pada dinding vesica urinaria. Pada pemeriksaan sedimentasi urin menunjukkan adanya kristal struvit. Anjing kasus didiagnosa menderita cystolithiasis dengan prognosa fausta. Hewan kasus ditangani dengan pemasangan kateter dan pemberian kombinasi kejibeling (satu kapsul, PO q12h, selama tujuh hari), asam tolfenamat dengan dosis pemberian 4 mg/kg BB (sekali sehari) selama 7 hari subkutan dan ciprofloxacin dengan dosis pemberian 8 mg/kg BB (sekali sehari) selama 7 hari peroral. Selama terapi hewan diberi pakan khusus urinari. Setelah terapi selama tujuh hari, kondisi hewan mengalami perubahan yang ditandai dengan urinasi lancar tanpa hematuria dan hasil ultrasonografi menunjukkan sudah tidak adanya gambaran bentukan pasir dan peradangan.