Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

TERATOGEN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PADA HIDROSEFALUS: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Dharmadhyaksa, I Kadek Okta; Khasanah, Ismi Uswatun; Ananda, Yuzi Putra; Silka, Shellyna Fidya; Kusrohmaniah, Sri; Sulastri, Augustina
Psikoislamedia: Jurnal Psikologi Vol. 9 No. 2 (2024): PSIKOISLAMEDIA: JURNAL PSIKOLOGI
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/psikoislamedia.v9i2.26577

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pengaruh teratogen terhadap hidrosefalus melalui studi literatur. Hidrosefalus merupakan kondisi neurologis serius yang disebabkan oleh akumulasi cairan serebrospinal di otak. Salah satu faktor risiko utama adalah paparan teratogen selama kehamilan. Metode dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur dengan menggunakan 17 dari 51 studi yang membahas dampak teratogen dalam kehidupan sehari-hari. Teratogen yang dibahas meliputi alkohol (etanol), obat-obatan seperti misoprostol, infeksi virus dan bakteri seperti cytomegalovirus, serta paparan senyawa kimia seperti retinoid acid dan logam berat. Sumber literatur yang diambil sebagian besar adalah case-control study, retrospective study, case study, experimental, dan clinical report. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa teratogen ini sangat mudah ditemui di dalam keseharian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang hidup di daerah miskin atau di daerah sekitar tambang. Hasil ini bisa menjadi dasar dalam penyusunan intervensi lanjutan terhadap pola hidup sehat masyarakat, maupun dasar dalam pengkajian ulang kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan.
KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI PILAR DALAM REDUKSI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH DASAR: SEBUAH STUDI LITERATUR Almanhettam, Alexander Oktario; Sulastri, Augustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.6905

Abstract

This study examines the role of emotional intelligence (EI) as a protective factor in reducing bullying behaviour among elementary school students through a systematic literature review. Ten articles were selected from 250 publications (2020–2025) based on specific inclusion and exclusion criteria. The analysis revealed a negative relationship between EI indicators such as emotional clarity, emotion regulation, and empathy and bullying behaviour as well as victimization risk. Approximately 80% of the studies stated that higher EI reduces bullying frequency, and 60% supported the effectiveness of Social Emotional Learning (SEL)-based interventions. Students with high EI are less likely to behave aggressively and more likely to defend victims. SEL programs incorporating reappraisal training, affective regulation, and empathy have proven effective in improving school social climate and reducing bullying incidents when implemented comprehensively and sustainably. The practical implication of these findings highlights the importance of integrating EI modules into the school curriculum, training teachers and parents, and developing school policies based on social-emotional learning to support systemic bullying prevention. ABSTRAK Penelitian ini meninjau peran kecerdasan emosional (KE) sebagai faktor pelindung dalam mengurangi perilaku bullying pada siswa sekolah dasar melalui tinjauan literatur sistematis. Kajian ini menyeleksi 10 artikel dari 250 publikasi (2020–2025) berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Hasil analisis menunjukkan hubungan negatif antara indikator KE seperti kejelasan emosi, regulasi emosi, dan empati dengan perilaku bullying dan risiko menjadi korban. Sekitar 80% studi menyatakan bahwa peningkatan KE menurunkan frekuensi bullying, dan 60% mendukung efektivitas intervensi berbasis Social Emotional Learning (SEL). Siswa dengan KE tinggi lebih jarang berperilaku agresif dan cenderung membela korban. Program SEL yang mencakup latihan reappraisal, regulasi afektif, dan empati terbukti memperbaiki iklim sosial sekolah dan menurunkan insiden bullying jika diterapkan secara menyeluruh dan berkelanjutan.Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan pentingnya integrasi modul KE dalam kurikulum, pelatihan guru dan orang tua, serta penyusunan kebijakan sekolah berbasis pembelajaran sosial-emosional untuk mendukung pencegahan bullying secara sistemik.
Quarter Life Crisis Pada Masa Emerging Adulthood Permana, Firman Bayu; Sulastri, Augustina
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 2 (2025): Volume 14, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i2.18697

