cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sistem Kesehatan
ISSN : 24608831     EISSN : 2460819X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Sistem Kesehatan dibawah Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, merupakan sarana publikasi ilmiah yang terbit setiap empat bulan yang sudah memiliki nomor ISSN yang cetak maupun yang elektronik dengan nomor pISSN 2460-8831 dan eISSN 2460-819X. Terbitan pertama Jurnal Sistem kesehatan yaitu pada bulan September 2015. Jurnal Sistem Kesehatan menggunakan sistem peer review untuk seleksi artikel. Jurnal Sistem Kesehatan (JSK) dapat menerima artikel penelitian asli yang relevan pada bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, Kedokteran Komunitas, Ilmu Kedokteran Keluarga/Kedokteran Layanan Primer (DLP), Manajemen Kesehatan dan berbagai artikel yang terkait dengan penguatan sistem kesehatan. Format artikel penelitian terdiri atas halaman judul, abstrak (Indonesia dan Inggris), pendahuluan (memuat latar belakang penelitian dan tujuan penelitian) metode, hasil, pembahasan (pembahasan, keterbatasan penelitian simpulan dan saran), dan daftar pustaka.
Arjuna Subject : -
Articles 277 Documents
Fiksasi Endobutton pada disrupsi sendi radioulna distal dalam meningkatkan kemampuan fungsional Maruli Oloan Tua; Ghuna Arioharjo Utoyo
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.265 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22989

Abstract

Fiksasi Disrupsi pada distal radial ulnar joint pada fraktur radius ulna dengan endobutton masih jarang dilakukan baik di Indonesia maupun diluar negeri, dari tahun 2015 sampai dengan 2016 hanya ada 1 pasien yang dilakukan fiksasi dengan endobutton di rumah sakit Hasan Sadikin. Penggunaan Endobutton pada kasus disrupsi dari distal radioulnar mempunyai keuntungan karena pasien dapat memulai latihan gerak lebih awal sehingga pasien dapat memulai aktifitasnya .Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan fungs pasien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari setelah dilakukan operasi dengan endobutton, kemampuan diukur dengan mengunakan skor DASH.Laki-laki umur 13 tahun datang dengan keluhan nyeri dan deformitas pada pergelangan tangan kiri. Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya nyeri pada daerah pergelangan tangan kiri. Pada pemeriksaan xray di temukan adanya diskontinuitas dari tulang radius dan ulna disertai adanya pelebaran dari ligamen radioulnar . Pasien di lakukan operasi dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna mengunakan plate dan screw dan dilakukan fiksasi dengan endobutton untuk robekan pada distal ligament radioulnar. Kemudian dilakukan follow up selama satu tahun. Skor Dash diukur umtuk melihat keterbatasan fungsi dalam melakukan kegiatan, pada bulan pertama skor DASH 49,2 kemudian menurun pada bulan ketiga menjadi 35, dan turun lagi pada bulan ke enam menjadi 20, pada bulan ke Sembilan menjadi 3,3 dan pada bulan ke 12 menjadi 0Kesimpulan dari follow up selama satu tahun didapatkan hasil klinis dan fungsional yang sangat baik, tidak ada lagi nyeri saat mengangkat beban,  pergerakan dari sendi yang sangat baik, dan pasien sangat senang dengan hasil operasi. Kedepannya perlu dilakukan penelitian yang lebih banyak mengenai pemakaian endobutton pada kasus dirupsi dari sendi distal radioulnar.Kata kunci : robekan distal radioulnarjoint, endobutton, fiksasi
Luaran Fungsional Pascaneurektomi Pada Pasien Giant Morton’s Neuroma Diki Julkarnain; Darmadji Ismono; Muhammad Naseh Budi; Herry Herman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.948 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22982

Abstract

Lokasi Morton’s neuroma yang paling sering adalah pada sela jari kaki dua dan tiga. Giant Morton’s neuroma adalah kasus tumor jaringan lunak yang jarang terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai luaran fungsional jangka pendek pada pasien giant Morton’s neuroma yang sudah dilakukan neurektomi. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif yang mempelajari kasus giant Morton’s neuroma yang dikelola di RSHS Bandung yang di follow up selama 6 bulan. Hasil penelitian didapatkan 1 pasien dengan giant Morton’s neuroma, jenis kelamin wanita, usia 14 tahun. Pasien tersebut menjalani operasi neurektomi dan dilakukan pengukuran luaran fungsional menggunakan skor evaluasi klinis neuroma Giannini dan skor AOFAS pada tiga bulan dan enam bulan pascaneurektomi. Dari follow up 3 bulan, didapatkan kategori cukup dengan skor neuroma Giannini 50 poin dan skor AOFAS 57 poin. Sedangkan pada follow up 6 bulan masuk kategori baik dengan skor neuroma Giannini 60 poin dan skor AOFAS 75 poin. Terdapat peningkatan luaran fungsional pada follow up enam bulan pascaneurektomi. Defisit sensorik dan gangguan pada kaki dan engkel sering terjadi, namun tidak mempengaruhi kepuasan pasien.Kata kunci: giant Morton’s neuroma, luaran fungsional, neurektomi
Faktor Risiko Penyebab Foodborne Disease pada Siswa SD Syndi Nurmawati; Susantina Prodjosoewojo; Nurul Hidayah Chairunnisa; Hofiyah Djauhari; Bachti Alisjahbana
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.173 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22990

Abstract

Penularan foodborne disease sering terjadi pada anak-anak, terutama di sekolah. Karawang memiliki angka kejadian diare yang tinggi, namun belum ada penelitian mengenai faktor yang mungkin berperan dalam kejadian diare. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada siswa sekolah dasar yang sudah dapat membaca dan menulis di SD di Karawang. Subjek adalah 101 siswa kelas 2 sampai 6 SDN Lemahmakmur 1 Karawang. Pengetahuan dan perilaku di asses dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur pada tanggal 20 September 2018. Sebagian besar siswa (69,3%) izin sakit minimal 1 kali dalam 1 bulan terakhir menandakan permasalahan kesehatan yang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran siswa. Pengetahuan mengenai foodborne disease masih kurang pada lebih dari 50% responden sehingga perlu dilakukan penyuluhan mengenai hidup bersih sehat. Sebagian besar siswa membeli makanan yang berisiko tinggi menjadi agen penularan foodborne disease yaitu es batu (80% membeli es batu 7 kali dalam seminggu) serta gorengan (20,2% membeli gorengan 3 kali dalam seminggu). Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pola kebersihan penjaja makanan di sekitar sekolah.Kata kunci: Foodborne disease, pengetahuan, perilaku, siswa SD 
ANALISIS BEBAN KERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT GIGI MULUT UNIVERSITAS PADJADJARAN TAHUN 2018 Cucu Cucu; Hesti Nuraeni; Anna Muryani
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.684 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22983

Abstract

Semakin meningkatnya jumlah pasien yang dirawat dirumah sakit menyebabkan semakin berat beban kerja petugas kesehatan, salah satunya adalah perawat. Di Instalasi rawat inap RSGM Unpad, jumlah pasien semakin bertambah,BOR rata-rata sebesar 60% pada bulan januari 2018 sedangkan perawat jaga setiap shift hanya 1 orang, hal tersebut dirasakan berat bagi perawat, ditambah apabila ada pasien yang membutuhkan observasi ketat karena adanya peningkatan suhu atau kondisi kritis lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kebutuhan tenaga perawat di ruang rawat inap rumah sakit, serta sebagai dasar untuk menentukan kapasitas kerja perawat agar terdapat keseimbangan antara tenaga perawat dan beban kerja. Metode dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif, yaitu mengobservasi kegiatan perawat pelaksana dengan work sampling untuk mengumpulkan informasi mengenai beban kerja perawat di ruang rawat inap.sedangkan perhitungan tenaga perawat menggunakan metode Workload Indicator Staffing Needs (WISN). Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat Inap RSGM UNPAD pada bulan Agustus 2018.  Hasil Kegiatan  produktif perawat paling tinggi adalah pada shift pagi, sebesar 81,66%. Persentase rata-rata untuk seluruh kegiatan perawat produktif selama 24 jam yaitu sebesar 69,38% artinya lebih kecil dari waktu kerja yang optimum. Hal ini menunjukkan bahwa beban kerja perawat di Ruang Rawat Inap RSGM UNPAD dalam 24 jam berada pada kategori ringan. Berdasarkan perhitungan metode WISN, didapatkan hasil kebutuhan perawat di Instalasi Rawat Inap adalah sebanyak 12 orang, RSGM masih kurang 5 orang perawat di Instalasi Rawat Inap. Kesimpulan bahwa beban kerja perawat di Ruang Rawat Inap RSGM UNPAD dalam 24 jam berada pada kategori ringan, perawat harus meningkatkan kegiatan produktif dengan melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.Kata kunci : beban kerja, beban kerja perawat, work load nursing analysis, WISN.
Hubungan Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan Di Televisi Terhadap Mental Emosional Anak Sd Di Kecamatan Jatinangor Dinda Yulia; Meita Dhamayanti; Nita Arisanti
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.126 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.23003

Abstract

Televisi merupakan media audio dan visual yang berfungsi menyampaikan informasi kepada seluruh kalangan melalui berbagai tayangan televisi, salah satunya pada anak-anak. Berbagai tayangan televisi membuat anak tertarik menonton hingga berjam-jam. Tayangan televisi dapat bersifat positif dan negatif. Tayangan televisi yang bersifat negatif seperti tayangan kekerasan memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental. Dampak masalah kesehatan mental dapat berupa terbentuknya tekanan emosional dan perilaku antisosial pada setiap individu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan frekuensi menonton tayangan kekerasan di televisi terhadap status mental emosional anak sekolah dasar (SD)  di Kecamatan Jatinangor. Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan studi desain potong lintang. Penelitian ini menggunakan kuisioner televisi dan kuisioner Strength Difficulties Questionare (SDQ). Data didapatkan dari  siswa Sekolah Dasar berusia 11-12 tahun di Kecamatan Jatinangor pada bulan Agustus s.d. Oktober 2018. Penelitian ini menggunakan  teknik cluster sampling dan purposive  sampling di tiap cluster yang melibatkan responden sebanyak 125 orang  yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil uji statistik gamma menunjukkan bahwa frekuensi menonton tayangan kekerasan di televisi terhadap mental emosional anak memiliki nilai p = 0,243 (p>0,05) dan r = 0,236 (r > 0,0). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara frekuensi menonton tayangan kekerasan di televisi terhadap status mental emosional anak sekolah dasar (SD) di Kecamatan jatinangor.Kata Kunci : Anak, Masalah Mental Emosional, Televisi
Kesadaran Masyarakat untuk Melakukan Penapisan Diabetes Melitus Tipe 2 di Desa Cilayung dan Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Farhan Refyaldiza Ridwan; Henhen Heryaman; Maya Kusumawati
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.648 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22986

Abstract

Jawa Barat memiliki jumlah penyandang undiagnosed diabetes tertinggi di Indonesia. Sumedang merupakan salah satu wilayah yang memiliki prevalensi Diabetes Melitus (DM) tipe 2 yang tinggi di Jawa Barat. Penapisan merupakan salah satu upaya baik yang dilakukan untuk deteksi dini penyakit DM tipe 2 dan pencegahan komplikasinya demi mencapai kualitas hidup optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesadaran masyarakat dalam melakukan penapisan DM tipe 2 di Desa Cilayung dan Cipacing Kecamatan Jatinangor, Sumedang. Desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian adalah penduduk Desa Cilayung dan Cipacing. Responden dipilih melalui simple random sampling dengan jumlah sampel minimal 147 orang. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2018 sampai April 2019. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan Awareness Score. Skor ≤10 = buruk dan >10 = baik. Analisis data dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan dari 147 responden, 91 (61,5%) responden memiliki skor ≤10. Simpulan dari penelitian ini adalah tingkat kesadaran masyarakat Desa Cilayung dan Cipacing untuk melakukan penapisan DM masih buruk. Peningkatan edukasi dan sosialisasi mengenai diabetes perlu dilakukan.Kata Kunci: Diabetes Melitus, Kesadaran, Penapisan
Kejadian Pernikahan Usia Dini Berdasarkan Karakteristik Dan Sosial Budaya Di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2014 Rini Meiandayati; Sefita Aryati Nirmala; Didah Didah; Ari Indra Susanti
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.963 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i2.18129

Abstract

Permasalahan pernikahan usia dini di masyarakat pada kenyataannya masih banyak terjadi di negara berkembang terutama di pelosok terpencil. Menikah usia dini menjadi pencetus terjadinya resiko pada kehamilan yang dapat meningkatkan kesakitan bahkan kematian bagi ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Karakteristik dan Sosial Budaya yang Mempengaruhi Pernikahan Usia Dini di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2014. Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif dengan pendekatan Cross sectional. Waktu pembuatan penelitian dan tempat dilakukan di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang sejak Oktober 2013 sampai dengan Juli 2014. Jenis Pengambilan sampel menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel sebanyak 44 orang. Hasil penelitian pernikahan usia dini terbanyak terjadi pada usia 19−20 tahun (56,41%), pendidikan SMP (61,54%), pekerjaan responden saat menikah tidak bekerja (71,79%), pendapatan suami saat menikah ≤Rp.1.300.000 (92,31%), pendapatan responden saat menikah yaitu tidak ada pendapatan (71,79%), pendapatan orang tua responden ≤Rp.1.300.000 sebanyak (92,3%), perilaku sosial budaya dari faktor individu yang melakukan (61,54%), faktor keluarga (82,05%), dan faktor masyarakat lingkungan (64,10%). Kejadian pernikahan usia dini masih banyak terdapat di Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang. Salah satu penyebab terjadinya pernikahan usia dini adalah perilaku sosial budaya yang meliputi faktor individu, faktor keluarga dan faktor lingkungan masyarakat.Kata Kunci : Pernikahan Usia Dini, Perilaku Sosial Budaya (Faktor Individu, Keluarga, Lingkungan Masyarakat).
Hubungan Fungsi Keluarga dengan Status Gizi Anak di Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung pada Tahun 2016 Ulfi Ainun Hanifah; Nita Arisanti; Dwi Agustian; Dany Hilmanto
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.557 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i4.12498

Abstract

Malnutrisi merupakan salah satu masalah kesehatan yang dialami oleh kebanyakan negara berkembang yang dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung salah satunya faktor keluarga. Setiap keluarga memiliki fungsi keluarga yang dapat memberi pengaruh terhadap aspek kehidupan setiap anggotanya. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara fungsi internal dan eksternal keluarga terhadap status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode potong lintang yang melibatkan 251 pasangan ibu dan anak balita di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung Tahun 2016. Data penelitian diambil pada bulan September- November 2016 dengan pengisian kuesioner APGAR serta SCREEM oleh responden untuk menilai fungsi keluarga dan melakukan pengukuran berat serta tinggi badan balita untuk menentukan nilai Z score (berat terhadap tinggi) sebagai status gizi balita. Selanjutnya hubungan keduanya dianalisis menggunakan perhitungan koefisien korelasi spearman. Tidak terdapat hubungan yang signifikan pada fungsi internal keluarga (p = 0,304; r = -0,065) dan fungsi ekternal keluarga (p = 0,116; r = -0,100) terhadap status gizi anak. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini, fungsi keluarga tidak memberikan pengaruh pada status gizi anak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Penelitian mengenai fungsi keluarga dengan menggunakan instrumen kuesioner APGAR Keluarga dan SCREEM dibutuhkan proses analisis yang lebih lanjut.Kata kunci: APGAR keluarga, Fungsi Keluarga, SCREEM, Status Gizi Anak
Gambaran Pelayanan Konseling Gizi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Jatinangor Tahun 2015 puteri fadillah zahra; Dewi Marhaeni Diah; Miftahurachman Miftahurachman
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 4 (2016): Volume 1 Nomor 4 Juni 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.097 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i4.10380

Abstract

Terapi konseling gizi oleh tenaga puskesmas sangat diperlukan untuk pasien DM tipe 2, berfungsi mengontrol diet pasien agar tidak timbul masalah yang lebih kompleks. Pelayanan konseling gizi di puskesmas saat ini, diduga masih belum dilakukan secara optimal. Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran pelayanan konseling gizi pada pasien DM tipe 2 di Puskesmas Jatinangor. Desain penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan strategi studi kasus, pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Jumlah responden  terdiri dari 1 nutrisionis, 1 dokter dan 3 pasien. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-November 2015. Analisis data dilakukan secara konten analisis. Tahapan proses konseling gizi berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kemenkes. Konseling yang dilakukan masih menggunakan metode yang konvensional. Hambatan yang dialami petugas Puskesmas adalah dalam melakukan monitoring dan evaluasi hasil konseling. Hal ini disebabkan  karena pasien yang melakukan kunjungan ulang masih rendah, selain itu fasilitas. puskesmas terbatas seperti ruang konseling gizi dan food model. Pelayanan konseling gizi di puskesmas belum berjalan dengan baik, metode konseling yang digunakan masih konvensional serta belum didukung fasilitas yang memadai. Perlu peningkatan kapasitas tenaga dalam melakukan konseling dengan pendekatan yang tepat serta pengadaan ruangan konseling dan food model.Kata Kunci: Diabetes Mellitus tipe 2, konseling gizi, puskesmas.
Gambaran Faktor Risiko Flat Foot pada Anak Umur Enam sampai Sepuluh Tahun di Kecamatan Sukajadi Viena Annisa Mien; Wulan Mayasari; M Rizal Chaidir
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Desember 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.074 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i2.15010

Abstract

Kondisi flat foot banyak terjadi pada anak-anak. Meskipun seringkali tidak menimbulkan gejala, jika kondisi tersebut menuju tahap yang lebih serius, keadaan tersebut dapat mengganggu fungsi kaki. Sehingga dibutuhkan adanya deteksi untuk mengetahui kondisi flat foot lebih awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko flat foot pada anak umur enam sampai sepuluh tahun di Kecamatan Sukajadi. Metode potong-lintang deskriptif kuantitatif pada 326 anak yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di SD Citrawinaya, Sejahtera 1, Sukagalih 5, Sarijadi Selatan 1, dan Sukasari 1 sejak bulan September sampai Oktober 2016. Setelah mendapat persetujuan dan identitas anak, dilakukan pengukuran tinggi, berat badan serta pengecapan kaki. Status gizi diinterpretasi berdasarkan klasifikasi WHO. Sedangkan kondisi flat foot diidentifikasi menggunakan Denis grades. Dari 326 anak yang diikutsertakan, kondisi flat foot terjadi pada 129 (40%) anak. Anak laki-laki lebih banyak mengalami flat foot (23,78%) dibandingkan perempuan. Flat foot lebih banyak terjadi pada anak umur tujuh tahun (9,28%), anak dengan status gizi overweight (13,69%), dan pada anak dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat flat foot (26,67%). Angka kejadian flat foot pada anak di Kecamatan Sukajadi masih cukup tinggi pada kelompok yang berisiko seperti laki-laki, umur lebih muda, status gizi overweight, dan adanya riwayat flat foot pada keluarga.Kata kunci: anak, faktor risiko, flat foot

Filter by Year

2015 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 2 (2021): Volume 6 Nomor 2 Desember 2021 Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Nomor 1 September 2021 Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4 Juni 2020 Vol 5, No 3 (2020): Volume 5 Nomor 3 Maret 2020 Vol 5, No 2 (2019): Volume 5 Nomor 2 Desember 2019 Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1 September 2019 Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019 Vol 4, No 3 (2019): Volume 4 Nomor 3 Maret 2019 Vol 4, No 2 (2018): Volume 4 Nomor 2 Desember 2018 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018 Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018 Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018 Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018 Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018 Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Desember 2017 Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2 Desember 2017 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 September 2017 Vol 3, No 1 (2017): Volume 3 Nomor 1 September 2017 Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017 Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017 Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017 Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Desember 2016 Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Desember 2016 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016 Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016 Vol 1, No 4 (2016): Volume 1 Nomor 4 Juni 2016 Vol 1, No 4 (2016): Volume 1 Nomor 4 Juni 2016 Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016 Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015 Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015 Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015 More Issue