Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

SENI KERAJINAN TENUNAN SONGKET MELAYU DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU Afifa, Sukma; Yuliarma
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 16 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v16i1.5805

Abstract

Tenunan songket melayu saat ini tidak hanya terdapat di Pekanbaru, namun telah berkembang hampir ke semua daerah di riau termasuk kabupaten indragiri hulu. Kain songket melayu merupakan warisan leluhur yang digunakan pada kegiatan tertentu seperti upacara pernikahan, sebagai busana adat dan juga diberbagai kepentingan luar kegiatan adat. Namun sangat disayangkan tenunan songket melayu di kabupaten indragiri hulu ini masih kurang dikenal oleh masyarakat setempat dan juga masyarakat diluar. Tenunan songket melayu juga mengalami perkembangan, dimana pengrajin dituntut untuk bisa menciptakan motif serta warna yang lebih beragam agar tetap bisa bersaing dengan tenunan songket lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mendokumentasikan bentuk motif, penempatan motif dan warna songket melayu di kecamatan lirik. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan teori desain motif, dan warna. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, wawancara, serta dokumentasi.
A Study on the Colors of Traditional Blongket Weaving Fabric at Griya Kain Tuan Kentang, Palembang City Febiola, Natasya Anggia; Yuliarma, Yuliarma
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 26, No 2 (2024): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v26i2.4853

Abstract

Each woven product from various regions has its own uniqueness, because it comes from a different source of ideas. One example is Blongket weaving, which has unique characteristics. The most prominent feature in this study is the type of color and color combination in the Blongket woven fabric which is processed with a limar technique that makes a variety of colors. Until now, the uniqueness of the type of color and the combination of colors with the process of being smeared has not been widely known by the public in general. This study aims to study the types of colors and color combinations in Blongket weaving in Griya Kain Tuan Kentang. This research method uses a qualitative research method that requires informants, with data collection techniques namely interviews, observations, and documentation. The results of this study found 1) The types of colors in model 1 fabric were found in 5 colors including purple, white, green, gold, and brown. On the model 2 fabric, 5 colors were found including blue, pink, yellow, dark blue, and green. On the model 3 fabric, 6 colors were found including green, brown, dark blue, blue, purple, and white. 2) Color combinations in this study found tetrad color combinations
PERUBAHAN DEDAIN HIASAN BUSANA ADAT TRADISIONAL WANITA TAKULUAK BAREMBAI Dita, Riri Rahma; Yuliarma, Yuliarma
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 11 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i11.2024.4893-4903

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan perubahan yang terjadi dalam busana adat tradisional wanita takuluak barembai kabupaten Kuantan Singingi. Fokus utama dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perubahan desain hiasan dalam elemen motif dan teknik hias pada busana adat tradisional wanita takuluak barembai Kabupaten Kuantan Singingi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data primer dan skunder melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) motif yang digunakan pada busana adat tradisional wanita takuluak barembai dulunya menggunkan motif anyaman, motif bunga tanjung, motif tampuk manggis dan motif lebah begayut berganti menjadi motif anyaman modifikasi, motif tampuk manggis, dan motif siku tunggal, 2) teknik hias busana adat tradisional wanita takuluak barembai dahulunya menggunakan teknik hias lekapan renda dan bordir berganti menjadi tekni hias lekapan renda dan payet. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana busana tradisional dapat beradaptasi seiring peruban zaman, sekaligus menunjukan pengaruh budaya modren terhadap tradisi lokal.
KARAKTERISTIK SULAMAN BENANG EMAS PADA BAJU PENGANTIN TRADISIONAL MINANGKABAU DI KECAMATAN LUBUK BEGALUNG Yuliarma Yuliarma; Villia Nur Ismalita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.46436

