Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

TRADISI KANTISELE PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LABONE KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA (1998 -2019) Asna, WA Ode; Jamiludin, Jamiludin; Hayari, Hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i3.23087

Abstract

ABSTRAK: Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: (1) Untuk menguraikan latar belakang pelaksanaan tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna, (2) Untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna, (3) Untuk menguraikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri atas tiga tahapan kerja, yaitu: (1) Heuristik, yaitu kegiatan pengumpulan sumber, (2) Verifikasi, yaitu  kritik terhadap keaslian (otentisitas) dan kebenaran (kredibilitas) sumber, (3) Historiografi, yaitu penulisan sejarah secara kronologis, sistematis dan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang pelaksanaan tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna yaitu sebagai salah satu bentuk usaha masyarakat Muna dalam mengobati atau menyembuhkan penyakit yang diderita oleh seseorang yaitu penyakit tisele (penyakit karena kaget) dan penyakit kakalano lalo (penyakit karena kecewa). Dimana masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna meyakini dengan diadakannya tradisi Kantisele pada seseorang yang sakit akan dapat mengembalikan tonuana (semangat hidup) yang keluar dari tubuh orang yang sakit tersebut seperti sediakala sehingga segera mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya atas izin Allah SWT. (2) Proses pelaksanaan tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna pada dasarnya dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: (a) Tahap persiapan, yaitu mempersipkan waktu dan hari pelaksanaan serta alat atau perlengkapan yang akan digunakan dalam proses pelaksanaan tradisi Kantisele yaitu parang atau pisau dan satu botol air putih, (b) Tahap pelaksanaan, yaitu dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1)Tahap dekapihi tonuana (pencarian denyut nadi) dan (2) tahap dekantisele. Pada tahap dekantisele ini ada 8 (delapan) bagian tubuh tertentu yang dibaca-bacakan doa (bhatata) oleh Bhisa Kantisele, yaitu: (1) kepala (ubun-ubun), (2) telinga, (3) bahu, (4) siku, (5) telapak tangan, (6) dada, (7) lutut, dan (8) kaki, (c) Tahap penutup, yaitu deferebua oe (pembacaaaan doa pada air putih) dan desoowi (pemberian uang atau tebusan sebagai tanda permintaan maaf). (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Kantisele pada masyarakat Muna di Desa Labone Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna, yaitu nilai religius atau kepercayaan, nilai sosial, nilai pendidikan dan nilai budaya. Kata Kunci: Tradisi Kantisele, pengobatan tradisional, masyarakat Muna
TRADISI PENGOBATAN PAMOLE PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA KATOBU KECAMATAN WADAGA KABUPATEN MUNA BARAT (1977-2020) Amalia, Suci; Hayari, Hayari
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v6i4.23977

Abstract

ABSTRAK: Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang pelaksanaan tradisi pengobatan pamole pada masyarakat, menjelaskan proses pelaksanaan tradisi pengobatan pamole dan untuk menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pengobatan Pamole pada masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri atas 5 tahapan yaitu: (1) Tahap Pemilihan Topik dan Penetapan Judul, (2) Tahap Heuristik, (3) Tahap Kritik Sumber, (4) Tahap Interpretasi, (5) Tahap Historiografi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latar belakang pelaksanaan tradisi pengobatan pamole pada masyarakat Muna karena di Desa Katobu sering masyarakat mengalami penyakit maighonono nekawea (penyakit dari angin) yang diderita pasien seperti Kahaweri (gangguan roh halus) Osumanga atau Kasundua (gangguan roh leluhur), dan Okatau (guna-guna). (2) Proses pelaksanaan tradisi pengobatan Pamole tiga tahap, yaitu: tahap persiapan, dan tahap pelaksanaan yang terdiri atas (1) tahapan awal, menyediakan telur ayam kampung dan menyediakan dupa, dan (b) tahapan inti, yaitu: tahapan memberi garis pada telur ayam kampung, tahapan pengasapan telur ayam kampung, tahapan pengusapan telur ayam kampung, tahapan pemecahan telur ayam kampung, tahapan membolak balik kuning telur ayam kampung, dan tahapan membuang abu dapur, (b) Tahap penutup, yaitu menyediakan makanan untuk di fohurau (disajikan) dan menziarahi kubur roh leluhur. (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pengobatan pamole pada masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat, yaitu nilai religius, nilai sosial, nilai budaya dan nilai pendidikan.
Karandu (Gong): History, Functions, and Symbols in the Life of the Tolaki People in 17th -20th Century Southeast Sulawesi Marhadi, Akhmad; Syahrun, Syahrun; Melamba, Basrin; Marwati, Marwati; Hayari, Hayari
Indonesian Historical Studies Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ihis.v7i1.17090

Abstract

By applying the historical method, this study aims to explain the history of the development of the gong (karandu) in Southeast Sulawesi and how the gong changes its function and symbol. The karandu entry into Tolaki estimated about the 13th century AD, originated from Java (Majapahit) and then experienced development during the Wolio kingdom. Furthermore, the acquisition of karandu occurred between the 16th and 20th centuries from outside traders as well as through shipping and trade with the natives. Gongs at that time were used as royal and confidential treasures of high value, art, ceremonies, social status, and many more. The gong evolved to communicate in particular situations, such as codes or signs of danger, meetings, grief, etc. The function of adat as a customary object in the moruhu owuku/ mooli anakia custom (buying nobility). The traditional object in marriage was called tawa-tawa sara (traditional gong), then replaced with money (nililima/ nilungga). The religious function was used when the Mokoweadeath ceremony was beaten when death occurs until the body was delivered to the cemetery. This function remained limited to the descendants of the nobility, the rich, or those with positions. In the past, gongs had an economic role with high prices and values as a criterion of prosperity. Several symbols were contained in the gong: social status, classic, unity, religious, and communication. Nowadays, they are no longer considered valuable objects.
JEMBATAN TELUK KENDARI DAN DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT (2015-2023) Rahayu, Anisa; Basri, La Ode Ali; Hayari, Hayari; Suddin, Suharni
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/tjatxq98

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk untuk menjelaskan  awal pembangunan Jembatan Teluk Kendari di Kota Lama Kendari. Serta untuk menjelaskan dampak pembangunan Jembatan Teluk Kendari terhadap penduduk Kandai dan masyarakat sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pembangunan Jembatan Teluk Kendari dibentuk pada tahun 2015 hingga selesai dan diresmikan pada tahun 2020, dengan tujuan utama untuk meningkatkan konektivitas antardua kecamatan dan memajukan perekonomian. Dalam pembangunan infrastruktur yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Penganggaran dalam proyek pembangunan jembatan teluk Kendari ini melibatkan dana dari APBN sebesar Rp. 800 miliyar. Untuk pemilihan lokasi merupakan langkah krusial dalam pembangunan jembatan teluk Kendari. Proses pembangunan jembatan teluk Kendari memiliki kendala yang berkaitan aspek sosial dan budaya hingga memiliki suatu permasalahan dengan masyarakat di Kelurahan Kandai, namun dengan pendekatan persuasif, negosiasi hingga akhirnya mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. (2) Jembatan teluk Kendari memiliki dampak terdapat penduduk Kota Kendari dan masyarakat sekitarnya. Dampak yang ditimbulkan kebanyakan lebih ke dampak positif. Hal tersebut mencakup dengan aspek perekonomian masyarakat, mempermudah akses trasportasi dan juga aspek sosial budaya. Dampak negatifnya jembatan teluk Kendari mengakibatkan hilangnya pemukiman etnis Tionghoa dan kerusakan pada peninggalan sejarah di kawasan kota lama Kendari. Terdampat juga dampak negatif lainnya yang timbul dari masyarakat seperti meningkatkan jumlah kendaraan, dan lain sebagainya.