Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Hubungan Karakteristik dan Pengetahuan tentang Perencanaan Berkeluarga dengan Kesiapan Menikah Calon Pengantin di Kantor Urusan Agama Kecamatan Tambun Utara Fitriani, Shella; Sahrudi, Sahrudi
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i4.11113

Abstract

ABSTRACT The high divorce rate in Indonesia is ranked first in Asia Pacific, and West Java is the province with the highest divorce after East Java, one of the factors causing divorce is the lack of readiness to marry. And the high interest of someone to get married raises the question of how the readiness for marriage of the prospective bride and groom at the KUA of North Tambun District, Bekasi. To determine the relationship between the characteristics and knowledge of family planning with the readiness to marry the bride and groom. This research uses descriptive analytic method with cross sectional design. The population of this study were all prospective brides who registered at the KUA of Tambun Utara District, the sample was determined by simple random sampling and the results obtained were 148 respondents. The data was tested with the chi square statistical test. In this study there is a relationship between age and readiness to marry with a p value (0.001). There is a relationship between work and marriage readiness with a p value (0.004). There is a relationship between education and marriage readiness with a p value (0.001). There is a relationship between family planning knowledge and marriage readiness with a p value (0.002). There are many factors that support readiness for marriage. The bride and groom are expected to better prepare for age, education, work and prepare knowledge about family readiness, so that a harmonious family is created and the nation's successors are proud. Keywords: Bride and Groom, Characteristics, Readiness for Marriage, Knowledge  ABSTRAK Tingginya angka perceraian di Indonesia yang menduduki peringkat pertama di Asia Pasifik, dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan perceraian tertinggi setelah Jawa Timur, salah satu faktor penyebab terjadinya perceraian ialah kurangnya kesiapan menikah. Dan tingginya minat seseorang untuk menikah menimbulkan pertanyaan bagaimana kesiapan menikah calon pengantin di KUA Kecamatan Tambun Utara, Bekasi. Untuk mengetahui adanya hubungan karakteristik dan pengetahuan perencanaan berkeluarga dengan kesiapan menikah calon pengantin. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh calon pengantin perempuan yang mendaftarkan diri di KUA Kecamatan Tambun Utara, penentuan sampel dengan simple random sampling dan didapatkan hasil 148 responden. Data diuji dengan uji statistik chi square. Dalam penelitian ini ada hubungan antara usia dengan kesiapan menikah dengan p value (0,001). Ada hubungan pekerjaan dengan kesiapan menikah dengan p value (0,004). Ada hubungan antara pendidikan dengan kesiapan menikah dengan p value (0,001). Ada hubungan antara pengetahuan prencanaan berkeluarga dengan kesiapan menikah dengan p value (0,002). Terdapat banyak faktor yang mendukung kesiapan menikah. Pada calon pengantin diharapkan lebih mempersiapkan usia, pendidikan, pekerjaan dan menyiapkan tentang pengetahuan kesiapan berkeluarga, agar terciptanya keluarga yang harmonis dan penerus bangsa yang membanggakan. Kata Kunci: Calon pengantin, Karakteristik, Kesiapan menikah, Pengetahuan 
Hubungan Self Care dengan Kualitas Hidup Pasien Post Operasi Orif di Rumah Sakit Mitra Keluarga Deltamas Samosir, Yus Warni; Sahrudi, Sahrudi
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i2.10789

Abstract

ABSTRACT Introduction is a loss of bone continuity, both in whole and in part which is determined by type and extent so that it can cause disability and even very, very dangerous trauma. The main causes of trauma are traffic accidents, Work/industrial, sports and household accidents. One of the diseases that can occur due to trauma is fracture. There are 2 types of efforts to prevent the impact and further complications of fractures, namely operatively and non-operatively. Treatment of fractures operatively is by installing ORIF (Open Reduction Internal Fixation). In this case the physiotherapist plays a role in maintaining, repairing and restoring the patient's functional abilities to their original state by means of surgery. Surgery is a potential or actual threat to a person’s integrity and can subsequently cause physiological and psychological stress reactions which can cause anxiety, high motivation is very influential important to the quality of healing and being able to carry out activities independently. Purpose of this study was to find out whether there is a relationship between Self Care and Quality of Life in Post-Orif Operation Patients. Method uses a survey method, where researchers do it to obtain appropriate data to solve problems, data collection conducted by researchers by distributing questionnaires and interviews. Conclusion the author’s review can conclude that there is a relationship between self care and the quality of life of post-natal patients at Mitra Keluarga Deltamas Hospital in 2023 with a p-value = 0.00 (<0.05). Therefore, health workers are able to provide education and motivation as well as high enthusiasm to improve a better quality of life and family support so they can carry out self-care or self-care independently. