cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Linears
ISSN : -     EISSN : 26143976     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal LINEARS adalah sebuah media publikasi Jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Tujuannya adalah sebagai media komunikasi, desiminasi dan pertukaran informasi dunia arsitektur serta media publikasi hasil pengembangan penelitian,pengabdian maupun hasil karya arsitektur. Secara umum jurnal ini berisi tentang dunia arsitektur dan secara spesifik dapat berupa: - Ilmu dan teknologi arsitektur; - Teori, sejarah dan desain arsitektur; - Arsitektur kota dan perancangan kota; - - Arsitektur rumah dan perumahan; - Desain interior dan eksterior. Jurnal ini adalah Jurnal online yang berisi karya ilmiah bagi peneliti dan mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Unismuh Makassar, sebagai bagian dari publikasi karya ilmiah penelitian ataupun tugas akhir. Jurnal ini terbit 2 kali dalam 1 tahun dengan kontent dari berbagai keminatan Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 121 Documents
Pengaruh Keberadaan Perguruan Tinggi terhadap Perkembangan Hunian Sewa di Kawasan Pendidikan Tinggi Kota Makassar Abduh, Jayanti Mandasari Andi Munawarah; Amri, Andi Rafiqa Aliyah Ramadhani; Paddiyatu, Nurhikmah
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.16813

Abstract

ABSTRAK: Perkembangan institusi pendidikan tinggi khususnya kampus memiliki dampak signifikan terhadap lingkungannya. Peningkatan jumlah pendatang di kawasan perguran tinggi menyebabkan ketersediaan lahannya semakin menipis setiap tahunnya. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan dengan memperluas berbagai kebutuhan bagi mahasiswa, seperti pembangunan hunian sewa. Di kota-kota besar seperti Kota Makassar, keberadaan perguruan tinggi tidak hanya mempengaruhi aspek akademis, tetapi juga transformasi sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis perkembangan lahan pada lingkungan hunian sewa di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea tahun 2003-2023; 2) menganalisis aksesibilitas lingkungan hunian sewa di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea; dan 3) menganalisis dampak sosial-ekonomi dari keberadaan perguruan tinggi di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea. Penelitian diolah dengan analisis spasial, deskriptif kuantitatif, dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea mengalami peningkatan perkembangan lahan menjadi hunian sewa dari tahun 2003–2023. Sebagian besar dari keseluruhan bangunan indekos di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea menunjukkan aksesibilitas ke jalan utama sangat baik serta berada pada klasifikasi sangat mudah dijangkau oleh perguruan tinggi. Kualitas lingkungan permukiman di Kecamatan Panakkukang dan Kecamatan Tamalanrea tergolong buruk, sedang, dan baik. Keberadaan perguruan tinggi memiliki pengaruh positif terhadap kondisi ekonomi masyarakat. ABSTRACT: The development of higher education institutions, especially campuses, has a significant impact on their environment. The increase in the number of migrants in the higher education area causes the availability of land to be depleted every year. Most people take advantage by expanding various needs for college students, such as the construction of rental housing. In big cities like Makassar City, the existence of higher education not only affects academic aspects, but also socio-economic transformation. This study aims to 1) analyze land development in rental housing environment in Panakkukang Sub-district and Tamalanrea Sub-district in 2003-2023; 2) analyze the accessibility of rental housing environment in Panakkukang Sub-district and Tamalanrea Sub-district; and 3) analyze the socio-economic impact of the existence of universities in Panakkukang Sub-district and Tamalanrea Sub-district. The research was processed with spatial analysis, quantitative descriptive, and simple linear regression. The results showed that Panakkukang and Tamalanrea sub-districts experienced an increase in land development into rental housing from 2003 - 2023. Most of the boarding house buildings in Panakkukang Sub-district and Tamalanrea Sub-district show accessibility to the main road is very good and is in the classification of very easy to reach by universities. The environmental quality of settlements in Panakkukang and Tamalanrea sub-districts is classified as poor, moderate and good. The presence of universities has a positive influence on the economic condition of the community.    
Optimization of Construction Material Inventory Using Material Requirement Planning Rani, Hafnidar A.; Syammaun, Tamalkhani; Rachman, Firmansyah; Amin, Jurisman; Mahzarullah, Mahzarullah
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17116

Abstract

ABSTRAK: Pengelolaan persediaan material yang efisien sangat penting dalam proyek konstruksi untuk menghindari keterlambatan, pembengkakan biaya, serta kekurangan dan kelebihan material. Penelitian ini menyelidiki optimalisasi pengelolaan persediaan material menggunakan metode Material Requirements Planning (MRP), dengan fokus pada teknik Lot Sizing—Lot for Lot (LFL) dan Part Period Balancing (PPB). Studi kasus dilakukan pada pembangunan Kantor Kementerian Agama di Banda Aceh. Penelitian ini menargetkan material beton bertulang, seperti semen, pasir, dan besi tulangan, yang merupakan bahan penting bagi proyek tersebut. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan dan wawancara, sementara data sekunder diperoleh dari dokumentasi proyek, termasuk Bill of Materials (BOM), jadwal, dan rincian biaya. Dengan menggunakan MRP, penelitian ini menghitung kebutuhan material, jadwal pengadaan, dan biaya untuk teknik LFL dan PPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik LFL secara signifikan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi dibandingkan dengan metode PPB. Pada lantai pertama, teknik LFL menghasilkan penghematan biaya sekitar 51,9% dibandingkan dengan metode PPB. Demikian pula, untuk lantai kedua, penghematan biaya sekitar 72,2%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknik LFL merupakan teknik yang optimal untuk pengelolaan persediaan material dalam proyek konstruksi, memastikan ketersediaan material tepat waktu dan biaya penyimpanan minimal. Temuan ini memberikan kerangka praktis untuk meningkatkan efisiensi pengadaan dan menawarkan wawasan berharga bagi proyek konstruksi di masa depan yang ingin mengurangi biaya dan meningkatkan keandalan penjadwalan.ABSTRACT: Efficient material inventory management is critical in construction projects to avoid delays, cost overruns, and both shortages and surpluses of materials. This study investigates the optimization of material inventory management using the Material Requirements Planning (MRP) method, focusing on Lot Sizing techniques—Lot for Lot (LFL) and Part Period Balancing (PPB). A case study was conducted on the construction of the Ministry of Religious Affairs Office in Banda Aceh. The research targeted reinforced concrete materials, such as cement, sand, and rebar, which are crucial for the project. Primary data was collected through field observations and interviews, while secondary data was obtained from project documentation, including the Bill of Materials (BOM), schedules, and cost breakdowns. Using MRP, the study calculated material requirements, procurement schedules, and costs for both LFL and PPB techniques. The findings revealed that the LFL technique significantly reduces costs and improves efficiency compared to the PPB method. For the first floor, the LFL technique resulted in a cost saving of approximately 51.9% compared to the PPB method. Similarly, for the second floor, the cost savings were around 72.2%. This study concluded that LFL is the optimal technique for material inventory management in construction projects, ensuring timely availability and minimal storage costs. These findings provided a practical framework for improving procurement efficiency and offered valuable insights for future construction projects seeking to reduce costs and enhance scheduling reliability.
The Influence of Community Behaviour on the Characteristics of Houses in Tanjung Pering Village Prima, Listen; Amalia, Fuji; Arief, Abdurrachman; Hady, Nabil; Asysya’bani, Fa’iz Fadhlurrahman; Putri, Nayla A.; Avan, Sabi’A. Z.
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17181

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini menyelidiki bagaimana nilai-nilai lokal, khususnya kegiatan ekonomi seperti produksi kerupuk (Kerupuk), memengaruhi karakteristik arsitektur rumah di Desa Tanjung Pering. Produksi kerupuk, yang merupakan mata pencaharian yang diwariskan dari generasi ke generasi, secara signifikan membentuk identitas budaya masyarakat dan desain bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak praktik ekonomi lokal terhadap desain arsitektur, dengan fokus pada fungsi, estetika, dan pemilihan bahan. Pendekatan fenomenologis kualitatif digunakan dengan mengumpulkan data melalui wawancara dengan penduduk untuk memahami warisan budaya dan mata pencaharian turun-temurun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial-ekonomi dan kebiasaan lokal sangat memengaruhi karakteristik arsitektur di Desa Tanjung Pering. Pengaturan ruang, desain struktur, dan pemilihan bahan semuanya disesuaikan untuk mendukung kegiatan produksi kerupuk. Dapur sering ditempatkan di bawah atau di luar rumah untuk mempermudah produksi, sementara peralihan dari kayu tembesu ke beton mencerminkan keterbatasan ekonomi dan kelangkaan bahan. Penempatan strategis jendela di bagian depan rumah meningkatkan sirkulasi udara, yang sangat penting di iklim tropis daerah tersebut. Studi ini menunjukkan bagaimana praktik ekonomi dan nilai-nilai budaya bersatu membentuk identitas arsitektur desa. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana warisan budaya dan kegiatan ekonomi memengaruhi arsitektur vernakular. Dengan mengkaji hubungan antara mata pencaharian lokal dan desain bangunan, penelitian ini menawarkan panduan berharga untuk mengembangkan praktik arsitektur yang sensitif terhadap budaya yang dapat melestarikan identitas lokal sekaligus menjawab kebutuhan kontemporer.ABSTRACT: This study investigates how local values, especially economic activities like cracker (Kerupuk) production, influence the architectural characteristics of houses in Tanjung Pering Village. Cracker production, a long-standing livelihood passed down through generations, significantly shapes the community’s cultural identity and building designs. This research aims to examine the impact of local economic practices on architectural design, focusing on functionality, aesthetics, and material selection. A qualitative phenomenological approach was employed, gathering data through interviews with residents to understand cultural heritage and hereditary livelihoods.The findings indicate that socio-economic conditions and local customs profoundly shape architectural characteristics in Tanjung Pering Village. Spatial organization, structural design, and material selection are all adapted to support cracker production activities. Kitchens are often placed below or outside houses to facilitate production, while the shift from tembesu wood to concrete illustrates economic constraints and material scarcity. The strategic placement of windows on the front facades improves air circulation, which is essential in the region’s tropical climate. The study highlights how economic practices and cultural values combine to define the architectural identity of the village.This research provides insights into how cultural heritage and economic activities influence vernacular architecture. By examining the relationship between local livelihoods and building design, the study offers valuable guidance for developing culturally sensitive architectural practices that preserve local identity while addressing contemporary needs.
Rumah Subsidi Tumbuh: Studi Eksploratif Dampak Penambahan Ruang Terhadap Akses Pencahayaan Alami Kamase, Giska Ayu Pradana Putri; Anantama, Aldhi Nugraha
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17238

Abstract

ABSTRAK: Urbanisasi yang cepat dan perumahan yang tidak memadai di Indonesia menjadi tantangan bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 11. Program perumahan bersubsidi bertujuan untuk menyediakan perumahan yang terjangkau bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, tetapi perencanaan yang buruk dan ketersediaan lahan yang terbatas sering kali membatasi akses pencahayaan alami. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan solusi desain untuk pembangunan perumahan tambahan yang mengoptimalkan pencahayaan alami sekaligus memenuhi persyaratan spasial dan memastikan kenyamanan dan kesejahteraan penghuni. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini mengintegrasikan eksplorasi kualitatif dan simulasi komputer. Tiga tahap dilakukan: persiapan (tinjauan literatur, wawancara pengembang, observasi lapangan), eksplorasi (analisis tapak, pengembangan desain 3D), dan simulasi (perangkat lunak DIALux untuk mengevaluasi pencahayaan alami berdasarkan standar SNI 6197:2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perluasan horizontal dan vertikal dapat meningkatkan ketersediaan pencahayaan alami sekaligus memenuhi kebutuhan ruang. Namun, area seperti dapur dan ruang keluarga mungkin masih membutuhkan pencahayaan buatan selama waktu-waktu tertentu. Studi ini menekankan pentingnya bukaan yang dirancang dengan baik dan ruang terbuka untuk mencapai pencahayaan alami yang optimal. Pendekatan pembangunan bertahap direkomendasikan untuk mengakomodasi kemampuan finansial penghuni. Penelitian ini memberikan panduan untuk desain perumahan yang terjangkau yang sesuai dengan standar kehidupan yang berkelanjutan. Penelitian lebih lanjut harus meneliti dampak pencahayaan alami terhadap suhu dalam ruangan untuk mencegah kepanasan.ABSTRAK: Rapid urbanization and inadequate housing in Indonesia challenge the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 11. Subsidized housing programs aim to provide affordable housing for low-income households, but poor planning and limited land availability often restrict natural lighting access. The primary objective of this study is to develop design solutions for incremental housing development that optimize natural lighting while meeting spatial requirements and ensuring residents' comfort and well-being. Using a mixed-method approach, the research integrates qualitative exploration and computer simulations. Three stages are conducted: preparation (literature review, developer interviews, field observations), exploration (site analysis, 3D design development), and simulation (DIALux software to evaluate natural lighting based on SNI 6197:2020 standards). Results show that horizontal and vertical expansions can enhance natural lighting availability while fulfilling spatial needs. However, areas like kitchens and living rooms may still require artificial lighting during specific times. This study emphasizes the importance of well-designed openings and open spaces to achieve optimal natural lighting. A phased development approach is recommended to accommodate residents’ financial capabilities. This research provides guidelines for affordable housing design that aligns with sustainable living standards. Further research should examine the impact of natural lighting on indoor temperatures to prevent overheating.
Analisis Kawasan Negative List Sebagai Arahan Penentuan Lahan Aman Bagi Pengembangan Perumahan dan Permukiman Baharuddin, Hasniar; Haq, Izharul; Amalia, Andi Annisa
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17373

Abstract

ABSTRAK: Pengembangan perumahan dan permukiman memegang peran krusial dalam mewujudkan lingkungan yang aman, layak huni, dan berkelanjutan. Di Kabupaten Sidenreng Rappang, peningkatan kebutuhan hunian mendorong pembangunan di berbagai lokasi tanpa selalu mempertimbangkan kesesuaian tata ruang. Penelitian ini bertujuan menyusun pedoman teknis dalam menetapkan kawasan negative list—wilayah yang tidak diperkenankan untuk pengembangan—serta mengidentifikasi lahan aman untuk perumahan dan permukiman. Metode yang digunakan meliputi analisis data spasial berbasis teknik overlay dan pendekatan deskriptif, dengan studi kasus di Kecamatan Maritengngae. Data dikumpulkan melalui survei GPS, dokumentasi visual, serta pengolahan peta tematik menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.3. Hasil penelitian menghasilkan peta kawasan negative list dan sebaran perumahan eksisting yang sebagian besar belum sesuai peruntukan RTRW. Selain itu, peta lahan aman yang bebas dari batasan kawasan lindung, LP2B, sempadan rel, dan zona rawan bencana juga berhasil disusun. Penelitian ini memberikan kontribusi penting sebagai dasar perencanaan pembangunan perumahan yang sesuai peruntukan lahan dan mendukung kebijakan penataan ruang yang berkelanjutan.ABSTRAK: The development of housing and settlements plays a crucial role in creating a safe, livable, and sustainable environment. In Sidenreng Rappang Regency, increasing housing demand has driven development across various locations without always adhering to spatial planning regulations. This study aims to formulate technical guidelines for determining the negative list—areas restricted from development—and to identify safe land for housing and settlement expansion. The research employed spatial data analysis using overlay techniques and a descriptive approach, with a case study conducted in Maritengngae District. Data were collected through GPS surveys, visual documentation, and thematic map processing using ArcGIS 10.3 software. The findings produced a map of negative list zones and the distribution of existing housing, much of which does not align with the regional spatial plan (RTRW). Furthermore, a map identifying safe land—free from protected zones, sustainable agricultural land (LP2B), railway buffers, and disaster-prone areas—was successfully developed. This research makes a significant contribution as a planning reference for appropriate housing development and supports sustainable spatial planning policies.
Strategi Penerapan Atribut Desain Biofilik dalam Interior Ruang Kemoterapi Terhadap Kecemasan dan Stres pada Pasien Kanker Apriliana, Monica
Jurnal Linears Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v8i1.17439

