Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

POTENSI PENERAPAN KONSEP KOTA KOMPAK DI KOTA DEPOK DARI ASPEK TATA GUNA LAHAN DAN SISTEM TRANSPORTASI Ratnaningtyas, Navrida; Rahayu, Paramita; Istanabi, Tendra
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v4i2.55498.181-195

Abstract

Urbanisasi yang terus terjadi tanpa perencanaan akan berakibat negatif pada pergeseran perkembangan kota ke arah pinggiran kota atau urban sprawl. Konsep compact city atau kota kompak menjadi solusi dari perkembangan kota yang sprawl dengan adanya intensifikasi lahan dan pemerataan sistem transportasi. Kota Depok merupakan salah satu wilayah yang memiliki kecenderungan sprawl dengan isu-isu guna lahan dan transportasi. Kota Depok memiliki strategi pengembangan kota yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tahun 2018-2029 dengan meningkatkan keterpaduan antara tata guna lahan dan transportasi melalui penerapan konsep kota kompak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi guna lahan dan sistem transportasi Kota Depok dalam penerapan konsep kota kompak. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif kuantitatif dengan metode analisis spasial dan statistik deskriptif. Penelitian ini menggunakan delapan indikator konsep kota kompak yang dilihat dari aspek tata guna lahan dan sistem transportasi. Dari hasil analisis aspek tata guna lahan, persentase wilayah dengan kepadatan tinggi di Kota Depok sebesar 50%, kepadatan perumahan dan permukiman tinggi sebesar 23%, wilayah yang memiliki guna lahan campuran sebesar 41%, serta keterjangkauan dan ketersediaan sarana sebesar 46%. Sementara itu, dari aspek transportasi, aksesibilitas tinggi berada pada persebaran guna lahan perkotaan dan peribadatan. Konektivitas jalan di Kota Depok memiliki rasio 1.6, dan terdapat tujuh nodal multimoda di Kota Depok. Penelitian menemukan bahwa 2.422 Ha atau 12% wilayah Kota Depok sudah memiliki potensi kota kompak karena wilayahnya mendukung keseluruhan indikator perkembangan konsep kota kompak.
Preferensi Pemilik Unit Perumahan Formal dalam Menentukan Pemilihan Lokasi Bermukim di Sekitar Kawasan Industri Kragilan, Kabupaten Serang Putri, Dian Kurnia Ryantari; Mukaromah, Hakimatul; Rahayu, Paramita
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.68836.104-117

Abstract

Kecamatan Kragilan merupakan salah satu kecamatan yang diarahkan sebagai pengembangan Kawasan Industri Serang Timur serta kawasan perumahan dan permukiman menurut RTRW Kabupaten Serang Tahun 2011-2031. Arahan pengembangan tersebut dapat dilihat dari adanya industri-industri yang ada di Kecamatan Kragilan dan juga pertumbuhan perumahan formal yang semakin banyak. Adanya kegiatan kawasan industri menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk bermigrasi lalu tinggal dan menetap di Kecamatan Kragilan. Pada kawasan penelitian, terdapat 14 industri yang tersebar di Kecamatan Kragilan dan 18 perumahan formal yang tumbuh tersebar di beberapa desa pada Kecamatan Kragilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prioritas kepentingan aspek pemilihan lokasi bermukim menurut pemilik rumah di perumahan formal di sekitar Kawasan Industri Kragilan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif (skoring skala likert) untuk mengetahui prioritas kepentingan aspek pemilihan lokasi bermukim. Menurut hasil skoring, dengan keberadaan Kawasan Industri di Kecamatan Kragilan, prioritas kepentingan pemilihan lokasi bermukim menurut pemilik rumah di perumahan formal sekitarnya meliputi: (1) kemudahan dalam aksesibilitas; (2) kenyamanan dan kondisi lingkungan fisik; (3) ketersediaan pelayanan sarana dan prasarana; (4) harga hunian; dan (5) kondisi ekonomi.
The Development of Industrial Agglomeration in Industrial Designation Areas and its Impact on Land Use Change (Case Study: Pringsurat Subdistrict and Kranggan Subdistrict, Temanggung Regency) Laila, Fadhilla Nur; Rahayu, Paramita; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.87041.1-15

Abstract

Industrial agglomeration refers to the clustering of industries in a specific region, where they are in close proximity and have interconnections. This phenomenon not only stimulates the growth of industrial activities, but also influences the development of other economic sectors. As industrialization expands, it gradually extends into rural areas that usually have abundant undeveloped land primarily used for agriculture. Consequently, this trend prompts a transition from agricultural to industrial land use. Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict are located in Temanggung Regency, Central Java Province. Both of these subdistricts are designated as Industrial Designation Areas (KPI) according to the Temanggung Regency Spatial Plan 2011-2031. The plan has implications for the rapid development of large and medium industries. The purpose of this study is to examine the growth of industrial agglomeration in Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict and their impact on agricultural land conversion. This research was conducted from 2023 to 2024 and utilizing data from 2021 and 2022. The approach of this research is descriptive quantitative and utilizes spatial analysis with Geographic Information Systems (GIS) and descriptive analysis techniques. Based on the results of the analysis, there is an agglomeration of large and medium industries in Pringsurat subdistrict and Kranggan subdistrict. The growth of agglomeration encourages the establishment of new industries and industry linkages. Furthermore, agglomeration growth has led to changes in land use, an increase in the variety of land uses, and an increase in land prices. Results of the analysis also show that there are regulatory changes in the development of industrial agglomeration that will affect to local government decision in the future.
Karakteristik Aktivitas Perdagangan dan Jasa sebagai Aktivitas Pendukung Perguruan Tinggi: Studi Kasus Kecamatan Kartasura dan Kecamatan Laweyan Dikta, Talitha Benny; Mukaromah, Hakimatul; Rahayu, Paramita
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67488.49-63

Abstract

Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo memiliki arahan pengembangan pendidikan serta perdagangan dan jasa berdasarkan RTRW Kabupaten Sukoharjo Tahun 2011-2031. Pengembangan pendidikan dapat ditinjau dari keberadaan kawasan pendidikan Desa Gonilan, Desa Pabelan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, sertaKelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kartasura dimanaterdapat dua perguruan tinggi di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan aktivitas perdagangan dan jasa di kawasan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan perkembangan aktivitas pendidikan memberikan peluang peningkatan perekonomian dan perubahan lahan nonterbangun menjadi terbangun. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deduktif dan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif spasial untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi serta deskriptif statistik untuk mengetahui persentase peningkatan aktivitas sejak tahun 2011. Pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data primer melalui observasi dan kuesioner kepada pelaku usaha, serta data sekunder melalui dokumen dan citra satelit. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa aktivitas perguruan tinggi berperan penting dalam perkembangan aktivitas perdagangan dan jasa selama 2011-2022. Peningkatan jumlah mahasiswa sebesar 29% berpengaruh terhadap persebaran dan luas sarana perguruan tinggi sebesar 42%. Aktivitas perguruan tinggi memberikan peluang peningkatan perekonomian 45% yang sebagian besar dimanfaatkan masyarakat sekitar. Perkembangan aktivitas perguruan tinggi dan peluang perekonomian pada kawasan berdampak terhadap peningkatan luas sarana perdagangan dan jasa sebesar 52%.
PENGARUH STABILISASI PKL SHELTER MANAHAN TERHADAP KINERJA JALAN MENTERI SUPENO SURAKARTA Permana, Faisal Indra; Yudana, Galing; Rahayu, Paramita
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v1i1.11340.1-13

Abstract

Stabilisasi merupakan salah satu program penataan PKL pemerintah kota Surakarta yang berfungsi untuk memberi legalitas pada PKL di suatu kawasan dengan memfasilitasi tempat dagang permanen dan sejumlah fasilitas penunjang salah satunya seperti parkir on street. Adanya program stabilisasi berpotensi menimbukan permasalahan baru seperti dampak berupa beban transportasi di jalan sekitarnya. Salah satu PKL stabilisasi di kota Surakarta tersebut adalah PKL shelter Manahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh stabilisasi PKL shelter Manahan terhadap kinerja jalan Menteri Supeno. Tahap pertama penelitian yaitu mengidentifikasi aktivitas PKL shelter yang memicu pergerakan yang mempengaruhi besar volume kendaraan jalan Menteri Supeno. Tahap kedua yaitu menganalisis volume kendaraan jalan Menteri Supeno. Tahap ketiga mengidentifikasi kondisi parkir on street yang mempengaruhi kapasitas jalan Menteri Supeno. Tahap selanjutnya, menganalisis kapasitas jalan Menteri Supeno. Kemudian menganalisis kinerja jalan Menteri Supeno yang dilanjut dengan mengidentifikasi pengaruh PKL stabilisasi Manahan terhadap kinerja jalan Menteri Supeno. Hasil akhir penelitian ini adalah teridentifikasinya pengaruh yang dimulai dari aktivitas PKL shelter membangkitkan pergerakan menyebabkan peningkatan volume kendaraan, disisi lain keberadaan parkir on street PKL shelter mengalami kekurangan daya tampung yang secara signifikan menurunkan kapasitas jalan menyebabkan kemampuan jalan Menteri Supeno dalam menampung beban lalulintas berkurang, semua hal tersebut berkolaborasi dalam menurunkan nilai kinerja jalan sehingga jalan Menteri Supeno mengalami penurunan kualitas. Pada akhirnya diperoleh hasil bahwa keberadaan stabilisasi PKL shelter Manahan mempengaruhi kinerja jalan Menteri Supeno.
Peri-urbanisasi dan Perubahan Struktur Ruang Perkotaan di Kawasan Solo Baru Wibowo, Binandhita Rizky Genta; Rahayu, Paramita; Kusumastuti, Kusumastuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i1.76288.26-41

Abstract

Solo Baru merupakan kawasan fungsional yang secara administratif berada di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Perkembangan Solo Baru merupakan proses pemekaran dari Kota Surakarta ke wilayah peri-urbannya. Pembangunan Solo Baru digagas oleh developer yang dipengaruhi oleh keterbatasan lahan di Kota Surakarta. Rencana pengembangan Solo Baru sebagai kota satelit dimulai sejak tahun 1980. Solo Baru kemudian berkembang sebagai pusat bisnis ditandai dengan tumbuhnya aktivitas perdagangan jasa seperti supermarket, hotel, mal, dan aktivitas ekonomi lainnya, yang kemudian membentuk suatu konsentrasi kegiatan baru yang mengarah pada perubahan struktur ruang di kawasan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perubahan struktur ruang perkotaan pada proses peri-urbanisasi di Solo Baru. Penelitian ini menggunakan data time series yang terdiri dari tiga titik tahun data yaitu tahun 2000, 2011, dan 2020.  Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif menggunakan teknik analisis statistika deskriptif, dan analisis spasial dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan proses peri-urbanisasi di Solo Baru menyebabkan perubahan secara fisik maupun nonfisik yang merubah struktur ruang di kawasan. Struktur ruang di kawasan Solo Baru menunjukkan perubahan sejak tahun 2000-2020 meskipun pada dasarnya berbentuk pusat kegiatan banyak. Pada tahun 2000, model struktur ruang di kawasan Solo Baru berbentuk noncentered yang terdiri dari pusat-pusat kecil yang saling berhubungan satu sama lain. Pada tahun 2011, model struktur ruang di kawasan Solo Baru berubah menjadi memiliki satu pusat utama dan beberapa subpusat pelayanan. Pada tahun 2020, satu pusat utama tersebut semakin berkembang, diikuti oleh adanya beberapa pusat dan subpusat pelayanan yang saling terhubung satu sama lain. Selain itu, pengaruh aksesibilitas kawasan Solo Baru dengan Kota Surakarta terlihat mempengaruhi terbentuknya pusat dominan tersebut.
POTENSI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) SEMPADAN SUNGAI DARI ASPEK FISIK REVITALISASI Santoso, Benediktus Ariel; Rahayu, Paramita; Istanabi, Tendra
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v4i2.53511.196-209

Abstract

Isu lingkungan hidup terkait Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan ruang publik merupakan permasalahan yang ditemui pada mayoritas perkotaan di Indonesia, khususnya terkait ketersediaan RTH yang kurang dari 10% dari luasan kota. Kota Surakarta memiliki persentase jumlah RTH yang tidak sesuai, yakni masih berkisar 8,47% atau 373 hektar. Salah satu bagian RTH yang mampu berkontribusi terhadap ketersediaan RTH adalah sempadan sungai. Sungai Bengawan Solo yang melintasi Kota Surakarta memiliki potensi untuk menyumbang ketersediaan RTH, akan tetapi terdapat alih fungsi lahan di daerah sempadan Sungai Bengawan Solo. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan atau mengembalikan fungsi sempadan Sungai Bengawan Solo antara lain adalah dengan revitalisasi sempadan sungai. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis spasial dengan Sistem Informasi Geografi (SIG) dan analisis statistik deskriptif untuk mengetahui kontribusi sempadan Sungai Bengawan Solo sebagai RTH Kota Surakarta melalui proses revitalisasi fisik. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa kontribusi sempadan Sungai Bengawan Solo belum optimal karena masih terdapat bangunan di sempadan sungai. Berdasarkan analisis revitalisasi pada aspek fisik, revitalisasi fisik yang dilakukan di Kawasan Semanggi, sebagai salah satu area di Kota Surakarta yang berada di sempadan sungai Bengawan Solo, adalah dengan melakukan penataan kembali bangunan pada kawasan permukiman di dalam tanggul parapet yang dilengkapi infrastruktur penunjang dan mengembalikan fungsi sempadan Sungai Bengawan Solo di luar parapet menjadi RTH seluruhnya. Revitalisasi fisik yang dilakukan mampu menambah luasan RTH di Kawasan Semanggi. Dari hasil analisis tersebut, diketahui bahwa potensi sempadan sungai sebagai RTH mampu ditingkatkan dengan melakukan revitalisasi fisik. Selanjutnya, hasil analisis revitalisasi fisik pada kawasan Semanggi menjadi asumsi dalam memperkirakan potensi kontribusi sempadan sungai pada seluruh Sungai Bengawan Solo di Kota Surakarta. Berdasarkan hasil analisis kontribusi, diketahui bahwa potensi sempadan Sungai Bengawan Solo sebagai RTH terhadap kebutuhan RTH di Kota Surakarta mampu meningkat jika dilakukan revitalisasi fisik di seluruh sempadan sungai.
Identifikasi Peningkatan Kualitas Infrastruktur Permukiman Pasca Implementasi Program Kampung Ramah Anak (KRA) di RW 11 Kampung Badran, Kota Yogyakarta Nugroho, Daniel Kristian; Kusumastuti, Kusumastuti; Rahayu, Paramita
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.69886.1-11

Abstract

Permukiman kumuh adalah sebuah fenomena dan permasalahan yang dihadapi oleh hampir seluruh kota, termasuk Kota Yogyakarta. Meskipun menyandang gelar sebagai kota budaya dan kota pendidikan, fenomena permukiman kumuh tetap eksis di Kota Yogyakarta. Kampung Badran adalah salah satu kampung di Kota Yogyakarta yang masih mengalami status sebagai permukiman kumuh, ditinjau dari indikator kepadatan bangunan, kesehatan, dan kondisi sosial masyarakat. Selain permasalahan permukiman kumuh, Kampung Badran juga menyandang gelar sebagai kampung preman, yang membentuk permasalahan yang kompleks di kampung ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi permasalahan kekumuhan di kampung ini. Kampung Ramah Anak (KRA) adalah salah satu program yang diinisiasi, yang tidak hanya mengatasi permasalahan fisik terkait permukiman kumuh, namun juga permasalahan sosial dalam memperjuangkan pemenuhan hak anak di kampung tersebut. Inisiasi program KRA di RW 11 Kampung Badran menggunakan pendekatan partisipatif, dimana pemerintah berkolaborasi dengan pemangku kepentingan (RT, RW, dan kelompok-kelompok masyarakat), dan seluruh masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak anak melalui penyediaan instrumen KRA baik secara kelembagaan maupun infrastruktur. Semenjak adanya program KRA ini, berbagai pendanaan dalam upaya peningkatan kualitas infrastruktur di RW 11 juga semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi dengan melihat peningkatan kualitas infrastruktur yang ada di RW 11 Kampung Badran pasca diimpelementasikannya program KRA. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang menekankan pada realitas dan proses suatu fenomena dapat terjadi agar mampu memberikan gambaran khusus terkait perubahan infrastruktur yang terjadi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa infrastruktur di RW 11 Kampung Badran mengalami peningkatan kualitas, ditandai peningkatan kondisi dan perubahan yang terjadi pada berbagai sarana dan prasarana. Adanya peningkatan kualitas infrastruktur ini berpengaruh besar terhadap penanganan kekumuhan di RW 11 Kampung Badran, terutama terkait dengan indikator penyediaan sarana prasarana, kesehatan lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi.