Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

TERATOGEN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PADA HIDROSEFALUS: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Dharmadhyaksa, I Kadek Okta; Khasanah, Ismi Uswatun; Ananda, Yuzi Putra; Silka, Shellyna Fidya; Kusrohmaniah, Sri; Sulastri, Augustina
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2024): PSIKOISLAMEDIA: JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v9i2.26577

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pengaruh teratogen terhadap hidrosefalus melalui studi literatur. Hidrosefalus merupakan kondisi neurologis serius yang disebabkan oleh akumulasi cairan serebrospinal di otak. Salah satu faktor risiko utama adalah paparan teratogen selama kehamilan. Metode dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur dengan menggunakan 17 dari 51 studi yang membahas dampak teratogen dalam kehidupan sehari-hari. Teratogen yang dibahas meliputi alkohol (etanol), obat-obatan seperti misoprostol, infeksi virus dan bakteri seperti cytomegalovirus, serta paparan senyawa kimia seperti retinoid acid dan logam berat. Sumber literatur yang diambil sebagian besar adalah case-control study, retrospective study, case study, experimental, dan clinical report. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa teratogen ini sangat mudah ditemui di dalam keseharian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang hidup di daerah miskin atau di daerah sekitar tambang. Hasil ini bisa menjadi dasar dalam penyusunan intervensi lanjutan terhadap pola hidup sehat masyarakat, maupun dasar dalam pengkajian ulang kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan.
KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI PILAR DALAM REDUKSI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH DASAR: SEBUAH STUDI LITERATUR Almanhettam, Alexander Oktario; Sulastri, Augustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6905

Abstract

This study examines the role of emotional intelligence (EI) as a protective factor in reducing bullying behaviour among elementary school students through a systematic literature review. Ten articles were selected from 250 publications (2020–2025) based on specific inclusion and exclusion criteria. The analysis revealed a negative relationship between EI indicators such as emotional clarity, emotion regulation, and empathy and bullying behaviour as well as victimization risk. Approximately 80% of the studies stated that higher EI reduces bullying frequency, and 60% supported the effectiveness of Social Emotional Learning (SEL)-based interventions. Students with high EI are less likely to behave aggressively and more likely to defend victims. SEL programs incorporating reappraisal training, affective regulation, and empathy have proven effective in improving school social climate and reducing bullying incidents when implemented comprehensively and sustainably. The practical implication of these findings highlights the importance of integrating EI modules into the school curriculum, training teachers and parents, and developing school policies based on social-emotional learning to support systemic bullying prevention. ABSTRAK Penelitian ini meninjau peran kecerdasan emosional (KE) sebagai faktor pelindung dalam mengurangi perilaku bullying pada siswa sekolah dasar melalui tinjauan literatur sistematis. Kajian ini menyeleksi 10 artikel dari 250 publikasi (2020–2025) berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Hasil analisis menunjukkan hubungan negatif antara indikator KE seperti kejelasan emosi, regulasi emosi, dan empati dengan perilaku bullying dan risiko menjadi korban. Sekitar 80% studi menyatakan bahwa peningkatan KE menurunkan frekuensi bullying, dan 60% mendukung efektivitas intervensi berbasis Social Emotional Learning (SEL). Siswa dengan KE tinggi lebih jarang berperilaku agresif dan cenderung membela korban. Program SEL yang mencakup latihan reappraisal, regulasi afektif, dan empati terbukti memperbaiki iklim sosial sekolah dan menurunkan insiden bullying jika diterapkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan pentingnya integrasi modul KE dalam kurikulum, pelatihan guru dan orang tua, serta penyusunan kebijakan sekolah berbasis pembelajaran sosial-emosional untuk mendukung pencegahan bullying secara sistemik.
Self-Regulated Learning Among College Students Who Are Working as Part-Timers: Is It Necessary? Andya, Winna Rafaella; Sulastri, Augustina
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.14853