Abstract

The purpose of the research is to describe The characteristics of the motif design include the shape of the motif, the decorative pattern, and the placement of the motif on the gold thread embroidered product which is applied to traditional Minangkabau wedding dresses in the industrial center of Lubuk Begalung District, Padang. Traditional motif designs that are applied to gold thread embroidered wedding dress products at the of Lubuk Begalung Padang Industrial center has the characteristics their distinguish them from embroidery from other regions. This research used a qualitative descriptive method with the type of data required in the form of primary data and secondary data. The data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The characteristics of the traditional Minangkabau gold thread embroidery design is in the form of naturalist motifs such as the kaluak babungo motif, peacock, hong bird, orchid flower, and sponge. The decorative patterns used are free decorative patterns, sow decorative patterns, hanging decorative patterns, and walking fringe decorative patterns. The placement of the motif includes the neckline, the ends of the sleeves, on the bottom edge of the front and back clothes.Keywords: gold thread embroidery, wedding dress. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik desain motif meliputi bentuk motif, pola hias, dan penempatan motif pada produk sulaman benang emas yang diterapkan pada baju pengantin tradisional Minangkabau di sentra industri Kecamatan Lubuk Begalung Padang. Desain motif tradisional yang di terapkan pada produk  baju pengantin sulaman benang emas di sentra Industri Lubuk Begalung Padang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan sulaman dari daerah lain.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis data yang diperlukan berupa data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Ciri khas desain motif sulaman benang emas tradisional Minangkabau berupa bentuk motif naturalis seperti motif kaluak babungo, burung merak, burung hong, bunga anggrek, dan bunga karang. Pola hias yang digunakan pola hias bebas, pola hias tabur, pola hias menggantung, dan pola hias pinggiran berjalan. Penempatan motif meliputi garis leher, ujung lengan, pada pinggir bawah baju depan dan belakang.Kata Kunci: sulaman benang emas, baju pengantin. Authors:Yuliarma : Universitas Negeri PadangVillia Nur Ismalita : Universitas Negeri Padang References:Ibrahim, A., Djafri, D., Bafiman, B., Yanis, M., Alimunar, A., Ilyas, M., & Akbar, R. (1986). Pakaian adat tradisional daerah Sumatera Barat.Pulukadang, Roesbani. (2009). Keterampilan Menhias Kain. Bandung: Angkasa.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia.Suhersono, Hery. (2006). Desain Bordir Motif Batik. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.UTARI, A. G., Zahri, W., & Idrus, Y. (2014). Studi Tentang Kerajinan Sulaman Benang Emas di Nagari Saniangbaka Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Journal of Home Economics and Tourism, 7(3). (http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/4324).Yuliarma. (2018). Model Of Embroidery Design ˜Kepala Peniti™ Minangkabau On Acculturative Batik. Vol 301 Seventh International Conference on Languanges and Arts (ICLA).  (http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. DESIGN CHARACTERISTICS OF NATURAL MOTIVES IN VARIOUS DECORATIVE AND MINANGKABAU TRADITIONAL EMBROIDERY.(http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. (2019, March). Model of Embroidery Design ˜Kepala Peniti'Minangkabau on Acculturative Batik. In Seventh International Conference on Languages and Arts (ICLA 2018) (pp. 128-135). Atlantis Press. (https://www.atlantis-press.com/proceedings/icla-18/55914482).Yuliarma, Y. (2014). STUDI TENTANG DISAIN RAGAM HIAS PAKAIAN PENGANTIN TRADISIONAL LUBUK BEGALUNG PADANG. (Journal of Home Economics and Tourism, 6(2).(http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/3422).Yuliarma, Yuliarma (2021) Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. In: Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. UPTD Meseum Adityawarman, Padang, pp. 1-110. (http://repository.unp.ac.id/39133/).Yuliarma. (2013). Disain Ragam Hias. UNP.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia. 
BATIK TULIS DIWO DI KABUPATEN KEPAHIANG (STUDI KASUS DI USAHA SUMBER HAYATI) Sherena Asrofah Maysara; Yuliarma Yuliarma
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57035

Abstract

This research focuses on the typical batik craft art of Kepahiang Regency, namely Diwo batik, which experienced extinction by developing and recreating motifs that have become characteristic. Currently, there are still many people in Kepahiang who do not know or know about this batik, both in terms of the shape of the motif, color and the process of making it. Diwo batik which features cultural motifs and natural products of kepahiang which are beautiful and have meaning in each motif as well as the technique and coloring rocess of Diwo batik, namely written batik with dab remasol coloring. The aim of this research is to explain motif designs, color combinations, tecniques and prosses in dyeing hand-written batik at Sumber Hayati. The method used is a qualitative descropty collecting data from primary sources such as written documents and audio recordings, as well as secondary data obtained from literature studies. Data collection methods include direct observation, interviews, and documentation. The next stage involves technical data evaluation and analysis, which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion deducation. The resul of the research are 1) the form of the Diwo batik motifs in Sumber hayati is inspired by: (a) naturalist form (stabik motif and bunga kembang empat motif), (b) geometric motif (selempang emas motif), (c) decorative motif (ucuk rebung motif), and script mog letter motifs), 2) color combination, namely (a) contrast color  combinations, (b) momochromatic color combinations, (c) triad color combinations, and 3) techniques and processes for dyeing diwo batik using the technique  remasol dab.Keywords: batik diwo, motifs, color, technique, processAbstrakPenelitian ini mengangkat tentang seni kerajinan batik khas Kabupaten Kepahiang yaitu batik Diwo yang sempat mengalami kepunahan dengan cara mengembangkan dan mengkreasikan kembali motif-motif yang memang sudah menjadi ciri khas. Masyarakat Kepahiang pun saat ini masih banyak yang belum mengenal dan mengetahui tentang batik ini, baik dari bentuk motif, warna dan proses pembuatannya. Batik Diwo yang mengangkat motif budaya dan hasil alam kepahiang yang indah dan memiliki makna pada setiap motifnya serta teknik dan proses pewarnaan batik Diwo yaitu batik tulis dengan pewarnaan colet remasol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan desain motif, kombinasi warna, teknik dan proses dalam pewarnaan batik tulis di Sumber Hayati. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data dari sumber primer seperti dokumen tertulis dan rekaman audio, serta data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka. Metode pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Tahap berikutnya melibatkan evaluasi dan analisis data secara teknis, yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan deduksi kesimpulan. Hasil penelitian yaitu 1) bentuk motif batik Diwo di Sumber Hayati terinspirasi dari: (a) bentuk naturalis (motif stabik dan motif bunga kembang empat), (b) motif geometris (motif selempang emas), (c) motif dekoratif (motif pucuk rebung), dan motif aksara (motif huruf rikung), 2) kombinasi warna yaitu (a) kombinasi warna kontras, (b) kombinasi warna monokromatik, (c) kombinasi warna triad, dan 3) teknik dan proses pewarnaan batik tulis diwo dengan menggunakan teknik colet remasol.Kata Kunci: batik diwo, motif, warna, teknik, proses.Authors:Sherena Asrofah Maysara : Universitas Negeri PadangYuliarma : Universitas Negeri PadangReferencesFAISAL RAFANDI, D., Ajusril, S., & Erwin, A. (2017). Studi Tentang Batik Kaganga Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Serupa The Journal of Art Education, 4(2).Hadaf, A., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Motif dan Pewarnaan Batik Tulis di Dusun Giriloyo Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa YOGYAKARTA (Studi Kasus di Industri Batik Sri Kuncoro). Journal of Home Economics and Tourism, 11(1).Isfi, Y. P., & Novrita, S. Z. Proses Pewarnaan Anyaman Mansiang Di Jorong Taratak Kubang Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 559.Kuwala, R. N., & Novrita, S. Z. Ragam Hias Motif Batik Tanah Liek Dharmasraya (Studi Kasus di Kerajinan Batik Tanah Liek Citra). Gorga: Jurnal Seni Rupa,11(1), 8-15.Lubis, P. R., & Novrita, S. Z. (2021). Ragam Motif Batik Indragiri Hulu Di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni dan Teknologi, 3(3), 109-117.Suhaini, Y., & Adriani, A. Proses Pewarnaan Batik Di Kecamatan Lunang Pesisir Selatan (Studi Kasus Di Rumah Batik Dewi Busanaa Lunang). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 220-224.Susanto, K., Erwin, M. S., & Minarsih, M. S. (2015). Bentuk, Fungsi dan Makna Motif Batik Bungo di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo. Serupa The Journal of Art Education, 3(2).Veriza, S., Rafia, R., & Nurjannah, N. (2023). Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Pembelajaran Life Skill di PKBM Az-Zahra Kepahiang (Doctoral dissertation, Institut Islam Negeri Curup).Wulandari, Ari (2011), Batik Nusantara (Makna Filosifis, Cara Pembuatan & Industri.. Yogyakarta. Penerbit CV Andi Offset.Yuliarma, Y. (2016). The Art of Embroidery Designs: Mendesain Motif Dasar Bordir dan Sulaman. Jakarta: GramediaYuliarma, Y. (2003). Studi tentang Desain Hiasan pada Bordir di Industri Kerajinan Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Sumatera Barat.Yuliarma, Y. Kombinasi Warna Sulaman Suji Cair pada Produk Selendang di Daerah Koto Gadang Sumatera Barat. Jurnal Kajian Seni, 9(1), 98-115.Yuliarma, Y. Philosophical Meaning Of Pariangan Batik Motifs as an Effort to Preserve Minangkabau Culture. Gondang 7, no 2 (2023): 570-579
Kajian Perubahan Tata Busana Pengantin Tradisional Wanita Dikabupaten Pesisir Selatan Febryanti, Dira; Yuliarma, Yuliarma
Jurnal Ilmiah Dikdaya Vol 15, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/dikdaya.v15i1.754

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perubahan busana pengantin tradisional ke bentuk busana modern hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman, pengaruh teknologi dan perkembangan mode. perubahan seperti pada tata busana  baik dari segi busana, pelengkap serta aksesoris yang digunakan saat prosesi pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan busana pengantin tradisional wanita di kabupaten pesisir selatan meliputi perubahan tata busana, pelengkap, dan aksesoris. Hal ini dikhawatirkan pakaian pengantin tradisional wanita tidak diketahui oleh generasi selanjutnya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis data primer dan data sekunder. Selanjutnya teknik analisis data melalui reduksi data,penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada teknik keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, meningkatkan kecermatan, triangulasi, pengecekan sejawat dan auditing.Hasil penelitian ditemukan bahwa 1) tata busana (a)Baju yang semula baju kurung basiba sekarang baju kurung pas badan.(b)Kain yang dulunya menggunakan kain sarung songket balapak sekarang menjadi songket meteran atau kain yang sama dengan bahan baju. b)pelengkap tokah berupa selendang panjang berwarna biru yang di silangkan di dada sekarang tokah praktis diletakan dibahu.c)Aksesoris sunting yang disusun sekarang menjadi sunting praktis, dan perhiasan seperti kalung rumah gadang, kalung panyiaran, gelang gadang, sekarang berupa kalung cakiak, gelang india.
Evolutionary Trends in Traditional Women’s Wedding Attire: A Case Study of Pesisir Selatan Regency Febryanti, Dira; Yuliarma, Yuliarma
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 14 No. 1 (2025): Gorga: Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v14i1.64572

Abstract

The transformation of traditional women's wedding attire in Pesisir Selatan Regency is influenced by the evolution of time, technology, and fashion trends. This shift affects clothing arrangements, design, and aesthetic values. If not properly documented, there is a concern that future generations may lose their cultural identity in traditional wedding attire. Therefore, this study aims to describe the changes in clothing arrangements, design, and aesthetic values of traditional women's wedding attire in Pesisir Selatan Regency.This study employs a qualitative descriptive method and was conducted from July 30, 2023, to November 2024, using both primary and secondary data. The analysis is conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while data validity is ensured through triangulation, peer examination, and auditing. The findings reveal significant changes: the baju kurungbasiba has transitioned into a baju kurung pas badan, the sarungsongketbalapak has been replaced with fabric matching the attire, and the tokah, originally a long shawl, has become more practical. Accessories such as sunting and jewelry have also undergone modernization.In terms of design, there have been transformations in silhouette, color, material, motifs, and decorative techniques. These changes reflect an adaptation to fashion trends but may also diminish cultural authenticity. Efforts toward preservation are necessary to ensure that cultural values remain intact.
PERUBAHAN DESAIN MOTIF SULAMAN BENANG EMAS PADA BUSANA PENGANTIN WANITA DI SUNGAYANG KABUPATEN TANAH DATAR Yuliarma, Yuliarma; Arvany, Yolanda Putri
Home Economics Journal Vol. 7 No. 1 (2023): May
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hej.v7i1.59408

Abstract

Abstrak: Fenomena yang terjadi dalam dunia fashion adalah perubahan ragam hias sulaman benang emas, khususnya pada busana pengantin wanita di Sungayang. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bentuk motif, pola hias dan tata letak sulaman benang emas pada baju pengantin wanita. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data adalah reduksi data dari narasumber, bahan pustaka, buku, literatur, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) ditemukan motif kaluak paku,burung hong dan bunga karang pada baju pegantin. 2) ditemukan pola hias pinggiran, pola hias tabur, pola hias mengisi bidang dan pola serak. 3) ditemukan penempatan motif pada bagian leher, bagian bawah baju, bagian dada dan ujung lengan.
KARAKTERISTIK SULAMAN BENANG EMAS PADA BAJU PENGANTIN TRADISIONAL MINANGKABAU DI KECAMATAN LUBUK BEGALUNG Yuliarma, Yuliarma; Ismalita, Villia Nur
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.46436

Abstract

The purpose of the research is to describe The characteristics of the motif design include the shape of the motif, the decorative pattern, and the placement of the motif on the gold thread embroidered product which is applied to traditional Minangkabau wedding dresses in the industrial center of Lubuk Begalung District, Padang. Traditional motif designs that are applied to gold thread embroidered wedding dress products at the of Lubuk Begalung Padang Industrial center has the characteristics their distinguish them from embroidery from other regions. This research used a qualitative descriptive method with the type of data required in the form of primary data and secondary data. The data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The characteristics of the traditional Minangkabau gold thread embroidery design is in the form of naturalist motifs such as the kaluak babungo motif, peacock, hong bird, orchid flower, and sponge. The decorative patterns used are free decorative patterns, sow decorative patterns, hanging decorative patterns, and walking fringe decorative patterns. The placement of the motif includes the neckline, the ends of the sleeves, on the bottom edge of the front and back clothes.Keywords: gold thread embroidery, wedding dress. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik desain motif meliputi bentuk motif, pola hias, dan penempatan motif pada produk sulaman benang emas yang diterapkan pada baju pengantin tradisional Minangkabau di sentra industri Kecamatan Lubuk Begalung Padang. Desain motif tradisional yang di terapkan pada produk  baju pengantin sulaman benang emas di sentra Industri Lubuk Begalung Padang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan sulaman dari daerah lain.  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis data yang diperlukan berupa data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Ciri khas desain motif sulaman benang emas tradisional Minangkabau berupa bentuk motif naturalis seperti motif kaluak babungo, burung merak, burung hong, bunga anggrek, dan bunga karang. Pola hias yang digunakan pola hias bebas, pola hias tabur, pola hias menggantung, dan pola hias pinggiran berjalan. Penempatan motif meliputi garis leher, ujung lengan, pada pinggir bawah baju depan dan belakang.Kata Kunci: sulaman benang emas, baju pengantin. Authors:Yuliarma : Universitas Negeri PadangVillia Nur Ismalita : Universitas Negeri Padang References:Ibrahim, A., Djafri, D., Bafiman, B., Yanis, M., Alimunar, A., Ilyas, M., & Akbar, R. (1986). Pakaian adat tradisional daerah Sumatera Barat.Pulukadang, Roesbani. (2009). Keterampilan Menhias Kain. Bandung: Angkasa.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia.Suhersono, Hery. (2006). Desain Bordir Motif Batik. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama.UTARI, A. G., Zahri, W., & Idrus, Y. (2014). Studi Tentang Kerajinan Sulaman Benang Emas di Nagari Saniangbaka Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok. Journal of Home Economics and Tourism, 7(3). (http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/4324).Yuliarma. (2018). Model Of Embroidery Design ˜Kepala Peniti™ Minangkabau On Acculturative Batik. Vol 301 Seventh International Conference on Languanges and Arts (ICLA).  (http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. DESIGN CHARACTERISTICS OF NATURAL MOTIVES IN VARIOUS DECORATIVE AND MINANGKABAU TRADITIONAL EMBROIDERY.(http://repostory.unp.ac,id/21978/1/EMBROIDERY%2DESIGN%200K.pdf).Yuliarma, Y. (2019, March). Model of Embroidery Design ˜Kepala Peniti'Minangkabau on Acculturative Batik. In Seventh International Conference on Languages and Arts (ICLA 2018) (pp. 128-135). Atlantis Press. (https://www.atlantis-press.com/proceedings/icla-18/55914482).Yuliarma, Y. (2014). STUDI TENTANG DISAIN RAGAM HIAS PAKAIAN PENGANTIN TRADISIONAL LUBUK BEGALUNG PADANG. (Journal of Home Economics and Tourism, 6(2).(http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/3422).Yuliarma, Yuliarma (2021) Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. In: Sulaman Benang Emas Tradisional Minangkabau. UPTD Meseum Adityawarman, Padang, pp. 1-110. (http://repository.unp.ac.id/39133/).Yuliarma. (2013). Disain Ragam Hias. UNP.Riza Mutia. (2012). Ragam Hias pada Koleksi Museum Adityawarman. Padang.Rosma. (1997). Nukilan Bordir Sumatra Barat. Cipta Budaya Indonesia. 
BATIK TULIS DIWO DI KABUPATEN KEPAHIANG (STUDI KASUS DI USAHA SUMBER HAYATI) Maysara, Sherena Asrofah; Yuliarma, Yuliarma
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57035

Abstract

This research focuses on the typical batik craft art of Kepahiang Regency, namely Diwo batik, which experienced extinction by developing and recreating motifs that have become characteristic. Currently, there are still many people in Kepahiang who do not know or know about this batik, both in terms of the shape of the motif, color and the process of making it. Diwo batik which features cultural motifs and natural products of kepahiang which are beautiful and have meaning in each motif as well as the technique and coloring rocess of Diwo batik, namely written batik with dab remasol coloring. The aim of this research is to explain motif designs, color combinations, tecniques and prosses in dyeing hand-written batik at Sumber Hayati. The method used is a qualitative descropty collecting data from primary sources such as written documents and audio recordings, as well as secondary data obtained from literature studies. Data collection methods include direct observation, interviews, and documentation. The next stage involves technical data evaluation and analysis, which includes data collection, data reduction, data presentation, and conclusion deducation. The resul of the research are 1) the form of the Diwo batik motifs in Sumber hayati is inspired by: (a) naturalist form (stabik motif and bunga kembang empat motif), (b) geometric motif (selempang emas motif), (c) decorative motif (ucuk rebung motif), and script mog letter motifs), 2) color combination, namely (a) contrast color  combinations, (b) momochromatic color combinations, (c) triad color combinations, and 3) techniques and processes for dyeing diwo batik using the technique  remasol dab.Keywords: batik diwo, motifs, color, technique, processAbstrakPenelitian ini mengangkat tentang seni kerajinan batik khas Kabupaten Kepahiang yaitu batik Diwo yang sempat mengalami kepunahan dengan cara mengembangkan dan mengkreasikan kembali motif-motif yang memang sudah menjadi ciri khas. Masyarakat Kepahiang pun saat ini masih banyak yang belum mengenal dan mengetahui tentang batik ini, baik dari bentuk motif, warna dan proses pembuatannya. Batik Diwo yang mengangkat motif budaya dan hasil alam kepahiang yang indah dan memiliki makna pada setiap motifnya serta teknik dan proses pewarnaan batik Diwo yaitu batik tulis dengan pewarnaan colet remasol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan desain motif, kombinasi warna, teknik dan proses dalam pewarnaan batik tulis di Sumber Hayati. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data dari sumber primer seperti dokumen tertulis dan rekaman audio, serta data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka. Metode pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Tahap berikutnya melibatkan evaluasi dan analisis data secara teknis, yang mencakup pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan deduksi kesimpulan. Hasil penelitian yaitu 1) bentuk motif batik Diwo di Sumber Hayati terinspirasi dari: (a) bentuk naturalis (motif stabik dan motif bunga kembang empat), (b) motif geometris (motif selempang emas), (c) motif dekoratif (motif pucuk rebung), dan motif aksara (motif huruf rikung), 2) kombinasi warna yaitu (a) kombinasi warna kontras, (b) kombinasi warna monokromatik, (c) kombinasi warna triad, dan 3) teknik dan proses pewarnaan batik tulis diwo dengan menggunakan teknik colet remasol.Kata Kunci: batik diwo, motif, warna, teknik, proses.Authors:Sherena Asrofah Maysara : Universitas Negeri PadangYuliarma : Universitas Negeri PadangReferencesFAISAL RAFANDI, D., Ajusril, S., & Erwin, A. (2017). Studi Tentang Batik Kaganga Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Serupa The Journal of Art Education, 4(2).Hadaf, A., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Motif dan Pewarnaan Batik Tulis di Dusun Giriloyo Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa YOGYAKARTA (Studi Kasus di Industri Batik Sri Kuncoro). Journal of Home Economics and Tourism, 11(1).Isfi, Y. P., & Novrita, S. Z. Proses Pewarnaan Anyaman Mansiang Di Jorong Taratak Kubang Kabupaten Lima Puluh Kota. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 559.Kuwala, R. N., & Novrita, S. Z. Ragam Hias Motif Batik Tanah Liek Dharmasraya (Studi Kasus di Kerajinan Batik Tanah Liek Citra). Gorga: Jurnal Seni Rupa,11(1), 8-15.Lubis, P. R., & Novrita, S. Z. (2021). Ragam Motif Batik Indragiri Hulu Di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni dan Teknologi, 3(3), 109-117.Suhaini, Y., & Adriani, A. Proses Pewarnaan Batik Di Kecamatan Lunang Pesisir Selatan (Studi Kasus Di Rumah Batik Dewi Busanaa Lunang). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 220-224.Susanto, K., Erwin, M. S., & Minarsih, M. S. (2015). Bentuk, Fungsi dan Makna Motif Batik Bungo di Kecamatan Pelepat Ilir Kabupaten Muara Bungo. Serupa The Journal of Art Education, 3(2).Veriza, S., Rafia, R., & Nurjannah, N. (2023). Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Pembelajaran Life Skill di PKBM Az-Zahra Kepahiang (Doctoral dissertation, Institut Islam Negeri Curup).Wulandari, Ari (2011), Batik Nusantara (Makna Filosifis, Cara Pembuatan & Industri.. Yogyakarta. Penerbit CV Andi Offset.Yuliarma, Y. (2016). The Art of Embroidery Designs: Mendesain Motif Dasar Bordir dan Sulaman. Jakarta: GramediaYuliarma, Y. (2003). Studi tentang Desain Hiasan pada Bordir di Industri Kerajinan Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Sumatera Barat.Yuliarma, Y. Kombinasi Warna Sulaman Suji Cair pada Produk Selendang di Daerah Koto Gadang Sumatera Barat. Jurnal Kajian Seni, 9(1), 98-115.Yuliarma, Y. Philosophical Meaning Of Pariangan Batik Motifs as an Effort to Preserve Minangkabau Culture. Gondang 7, no 2 (2023): 570-579