cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
FKIP e-PROCEEDING
Published by Universitas Jember
ISSN : 25275917     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
ANALISIS EFEKTIVITAS LABORATORIUM FISIKA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA SMA DAN KESESUAIANNYA DENGAN KURIKULUM 2013 Laila Qonita Ekosari; Trapsilo Prihandono; Albertus Djoko Lesmono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaaan laboratorium fisika dalammenunjang proses pembelajaran fisika SMA sesuai Kurikulum 2013 SMA di Tulungagung. Jenispenelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi danmetode angket. Adapun latar belakang penelitian ini adalah tuntutan Kurikulum 2013 yangmenekankan pada pembelajaran fisika dengan kegiatan praktik untuk mengembangkan sikap,keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam membangun kemampuan siswa. Dalamkegiatan pembelajaran praktik di sekolah dapat dilakukan di dalam laboratorium. Berdasarkan hasilreview beberapa penelitian tentang laboratorium didapatkan bahwa efektivitas penggunaanlaboratorium fisika yang ada di beberapa sekolah masih banyak yang belum efektif. Hal tersebutdikarenakan ketersediaan sarana dan prasarana yang kurang sesuai ataupun karena penggunaanlaboratorium dalam kegiatan praktikum yang rendah.Kata kunci: Kurikulum 2013, Pembelajaran Fisika, Efektivitas Penggunaan Laboratorium
INDENTIFIKASI PEMAHAMAN KONSEP FISIKA POKOK BAHASAN SUHU DAN KALOR MELALUI THREE TIER TEST PADA SISWA SMA KELAS XI Puji Rahayu; Sri Handono Budi Prastowo; Alex Harijanto
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penerapan ilmu fisika yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari adalah suhu dan kalor. Mengingat suhu dan kalor adalah materi yang sederhana sampai materi yang lebih kompleks dan topik ini sangat penting maka perlu diadakan penelitian untuk mengetahui pamahaman siswa di tingkat SMA agar secepatnya dapat dicarikan solusi dan tidak terjadi lagi kesalahan konsep pada siswa dan pada materi selanjutnya di tingkat yang lebih tinggi. Dalam ilmu fisika, konsep yang tepat mengacu pada konsepsi sebagaimana para ilmuan fisika. Kurangnya pemahaman konsep siswa disebabkan oleh dua faktor, yaitu (1) siswa salah menginterprestasikan gejala atau peristiwa yang dijumpai dalam kehidupan dan (2) pembelajaran yang dilakukan guru kurang terarah sehingga siswa salah dalam menginterprestasikan suatu konsep. Upaya mendasar untuk mengetahui sejauh mana pemahaman konsep siswa pada materi suhu dan kalor adalah dengan melakukan diagnosis berupa instrumen tes dalam mengidentifikasi pemahaman konsep fisika. Tes pilihan ganda tiga tingkat dilengkapi dengan skala tingkat keyakinan untuk mengukur tingkat keyakinan terhadap jawaban dan alasan yang dipilih untuk satu soal. Hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan pada penelitian ini mengenai pemahaman siswa dan presentase pada keseluruhan dari SMA pada tiap butir soal pada materi suhu dan kalor, antara lain sebagai berikut : presentase pemahaman siswa pada pokok bahasan Suhu dan Kalor di SMA Kabupaten Jember yakni sebesar 12.6%. Masih banyak siswa yang miskonsepsi disebabkan oleh banyaknya siswa yang kurang tepat dalam memberikan jawaban pada setiap tahapan. Kata Kunci: diagnostik, three-tier test, paham konsep, suhu dan kalor
ANALISIS INTENSITAS PAPARAN MEDAN MAGNET ELF OLEH SALURAN UDARA EKSTRA TINGGI (SUTET) 500 KV DI KABUPATEN PASURUAN Rio Dermawan; Sudarti Sudarti; Alex Harijanto
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV telah menjadi issue yang sejak lama menjadi perdebatan di masyarakat. Hal ini terkait dengan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan risiko efek kesehatan oleh radiasi medan magnet ELF yang di pancarkan oleh SUTET-500 kV. Mengingat medan magnet bersifat tidak terhalangi, mampu menembus materi biologis termasuk tumbuhan dan tubuh manusia. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan intensitas paparan medan magnet ELF di sekitar SUTET-500 kV. Penelitian ini di lakukan dengan cara melakukan pengukuran medan magnet ELF di sekitar SUTET-500 kV, baik jarak vertikal 150 cm dari tanah dan pada jarak lateral 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, 200 m, 250 m dari sumbu SUTET 500 kV. Sebagai kontrol, adalah medan magnet ELF alamiah, yaitu medan magnet yang diukur di hamparan tanah lapang pada pagi hari sebelum matahari terbit (jam 05.00). Pengukuran intensitas medan magnet ELF dilakukan dengan menggunakan alat ukur EMF-827. Hasilnya penelitian ini membuktikan bahwa intensitas paparan medan magnet ELF tepat di bawah SUTET-500 kV mencapai hampir 195 kali lebih besar di bandingkan medan magnet alamiah. Sementara intensitas medan magnet ELF pada jarak lateral 250 meter dari sumbu SUTET-500 kV meningkat 20 kali lebih besar di bandingkan kontrol. Kesumpulan: berdasarkan hasil analisis, dapat di simpulkan bahwa keberadaan SUTET-500 kV berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan intensitas medan magnet ELF di sekitarnya. Kata Kunci: medan magnet ELF, SUTET 500 kV, jarak lateral
PENGEMBANGAN MODUL IPA BERBASIS GUIDED DISCOVERY UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS Rizki Fitria Setyaningtyas; Sarwanto Sarwanto; Baskoro Adi Prayitno
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pentingnya literasi sains berhubungan dengan bagaimana siswa mampu menggunakan kemampuan berpikir secara ilmiah dan menggunakan pengetahuan serta proses sains dalam memahami suatu fenomena sehingga mampu mengambil keputusan untuk memecahkan masalah. Literasi sains dapat diberdayakan menggunakan model pembelajaran guided discovery dengan modul sebagai bahan ajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan literasi sains siswa dengan modul IPA berbasis guided discovery pada tema pemanasan global. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan Research and Development (R&D) dengan mengacu pada model Borg & Gall, teknik analisis menggunakan metode deskriptif-kualitatif berdasarkan skor kriteria, sedangkan uji coba lapangan menggunakan pre eksperimen dengan one group pretest-posttest design. Data hasil penelitian pengembangan modul IPA berbasis guided discovery memenuhi kriteria layak digunakan dalam pembelajaran dari hasil validasi dengan kategori sangat baik, implementasi modul IPA berbasis guided discovery efektif digunakan untuk meningkatkan literasi sains berdasarkan uji operasional di SMP dengan perolehan gains skor sebesar 0,56 pada kategori sedang. Kata Kunci: guided discovery, literasi sains, pemanasan global
BAHASA PAPAN: BUKTI MASYARAKAT (MAKIN) GEGAR BAHASA Fitri Nura Murti
FKIP e-PROCEEDING 2020: SEMINAR NASIONAL #5: BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA UNTUK MEMPERSIAPKAN GENERASI EMAS 204
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Papan nama toko, papan petunjuk, atau papan iklan merupakan pemandangan sehari-hari yang dapat kita lihat di jalan-jalan. Selanjutnya, untuk mempermudah merujuk tulisan-tulisan pada papan nama, papan petunjuk, serta papan iklan, dalam bahasan ini digunakan istilah “bahasa papan”. Banyak sekali bahasa papan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Banyak di antara nama-nama tersebut yang salah ejaan, salah penulisan, salah pemenggalan kata, dan lain-lain. Masyarakat terkesan menggunakan bahasa Indonesia seenaknya, lebih bangga berbahasa asing, dan bebas berkreasi. Sebagai sebuah fenomena, hal tersebut merupakan cerminan berbahasa masyarakat. Fenomena ini muncul karena interferensi bahasa. Lunturnya bahasa Indonesia oleh masyarakat bisa jadi merupakan tanda bahwa nasionalisme masyarakat telah luntur, atau bahkan lebih dahulu luntur. Untuk itu, perlu diupayakan pengembangan bahasa dalam rangka peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat. Gegar budaya, (jangan) gegar bahasa kita. Kata Kunci: gegar budaya, gegar bahasa, kebijakan publik.
Improving the Eighth Grade Students' Simple Present Tense Mastery by Using Stick Figures at SMP Negeri 5 Jember in the 2016/2017 Academic Year Mariska Aryaningtyas; Siti Sundari; Zakiyah Tasnim
FKIP e-PROCEEDING 2017: Proceeding of the Workshop on Intercultural Communication
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The aims of this research were: (1) to improve the eighth grade students’ active participation in the teaching learning process of Simple Present Tense by using stick figures at SMP Negeri 5 Jember in the 2016/2017 academic year, and (2) to improve the eighth grade students’ Simple Present Tense mastery by using stick figures at SMP Negeri 5 Jember in the 2016/2017 academic year. The design of the research was Classroom Action Research (CAR). The research area was chosen by using the Purposive Method. The research subjects were the Eighth Grade Students of VIIIC at SMP Negeri 5 Jember in the 2016/2017 academic year. The data collection methods were obtained from administering a tense test, observation, giving interview, and documentation. The research was done in 2 cycles to achieve the criteria of success. Based on the results of the research, it showed improvement at the students’ active participation and their tense mastery. The percentage of the students’ active participation increased from 42% (16 students) in cycle 1 to 79% ( 30 students) in meeting 1 of cycle 2 and 87% (33 students) in meeting 2 of Cycle 2. Then, the percentage of the students who got ≥75 in the tense test increased from 57% (21 students) in cycle 1 to 81% (29 students) in cycle 2. It indicated that the results of the research met the criteria of success that stick figures could improve the eighth grade students’ active participation and Simple Present Tense Mastery. Keywords: Stick Figures, Students' Active Participation, Simple Present Tense Master 
In Favour of Experiential Learning: An Endeavour Alluding to Students’ Cognitive Milieu Rizki Febri Andika Hudori
FKIP e-PROCEEDING 2017: Proceeding of the Workshop on Intercultural Communication
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract: This retrospective article portrays the endeavor associating the learning of language and of subject matter under the philosophy of experiential learning. Specifically, it seeks to point out how the adopted framework aids English instructors to embolden and sustainably propel junior high school students cognitively to learn English. The cognition manifests itself as a crux which in this case is perceived as the uttermost issue. It is due to the psychological characteristics of the students, which is mainly pertinent to their limitation to deal with the abstract, that numerous favourable strategies attending to experiential learning are seen to be mostly doable and helpful. Relying on the pedagogical premise, the English instructors are enabled to bestow powerful impetus arousing students’ motivation through fostering their exuberant involvement in the classroom orchestra.Key words: experiential learning, cognition, and involvement
JEJAK PESONA PANTUN DI DUNIA (Suatu Tinjauan Diakronik-Komparatif) Fitri Nura Murti
FKIP e-PROCEEDING 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL #3: BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS GLOBAL
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pantun dikenal sebagai sastra lama nusantara yang khas dengan ketatnya aturan bentuk-rima yang disenandungkan. Pantun banyak tertulis dalam manuskrip sejarah Melayu dan terdapat dalam puisi rakyat, syair, serta seloka. Pantun juga termanifestasikan dalam ungkapan tradisional seperti teka-teki, petuah, dan pemanis komunikasi. Pantun tidak lain sebuah cerminan kecerdasan dan kebijaksanaan (genius local wisdom) masyarakat nusantara yang terefleksikan melalui keahlian berbahasa dan bersastra. Kecerdasan, kebijaksanaan, keteraturan, dan harmoni pada pantun telah mencuri perhatian peneliti dari berbagai negara seperti William Marsden, Victor Hugo, Renè Daille, dsb. yang secara eksplisit mengungkapkan kekaguman mereka terhadap pantun. Dengan prinsip peniruan dan terjemahan, pantun mulai dipelajari dan diaplikasikan dalam berbagai bahasa, yakni bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, Belanda, Rusia, dan Jerman. Melalui jalan itu, pantun telah menyebar dan berkembang di beberapa negara Eropa dan Amerika. Makalah ini memaparkan perkembangan pantun dari masa ke masa dan kecenderungannya dalam berbagai bahasa ditinjau menggunakan pendekatan diakronik-komparatif dengan analisis struktur. Melalui kertas kerja ini, kebanggaan terhadap pantun ditumbuhkan kembali dengan mengetahui kelebihan dan pengaruhnya terhadap kesusastraan dunia. Dengan jalan demikian, upaya pembudayaan pantun‒sebagai karakter budaya bangsa–yang justru perlu dilakukan dalam lingkup lokal-nasional, memiliki harapan yang lebih menjanjikan. Kata-kata Kunci: perkembangan pantun, karya di dunia