Abstract

Students who have the dual role of studying while working usually do not have more time to study compared to students who only attend lectures. The fact that college students face difficulties managing their time for study and work shows that they have a low level of self-regulation learning. This study aims to find out whether there is a relationship between learning motivation and self-regulated learning of students who take courses while working part-time with independent study. This study involved 117 respondents who worked part-time as respondents. A correlational quantitative approach is used. The data collected for the study was collected through purposive sampling techniques using data analysis using the Product-Moment Correlation Technique. The study found a correlation coefficient value r = 0.232 and a p value of 0.012 (p < 0.05), this study has proven a positive and significant relationship. The study also found aspects of willingness to understand and master, commitment to duties and obligations, and initiative related to self-regulated learning. The results of the analysis and discussion showed that learning motivation has a positive relationship with self-regulated learning in students who work part-time.Mahasiswa yang memiliki peran ganda berkuliah sambil bekerja biasanya tidak memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan. Fakta bahwa mahasiswa menghadapi kesulitan untuk mengatur waktu mereka untuk belajar dan bekerja menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat self-regulation learning yang rendah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi belajar dan self-regulated learning mahasiswa yang mengambil kuliah sambil bekerja part-time dengan belajar secara mandiri. Penelitian ini melibatkan 117 responden yang bekerja part-time sebagai responden. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan. Data yang dikumpulkan untuk penelitian dikumpulkan melalui teknik purposive sampling menggunakan analisis data menggunakan Teknik Korelasi Product-Moment. Kajian menemukan nilai koefisien korelasi r = 0.232 dan nilai p 0,012 (p < 0.05), penelitian ini telah membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan. Kajian juga menemukan aspek keinginan memahami dan menguasai, komitmen akan tugas dan kewajiban, dan inisiatif berhubungan dengan self-regulated learning. Hasil analisis dan diskusi menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan positif dengan self-regulated learning pada mahasiswa yang bekerja part-time.
Analisis Bibliometrik: Artificial Intelligence dan Otak dalam Neuropsikologi Pramesti, Amelia Cahaya; Aristawati, Nina Vania; Wikantyasning, Dhefira Elshafa Dyah; Salsabilla, Autasya Safira; Kusrohmaniah, Sri; Sulastri, Augustina
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i1.5817

Abstract

This research aims to visualize research trends regarding the relationship between Artificial Intelligence (AI) and the human brain through bibliometric analysis. Data was obtained from the Scopus database of 1424 documents from 1983-2024. The results of this research found that artificial intelligence and the brain have developed increasingly rapidly in recent years along with technological developments. A better understanding of the distribution and trends of this research will hopefully reveal key concepts that support the development of AI and its impact on the human brain.
APAKAH HIPNOTERAPI EFEKTIF MENGURANGI KECEMASAN PADA WANITA HAMIL TRIMESTER KE 3? Putri Warsanto, Klara Elfa; Sulastri, Augustina
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.38563

Abstract

Kecemasan menjadi salah satu gangguan psikologis yang banyak ditemukan di tempat umum dan dapat membuat dampak yang buruk dalam keseharian. Seorang wanita yang sedang hamil dapat mengalami gangguan kecemasan karena adanya perubahan psikologis akibat perubahan hormon, pengaruh lingkungan dan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifvitas hipnoterapi terhadap kondisi kecemasan selama kehamilan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistematis literatur review yang diambil dari jurnal nasional maupun internasional yang didapat dari sumber google schoolar. Hasil dari berberapa jurnal yang sudah di review terbukti bahwa hypnoterapi efektif untuk mengubah tingkat kecemasan pada ibu hamil. Teknik hypnoterapi mampu membantu ibu hamil mengalami penurunan kecemasan, sehingga disarankan untuk melakukan hypnoterapi pada ibu hamil memperoleh ketenangan pikiran, dan menanamkan pikiran positif pada alam bawah sadar karena selama proses hipnoterapi ibu mengalami relaksasi fisik yang mendalam, perhatian terfokus, peningkatan kemampuan sensorik, dan kontrol yang rileks.
PENINGKATAN HARGA DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMAPENINGKATAN HARGA DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMA Lolong, Sweety Valensya; Sulastri, Augustina; Utami, Margaretha Sih Setija
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.38704

Abstract

Peningkatan harga diri pada siswa merupakan topik penting dalam konteks pendidikan dan pengembangan psikologis. Harga diri merupakan kemampuan seseorang mengenal pemaknaan terhadap diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peningkatan harga diri terhadap prestasi belajar siswa SMA melalui kajian literatur yang ada. Harga diri yang positif diyakini berperan penting dalam mendukung motivasi, kepercayaan diri, dan ketekunan siswa dalam belajar. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang relevan terkait hubungan antara harga diri dan prestasi akademik siswa, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keduanya, seperti pola pengasuhan orang tua, lingkungan sekolah, dan interaksi sosial. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa adanya hubungan antara peningkatan harga diri siswa dengan prestasi belajar siswa SMA. Hasil dari kajian literatur menunjukkan bahwa siswa dengan harga diri yang tinggi cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih besar, lebih termotivasi dalam menghadapi tantangan akademik, serta lebih percaya diri dalam mengekspresikan kemampuan mereka. Sebaliknya, rendahnya harga diri dapat menyebabkan rasa ragu diri yang menghambat pencapaian akademik dan menurunkan kualitas pembelajaran.
PENGEMBANGAN POTENSI SISWA DENGAN PENDEKATAN MULTIPLE INTELLIEGENCES Budiastuti, Wahyuni; Sulastri, Augustina
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.40168

