Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Optimalisasi Sistem Informasi Venus dalam manajemen pergantian awak kapal pada divisi pengawakan PT Pertamina International Shipping Budi Purnomo; Yollanda Octavitri; Ingga Cantika Ramadhani
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengoptimalkan Sistem Informasi Venus dalam mendukung manajemen pergantian awak kapal (crew change) pada Divisi Pengawakan PT Pertamina International Shipping. Proses pergantian awak kapal merupakan aktivitas krusial dalam operasional pelayaran yang menuntut ketepatan data, koordinasi yang efektif, serta pengendalian administrasi yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan personel terkait, studi dokumentasi, serta kuesioner sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Informasi Venus berperan penting dalam meningkatkan efektivitas manajemen pengawakan, khususnya dalam pengelolaan data awak kapal, penjadwalan sign on dan sign off, serta pemantauan masa berlaku sertifikat. Namun demikian, optimalisasi sistem belum sepenuhnya tercapai akibat kendala teknis, keterbatasan jaringan komunikasi di kapal, serta rendahnya pemahaman sebagian awak kapal terhadap penggunaan sistem. Oleh karena itu, optimalisasi Sistem Informasi Venus perlu didukung melalui peningkatan kompetensi pengguna, penguatan koordinasi antara kru kapal dan pihak kantor, serta pemanfaatan fitur sistem secara konsisten. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi perusahaan pelayaran dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi manajemen pergantian awak kapal berbasis sistem informasi. This study aims to analyze and optimize the implementation of the Venus Information System in supporting crew change management within the Crewing Division of PT Pertamina International Shipping. The crew change process is a critical component of maritime operations that requires accurate data management, effective coordination, and continuous administrative control. This research employs a descriptive qualitative approach, utilizing data collection techniques including direct observation, in-depth interviews with relevant personnel, documentation studies, and supporting questionnaires. The findings indicate that the Venus Information System plays a significant role in enhancing the effectiveness of crew management, particularly in managing seafarer data, scheduling sign on and sign off activities, and monitoring certificate validity. However, the system has not been fully optimized due to technical constraints, limited communication networks onboard vessels, and insufficient user understanding among some crew members. Therefore, optimizing the Venus Information System requires improved user training, strengthened coordination between onboard crew and office staff, and consistent utilization of system features. This study is expected to contribute practical insights for shipping companies in improving efficiency and accuracy in information system–based crew change management.
STUDI KASUS KETERLAMBATAN BONGKAR MUAT DI PELABUHAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP LOGISTIK DI PT. KRAKATAU BANDAR SAMUDRA BANTEN Arief Hidayat Tumanggor; Asnawi; Djibril Tri Bayu Pamungkas; Budi Purnomo; Ahmad Shulhany; Yudha Prawira; Eka Sutrisno
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.188

Abstract

Kegiatan bongkar muat di pelabuhan merupakan salah satu mata rantai krusial dalam sistem logistik nasional. Efisiensi proses ini sangat menentukan kelancaran arus barang, efektivitas biaya operasional, serta keandalan rantai pasok industri. Namun, keterlambatan bongkar muat masih sering terjadi dan berpotensi meningkatkan biaya logistik, mengganggu operasional industri, hingga menurunkan daya saing perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab keterlambatan bongkar muat serta dampaknya terhadap sistem logistik di PT Krakatau Bandar Samudra (KBS) Banten. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif dengan metode studi kasus, didukung oleh data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap 75 responden. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, korelasi Pearson, serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknis, sumber daya manusia (SDM), administratif, dan cuaca berpengaruh signifikan terhadap keterlambatan bongkar muat. Faktor teknis menjadi variabel paling dominan (Beta=0,402; Sig=0,000), diikuti oleh faktor SDM, administratif, dan cuaca. Secara simultan, seluruh variabel memberikan pengaruh signifikan (Sig=0,000) dengan nilai koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,490. Keterlambatan bongkar muat terbukti berdampak langsung terhadap logistik, yaitu menyebabkan kongesti pelabuhan, peningkatan biaya demurrage dan storage, serta terganggunya jadwal distribusi industri. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan keandalan peralatan melalui preventive maintenance, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi administrasi pelayanan kapal, serta penguatan sistem mitigasi cuaca guna meningkatkan efisiensi operasional dan kinerja rantai pasok di PT Krakatau Bandar Samudra Banten.   Loading and unloading activities at ports are a critical link in the national logistics system. The efficiency of these processes significantly determines the flow of goods, operational cost-effectiveness, and industrial supply chain reliability. However, loading and unloading delays still occur, potentially increasing logistics costs, disrupting industrial operations, and reducing company competitiveness. This study aims to analyze the factors causing these delays and their impact on the logistics system at PT Krakatau Bandar Samudra (KBS), Banten. A descriptive approach with a case study method was employed, supported by primary data gathered through observation, interviews, and questionnaires from 75 respondents. Quantitative data were analyzed using SPSS through validity, reliability, normality, Pearson correlation, and multiple linear regression tests. The results indicate that technical factors, human resources (HR), administrative, and weather factors significantly affect loading and unloading delays. Technical factors are the most dominant (Beta=0.402; Sig=0.000), followed by HR, administrative, and weather factors. Simultaneously, all factors have a significant effect (Sig=0.000) with an R^2 value of 0.490. These delays are proven to have a direct negative impact on logistics, causing port congestion, increased demurrage and storage costs, and disruptions to industrial distribution schedules. This study recommends improving equipment reliability through preventive maintenance, strengthening HR competencies, digitalizing vessel service administration, and enhancing weather mitigation systems to improve operational efficiency and supply chain performance at PT Krakatau Bandar Samudra Banten.
Edukasi penghijauan lingkungan pesisir laut guna menjaga lingkungan yang asri di Desa Karang Serang Siwi Woro Herningsih; Moejiono; Riyanto; Soleh Uddin; Abdul Rochman; Budi Purnomo; Nursyamsu; Alvian Demaz Peramutya; Henni Sutryani; Dwi Endah Kurniasari; Yohanna Nurika
Journal Marine Services Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v1i1.244

