Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH BERBAGAI JENIS MULSA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN EDAMAME (GLYCINE MAX L.) PADA SISTEM BUDIDAYA ORGANIK Dulbari Dulbari; Priyadi Priyadi; Destieka Ahyuni; Raeli Dwi Marliyana
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol. 13 No. 1 (2026): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v13i1.12907

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas berbagai jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil edamame (Glycine max L.) dalam sistem budidaya organik. Percobaan dilakukan dari April hingga Juni 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan empat perlakuan: tanpa mulsa (kontrol), mulsa daun Gynura procumbens, mulsa batang pisang, dan mulsa plastik, masing-masing direplikasi empat kali. Parameter pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah daun) dan komponen hasil (jumlah polong, polong terisi, berat polong, dan biomassa) diukur dan dianalisis menggunakan ANOVA diikuti dengan LSD pada 5%. Hasil menunjukkan bahwa penerapan mulsa secara signifikan meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil dibandingkan dengan kontrol. Mulsa Gynura procumbens menunjukkan kinerja terbaik, meningkatkan tinggi tanaman (26,90 cm), jumlah daun (13,60 daun), polong terisi (11,50 polong), dan berat polong (39,00 g tanaman⁻¹), masing-masing meningkat sebesar 45,4%, 29,5%, 103,5%, dan 161,7% dibandingkan kontrol. Mulsa organik lebih unggul dibandingkan mulsa plastik, kemungkinan karena kontribusinya yang tambahan terhadap kesuburan tanah melalui proses dekomposisi. Secara keseluruhan, mulsa organik yang bersumber secara lokal, terutama Gynura procumbens, merupakan strategi yang berkelanjutan dan efektif untuk meningkatkan produktivitas edamame dalam sistem pertanian organik.
Dampak Tata Letak Tanam dalam Sistem Tumpangsari dengan Ubi Kayu pada pertumbuhan Tiga Varietas Jagung Manis Hidayat Saputra; Zainal Mutaqin; Dulbari Dulbari; Destieka Ahyuni
AGRO TATANEN | Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 8 No. 1 (2026): AGRO TATANEN Edisi Januari 2026 | Jurnal Ilmiah Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Faperta UNIBBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55222/0r6fse65

Abstract

Petani ubi kayu akan mendapatkan penghasilan dari usaha taninya setelah panen 7-10 bulan kemudian. Dengan jarak tanam ubi kayu yang cukup lebar (1-2 m) terdapat potensi ruang tumbuh di bawah tegakan ubi kayu yang dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim. Agar tanaman sela yang ditanami ubi kayu dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal, maka perlu dilakukan penataan tata letak penanaman jagung manis. Selain itu, diperlukan juga informasi mengenai varietas jagung manis yang cocok dan adaptif untuk ditumpangsarikan dengan ubi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola tanam jagung manis terbaik yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan hasil jagung manis sistem tumpangsari, dan menentukan varietas jagung manis terbaik dalam pola tanam tumpangsari jagung manis dengan ubi kayu. Ada enam kombinasi perlakuan tanam dan varietas jagung manis. Perlakuan tersebut meliputi: dua tata letak atau posisi tanam jagung manis, yaitu di antara barisan singkong (J1) dan di dalam barisan singkong (J2), dan tiga varietas jagung manis komersial: Varietas Mira (V1), Paragon (V2), dan Bonanza. (V3). Hasil menunjukkan jagung manis yang ditanam di bawah tegakan ubi kayu mengalami penurunan pertumbuhan vegetatif 144 hingga 400% dibandingkan jagung manis sistem monokultur, jagung manis yang ditanam di antar barisan tanaman ubi kayu memiliki pertumbuhan lebih baik daripada yang ditanam diantara dalam barisan ubi kayu, dan jagung manis varietas Bonanza mampu beradaptasi lebih baik jika ditumpangsarikan dengan ubi kayu.
Agronomic and morphological characteristics of two rice genotypes plant in open land and under two years of sengon (Paraserianthes falcataria) DULBARI DULBARI; ZAINAL MUTAQIN; HERY SUTRISNO; NI SILUH PUTU NURYANTI; YURIANSYAH YURIANSYAH; DENNY SUDRAJAT; DESTIEKA AHYUNI; HIDAYAT SAPUTRA; LINA BUDIARTI; PRIYADI PRIYADI; FAJAR ROCHMAN; RIZKY RAHMADI; MUHAMMAD ALAM FIRMANSYAH; SAIJO SAIJO
Biodiversitas Journal of Biological Diversity Vol. 24 No. 9 (2023)
Publisher : Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/biodiv/d240935