Abstract

Masalah pendidikan di Indonesia telah menjadi bahan diskusi sejak lama. Guru sebagai tenaga pendidik banyak menerapkan pengetahuan berupa hafalan dan teori yang membuat anak jenuh saat belajar. Keberhasilan belajar anak hanya diukur dari peroleh nilai pelajaran yang diikuti, dan ketaatan pada aturan. Anak dengan kecerdasan lain dipandang sebelah mata. Guru melabel mereka sebagai anak yang suka membuat masalah, dan tidak patuh. Labeling ini membawa efek buruk yang merugikan bagi anak, terutama perkembangan mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengembangan potensi siswa dengan pendekatan multiple intelligences. Metode penelitian ini adalah Sistematik Literatur Review. Pengumpulan artikel dilakukan secara elektronik, dengan menggunakan kata kunci “Multiple Intelligences” di mesin pencari. Pengembangan kreatif dalam pendidikan dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar dan mengekspresikan diri melalui cara-cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka, sangat penting dalam dunia yang semakin kompleks di mana inovasi dan kemampuan berpikir out-of-the-box menjadi sangat dihargai. Pendekatan MI menunjukkan peningkatan dalam kreativitas dan keterampilan pemecahan masalah, karena keragaman metode belajar yang memungkinkan mereka mengeksplorasi ide dan konsep baru. Kurikulum yang dirancang meliputi mencakup berbagai metode belajar seperti proyek, diskusi kelompok, kegiatan seni, dan permainan edukatif.  
Mental Health Recovery in Domestic Violence Survivors with CBT: Findings from a Literature Review Solihah, Tsaniatus; Widyorini, Endang; Sulastri, Augustina
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 1 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i1.23361

Abstract

Domestic violence remains a pervasive issue with profound psychological consequences for survivors, often leading to trauma, anxiety, depression, PTSD, and a drastic reduction in self-esteem. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) is widely recognized as an effective therapeutic intervention for addressing these psychological impacts. This study aims to explore the effectiveness of CBT in improving the psychological well-being of survivors of domestic violence, particularly focusing on its role in enhancing self-esteem, self-love, and mindfulness, as well as its ability to reduce negative symptoms such as trauma, PTSD, and depression. Using a systematic literature review methodology, the study analyzed twelve relevant studies published between 2019 and 2025. The findings reveal that CBT significantly improves positive psychological outcomes, including self-esteem and self-love, while also effectively alleviating symptoms of trauma, PTSD, and depression. Additionally, CBT fosters emotional regulation and enhances mindfulness, contributing to the survivor's overall well-being and resilience. The implications of this research suggest that CBT should be widely integrated into interventions for survivors of domestic violence, offering a structured and culturally sensitive approach to healing. Future research is recommended to explore the long-term effects of CBT and its application in diverse cultural contexts to strengthen its efficacy and impact.Kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi isu yang meluas dengan dampak psikologis yang mendalam bagi penyintasnya, sering kali menyebabkan trauma, kecemasan, depresi, PTSD, dan penurunan drastis dalam harga diri. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) diakui secara luas sebagai intervensi terapeutik yang efektif untuk mengatasi dampak psikologis ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas CBT dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis penyintas kekerasan dalam rumah tangga, dengan fokus pada perannya dalam meningkatkan harga diri, cinta diri, dan kesadaran penuh, serta kemampuannya untuk mengurangi gejala negatif seperti trauma, PTSD, dan depresi. Menggunakan metodologi tinjauan pustaka sistematis, penelitian ini menganalisis dua belas studi relevan yang diterbitkan antara 2019 dan 2025. Temuan penelitian menunjukkan bahwa CBT secara signifikan meningkatkan hasil psikologis positif, termasuk harga diri dan cinta diri, sekaligus efektif meredakan gejala trauma, PTSD, dan depresi. Selain itu, CBT mendukung regulasi emosional dan meningkatkan kesadaran penuh, yang berkontribusi pada kesejahteraan dan ketahanan penyintas secara keseluruhan. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa CBT sebaiknya diintegrasikan secara luas dalam intervensi bagi penyintas kekerasan dalam rumah tangga, menawarkan pendekatan yang terstruktur dan sensitif secara budaya untuk pemulihan. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengeksplorasi efek jangka panjang dari CBT dan penerapannya dalam konteks budaya yang beragam untuk memperkuat efektivitas dan dampaknya.
POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI : SEBUAH KAJIAN LITERATUR Anekasari, Rani Nur; Sulastri, Augustina; Utami, Cicilia Tanti
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9341

