cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sistem Kesehatan
ISSN : 24608831     EISSN : 2460819X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sistem Kesehatan dibawah Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, merupakan sarana publikasi ilmiah yang terbit setiap empat bulan yang sudah memiliki nomor ISSN yang cetak maupun yang elektronik dengan nomor pISSN 2460-8831 dan eISSN 2460-819X. Terbitan pertama Jurnal Sistem kesehatan yaitu pada bulan September 2015. Jurnal Sistem Kesehatan menggunakan sistem peer review untuk seleksi artikel. Jurnal Sistem Kesehatan (JSK) dapat menerima artikel penelitian asli yang relevan pada bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Kedokteran Komunitas, Ilmu Kedokteran Keluarga/Kedokteran Layanan Primer (DLP), Manajemen Kesehatan dan berbagai artikel yang terkait dengan penguatan sistem kesehatan. Format artikel penelitian terdiri atas halaman judul, abstrak (Indonesia dan Inggris), pendahuluan (memuat latar belakang penelitian dan tujuan penelitian) metode, hasil, pembahasan (pembahasan, keterbatasan penelitian simpulan dan saran), dan daftar pustaka.
Arjuna Subject : -
Articles 277 Documents
Prevalensi Penyakit Tidak Menular pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di Kota Bandung Tahun 2013-2015 Adhania, Cindy Cahya; Wiwaha, Guswan; Fianza, Pandji Irani
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.32 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i4.18499

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) diprediksi akan meningkat. Di Indonesia, PTM mengalami baik peningkatan maupun penurunan. Adanya perbedaan antara prediksi dengan data dapat dikarenakan terbatasnya data terpublikasi sehingga kurang menggambarkan perkembangan terkini PTM. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai perkembangan PTM di Indonesia, dibutuhkan data prevalensi PTM pada daerah tertentu, terutama di Kota Bandung. Tujuan penelitian yaitu mengetahui prevalensi PTM di Kota Bandung dan perkembangannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain studi potong lintang. Objek penelitian berupa laporan bulanan 1 (LB1) Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Kota Bandung tahun 2013, 2014, dan 2015. Penelitian dilakukan di Kota Bandung pada Bulan Februari 2016-November 2016. Hasil menunjukan bahwa prevalensi PTM di Kota Bandung pada tahun 2013, 2014, dan 2015 secara berurutan yaitu 25,35%, 23,21%, dan 26,98%. Kategori PTM yang meningkat diantaranya penyakit kelainan metabolik. Disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan prevalensi PTM di Kota Bandung dari tahun 2013 ke tahun 2015. Di masa mendatang, diperlukan data prevalensi PTM secara lebih menyeluruh dalam jangka waktu yang lebih lama untuk hasil yang lebih akurat.Kata kunci: Bandung, fasilitas kesehatan tingkat pertama, penyakit tidak menular, prevalensi
Gambaran Lama Waktu Pelepasan Plasenta Dengan Manajemen Aktif Kala Iii Dan Masase Fundus Setelah Bayi Lahir Di Rsud Kelas B Kabupaten Subang Alviani, Euis Sisca; Wijaya, Merry; Aprilliani, Irna Kurnia
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.442 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i4.18496

Abstract

    Penyebab AKI di Indonesia yaitu perdarahan saat persalinan, MAK III terbukti mengurangi perdarahan, MAK III yaitu suntik oksitosin 1 menit setelah bayi lahir ketika tidak ada janin ke dua, penegangan tali pusat terkendali, masase fundus uteri setelah plasenta lahir, dengan MAK III dapat mengurangi perdarahan namun, penelitian lain menyebutkan masase fundus uteri sebelum plasenta lahir dapat mengurangi kehilangan darah, waktu pengeluaran plasenta berpengaruh terhadap pengeluaran darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui lamanya waktu pelepasan plasenta dengan MAK III dan masase fundus uteri setelah bayi lahir di RSUD Subang. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan secara Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling sebanyak 66 ibu bersalin di RSUD Subang dengan menggunakan lembar observasi dan dilaksanakan pada 29 April – 3 Juli 2015.   Hasil penelitian diperoleh gambaran lama waktu pelepasan plasenta dengan MAK III dari 33 responden 87,9% dan 33 responden masase fundus uteri 81,8% terbanyak dalam waktu <15 menit untuk usia, paritas yang dilakukan dengan MAK III <15 menit adalah usia 20-35 tahun 60,6% dan 2-4 (multipara) 48,4% untuk masase 20-35 tahun 36,3% dan 1 (primipara) 54,5%. Simpulan dari penelitian adalah lama pelepasan plasenta dengan MAK III dan masase fundus uteri setelah bayi lahir terbanyak <15 menit.Kata Kunci: Manajemen Aktif Kala III, Masase fundus uteri, Pelepasan Plasenta, Waktu
Gambaran Efek Samping dan Kepatuhan Terapi Antiretroviral pada Pasien HIV di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2015 Puspasari, Dewi; Wisaksana, Rudi; Rovina, Rovina
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.97 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i4.18495

Abstract

Jawa Barat berada dalam posisi 4 besar jumlah kasus baru infeksi HIV terbanyak di Indonesia selama 2012-2014. Pengidap HIV memerlukan terapi Antiretroviral (ARV) agar perkembangan penyakit, komplikasi dan penularannya dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efek samping dan kepatuhan terapi antiretroviral pada pasien HIV berbagai stadium. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada September-November 2016. Data sekunder diambil secara restropektif dari 201 rekam medik (total sampling) pasien HIV baru di Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Januari - Desember 2015. Hasil menunjukkan persentase stadium pasien HIV yaitu stadium 4(41,8%), 1(25,4%), 3(24,9%) dan 2(7,9%). Kebanyakan pasien terdiagnosis dan/atau berobat ketika sakitnya sudah parah atau justru saat screening pada kelompok berisiko. Jumlah pasien yang mengalami efek samping ARV lebih banyak (50,7%) dibanding yang tidak. Efek samping yang paling banyak muncul diantaranya mual, pusing, gatal dan ruam kemerahan pada kulit. Efek samping yang timbul bergantung pada variabilitas kadar ARV dalam plasma. Persentase pasien yang patuh menjalani terapi ARV adalah 58,2%. Tingkat kepatuhan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan keyakinan akan pentingnya pengobatan. Disimpulkan bahwa efek samping yang timbul bervariasi dan dialami oleh lebih banyak pasien, jumlah pasien patuh menjalani terapi antiretroviral lebih dari setengah total jumlah pasien.Kata kunci: Antiretroviral, Efek samping, Kepatuhan, Pasien HIV, Stadium klinis.
Gambaran Psikososial pada Pasien Multidrug Resistant Tuberculosis dengan Gangguan Dengar Sensorineural di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Syarifah, Hayati; Amelia, Indah; Anggraeni, Ratna
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.376 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i4.18494

Abstract

Pasien Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR TB) diterapi dengan obat anti tuberkulosis lini kedua, seperti kanamisin. Kanamisin  bersifat ototoksik, yang menyebabkan pasien berisiko mengalami gangguan dengar sensorineural (SNHL). Gangguan dengar ini dapat memberikan efek terhadap psikososisal seseorang yang menyebabkan keterbatasan dalam mejalankan kehidupan sehari-hari (handicap).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psikososial pada pasien MDR TB dengan gangguan dengar sensorineural di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian ini berupa deskriptif kuantitatif yang dilakukan dari September - Desember 2016. Penelitian dilakukan pada pasien yang berobat di Poli MDR TB RSHS yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian di wawancara melalui telepon dengan menggunakan kuesioner Hearing Handicap Inventory for Adults (HHIA). Jumlah subjek pada penelitian ini sebanyak 26 responden. Hasil penelitian ini  menunjukkan sebagian besar skor HHIA terhitung rendah, meskipun dengan rentang nilai yang cukup besar (0-48). Sebagian besar responden memiliki SNHL derajat ringan di telinga kiri-kanan (SNHL ringan-ringan).  Responden dengan SNHL ringan-ringan atau ringan-sedang tidak merasakan handicap. Responden dengan SNHL derajat ringan-berat dan sedang-sedang mengalami mild-moderate handicap. Responden dengan SNHL derajat berat-berat mengalami significant handicap. Kesimpulannya, keadaan psikososial pada pasien MDR TB dengan SNHL tergantung dari derajat SNHL yang diderita.Kata Kunci: handicap, MDR TB, psikososial, SNHL
Aurikuloplasti (Serial Kasus) pada Mikrotia Post Graft dan Rekonstruksi Tahap 1 Yudhiono, Fanny; Boesoerie, Shinta Fitri
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.751 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19188

