Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Strategi Mempertahankan Suara Dalam Pemilihan Umum Anggota DPRD: Studi DPC Partai Gerindra Kota Semarang Sulistyarini, Dyah Ayu; Latif, Muhamad; Kurniawan, Dwi Wisnu
JURNAL PENELITIAN SERAMBI HUKUM Vol 18 No 02 (2025): Jurnal Penelitian Serambi Hukum Vol 18 No 02 Tahun 2025
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Batik Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59582/sh.v18i02.1331

Abstract

One One of the functions of political parties is to carry out political recruitment in the process of filling political positions through democratic mechanisms by paying attention to gender equality and justice, especially in the Gerindra Party to sit in the Semarang City Regional People's Representative Council. The purpose of the study was to determine and analyze the Gerindra Party's strategy in maintaining votes in the 2024 Regional People's Representative Council member election in Semarang City. The problem approach method used is sociological juridical. The results of the study are that the strategy to maintain it, with 4 capitals, namely: 1). Economic: member and administrator contributions, donations, assistance from the Semarang City Government, monthly contributions from members of the Regional People's Representative Council; 2) Social: establishing cooperation (community leaders); 3). Cultural: political heritage of parents; open registration; and academic level; 4). Symbolic: education, cadre training. Habitus: provision, workshops, seminars; field, seat allocation opportunities; doxa, real action.
Edukasi Hukum Digital tentang Child Grooming bagi Siswa SMA N 6 Semarang di Era Komunikasi Virtual: Edukasi Hukum Digital tentang Child Grooming bagi Siswa SMA N 6 Semarang di Era Komunikasi Virtual Latif, Muhamad; Kurniawan, Dwi Wisnu; Sulistyarini, Dyah Ayu
Ngudi Waluyo Empowerment: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Ngudi Waluyo Empowerment: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Fakultas Komputer dan Pendidikan Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Child grooming di ruang digital menjadi ancaman serius bagi remaja, khususnya siswa sekolah menengah. Rendahnya literasi hukum digital dan pemahaman terhadap kejahatan seksual berbasis internet memperburuk situasi ini. Penelitian ini berfokus pada edukasi hukum digital bagi siswa SMA N 6 Semarang untuk meningkatkan kesadaran mereka terhadap modus child grooming dalam komunikasi virtual. Kegiatan meliputi penyusunan materi, penyuluhan interaktif, serta evaluasi pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui ceramah, diskusi kelompok, dan simulasi kasus. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai perlindungan hukum terhadap eksploitasi digital serta kemampuan mengenali dan menghindari interaksi daring berisiko. Edukasi hukum digital terbukti efektif sebagai langkah preventif dalam melindungi remaja dari child grooming. Kegiatan ini berpotensi menjadi model edukatif yang dapat diterapkan di sekolah lain guna memperkuat ketahanan digital generasi muda.
Reformasi Hukum Jabatan Menteri Sebagai Instrumen Revitalisasi Kabinet Profesional Muhamad Latif; Tusi Wirahayu Pertiwi; Dwi Wisnu Kurniawan
JURNAL PENELITIAN SERAMBI HUKUM Vol 19 No 02 (2026): Jurnal Penelitian Serambi Hukum Vol 19 No 02 Tahun 2026 (Februari-Juli)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Islam Batik Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59582/sh.v19i02.1583

Abstract

Abstract The modern era demands adaptive and professional governance in order to achieve the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 16, and to align with the Asta Cita vision and the National Research Master Plan (RIRN). However, as a background to the issue, the current situation indicates that executive governance still faces accountability challenges, as evidenced by the KPK’s 2023 data on ministerial corruption, the low Government Effectiveness Index (WGI) in 2022 at minus 0.09, and the low perception of cabinet professionalism according to the 2022 National Administrative Agency survey. Building on these issues, this study aims to analyse the urgency of legal reform regarding ministerial positions as a strategic instrument to revitalise a professional cabinet, focusing on legality, competence, and independence from conflicts of interest. The research method employed is descriptive-analytical qualitative research through literature review and document analysis sourced from legislation, scientific publications, and official government reports. The research findings indicate that the existing legal framework still contains regulatory loopholes in the selection and oversight systems, making it vulnerable to triggering maladministration and detrimental political intervention. Therefore, a conceptual model for legal reform is required that establishes the appointment of ministers based on standardised and accountable competency criteria. In conclusion, legal reform regarding ministerial appointments is a crucial instrument in revitalising a professional cabinet, as strengthening the regulations governing the appointment and dismissal of ministers will result in a competent and clean executive branch capable of strengthening state institutions that are oriented towards the public interest.
RESTORATIVE JUSTICE SEBAGAI ALTERNATIF NON-PUNITIVE DALAM MENANGANI AKSI KREAK DI KOMUNITAS SEKOLAH Muhamad Latif; Dwi Wisnu Kurniawan; Tusi Wirahayu Pertiwi; Endang Kusuma Astuti
Jurnal Bakti Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jbh.v6i1.5293