IMPLEMENTASI REWARD DAN PUNISHMENT UNTUK MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR AGAMA DAN PERUBAHAN PERILAKU SISWADI SD MUHAMMADIYAH 3 KOTA CIREBON Halim Purnomo
FKIP e-PROCEEDING 2016: SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 2016 “Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lo
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reward dan punishment adalah dua jenis metode yang bisa digunakan dalam praktik pendidikan baik dalam lingkup keluarga maupun sekolah. Penggunaan kedua metode tersebut harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam ajaran Islam. Penggunaan reward lebih efektif dibanding punishment, karena itu punishment boleh digunakan ketika alternatif lain sudah tidak mampu memecahkan persoalan yang dihadapi anak. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperoleh pola dan model reward dan punishment yang tepat sesuai dengan kondisi yang ada di SD 3 Muhammadiyah Kota Cirebon, serta penelitian ini ingin membuktikan bahwa penerapan reward dan punishment yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar dan perubahan perilaku siswa di SD Muhammadiyah 3 Kota Cirebon. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif experimental. Metode yang digunakan terlebih dahulu dilaksanakan observasi secara mendalam untuk menghimpun datadata. Selanjutnya dilakukan wawancara langsung dengan siswa, guru kelas dan kepala sekolah serta studi dokumentasi. Setelah tahapan-tahapan metode tersebut selesai dilaksanakan, maka disusun dan dinarasikan dalam bentuk laporan penelitian. Reward yang diterapkan sesuai dengan konteks siswa SD Muhammadiyah 3 Kota Cirebon antara lain pemberian pemberian hadiah yang biasanya dilaksanakan pada saat seluruh pengelola sekolah dan siswa berkumpul. Seperti pada pelaksanaan upacara bendera, acara class meeting dan acara pertemuan dengan wali siswa sebagai wujud apresiasi yang diberikan oleh segenap kepala sekolah dan guru-guru SD Muhammadiyah 3 Kota Cirebon atas nama lembaga kepada siswa yang berprestasi baik dalam bidang akademik keagamaan seperti Pendidikan Agama Islam dan Al-Islam Kemuhammadiyahan juga pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya ekstrakurikuler seperti tahsin al-Qur’an dan tahfidz juz’amma serta acara kompetisi kegiatan keagamaan (CCQ, MTQ dan lain-lain. Demikian juga dengan diterapkannya punishment sebagai upaya lembaga untuk memberikan rasa jera kepada siswa khusunya dari perilaku kurang baik yang mereka lakukan. Penerapan punishment yang sering kali diterapkan antara lain menghafal surat-surat pendek dengan waktu yang terbatas, membersihkan ruang kelas dan membacakan teks UUD 1945 di halaman sekolah. Penerapan model Reward dan Punishment ini sangat bermanfaat pada peningkatan dan penyadaran siswa, terbukti dengan semakin1 meningkat prestasi akademik keagamaan dan semakin patuhnya siswa pada peraturan-peraturan sekolah. Kata Kunci : Reward, Punishmemnt, Prestasi Akademik Keagamaan, Perubahan perilaku.
PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Pascalian Hadi Pradana
FKIP e-PROCEEDING 2016: SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 2016 “Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Kearifan Lo
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berawal dari penerapan pembelajaran yang lebih menekankan pada kemampuan kognitif saja, sebenarnya ada hal lain tak kalah penting yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Pendidikan karakter perannya begitu besar bagi pembentukan akhlak dan moral anak bangsa. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan 1) menerapkan perencanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran matematika, 2) mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pelaksanaan pembelajaran matematika, 3) menerapkan pendidikan karakter dalam evaluasi pembelajaran matematika. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa a) penerapan pendidikan karakter dalam perencanaan pembelajaran matematika untuk mengembangkan sebuah penerapan pendidikan karakter ke dalam sebuah kurikulum. Kurikulum dalam hal ini meliputi silabus serta RPP, sedangkan RPP diterapkan untuk setiap kegiatan pembelajaran matematika, b) mengimplementasikan pendidikan karakter dalam pelaksanaan pembelajaran matematika termasuk pelaksanaan pendidikan karakter dalam menanamkan sikap disiplin dan tanggung jawab kepada anak didik, implementasi pendidikan karakter dalam kegiatan inti dilakukan dengan diskusi kelompok sehingga melatih siswa untuk bekerja keras, kreatif, berfikir logis, dan kritis. Pada tahap penutupan untuk melaksanakan pendidikan karakter dilakukan dengan pemberian tugas pengamatan pada keakuratan materi untuk melatih siswa, c) penerapan pendidikan karakter dalam evaluasi pembelajaran matematika dilakukan dengan memberikan teguran dan sangsi bila ada ujian atau tes untuk melatih kejujuran dan tanggung jawab siswa. Kata kunci: penerapan, karakter, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi