Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGARUH BEBAN KERJA DAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN TERHADAP ASUHAN KEPERAWATAN RISIKO JATUH DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT X TAHUN 2017 Jani Haryanto; Alih Germas Kodyat; Sri Rahayu
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.56 KB) | DOI: 10.52643/marsi.v2i2.404

Abstract

Rumah sakit memiliki misi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau, dengan mengutamakan keselamatan pasien. Dari tahun 2014 sampai dengan Juli 2017 telah terjadi 16 insiden keselamatan pasien (IKP) di ruang rawat inap dari total 28 IKP dan terdapat satu insiden pasien jatuh dengan grading risiko merah. Penelitian ini, akan menganalisis pengaruh beban kerja dan budaya keselamatan pasien terhadap asuhan keperawatan risiko jatuh di ruang rawat inap rumah sakit X. Penelitian dilakukan terhadap 66 orang perawat yang melakukan asuhan keperawatan risiko jatuh dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Gambaran baik beban kerja, budaya keselamatan pasien dan asuhan keperawatan risiko jatuh secara statistik masih rendah. Variabel budaya keselamatan pasien memiliki pengaruh yang signifikan terhadap asuhan keperawatan risiko jatuh dengan nilai Sig 0,001 dengan persamaan regresi linear : Y = 14,360 + 0,283 X. Beban kerja dan budaya keselamatan pasien secara bersama-sama ternyata hanya budaya keselamatan pasien saja yang menunjukkan pengaruh signifikan dengan persamaan regresi linear : Y = 5,650 +  0,084 X2. Sub variabel kompleksitas pekerjaan (Sig 0,005), dukungan manajemen (Sig 0,002), komunikasi (Sig 0,000), staffing (Sig 0,041) dan nonpunitive response to errors (Sig 0,037) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap asuhan keperawatan risiko jatuh. Kata kunci : Beban Kerja, Budaya Keselamatan Pasien, Asuhan Keperawatan
Pengaruh Jasa Pelayanan Terhadap Kinerja Dokter Spesialis Melalui Motivasi Dan Disiplin Kerja Di Rawat Jalan RSUD Banten Tri Agus Yuarsa; Alih Germas Kodyat; Ahdun Trigono
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.115 KB) | DOI: 10.52643/marsi.v5i1.1297

Abstract

Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten selaku rumah sakit rujukan di wilayah Provinsi Banten diharapkan berjalan secara optimal karena telah disiapkan tenaga dokter spesialis. Jasa Pelayanan yang didapatkan oleh dokter Spesialis berhubungan dengan Kinerja Dokter tersebut, dipengaruhi oleh factor motivasi dan disiplin kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisa dengan Jalur path. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dan menggunakan Kuesioner melalui metode survey. Populasi penelitian ini adalah Dokter Spesialisdi RSUD Banten baik sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) atau Non ASN (tenaga Kontrak) yang berjumlah 32  dokter Spesialis. Hasil Penelitian pada Variabel Jasa Pelayanan yang berpengaruh pada responden adalah kesesuaian Gaji dengan Pekerjaannya sebagai dokter spesialis dengan presentasi 84.4%. Pada variabel motivasi kerja adalah adanya Pekerjaan baru sebagai tantangan yang menyenangkan ( 84,4 %), pada variabel disiplin Kerja adalah Hadir Tepat waktu saat bekerja dengan presentase 87,5%. Variabel Kinerja berupa tidak membolos dalam bekerja sebesar 87,5 %, melayani pasien dan mendengarkan keluhan pasein sebesar 65,6 % dan Rapat dengan manajemen 81.2 % , melihat hasil ini maka kinerja dokter speialis sudah sesuai dengan SK Direktur RSUD Banten. Dimana Absensi 40 %, Melayani Pasien 40 % serta Rapat dengan Manajemen 20%, Temuan dalam penelitian ini juga melihat koefisien jalur path, secara langsung motivasi dan disiplin berpengaruh terhadap Jasa Pelayanan dan Kinerja,sedangkan secara tidak langsung , melalui Jalur Disiplin kerja. Kesimpulan dan saran dalam hal pemberian  Jasa Pelayanan maka diharapkan Pihak Manajemen atau Rumah sakit tetap konsisten dalam hal Jasa Ini. Manajemen mengajak dokter runtuk ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan strategi dalam hal Pelayanan terhadap pasien, Kinerja dokter spesialis sudah sesuai dengan SK Direktur RSUD Banten .dimana Absensi 40 %, Melayani Pasien 40 % serta Rapat dengan Manajemen 20%.
Analisis Kepuasan Pasien Berdasarkan Status Pasien (BJPS dan Non BPJS) Rawat Jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Mekar Sari Iqbal Musyaffa; Alih Germas Kodyat; Fresley Hutapea
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 7, No 2 (2023): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v7i2.3045

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan tingkat kepuasan pasien BPJS dan non BPJS terhadap pelayanan instalasi rawat jalan farmasi RS Mekar Sari yang dinilai dari hubungan antara harapan yang diinginkan serta kenyataan yang diterima yang ditinjau dari lima aspek kepuasan yaitu kenyataan, kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati. Penelitian ini adalah penelitian analitik kuantitaif dengan metode cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien yang ada di instalasi rawat jalan farmasi RS Mekar Sari. Sampel penelitian ini adalah sebagian pasien instalasi rawat jalan farmasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 100 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antara kepuasan pasien BPJS dan non BPJS berdasarkan tingkat harapan dan kenyataan terdapat beberapa aspek yang memiliki perbedaan yang signifikan pada aspek kehandalan, ketanggapan, jaminan dan empati. Sedangkan berdasarkan kenyataan yang diterima pasien, aspek kepuasan yang memiliki perbedaan signifikan adalah kenyataan dan kehandalan. Secara keseluruhan juga didapatkan bahwa terdapat perbedaan antara tingkat kepuasan pasien BPJS dengan non BPJS di instalasi farmasi rawat jalan RS Mekar Sari. Kata Kunci: Kepuasan, BPJS, Non BPJS, Harapan, Kenyataan
Implikasi Adanya Perbedaan Isi pada Undang-undang Cipta Kerja Ditinjau dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 di RSBT Pangkalpinang Sri Andriana; Ali Germas Kodyat; Aliefety Putu Garnida
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 7, No 2 (2023): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v7i2.3044

Abstract

Untuk menyediakan lapangan pekerjaan seluasnya disaat tuntutan globalisasi dan teknoogi ekonomi dengan persaingan yang kian kompetitif, Pemerintah Indonesia telah membuat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Aturan ini menyusul pelbagai undang-undang yang sudah lebih dulu terbit, namun dianggap belum mampu menghadirkan kebutuhan hukum untuk mempercepat dan menciptakan peluang kerja. Termasuk belum kuat memberikan kepastian dan pengakuan perlakuan sama di muka hukum terhadap pekerja. Terutama terkait Pasal 112 Angka 2 Pasal 4A ayat (3) huruf a dalam penjelasannya yang menerangkan tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak dikenakan kepada pemberi jasa pelayanan kesehatan medis. Dalam penjelasan pasal itu, banyak profesi tenaga kesehatan (nakes) yang ketentuannya ada di Pasal 11 ayat (1)hingga (14) UU Nakes No 36 Tahun 2014 tidak disebutkan. Dari itulah, penulis menganalisis adapertentangan pengakuan pada UU Cipta Kerja sehingga memberi judul penelitian: “Implikasi Adanya Perbedaan Isi pada Undang-undang Cipta Kerja Ditinjau dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 di RSBT Pangkalpinang.” Penelitian ini memilih metodelogi kualitatif menggunakan pendekatan yuridis empiris dan action research. Dengan pengamatan terlibat, wawancara mendalam dan studi dokumen serta penelitian lapangan untuk mendapati faktaserta data yang dibutuhkan. Hasil penelitiannya, dari 497 karyawan RSBT Pangkalpinang ditemukan sebanyak 78 orang nakes tidak disebutkan profesinya pada Penjelasan UU Cipta Kerja. Selain itu, nakes dan pengurus organisasinya kecewa merasa pemerintah tidak adil mencantumkan dukun bayi dan paranormal dengan mengesampingkan para nakes.Sehingga pemerintah disarankan merevisi UU Cipta Kerja agar memberikan kepastian dan perlindungan hukum kepada seluruh nakes.Kata kunci: Pengakuan, Tenaga Kesehatan, Undang-undang Cipta Kerja
Analisis Strategi Marketing Physical Evidence Terhadap Pengembangan Layanan Di Rumah Sakit TK.II Prof. dr. J.A Latumeten Ambon Hajra Rasid; Alih Germas; Nurminingsih Nurminingsih
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 7, No 3 (2023): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v7i3.3390

Abstract

Latar Belakang: Sebagian besar rumah sakit dan organisasi pelayanan kesehatan lainnya mengalamiberbagai permasalahan. Salah satu permasalahan dihadapi adalah permasalahan pemasaran, dimanaorganisasi tersebut menghadapi variabel-variabel yang senantiasa berubah di pasar, yakni perubahanperaturan perundang-undangan oleh pemerintah, persaingan yang sangat ketat, pasien yang semakinkritis, dan lain-lain. Secara umum tersedianya fasilitas dan tenaga Kesehatan rumah sakit Tk.II prof. dr.J.A Latumeten cukup memadai dan sangat berperan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dirumah sakit, namun masih terdapat beberapa sarana dan prasarana di rumah sakit yang kurangdiperhatikan sehingga dapat memicu keluhan dari pasien maupun petugas internal sendiri. Penelitian inibertujuan Untuk menganalisis strategi marketing physical evidence dalam upaya pengembanganlayanan di rumah sakit TK. II Prof. dr. J.A Latumeten tahun 2023.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan kuantitatif, Pengumpulan dataprimer diperoleh dengan wawancara mendalam (deep interview), Focus Group Discussion, dan observasisecara langsung di rumah sakit TK. II Prof. dr. J.A Latumeten. Data sekunder diperoleh dengan menelaahlaporan rencana strategi jangka pendak dan jangka Panjang.Hasil Penelitian: hasil rekapitulasi indicator physical Evidence untuk facility Eksterior 76,87% dengankatagori baik, Facility interior 72,81 katagori baik, dan Other tangible Element 81,25% katagori sangatbaik.Kata Kunci : Physical Evidence, MCUA, Pengembangan Layanan.
Analisis Faktor Penyebab Pending Klaim Rawat Inap Bpjs Kesehatan di Rumah Sakit Efarina Pangkalan Kerinci Riau Riri Handayani; Alih Germas Kodyat; Aliefety Putu Garnida
Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah Vol. 7 No. 10 (2025): Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/alkharaj.v7i10.9962

Abstract

This study aims to analyze the factors causing pending BPJS Kesehatan inpatient claims at Efarina Hospital, Pangkalan Kerinci, Riau, in 2024. Pending claims are a significant obstacle in the hospital financing system because they impact cash flow, service efficiency, and operational sustainability. The study used a mixed method (quantitative and qualitative) design. The research sample consisted of 1,278 pending inpatient claim files and interviews using the matrix triangulation technique, Focus Group Discussion (FGD) related to the claims process. Data were collected through document review, in-depth interviews, and observation of the administrative process. The results showed that the dominant factors causing pending claims were incomplete medical resumes (56.73%), inaccurate coding (34.66%), and incomplete claim files (8.61%). The impact of pending claims was quite significant, namely delays in receiving payments from BPJS Kesehatan and increased hospital operational costs. This study recommends strengthening the claims management system through improving the accuracy of medical records, regular training, optimizing information technology, and stricter internal supervision. In conclusion, improvement efforts focused on human resources, administration, and digital systems are crucial for reducing the number of pending claims, enabling hospitals to improve efficiency, regulatory compliance, and the quality of healthcare services.
Hubungan Mutu Pelayanan dengan Kunjungan Ulang Pasien Rawat Jalan Andrean Lesmana; Alih Germas Kodyat; Apri Sunadi
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.248

Abstract

Pelayanan kesehatan adalah unsur kritis dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat rumah sakit merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan optimal kepada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan terhadap kunjungan ulang pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bhayangkara TK.II Medan. Jenis penelitian ini adalah survey analisis dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian ini adalah Rumah Sakit Bhayangkara TK.II Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan yang berkunjung pada bulan Januarisampai Februari 2025. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 342 orang dengan menggunakan accidental sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang langsung diberikan kepada responden. Pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi yang menggunakan program SPSS (Statistical Package For Social Science). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara mutu pelayanan dengan kunjungan ulang pasien rawat jalan (p<0,05). Secara spesifik, keprofesian tenaga medis, efisiensi layanan, dan tingkat kepuasan pasien memiliki pengaruh yang bermakna terhadap keputusan pasien untuk kembali berobat. Faktor keamanan pelayanan dan ketersediaan fasilitas juga berkontribusi dalam meningkatkan minat kunjungan ulang pasien. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mutu pelayanan rumah sakit memiliki hubungan yang signifikan dengan minat kunjungan ulang pasien rawat jalan.
Pengaruh Implementasi Budaya Keselamatan Pasien terhadap Kinerja Perawat di Unit Rawat Inap Rizka Aroza; Alih Germas Kodyat; Ahdun Trigono
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.445

Abstract

ABSTRAK Pembentukan komite mutu rumah sakit dan penerapan budaya keselamatan pasien melalui langkah strategis sesuai regulasi nasional merupakan fondasi penting dalam meningkatkan mutu layanan, mencegah kejadian tidak diharapkan, dan memperkuat kinerja organisasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi budaya keselamatan pasien terhadap kinerja perawat di Unit Rawat Inap RS Tk III Dr. Bratanata. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 132 perawat sebagai responden. Instrumen yang digunakan terdiri dari kuesioner budaya keselamatan pasien dan kinerja perawat, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis dengan metode regresi untuk mengetahui pengaruh variabel independen. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat budaya keselamatan pasien berada pada kategori baik dengan skor rata-rata 74,7. Regresi linear sederhana menunjukkan bahwa seluruh dimensi budaya keselamatan meliputi komunikasi, pelaporan insiden, respons terhadap kesalahan, pembelajaran memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perawat (p < 0,05). Budaya keselamatan juga terbukti mendorong peningkatan jumlah pelaporan insiden secara sukarela, sebagai indikator partisipasi aktif dalam menjaga mutu layanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi budaya keselamatan pasien berpengaruh nyata terhadap peningkatan kinerja perawat di unit rawat inap, dengan pelaporan insiden sebagai elemen yang paling terlihat. Sepuluh aspek budaya keselamatan dapat menjelaskan 26,4% variasi dalam kinerja. Diperlukan upaya manajerial dalam mendukung komunikasi terbuka, sistem pelaporan yang aman, serta pembinaan berkelanjutan agar budaya keselamatan dapat tertanam secara sistemik.
Analyzing the Impact of Electronic Medical Record Implementation on Net-Benefit Using HOT-FIT Rizqi Satria Andhika Gusni; Alih Germas Kodyat; Laila Ulfa
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i1.581

Abstract

This study aims to analyze the impact of Electronic Medical Records (EMR) implementation on the hospital’s Net Benefit using the HOT-Fit model approach, which includes the Human, Organization, and Technology components. The research was focused on the Outpatient Unit of RSB TK. III Ambon, involving 232 employees directly or indirectly involved in the EMR system implementation. A non-experimental quantitative approach with a cross-sectional correlational design was applied. Data were collected using questionnaires and analyzed through bivariate analysis using the Chi-Square test and multivariate analysis using logistic regression with the backward conditional method. The results indicate that all three HOT components Human, Organization, and Technology have a significant relationship with Net Benefit (p-value < 0.05). The calculated Prevalence Odds Ratio (POR) shows that the Human factor has a POR of 49.54, the Organization factor has 84.46, and the Technology factor has 60.00. The coefficient of determination (R²) is 0.744, meaning 74.4% of the variation in Net Benefit can be explained by the HOT variables, while the remaining 25.6% is explained by other factors outside the model. Multivariate analysis revealed that the Organization factor is the most dominant variable, with the highest odds ratio of 22.813 at a 95% confidence level and a significant p-value < 0.05. Furthermore, the Human factor was identified as a confounding variable in the relationship. It is recommended that the hospital enhance user training on system features, optimize EMR technical performance, and strengthen education and monitoring of data completeness and accuracy. Additionally, periodic and practical training tailored to each unit’s needs should be implemented, along with continuous post-training technical support. From the technological aspect, improvements in network infrastructure, provision of backup systems, and partnerships with IT service providers are necessary for regular maintenance and user support.
Evaluasi Penanganan Klaim Tertunda Rawat Inap Bpjs Kesehatan Di Rs Sentra Medika Cibinong Tahun 2025 Dian Roshita; Alih Germas Kodyat; Laila Ulfa
Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI) Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Manajemen dan Administrasi Rumah Sakit Indonesia (MARSI)
Publisher : LPPM Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/marsi.v10i2.8243

Abstract

Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan menjadi tulang punggung pembiayaan kesehatan di Indonesia. Namun, fenomena klaim tertunda masih menjadi kendala serius bagi rumah sakit, khususnya rumah sakit swasta. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penyebab klaim tertunda rawat inap BPJS Kesehatan di RS Sentra Medika Cibinong tahun 2025, menilai dampaknya terhadap operasional dan mutu pelayanan, serta merumuskan strategi perbaikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara semi terstruktur dan telaah dokumen klaim rawat inap periode Januari–Oktober 2025. Informan dipilih secara purposive, melibatkan corporate casemix, kepala divisi, koder, verifikator, case manager, dan DPJP pendukung. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Sepanjang Januari–Oktober 2025 tercatat 1.305 kasus klaim tertunda dengan nominal Rp19,09 miliar atau sekitar 10,2% dari total klaim layak. Faktor utama penyebab klaim tertunda meliputi ketidaklengkapan dokumen medis, kesalahan koding diagnosis dan tindakan, ketidaksesuaian administrasi, kedisiplinan proses pengajuan berkas, serta keterbatasan integrasi SIMRS–eKlaim. Dampak klaim tertunda terlihat pada terganggunya arus kas, keterlambatan pembayaran vendor, penurunan motivasi tenaga medis, serta potensi menurunnya mutu pelayanan. Klaim tertunda merupakan fenomena sistemik yang menuntut perbaikan menyeluruh. Rumah sakit perlu memperkuat kompetensi SDM melalui pelatihan rutin, meningkatkan disiplin dokumentasi, menegakkan kepatuhan prosedur, memperkuat koordinasi lintas unit, serta mempercepat integrasi teknologi informasi. Monitoring rutin dan harmonisasi regulasi dengan praktik klinis juga diperlukan untuk menekan angka klaim tertunda dan menjaga keberlanjutan pelayanan. Kata Kunci: Klaim Tertunda, BPJS Kesehatan, Rawat Inap, Manajemen Rumah Sakit, SIMRS