Abstract

Emotional intelligence is an important aspect of early childhood development that is influenced by the family environment, especially parenting. This study aims to examine the role of parenting patterns on the development of emotional intelligence in early childhood through literature review. The research method used is narrative literature review by reviewing SINTA accredited national journals published in the range of 2018-2025. The literature search was conducted through Google Scholar and Garuda Portal using the keywords parenting, emotional intelligence, and early childhood. The results show that democratic or authoritative parenting has the most positive influence on children's emotional intelligence development, which is reflected in children's ability to recognize and manage emotions, have empathy, self-control, and good social skills. Conversely, permissive and authoritarian parenting tend to have a less than optimal impact on children's emotional development when applied predominantly. In addition, factors such as education, occupation, parents' age and the number of children in the family also influence the parenting style applied. The conclusion of this study confirms that the application of warm, communicative and consistent parenting plays an important role in supporting the development of early childhood emotional intelligence. ABSTRAK Kecerdasan emosional merupakan aspek penting dalam perkembangan anak usia dini yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, khususnya pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pola asuh orang tua terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak usia dini melalui kajian literatur. Metode penelitian yang digunakan adalah narrative literature review dengan menelaah jurnal nasional terakreditasi SINTA yang diterbitkan pada rentang tahun 2018–2025. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar dan Portal Garuda menggunakan kata kunci pola asuh, kecerdasan emosional, dan anak usia dini. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis atau authoritative memiliki pengaruh paling positif terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak, yang tercermin dari kemampuan anak dalam mengenali dan mengelola emosi, memiliki empati, kontrol diri, serta kemampuan bersosialisasi yang baik. Sebaliknya, pola asuh permisif dan otoriter cenderung berdampak kurang optimal terhadap perkembangan emosional anak apabila diterapkan secara dominan. Selain itu, faktor pendidikan, pekerjaan, usia orang tua, serta jumlah anak dalam keluarga turut memengaruhi pola asuh yang diterapkan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan pola asuh yang hangat, komunikatif, dan konsisten berperan penting dalam mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak usia dini.
Perilaku Non-Suicidal Self-Injury Pada Gen-Z Remaja Kota Semarang: Identifikasi Dengan Inventori Mindfulness-Based Stress Reduction Dan Rasa Syukur Nida, Izzatin; Sulastri, Augustina; Suparmi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 41 No 2 (2026): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 41, No. 2, 2026)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v41i2.7941

Abstract

Non-suicidal self-injury (NSSI) is a serious mental health problem among late adolescents of Generation Z (Gen-Z). However, the role of positive psychological factors such as mindfulness-based stress reduction (MBSR) and gratitude as statistical predictors of non-suicidal self-injury (NSSI) has not been widely explored empirically in Indonesia. This study aims to test whether mindfulness-based stress reduction (MBSR) and gratitude can statistically predict non-suicidal self-injury (NSSI) in Generation Z (Gen-Z) in Semarang City, both partially and simultaneously. The term "predictor" here is used in a statistical sense, and not in a causal relationship. This quantitative study involved 143 university students aged 18–22 years old, selected using convenience sampling techniques. Data collection utilized adapted instruments, namely: (1) mindfulness-based stress reduction questionnaire (MBSR; adapted from Fatemi et al., 2024; Liu et al., 2025), ); (2) gratitude questionnaire (adapted from Fekete & Deichert, 2022; Tachon et al., 2021); and (3) non-suicidal self-injury (NSSI) scale (adapted from Faura-Garcia et al., 2021; Poudel et al., 2022). The results of the analysis showed that mindfulness-based stress reduction (MBSR) significantly predicted positive non-suicidal self-injury (NSSI; β = 0.295; p = 0.002), while gratitude significantly predicted negative non-suicidal self-injury (NSSI; β = -0.370; p < 0.001). The overall regression model was significant (F = 8.243; p < 0.001) with an R2 of 0.105. These findings reveal a complex dynamic where mindfulness-based stress reduction (MBSR), without adequate acceptance skills, can actually statistically increase vulnerability to non-suicidal self-injury. (NSSI), while gratitude has been shown to be a strong protective factor. This study recommends the integration of gratitude components into non-suicidal self-injury (NSSI) prevention programs and a cautious approach in implementing mindfulness interventions for vulnerable populations.