Abstract

ABSTRAK: Desain biofilik telah muncul sebagai pendekatan yang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan pasien dalam lingkungan perawatan kesehatan, terutama di ruang kemoterapi di mana pasien sering mengalami kecemasan dan stres yang tinggi. Penelitian ini mengeksplorasi potensi mengintegrasikan prinsip-prinsip desain biofilik untuk meringankan tekanan psikologis pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Melalui tinjauan literatur dan analisis preseden, berbagai atribut biofilik diidentifikasi, termasuk citra alam, tanaman hijau, keanekaragaman hayati, suara alami, fraktal, sinar matahari, bahan alami, kenyamanan termal, aliran udara, warna, tempat berlindung, dan tanaman. Temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi tidak langsung dan simbolis dari desain biofilik paling memungkinkan untuk diterapkan di dalam ruang kemoterapi, karena memberikan stimulasi sensorik yang berkontribusi pada kenyamanan psikologis sambil mempertahankan kepatuhan terhadap standar keamanan medis. Menerapkan elemen biofilik secara efektif di lingkungan ini dapat secara signifikan mengurangi kecemasan dan stres, sehingga meningkatkan pemulihan pasien dan kesejahteraan secara keseluruhan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan pedoman standar untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip desain biofilik dalam fasilitas kemoterapi.ABSTRAK: Biophilic design has emerged as a promising approach to enhancing patient well-being within healthcare environments, particularly in chemotherapy rooms where patients often experience heightened anxiety and stress. This study explores the potential of integrating biophilic design principles to alleviate psychological distress in cancer patients undergoing chemotherapy. Through literature review and precedent analysis, various biophilic attributes were identified, including natural imagery, greenery, biodiversity, natural sounds, fractals, sunlight, natural materials, thermal comfort, air flow, colors, refuge, and plants. The findings suggest that indirect and symbolic applications of biophilic design are most feasible within chemotherapy rooms, as they provide sensory stimulation that contributes to psychological comfort while maintaining adherence to medical safety standards. Implementing biophilic elements effectively in these environments may significantly reduce anxiety and stress, thereby enhancing patient recovery and overall well-being. Further research is needed to establish standardized guidelines for integrating biophilic design principles in chemotherapy facilities.
Hydrological Assessment of A Water Hyacinth (Eichhornia Crassipes) Filtration System for Microplastic and Water Quality Improvement in The Krueng Aceh River Akmal Akmal; Munawir Munawir; Muhammad Al Faridzi Puteh; Teuku Muhammad Syauqi; Haris Saputra
Jurnal Linears Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/vyp9c917

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja hidrologis sistem filtrasi berbasis eceng gondok (Eichhornia crassipes) dalam mengurangi mikroplastik di Sungai Krueng Aceh. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan dengan mengintegrasikan pengukuran lapangan, eksperimen laboratorium, dan simulasi hidrodinamika untuk meneliti bagaimana E. crassipes memodifikasi kecepatan aliran, waktu tinggal, dan retensi mikroplastik pada kondisi aliran terkontrol maupun alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan eceng gondok secara signifikan menurunkan kecepatan aliran—dari 3,19 m/s menjadi 1,51 m/s pada pipa berdiameter 1 cm dan dari 0,75 m/s menjadi 0,27 m/s pada pipa berdiameter 2,5 cm—akibat peningkatan resistansi hidraulik oleh struktur akar dan batang. Penurunan kecepatan aliran ini meningkatkan waktu tinggal hidraulik, mendukung sedimentasi mikroplastik, dan proses biofiltrasi. Waktu tinggal yang lebih lama juga meningkatkan kapasitas sistem dalam retensi polutan dan perbaikan kualitas air. Kesimpulannya, sistem biofiltrasi berbasis eceng gondok efektif berfungsi sebagai regulator hidraulik alami, mendukung mitigasi mikroplastik secara berkelanjutan. Implementasinya di sepanjang tepi sungai dengan kepadatan tanaman terkontrol (25–50% dari luas aliran efektif) menawarkan solusi berbasis alam untuk rehabilitasi sungai dan pengelolaan sumber daya air terpadu di lingkungan perkotaan tropis. Temuan ini memberikan implikasi praktis dalam perancangan dan pengelolaan sistem filtrasi berbasis eceng gondok di sungai perkotaan tropis, khususnya melalui pengaturan kepadatan tanaman dan kondisi aliran untuk mengoptimalkan waktu tinggal hidraulik serta meningkatkan efisiensi penurunan mikroplastik.   Kata kunci: Mikroplastik, Filtrasi, Eceng Gondok, Hidrolika, Biofiltrasi   ABSTRACT: This study aims to assess the hydrological performance of a water hyacinth (Eichhornia crassipes)-based filtration system for microplastic removal in the Krueng Aceh River. A quantitative descriptive approach was employed, integrating field measurements, laboratory-scale experiments, and hydrodynamic simulations to investigate how E. crassipes modifies flow velocity, residence time, and microplastic retention under controlled and natural flow conditions. The results show that the presence of water hyacinth significantly reduces flow velocity—from 3.19 m/s to 1.51 m/s in 1 cm diameter pipes, and from 0.75 m/s to 0.27 m/s in 2.5 cm pipes—due to increased hydraulic resistance from root and stem structures. This reduction in flow velocity enhances hydraulic retention time, facilitating microplastic sedimentation and biofiltration processes. The extended residence time further improves the system’s capacity for pollutant retention and overall water quality enhancement. In conclusion, the water hyacinth-based biofiltration system effectively functions as a natural hydraulic regulator, supporting sustainable microplastic mitigation. Its implementation along river margins with controlled plant density (25–50% of the effective flow area) offers a practical nature-based solution for river rehabilitation and integrated water resource management in tropical urban environments. These findings provide practical design and management insights for implementing water hyacinth-based filtration systems in tropical urban rivers, particularly by optimizing plant density and flow conditions to enhance hydraulic retention time and microplastic removal efficiency.                                                                                Keywords: Microplastic, Filtration, Water Hyacinth, Hydraulics, Biofiltration 
Seismic Resilience of The Amma Toa Kajang Traditional House: An Evaluation of Its Structure and Construction Based on Earthquake-Resistant Building Principles Armin Aryadi
Jurnal Linears Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/5g651034