Abstract

Menelaah latar belakang masalah yang ada, dinamika konflik di lingkungan sekolah berupa kenakalan remaja atau aksi kreak selama ini didominasi oleh pendekatan hukuman yang kaku, seperti skorsing dan pengembalian siswa kepada orang tua. Pendekatan ini gagal menyelesaikan akar masalah di Sekolah Menengah Kejuruan Pancasila Salatiga, yang mencatat tiga belas kasus kenakalan dalam setahun terakhir akibat keterbatasan metode intervensi guru bimbingan konseling. Berkaca pada kondisi tersebut, tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memperkenalkan dan mengimplementasikan keadilan restoratif sebagai alternatif nonpenghukuman yang humanis, dialogis, dan edukatif. Sementara itu, metode pelaksanaan program non-ekonomi produktif ini dirancang sistematis selama lima bulan melalui tahapan analisis kebutuhan, penyusunan modul, lokakarya filosofi, pelatihan mediasi bagi guru, sosialisasi siswa, serta uji coba prosedur formal bersama mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Melalui komitmen kerja sama yang kuat, hasil pengabdian ini sukses mewujudkan luaran utama berupa artikel publikasi ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi serta perolehan Hak Kekayaan Intelektual berupa Hak Cipta atas video edukatif penanganan konflik berbasis keadilan restoratif, di samping draf dokumen prosedur penanganan yang disahkan sekolah. Sebagai simpulan akhir dari program ini, penerapan keadilan restoratif terbukti berjalan efektif dan mampu menggeser kultur hukuman menjadi pembinaan yang merangkul, sekaligus menyediakan instrumen edukasi yang legal serta siap ditiru oleh institusi pendidikan lainnya.
Navigating “Second-Class” Citizenship: Minority Perceptions of the “Gospel City” Regulation in Manokwari Dani Muhtada; Dwi Wisnu Kurniawan; Rayyan Alkhair; Javandalas Nanda Yasser Fatahillah; Andi Gazly Satrya Amal
Lex Scientia Law Review Vol. 10 No. 1 (2026): Legal Reform, Human Rights Protection, and Judicial Innovation in Contemporary
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/lslr.v10i1.47364

Abstract

This article examines the implications of Manokwari Regency Regulation No. 3 of 2018 concerning the Arrangement of Manokwari as a Gospel City (Penataan Manokwari sebagai Daerah Injil) for the civil rights of religious minorities and explores how religion-related regional regulations can be formulated to strengthen national integration. Drawing on the theories of symbolic legislation, legal pluralism, and accommodative leadership, the study employs a qualitative descriptive-analytical approach based on in-depth interviews with Muslim, Hindu, and Buddhist religious leaders in Manokwari. The findings reveal a paradoxical relationship between symbolic law and social reality. At the symbolic level, many minority respondents perceive the regulation as privileging a particular religious identity and raising concerns regarding equality, recognition, and religious freedom. However, its practical impact on the everyday lives of minority communities remains limited. This is largely because the most restrictive provisions contained in earlier drafts were removed, no implementing regulations were subsequently issued, and the regulation's effects have been moderated by local mechanisms of coexistence. The study highlights the importance of the Satu Tungku Tiga Batu philosophy, customary authority, and accommodative local leadership in sustaining interreligious harmony and mitigating the potential exclusionary effects of formal law. The article argues that the Manokwari case illustrates the limits of symbolic legislation in shaping social relations within a plural society. It concludes that the protection of minority rights and the strengthening of national integration are more likely to be achieved through inclusive, non-discriminatory, and substantively oriented regulations that accommodate legal and cultural diversity rather than through the formal affirmation of a single religious identity.
Penguatan Karakter dan Literasi Hukum Terhadap Anak Binaan Pada Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Kutoarjo Fikri Ariyad; Dwi Wisnu Kurniawan; Indra Yuliawan; Sudijono Sastroatmodjo
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/e6rxfc46

Abstract

Tantangan sesungguhnya yang dihadapi oleh Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) sebagai lembaga kunci dalam membina anak yang melakukan kejahatan sangatlah komples. Salah satu permasalahan utama adalah terletak pada diri seorang anak binaan, khususnya rasa kepercayaan diri anak yang semakin berkurang karena merasa dirinya tidak dibutuhkan di dalam masyarakat. Banyak anak binaan yang menganggap bahwa dirinya tidak akan diterima kembali oleh masyarakat karena perbuatan pidana yang pernah dilakukan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan pendekatan pembelajaran secara sosiologis, yaitu dengan mengajak anak binaan diskusi, mendengarkan keluh kesah dan memberikan sosialisai. Pendekatan emosional dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan kepercayaan diri anak binaan sekaligus menumbuhkan semangat menjalani hari – hari di dalam LPKA. Selain itu, anak binaan akan diberikan pemahaman literasi hukum yang terkait dengan posisi dirinya di mata hukum. Melalui metode ini, memberi peran kepada anak – anak binaan sehingga tumbuh kesadaran positif dalam dirinya, bahwa masa depannya masih panjang serta masih terbuka lebar untuk meraih cita – cita. Hasil kegiatan menunjukkan anak binaan yang ada di LPKA Kelas 1 Kutoarjo bisa memahami posisinya sebagai anak yang sedang melaksanakan pendidikan untuk mempersiapkan supaya anak tidak nakal kembali, sehingga memiliki kepercayaan diri ketika kembali ke masyarakat umum. Selain itu, kegiatan pengabdian ini menjadikan anak binaan bisa memahami tentang posisi mereka di mata hukum.
Sinergi Pendidikan Karakter dan Literasi Hukum Menuju Visi Indonesia Emas dan SDGs di SMK Perintis 29 Ungaran Dwi Wisnu Kurniawan; Fikri Ariyad; Indra Yuliawan; Sudijono Sastroatmodjo
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus (In Progress)
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/n1fw2v87

Abstract

Visi Indonesia Emas 2045 menuntut dukungan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara keterampilan vokasional, tetapi juga memiliki integritas dan kesadaran hukum yang tinggi. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dan memperkuat literasi hukum bagi siswa di SMK Perintis 29 Ungaran. Kegiatan meliputi penyusunan materi, penyuluhan interaktif, serta evaluasi pemahaman siswa sebelum dan sesudah kegiatan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui ceramah, focus group discussion, dan simulasi kasus. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan antusiasme peserta mengenai urgensi implementasi nilai-nilai karakter pelajar, membangun budaya antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari, serta ranah hukum krusial bagi remaja. Inisiatif pemahaman ini berimplikasi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Bermutu) dan Tujuan 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh). Kesimpulannya, sinergi antara pendidikan karakter dan literasi hukum di sekolah vokasi merupakan langkah preventif strategis dan fondasi esensial dalam membangun Generasi Emas Indonesia yang beretika dan taat hukum.
Kebijakan Peraturan KAPOLRI Nomor 6 Tahun 2019 dalam Penetapan Tersangka dan Perluasan Penilaian Alat Bukti pada Praperadilan Yogy Pratama Muhamad Abdul Ghany; Hani Irhamdessetya; Ang Denny Wiaya; Abdul Rozaq; Dwi Wisnu Kurniawan
ANTHOR: Education and Learning Journal Vol 5 No 4 (2026): Anthor 2026
Publisher : Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/anthor.v5i4.1143

Abstract

Penetapan tersangka merupakan tindakan hukum yang membatasi hak seseorang dan karena itu harus tunduk pada standar pembuktian serta kontrol yudisial. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan alat bukti dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyidikan Tindak Pidana dan implikasinya terhadap penilaian hakim dalam praperadilan. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan perbandingan, melalui analisis kualitatif-preskriptif terhadap peraturan, putusan pengadilan, dan doktrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan tersangka wajib didasarkan pada sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, didukung barang bukti, pemeriksaan calon tersangka, dan gelar perkara. Dalam praperadilan, hakim tidak hanya memeriksa kelengkapan administratif, tetapi juga keabsahan perolehan, relevansi, serta keterhubungan alat bukti dengan unsur tindak pidana. Namun, pengujian tidak boleh bergeser menjadi pemeriksaan pokok perkara. Disimpulkan bahwa harmonisasi Peraturan Kapolri, KUHAP Nasional, Putusan Mahkamah Konstitusi, dan pedoman peradilan diperlukan untuk menjamin due process of law, kepastian hukum, dan perlindungan hak tersangka.