Abstract

Mikrotia didefinisikan sebagai malformasi daun telinga yang memperlihatkan kelainan bentuk ringan sampai berat dengan ukuran kecil sampai tidak terbentuk sama sekali (anotia). Saat ini penggunaan tandur tulang rawan iga autologus masih menjadi baku emas untuk rekonstruksi mikrotia. Prosedur ini diketahui memiliki komplikasi yang sangat jarang, meskipun begitu masih terdapat literatur yang melaporkan terdapat komplikasi berupa infeksi dan reaksi penolakan tubuh pada prosedur tersebut. Kasus ini diajukan untuk menunjukan keberhasilan tahap pertama rekonstruksi mikrotia dilihat dari tanda infeksi dan reaksi penolakan tubuh terhadap tandur tulang rawan iga.  Studi ini merupakan suatu laporan kasus mengenai rekonstruksi telinga dengan prosedur aurikuloplasti tahap 1 pada wanita 17 tahun dengan mikrotia bilateral derajat 3 dan laki laki usia 15 tahun dengan mikrotia unilateral derajat 3 di Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin tahun 2016.  Evaluasi lokasi rekonstruksi pada saat kedua pasien pulang menunjukkan tidak adanya tanda infeksi maupun reaksi penolakan tubuh. Penggunaan tandur autologus masih mejadi pilihan utama dalam penatalaksaanaan operasi mikrotia. Prosedur yang tepat serta perawatan yang baik dapat mengurangi angka kejadian kejadian infeksi dan terhindar dari reaksi penolakan tubuh terhadap jaringan. Pada kasus ini toleransi telinga terhadap tekanan jangka panjang memiliki respon yang cukup baik.Kata kunci: aurikuloplasti, graft, mikrotia, rekonstruksi
Hubungan Fungsi Keluarga Dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Kronis Degeneratif di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Oktowaty, Susi; Setiawati, Elsa Pudji; Arisanti, Nita
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.172 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19180

Abstract

Fungsi keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan kualitas hidup pasien penyakit kronis. Memiliki kualitas hidup yang baik akan mengurangi risiko terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk keadaan. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dengan kualitas hidup pasien penyakit kronis degeneratif yang tergabung dalam komunitas Program Pengelolaan Penyakit Kronis Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau Prolanis BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang ini dilakukan pada bulan Januari hingga Februari 2017 dengan menggunakan kuesioner dari WHO Quality of Life - BREF (WHOQOL-BREF) dan APGAR Keluarga. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling sebanyak 128 peserta Prolanis di Klinik Pratama Mitra Sehati yang kontrol rutin dalam 3 bulan terakhir. Pada penilaian APGAR keluarga didapatkan 52,3% peserta memiliki keluarga disfungsional sedang dan 43,8% sangat fungsional. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara fungsi keluarga dengan kualitas hidup peserta Prolanis (p value=0,014) sedangkan pengaruh fungsi keluarga terhadap kualitas hidup peserta Prolanis sebesar 8,8% (R2=0,088). Hal ini menjadi salah satu aspek penting bagi dokter di layanan primer agar lebih melibatkan peran fungsi keluarga dalam mengelola pasien penyakit kronis.Kata kunci: fungsi keluarga, kualitas hidup, pasien penyakit kronis degeneratif
Rinosinusitis Alergi pada Hipertiroidisme Kartika, Orlena Dharmantary; Ratunanda, Sinta Sari; Madiadipoera, Teti
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.477 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19189

Abstract

Prevalensi penyakit alergi semakin meningkat di seluruh dunia, tetapi hubungan dan pengaruhnya dengan penyakit tiroid autoimun khususnya hipertiroidisme masih belum banyak dibahas dan dimunculkan kasusnya. Kasus ini diajukan untuk memberikan gambaran bahwa rinosinusitis alergi dan penyakit tiroid autoimun khususnya hipertiroidisme memiliki satu mata rantai yang saling berhubungan dari segi patofisiologi dan akan menentukan morbiditas hipertiroidisme tersebut. Dilaporkan dua kasus rinosinusitis alergi disertai hipertiroidisme. Kasus pertama wanita usia 64 tahun dengan benjolan di leher anterior, dan kasus kedua pasien pria usia 61 tahun yang dikonsulkan dari Poliklinik Endokrinologi Penyakit Dalam dengan keluhan utama hidung tersumbat. Pada kedua pasien dilakukan pemeriksaan skor total gejala hidung, penilaian kualitas hidup dengan SNOT-22, pemeriksaan nasoendoskopi dan Tes Kulit Tusuk (TKT), serta pemantauan kadar hormon tiroid dan konsumsi obat antitiroid, kemudian dilakukan tata laksana rinosinusitis alergi dengan pemberian cuci hidung, antibiotik, kortikosteroid intranasal, dan antihistamin generasi kedua. Didapatkan hasil penurunan skor total gejala hidung, perbaikan kualitas hidup, perbaikan secara nasoendoskopi, penurunan kadar hormon tiroid, serta penurunan konsumsi obat antitiroid. Rinosinusitis alergi pada hipertiroidisme harus ditangani dengan baik karena dengan mengatasi rinosinusitis alergi maka akan menurunkan morbiditas hipertiroidisme.Kata kunci: rinosinusitis alergi, penyakit tiroid autoimun, hipertiroidisme
Pengembangan Registri Psikotik Berbasis Rumah Sakit pada Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Rahmini, Elsi; Sunjaya, Deni Kurniadi; Wiwaha, Guswan
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.809 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19181

Abstract

Registri psikotik dapat memberikan informasi tentang penyakit jiwa yang mudah diakses serta menjadi alat perencanaan perawatan dan penanganan pasien psikotik. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi potensi, menggali struktur registri dan membangun kerangka konsep registri psikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat.Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan riset operasional. Metode pengumpulan data dengan wawancara mendalam, Focus Group Discussion dan observasi pada 17 responden. Analisis data melalui koding, kategorisasi, penyusunan tema dan interpretasi data.Potensi registri psikotik di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat terdiri dari komponen input dan process yaitu: kualitas SDM, SOP, jaringan, pembiayaan, data klinik awal, sarana penunjang (input); perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (process). Struktur registri berupa input yang terdiri dari kualitas SDM, SOP, software, jaringan, pembiayaan, serta data klinik awal. Kerangka konsep registri psikotik berupa perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Ketiga proses tersebut memerlukan input berupa kualitas SDM, SOP, software, jaringan, pembiayaan, data klinik awal dan sarana penunjang, output berupa data demografi, data administrasi dan data klinik. Outcome registri psikotik berupa manajemen klinik dan riset data informasi.Kerangka konsep yang dibangun dapat menjadi dasar implementasi riset. Registri psikotik yang dibangun akan mendukung kebijakan pengelolaan gangguan jiwa di Provinsi Jawa Barat dan nasional.Kata kunci: Pengembangan, Psikotik, Registri
Asas Perlindungan Hukum Dan Entrustable Professional Activities (Epas) Dalam Proses Kredensial Mahasiswa Dokter Layanan Primer Masa Transisi Di Wahana Pendidikan Suwangto, Erfen Gustiawan; Syukriani, Yoni Fuadah; Arya, Insi Farisa
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.46 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19190

Abstract

   Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait pendidikan Dokter Layanan Primer (DLP), terdapat konsep program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi dokter yang telah berpraktik lebih dari lima tahun untuk melalui Pendidikan Masa Transisi selama enam bulan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai proses supervisi terhadap peserta didik dalam program singkat ini. Di luar negeri, proses supervisi untuk peserta program spesialis kedokteran mulai dikembangkan dengan program bernama Entrustable Professional Activities (EPAs). Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif berdasarkan analisis data secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi tentang proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan, deskripsi asas-asas perlindungan hukum terkait Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, dan jawaban bahwa asas perlindungan hukum akan terpenuhi dengan integrasi EPAs ke dalam proses kredensial antara Mahasiswa Program DLP dengan wahana pendidikan. Diskusi penelitian ini adalah tentang gambaran proses kredensial Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis berdasarkan aturan yang telah ada, jika diterapkan bagi Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan yang memakai EPAs dalam sistem supervisinya, gambaran asas perlindungan hukum yang terkait dengan Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, serta menjawab apakah integrasi EPAs dalam proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi akan memenuhi asas perlindungan hukum bagi mereka.Kata kunci: perlindungan hukum, Entrusted Professional Activities, Program Dokter Layanan Primer Masa Transisi
Perbandingan Pengaruh LIDC yang Dikombinasi Dengan Argentum dan Antibiotik Untuk Proses Penyembuhan Luka Terinfeksi Ismiarto, Yoyos Dias; Kurniawati, Anita; Pardamean, Arnold David
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.998 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19183

Abstract

Luka terinfeksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan morbiditas pasien ortopedi, termasuk mempengaruhi lamanya rawat inap, biaya, kepuasan pasien, keberhasilan pasca operasi, dan komorbiditas terkait lainnya. Resistensi antibiotik menyebabkan penyembuhan luka menjadi terhambat. Tujuan penelitian ini menemukan pengobatan alternatif untuk menangani luka yang terinfeksi dengan meminimalkan penggunaan antibiotik.Disain penelitian prospektif eksperimental dengan Rancang Acak Lengkap (RAL) menggunakan 16 kelinci Selandia Baru dengan luka yang diinokulasi Staphylococcus aureus. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang hanya diberi antibiotik (A) dan kelompok yang diberi gabungan argumentum (Ag) dan LIDC (B). Hasil diperoleh pada hari ke-6 dan ke-14 dengan mengukur kadar FGF-2, FGF-7, jumlah fibroblas dan laju kontraksi luka. Data diolah secara statistik menggunakan Uji Kruskal Wallis dengan SPSS 2.0. Penelitian ini dilakukan pada September 2017 di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungTerdapat peningkatan yang signifikan dari kadar FGF-2, FGF-7, dan laju kontraksi luka dengan menggunakan kombinasi Ag dan listrik. Selain itu, penggunaan Ag dan kombinasi listrik dapat menekan pertumbuhan koloni bakteriPengelolaan luka terinfeksi dengan menggunakan Ag dan LIDC menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan menggunakan antibiotikKata Kunci: Argentum, FGF-2, FGF-7, LIDC, Laju Kontraksi Luka

Page 10 of 28 | Total Record : 277


Filter by Year

2015 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 2 (2021): Volume 6 Nomor 2 Desember 2021 Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Nomor 1 September 2021 Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4 Juni 2020 Vol 5, No 3 (2020): Volume 5 Nomor 3 Maret 2020 Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 Desember 2019 Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 September 2019 Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019 Vol 4, No 3 (2019): Volume 4 Nomor 3 Maret 2019 Vol 4, No 2 (2018): Volume 4 Nomor 2 Desember 2018 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018 Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018 Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018 Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018 Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Desember 2017 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Desember 2017 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 September 2017 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 September 2017 Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017 Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017 Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017 Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Desember 2016 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Desember 2016 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016 Vol 1, No 4 (2016): Volume 1 Nomor 4 Juni 2016 Vol 1, No 4 (2016): Volume 1 Nomor 4 Juni 2016 Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016 Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015 More Issue