Abstract

Kondisi ekosistem pesisir di Desa Karang Serang saat ini menghadapi tantangan degradasi lingkungan yang signifikan akibat polusi, pembangunan infrastruktur, dan kurangnya ruang terbuka hijau. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesadaran masyarakat lokal mengenai pentingnya penghijauan wilayah pesisir. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi tiga tahapan utama: penyuluhan materi keilmuan, sesi diskusi interaktif, serta praktik lapangan berupa penanaman pohon dan bersih-bersih pantai secara gotong royong. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kolektif warga mengenai manfaat ekologis dan ekonomi dari vegetasi pantai, serta terlaksananya penanaman bibit pohon pelindung dan buah di area strategis. Kesimpulan dari program ini menekankan bahwa partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci dalam keberhasilan restorasi lingkungan yang berkelanjutan demi mewujudkan kawasan pesisir yang asri, sehat, dan ramah lingkungan.   The coastal ecosystem in Karang Serang Village currently faces significant environmental degradation due to pollution, infrastructure development, and a lack of green open spaces. This community service activity aims to restore ecosystem balance and increase local community awareness of the importance of coastal greening. The implementation methods used include three main stages: scientific material counseling, interactive discussion sessions, and field practice involving collective tree planting and beach cleanup. The results indicate an improvement in the community's collective understanding of the ecological and economic benefits of coastal vegetation, alongside the successful planting of shade and fruit tree seedlings in strategic areas. The conclusion of this program emphasizes that active community participation is key to successful sustainable environmental restoration to achieve a beautiful, healthy, and eco-friendly coastal area.
Penyuluhan panduan penanganan kebakaran di kapal tradisional untuk masyarakat nelayan di Pelabuhan Cituis Jaja Miharja; Yohanna Nurika; Budi Purnomo; Jusva Agus Muslim; Muhammad Irwandi Lendra Pratama; Febria Surjaman; Hendra Purnomo; Pramudyasari Nur Bintari; Ian Mochamad Sofian; Heru Maryanto; Imam Muhammad Firdaus
Journal Marine Services Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/jms.v2i1.248

Abstract

Keterampilan masyarakat nelayan di Pelabuhan Cituis, Desa Surya Bahari, Kabupaten Tangerang, dalam menangani potensi bahaya kebakaran pada kapal tradisional. Kapal nelayan tradisional di wilayah ini memiliki risiko kebakaran yang tinggi akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM), aktivitas memasak di atas kapal, serta kondisi mesin yang sering kali sudah tua dan tidak terawat. Masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya kesadaran nelayan akan prosedur keselamatan dan minimnya ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di atas kapal. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan teoretis mengenai penyebab dan pencegahan kebakaran, sesi tanya jawab interaktif, serta praktik simulasi pemadaman api menggunakan APAR yang dipandu oleh para cadet mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang signifikan mengenai langkah-langkah darurat dan cara pengoperasian alat pemadam kebakaran. Melalui pelatihan ini, nelayan kini merasa lebih percaya diri dan proaktif dalam menjaga keselamatan diri serta aset kapal mereka selama beroperasi di laut.   This community service activity aims to improve the knowledge and skills of the fishing community at Cituis Port, Surya Bahari Village, Tangerang Regency, in handling potential fire hazards on traditional ships. Traditional fishing vessels in this region carry a high risk of fire due to the use of fuel oil (BBM), cooking activities on board, and the condition of engines that are often old and poorly maintained. The main problem faced is the low awareness of fishers regarding safety procedures and the minimal availability of fire extinguishers (APAR) on board. The methods used include theoretical counseling on the causes and prevention of fires, interactive Q&A sessions, and fire-fighting simulation practices using fire extinguishers guided by student cadets. The results of the activity showed a significant increase in participants' understanding of emergency steps and how to operate fire-fighting equipment. Through this training, fishers now feel more confident and proactive in maintaining their personal safety and ship assets while operating at sea.