Abstract

Abstract. Dulbari, Mutaqin Z, Sutrisno H, Nuryanti NSP, Yuriansyah, Sudrajat D, Ahyuni D, Saputra H, Budiarti L, Priyadi, Rochman F, Rahmadi R, Firmansyah MA, Saijo. 2023. Agronomic and morphological characteristics of two rice genotypes plant in open land and under two years of sengon (Paraserianthes falcataria). Biodiversitas 24: 4927-4933. The increase in population is the biggest challenge for the agricultural sector in providing food needs. The main problem in increasing food production in Indonesia is the limited agricultural land. There is a need to explore alternative land options to address this issue and enhance production capacity, specifically for rice at the national level. One of the potential solutions is to use land currently occupied by plantation crops and forests that can be managed through agroforestry. Sengon (Paraserianthes falcataria (L) I.C.Nielsen) is a forestry plant that offers a comparative advantage for investigation in agroforestry systems due to its relatively open canopy cover and classification as a legume. Therefore, this research aimed to determine the response of the morphological and agronomic characters of two rice genotypes planted in open land under 2-year-old sengon stands. The experiment was conducted from October 2017 to March 2018 in the Sengon community forest of Cikarawang, Bogor, with coordinates 06° 33.061' S and 106° 43.987' E. The results showed that two rice genotypes grown under one-year-old sengon stands experienced decreased productive tillers, plant height, stem strength, and the number and weight of grains per panicle. The IR 64 genotype decreased by 40.65% in grain weight per panicle, while the Situ Patenggang genotype experienced a 56.21% decrease.
Pathway analysis of yield components in several New Plant Type (NPT) rice genotypes DULBARI DULBARI; DESTIEKA AHYUNI; FAJAR ROCHMAN; RIZKY RAHMADI; PRIYADI PRIYADI; SUBARJO SUBARJO; LINA BUDIARTI; HIDAYAT SAPUTRA; MOH. HARIS IMRON S. JAYA
Biodiversitas Journal of Biological Diversity Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/biodiv/d260225

Abstract

Abstract. Dulbari, Ahyuni D, Rochman F, Rahmadi R, Priyadi, Subarjo, Budiarti L, Saputra H, Jaya MHIS. 2025. Pathway analysis of yield components in several New Plant Type (NPT) rice genotypes. Biodiversitas 26: 770-777. Rice is essential for global nutrition, especially in Asia, with increasing production needed to meet rising food demands from population growth. Efforts to increase rice production are carried out through plant breeding programs. Grain weight per panicle is one of the yield components in rice plants that significantly determines production. Despite its importance, its influence in the selection process is not independent, as it is closely associated with other traits, either directly or indirectly. Therefore, this study aimed to determine the relationship between yield components and their direct and indirect effects on grain weight per panicle of several new plant types (NPT) of rice varieties grown in 2 different locations, namely Tanggamus and Lampung Timur. The study procedures were conducted using a Randomized Complete Block Design with 12 genotypes and 3 replications. Genotypes consisted of 10 NRTs, including IPB 3S, IPB 4S, IPB 5R, IPB6R, IPB117-F-7-2-1, IPB 117-F-7-7-1, IPB 117-F-14-4-1, IPB 117-F-15-4-1, IPB 117-F-20-1-1, IPB 117-F-80-2-1. Meanwhile, the 2 control varieties included Ciliwung and Ciherang. The results showed that rice grain weight per panicle significantly correlated with the number of productive tillers, panicle length, number of filled grains per panicle, and percentage of filled grains per panicle. Productive tiller number, panicle length, number of filled grains per panicle, and percentage of filled grains per panicle directly and indirectly affected grain weight per panicle. In addition, the number of filled grains per panicle directly influenced 0.49%.
Tingkat Persepsi Petani Padi terhadap Skema Kemitraan (Contract Farming) dengan BUMD di Kabupaten Lampung Barat Achmad Aidil Al Athif; Subarjo Subarjo; Tri Pujiana; Destieka Ahyuni
Jurnal Research Ilmu Pertanian Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Research Ilmu Pertanian (Agustus 2026)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/sr98vj46

Abstract

Program kemitraan atau contract farming tanaman padi antara petani dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan di Kabupaten Lampung Barat diselenggarakan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengatasi persoalan permodalan, akses teknologi, dan kepastian pasar yang selama ini dihadapi petani padi. Keberhasilan program kemitraan sangat ditentukan oleh persepsi petani terhadap skema yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola contract farming tanaman padi antara petani dengan BUMD Kabupaten Lampung Barat, mengkaji tingkat persepsi petani padi terhadap skema kemitraan tersebut, dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat persepsi petani. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei berpendekatan kuantitatif deskriptif, melibatkan seluruh populasi sebanyak 28 petani padi peserta kemitraan sebagai responden (sensus). Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner berskala Likert tiga tingkat, kemudian dikategorikan berdasarkan nilai median dan kuartil skor persepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemitraan mengarah pada bentuk Kerja Sama Operasional Agribisnis (KOA) yang melibatkan pemerintah daerah, BUMD Pangan, PT. Pesagi Mandiri, distributor sarana produksi, dan petani. Sebanyak 60,7% petani menyatakan persepsi positif terhadap pola kemitraan, sementara 39,3% menyatakan persepsi negatif, terutama terkait mekanisme penetapan harga. Adapun faktor-faktor pembentuk persepsi petani sebagian besar berada pada kategori sangat positif (64,3%), didukung oleh pemahaman terhadap konsep kemitraan, pengalaman bertani, jaminan pemasaran, dan kualitas pendampingan teknis dari BUMD. Penelitian ini merekomendasikan perlunya evaluasi mekanisme harga dan penguatan sosialisasi kepada petani mitra guna meningkatkan keberlanjutan program kemitraan.