Putu Devi Jayanti
Laboratory Of Clinical Diagnosis, Clinical Pathology And Veterinary Radiology, Faculty Of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Laporan Kasus : Refleks Pinnal Pedal pada Kucing Persia Penderita Scabiosis dan Otitis Eksterna Wirawan, I Made Agus; Jayanti, Putu Devi; Erawan, I Gusti Made Krisna
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol. 15 No. 2 (2025): VITEK-Bidang Kedokteran Hewan
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/7exprb15

Abstract

Skabiosis dan otitis eksterna merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh ektoparasit dan sering terjadi pada hewan peliharaan. Kucing yang menderita skabiosis dan otitis eksterna ditandai dengan koreng, kerontokan rambut, garukan, dan kotoran telinga. Tujuan dari makalah ini adalah untuk melaporkan refleks pinnal pedal pada kucing Persia yang menderita skabiosis dan otitis eksterna. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan sisik dan alopesia pada kepala, telinga, leher, dan kaki. Eritrema dan perdarahan juga ditemukan pada leher. Selain itu, terdapat pruritus dengan skor 8/10 (gatal hebat) dan refleks pinnal pedal positif. Ditemukan kotoran telinga yang banyak dan penebalan kulit. Pemeriksaan penunjang meliputi kerokan kulit, usap telinga, dan pemeriksaan hematologi. Kerokan kulit menunjukkan tungau Notoedres cati, dan usap telinga menunjukkan Otodectes cynotis. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anemia, leukositosis, dan granulositosis pada hewan yang terinfeksi. Kucing kasus diobati dengan ivermectin, difenhidramin HCl, klorfeniramin maleat, VCO, dan fero glukonat. Kucing kasus menunjukkan pemulihan setelah 14 hari terapi, ditandai dengan tidak adanya pruritus, tidak adanya refleks pinne-pedal, tidak adanya alopecia, tidak adanya perdarahan, dan tidak adanya sisik. Kucing kasus dimandikan setidaknya dua kali sebulan, dan suntikan ivermectin ulang diberikan 7 hari setelah pemberian awal.
Case Report: The Use of Herbal Medicine Lonicera and Forsythia as a Treatment of Bronchopneumonia in Cats Nur Husodo, Tifano Pratista Ramandika; Putu Devi Jayanti; Putu Ayu Sisyawati Putriningsih
Media Kedokteran Hewan Vol. 37 No. 1 (2026): Media Kedokteran Hewan
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mkh.v37i1.2026.85-97

Abstract

Bronchopneumonia is a form of pneumonia that causes inflammation and infection in the respiratory tract (bronchi) and alveoli. Clinical studies show that Yin Qiao San has antibacterial and anti-inflammatory effects. This study aims to determine the Yin Qiao San herbal medicine as an alternative to the use of antibiotics for the treatment of bronchopneumonia in cats. The case animal named Bambam is a mixed-breed cat. The cat is a sterilized male, 3 years old, with a body weight of 3.75 kg. The cat had been sneezing for a month and was observed coughing several times. Physical examination revealed mucopurulent discharge and the presence of crackles. Hematology results indicated the cat had macrocytic hypochromic anemia. The presence of mucopurulent discharge raised suspicion of a bacterial infection. Discharge cytology revealed neutrophils, lymphocytes, and coccus bacteria, while bacterial culture identified Streptococcus sp. and Staphylococcus sp. The X-ray results showed ring-like shadows, tram lines, and air bronchograms. The cat was diagnosed with bronchopneumonia. Treatment involved the administration of herbal medicines Lonicera and Forsythia, given at a dose of one tablet twice daily, along with Livron B-Plex, one tablet once daily for 14 days. Therapy evaluation results showed clinical improvement, indicated by the absence of coughing and crackles, reduced nasal discharge, and decreased sneezing frequency. However, after treatment, the nasal discharge did not change, the discharge remained mucopurulent.