Abstract

ABSTRAK: Hunian yang telah teruji interaksinya dengan lingkungan alam dalam jangka waktu lama adalah rumah tradisional. Rumah tradisional Kajang Ammatoa berbentuk sama dengan rumah panggung dan menunjukkan kesamaan (homogenitas) baik dalam bentuk (sederhana, tanpa ornamen dan berukuran agak kecil), konstruksi, tata ruang dan penggunaan material, sehingga tidak terlihat tanda-tanda stratifikasi sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penerapan prinsip bangunan tahan gempa dalam pembangunan rumah bagi masyarakat Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba dari segi bentuk dan struktur bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif, fenomenologis, dan eksploratif yang mengandalkan kemampuan untuk menafsirkan, membandingkan, dan menginterpretasikan data primer dan sekunder. Analisis mengacu pada dasar teoritis dan berangkat dari kerangka teoritis. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkap fakta tentang penerapan prinsip bangunan tahan gempa pada hunian Kajang di daerah Ammatoa, Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Kajang memiliki bentuk (1) rencana yang sederhana dan simetris, yaitu bentuk persegi panjang, dengan proporsi yang hampir sesuai dengan rumus "rasio emas", (2) menggunakan bahan lokal, yaitu kayu ringan, (3) sistem konstruksi, yaitu sambungan kolom-balok (mortise-tenon) dengan penguatan tiang, telah terbukti efektif dalam menanggapi beban gempa, dan secara keseluruhan struktur dan konstruksi Rumah Komunitas Ammatoa Kajang memenuhi semua prinsip rumah tahan gempa. Temuan penelitian ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan pedoman desain dan konservasi rumah vernakular berbasis material lokal yang adaptif terhadap gempa serta memperkuat strategi mitigasi bencana pada perumahan tradisional di masa depan.    Kata kunci:  Rumah Kajang, Tahan Gempa, Konstruksi Vernakular, Material Lokal, Struktur Kayu     ABSTRACT: A traditional house is one that has been tested over a long period of time for its interaction with the natural surroundings. The Ammatoa Kajang traditional house is in the form of a stilt house and shows a high degree of similarity (homogeneity) in shape (simple, without ornaments and rather small in size), construction, spatial arrangement, and use of materials, so that there are no visible signs of social stratification. The aim of this research is to identify the application of earthquake-resistant building principles in the construction of houses for the Ammatoa Kajang community in Bulukumba Regency, with respect to building shape and structure. The research method used is descriptive, phenomenological, and exploratory, relying on the ability to interpret, compare, and analyze primary and secondary data. Analysis refers to a theoretical basis and is grounded in a theoretical framework. This is intended to reveal facts about the application of earthquake-resistant building principles to Kajang residences in the Ammatoa area, Bulukumba Regency. The results of the research show that the Kajang House has the shape of (1) a simple and symmetrical plan, namely a rectangular shape, with proportions that almost match the formula "The golden section”, (2) using local materials, namely light wood, (3) construction system, namely Column-beam connections (mortise-tenon) with post reinforcement have proven effective in responding to earthquake loads, and overall the structure and construction of the Ammatoa Kajang Community House meets all the principles of earthquake-resistant houses. The findings of this study are expected to serve as a reference for the development of design and conservation guidelines for vernacular houses based on local earthquake-resistant materials, as well as for strengthening disaster mitigation strategies in traditional housing in the future.   Keywords: Kajang House, Earthquake Resistant, Vernacular Construction, Local Materials, Wooden Structure
Penentuan Trase Jalan Alternatif Bandar Udara Siboru Fakfak menggunakan Least Cost Path Analysis Herdy Pratama Putra; Ade Rifaldi Akatian; Maikel Linggi; Ismet Abdulchaliq Syarif; Achmad Setiawan
Jurnal Linears Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/pcx57q29

Abstract

ABSTRAK Aksesibilitas dari kawasan perkotaan Fakfak menuju Bandar Udara Siboru saat ini masih belum efisien, yang ditunjukkan oleh waktu tempuh sekitar dua jam untuk jarak 35,6 km. Kondisi ini terutama disebabkan oleh tingginya hambatan samping pada rute eksisting. Penelitian ini bertujuan merumuskan trase jalan alternatif melalui pendekatan spasial kuantitatif menggunakan metode Least Cost Path Analysis (LCPA) berbasis Geographic Information System (GIS). Penentuan jalur optimal dilakukan dengan mempertimbangkan tiga variabel pembatas utama, yaitu kemiringan lereng, tutupan lahan, dan status kawasan hutan. Hasil pemodelan spasial menunjukkan bahwa trase alternatif terpilih memiliki panjang 26,70 km dan secara komputasional mampu menghindari lereng sangat curam serta kawasan konservasi cagar alam (0%), sekaligus meminimalkan intervensi terhadap kawasan permukiman hingga 2,33%. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi algoritma LCPA dengan pembatas konservasi tidak hanya menghasilkan efisiensi dalam perencanaan biaya konstruksi, tetapi juga efektif dalam meminimalkan potensi konflik tata ruang dan dampak kerusakan ekologis. Secara operasional, trase usulan berpotensi menurunkan waktu tempuh menjadi sekitar 45–60 menit. Dengan demikian, penelitian ini memberikan dasar yang kuat bagi perencanaan infrastruktur transportasi yang efisien, berkelanjutan, dan adaptif dalam mendukung pengembangan konektivitas multimoda di Papua Barat. Kata kunci: aksesibilitas, Bandar Udara Siboru, konektivitas wilayah, Least Cost Path Analysis, Geographic Information System   ABSTRACT Accessibility from the urban area of Fakfak to Siboru Airport is currently inefficient, as indicated by a travel time of approximately two hours for a distance of 35.6 km. This condition is primarily caused by high side friction along the existing route. This study aims to formulate an alternative road alignment using a quantitative spatial approach through the Geographic Information System (GIS)-based Least Cost Path Analysis (LCPA) method. The determination of the optimal route is based on three main constraint variables: slope, land cover, and forest area status. The spatial modeling results indicate that the selected alternative alignment has a total length of 26.70 km and is computationally capable of avoiding very steep slopes and protected nature reserve areas (0%), while minimizing intervention in residential areas to only 2.33%. These findings demonstrate that the integration of the LCPA algorithm with conservation constraints not only enhances efficiency in construction cost planning but also effectively reduces potential spatial conflicts and ecological degradation. Operationally, the proposed alignment has the potential to reduce travel time to approximately 45–60 minutes. Therefore, this study provides a robust foundation for planning efficient, sustainable, and adaptive transportation infrastructure to support the development of multimodal connectivity in West Papua. Keywords: accessibility, Siboru Airport, regional connectivity, Least Cost Path Analysis, Geographic Information System
Integrasi Analisis Kerentanan dan Desain Bangunan Ukur dalam Mitigasi Banjir Skala Desa Ajami, Frans Mitran; Indrayani , A. Fahmi; Ikram, Firdaus; Bahrun, Ria Selfiyani
Jurnal Linears Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/rytn8428

Abstract

ABSTRAK: Banjir merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak signifikan terhadap lingkungan, infrastruktur, serta kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan analisis kerentanan banjir dengan perancangan bangunan ukur adaptif sebagai infrastruktur mitigasi berbasis desa di Desa Leyao, Gorontalo Utara. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial berbasis GIS dengan teknik overlay, scoring, dan pembobotan terhadap parameter topografi, curah hujan, jarak ke sungai, penggunaan lahan, serta kepadatan permukiman, yang dipadukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk merumuskan desain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah utara desa memiliki tingkat kerentanan tinggi hingga sangat tinggi, sehingga menjadi prioritas dalam penempatan bangunan ukur dengan desain adaptif seperti peninggian elevasi lantai, fondasi beton bertulang, dan dinding kedap air. Integrasi ini terbukti meningkatkan efektivitas pemantauan hidrologi dan sistem peringatan dini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan terintegrasi mampu memperkuat mitigasi banjir skala komunitas. Implikasinya, model ini dapat diterapkan sebagai acuan pengembangan infrastruktur mitigasi berbasis masyarakat di wilayah rawan banjir lainnya.  Kata kunci: Banjir, Mitigasi Bencana, Analisis Kerentanan, Bangunan Ukur, GIS    ABSTRACT: Flooding is a frequent disaster in Indonesia, causing significant impacts on the environment, infrastructure, and socio-economic conditions of communities. This study aims to integrate flood vulnerability analysis with the design of adaptive measuring structures as village-scale mitigation infrastructure in Leyao Village, North Gorontalo. The method employs GIS-based spatial analysis using overlay, scoring, and weighting techniques on parameters including topography, rainfall, river proximity, land use, and settlement density, combined with a qualitative descriptive approach to formulate design criteria. The results indicate that the northern area has high to very high vulnerability, making it a priority for locating measuring structures with adaptive features such as elevated floors, reinforced concrete foundations, and waterproof walls. This integration enhances hydrological monitoring and early warning system effectiveness. The study concludes that such an integrated approach strengthens community-based flood mitigation. The implication is that this model can serve as a reference for developing sustainable, community-oriented mitigation infrastructure in other flood-prone areas. Keywords: Flood, Disaster Mitigation, Vulnerability Analysis, Measuring Structure, GIS

Page 12 of 13 | Total Record : 121