Abstract

During their lifetime, humans will face a complicated period of development starting from children, adolescents, adults, to the elderly period. The period from adolescence to adulthood will face challenges that impact individuals, which are identified as quarter life crisis. Quarter life crisis is a response to individual unpreparedness for increasing uncertainty, incompetence, continuous change, too many choices, and feelings of panic that appear in individuals with an age range of 18 years to 29 years. The purpose of this study is to provide an overview of the quarter life crisis in emerging adulthood. The method used is library research consisting of 10 research journals conducted by searching for literature reviews, reading relevant research reports, and analyzing them in depth to obtain empirical findings from previous research. The results of this study are that there are seven dimensions of quarter life crisis, namely doubts in decision making, feelings of hopelessness, judging themselves negatively, feeling entangled in difficult conditions, anxiety, feeling depressed, and concerns with interpersonal relationships. Variables associated with quarter life crisis are emotional intelligence, peer social support, age, perceived level of happiness, perceived level of distress, intolerance of uncertainty, self-esteem, Consideration of Future Consequences (CFC), Coping Self Efficacy (CSE), gender, self-concept, well-functioning family, and self-efficacy. Quarter life crisis has an impact on the social, mental health, emotional aspects of individuals and can be prevented by active efforts of individuals to get out of difficult times to find life goals. It is hoped that from this review, individuals in the emerging adulthood development phase can understand about quarter life crisis, know the influencing factors and can anticipate the impact that occurs during quarter life crisis. Selama masa hidupnya, manusia akan menghadapi masa perkembangan yang rumit dimulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga pada periode usia lanjut. Masa remaja menuju dewasa akan menghadapi tantangan yang berdampak pada individu, yang diidentifikasi sebagai quarter life crisis. Quarter life crisis adalah respon mengenai tidak siapnya individu atas ketidakpastian yang meningkat, ketidakmampuan, perubahan yang berkelanjutan, pilihan yang terlalu banyak, dan perasaan panik yang tampak pada individu dengan rentang usia 18 tahun hingga 29 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai quarter life crisis pada masa emerging adulthood. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka berjumlah 10 jurnal penelitian dilakukan dengan mencari kajian literatur, membaca laporan penelitian yang relevan, dan menganalisis secara mendalam agar memperoleh temuan empiris dari penelitian sebelumnya. Hasil dari penelitian ini adalah ada tujuh dimensi quarter life crisis, yaitu keraguan dalam pengambilan keputusan, perasaan putus asa, menilai dirinya secara negatif, perasaan terjerat dalam kondisi sulit, timbul kecemasan, perasaan tertekan, dan kekhawatiran dengan relasi interpersonal. Variabel yang terkait dengan quarter life crisis yakni kecerdasan emosional, dukungan sosial teman sebaya, usia, tingkat kebahagiaan yang dirasakan, tingkat kesulitan yang dirasakan, intoleransi terhadap ketidakpastian, self-esteem, Consideration of Future Consequences (CFC), Coping Self Efficacy (CSE), jenis kelamin, konsep diri, keluarga yang berfungsi baik, dan efikasi diri. Quarter life crisis berdampak pada aspek sosial, kesehatan mental, emosional individu dan dapat dicegah dengan upaya aktif individu agar dapat keluar dari masa sulit hingga menemukan tujuan hidup. Diharapkan dari tinjauan ini, individu pada fase perkembangan emerging adulthood dapat memahami mengenai quarter life crisis, mengetahui faktor yang mempengaruhi dan dapat mengantisipasi dari dampak yang terjadi selama masa quarter life crisis.
Self-Regulated Learning Among College Students Who Are Working as Part-Timers: Is It Necessary? Andya, Winna Rafaella; Sulastri, Augustina
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i2.14853

Abstract

Students who have the dual role of studying while working usually do not have more time to study compared to students who only attend lectures. The fact that college students face difficulties managing their time for study and work shows that they have a low level of self-regulation learning. This study aims to find out whether there is a relationship between learning motivation and self-regulated learning of students who take courses while working part-time with independent study. This study involved 117 respondents who worked part-time as respondents. A correlational quantitative approach is used. The data collected for the study was collected through purposive sampling techniques using data analysis using the Product-Moment Correlation Technique. The study found a correlation coefficient value r = 0.232 and a p value of 0.012 (p < 0.05), this study has proven a positive and significant relationship. The study also found aspects of willingness to understand and master, commitment to duties and obligations, and initiative related to self-regulated learning. The results of the analysis and discussion showed that learning motivation has a positive relationship with self-regulated learning in students who work part-time.Mahasiswa yang memiliki peran ganda berkuliah sambil bekerja biasanya tidak memiliki lebih banyak waktu untuk belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan. Fakta bahwa mahasiswa menghadapi kesulitan untuk mengatur waktu mereka untuk belajar dan bekerja menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat self-regulation learning yang rendah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi belajar dan self-regulated learning mahasiswa yang mengambil kuliah sambil bekerja part-time dengan belajar secara mandiri. Penelitian ini melibatkan 117 responden yang bekerja part-time sebagai responden. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan. Data yang dikumpulkan untuk penelitian dikumpulkan melalui teknik purposive sampling menggunakan analisis data menggunakan Teknik Korelasi Product-Moment. Kajian menemukan nilai koefisien korelasi r = 0.232 dan nilai p 0,012 (p < 0.05), penelitian ini telah membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan. Kajian juga menemukan aspek keinginan memahami dan menguasai, komitmen akan tugas dan kewajiban, dan inisiatif berhubungan dengan self-regulated learning. Hasil analisis dan diskusi menunjukkan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan positif dengan self-regulated learning pada mahasiswa yang bekerja part-time.
Analisis Bibliometrik: Artificial Intelligence dan Otak dalam Neuropsikologi Pramesti, Amelia Cahaya; Aristawati, Nina Vania; Wikantyasning, Dhefira Elshafa Dyah; Salsabilla, Autasya Safira; Kusrohmaniah, Sri; Sulastri, Augustina
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 25, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v25i1.5817

Abstract

This research aims to visualize research trends regarding the relationship between Artificial Intelligence (AI) and the human brain through bibliometric analysis. Data was obtained from the Scopus database of 1424 documents from 1983-2024. The results of this research found that artificial intelligence and the brain have developed increasingly rapidly in recent years along with technological developments. A better understanding of the distribution and trends of this research will hopefully reveal key concepts that support the development of AI and its impact on the human brain.
APAKAH HIPNOTERAPI EFEKTIF MENGURANGI KECEMASAN PADA WANITA HAMIL TRIMESTER KE 3? Putri Warsanto, Klara Elfa; Sulastri, Augustina
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.38563

Abstract

Kecemasan menjadi salah satu gangguan psikologis yang banyak ditemukan di tempat umum dan dapat membuat dampak yang buruk dalam keseharian. Seorang wanita yang sedang hamil dapat mengalami gangguan kecemasan karena adanya perubahan psikologis akibat perubahan hormon, pengaruh lingkungan dan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifvitas hipnoterapi terhadap kondisi kecemasan selama kehamilan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistematis literatur review yang diambil dari jurnal nasional maupun internasional yang didapat dari sumber google schoolar. Hasil dari berberapa jurnal yang sudah di review terbukti bahwa hypnoterapi efektif untuk mengubah tingkat kecemasan pada ibu hamil. Teknik hypnoterapi mampu membantu ibu hamil mengalami penurunan kecemasan, sehingga disarankan untuk melakukan hypnoterapi pada ibu hamil memperoleh ketenangan pikiran, dan menanamkan pikiran positif pada alam bawah sadar karena selama proses hipnoterapi ibu mengalami relaksasi fisik yang mendalam, perhatian terfokus, peningkatan kemampuan sensorik, dan kontrol yang rileks.
PENINGKATAN HARGA DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMAPENINGKATAN HARGA DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMA Lolong, Sweety Valensya; Sulastri, Augustina; Utami, Margaretha Sih Setija
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.38704

Abstract

Peningkatan harga diri pada siswa merupakan topik penting dalam konteks pendidikan dan pengembangan psikologis. Harga diri merupakan kemampuan seseorang mengenal pemaknaan terhadap diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh peningkatan harga diri terhadap prestasi belajar siswa SMA melalui kajian literatur yang ada. Harga diri yang positif diyakini berperan penting dalam mendukung motivasi, kepercayaan diri, dan ketekunan siswa dalam belajar. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang relevan terkait hubungan antara harga diri dan prestasi akademik siswa, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keduanya, seperti pola pengasuhan orang tua, lingkungan sekolah, dan interaksi sosial. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa adanya hubungan antara peningkatan harga diri siswa dengan prestasi belajar siswa SMA. Hasil dari kajian literatur menunjukkan bahwa siswa dengan harga diri yang tinggi cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih besar, lebih termotivasi dalam menghadapi tantangan akademik, serta lebih percaya diri dalam mengekspresikan kemampuan mereka. Sebaliknya, rendahnya harga diri dapat menyebabkan rasa ragu diri yang menghambat pencapaian akademik dan menurunkan kualitas pembelajaran.
PENGEMBANGAN POTENSI SISWA DENGAN PENDEKATAN MULTIPLE INTELLIEGENCES Budiastuti, Wahyuni; Sulastri, Augustina
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.40168

Abstract

Masalah pendidikan di Indonesia telah menjadi bahan diskusi sejak lama. Guru sebagai tenaga pendidik banyak menerapkan pengetahuan berupa hafalan dan teori yang membuat anak jenuh saat belajar. Keberhasilan belajar anak hanya diukur dari peroleh nilai pelajaran yang diikuti, dan ketaatan pada aturan. Anak dengan kecerdasan lain dipandang sebelah mata. Guru melabel mereka sebagai anak yang suka membuat masalah, dan tidak patuh. Labeling ini membawa efek buruk yang merugikan bagi anak, terutama perkembangan mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengembangan potensi siswa dengan pendekatan multiple intelligences. Metode penelitian ini adalah Sistematik Literatur Review. Pengumpulan artikel dilakukan secara elektronik, dengan menggunakan kata kunci “Multiple Intelligences” di mesin pencari. Pengembangan kreatif dalam pendidikan dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar dan mengekspresikan diri melalui cara-cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka, sangat penting dalam dunia yang semakin kompleks di mana inovasi dan kemampuan berpikir out-of-the-box menjadi sangat dihargai. Pendekatan MI menunjukkan peningkatan dalam kreativitas dan keterampilan pemecahan masalah, karena keragaman metode belajar yang memungkinkan mereka mengeksplorasi ide dan konsep baru. Kurikulum yang dirancang meliputi mencakup berbagai metode belajar seperti proyek, diskusi kelompok, kegiatan seni, dan permainan edukatif.  
Bullying Behavior in School Reviewed from Forgiveness and Peer Social Support Panyuwa, Febe Eunike; Sulastri, Augustina
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 19, No. 6 : Al Qalam (November 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v19i6.5680

Abstract

Bullying is an important issue in the Indonesian education system, so efforts are needed to identify the causes. This study aimed to analyse the relationship between forgiveness and peer support with bullying behaviour at school. The research hypothesis is that there is a relationship between forgiveness and peer support with bullying behaviour at school; a negative relationship between forgiveness and bullying behaviour at school; and a negative relationship between peer support and bullying behaviour at school. The study used a quantitative correlational approach and involved 102 high school students from Eastern Indonesia who had experienced bullying at school. Data were obtained using a scale distributed online. Data analysis used multiple regression analysis. The results of this study showed a significant relationship between forgiveness and peer support with bullying behaviour at school (F (2, 99) = [9.813], p = 0.001). Schools, parents and students need to understand forgiveness and the role of peers in preventing bullying behaviour.
The Role of Spiritual Intelligence in the Religious Life of Catholic Nuns: A Religious Psychology Perspective Palma, Theodosia Yosephina; Sulastri, Augustina; Utami, Cicilia Tanti
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 1 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i1.52269

Abstract

This paper examines the role of spiritual intelligence in sustaining the religious life of Catholic nuns from the perspective of religious psychology. Monastic life demands psychological fortitude, spiritual commitment, and adaptive ability in community dynamics and pastoral ministry. However, previous studies have tended to highlight resilience, religious experience, or emotional intelligence, while the contribution of spiritual intelligence has rarely been explored empirically. Source searches were conducted on the Scopus, Google Scholar, and Garuda databases with the keywords spiritual intelligence, religious life, Catholic nuns, and psychological resilience. Out of the initial 50 documents, 17 articles were selected according to the inclusion criteria and analyzed using the thematic approach of Braun and Clarke (2006). The synthesis of literature produces four main themes. First, spiritual intelligence becomes a source of meaning in life through the appreciation of religious vows, the practice of spiritual reflection, and pastoral service. Second, spiritual intelligence aids emotional–spiritual integration in the community by emphasizing prayer, reflection, and forgiveness to manage interpersonal conflicts. Third, spiritual intelligence encourages pastoral ministry as a form of personal relationship with God, not just an institutional obligation. Fourth, spiritual intelligence strengthens psychological resilience through the process of meaning-making and transcendence of self that allows nuns to transcend the ego and discover the depth of meaning of life. This study affirms spiritual intelligence as an important determinant of the quality of religious life and provides practical implications for Catholic nuns' formation programs that integrate spiritual and psychological formation.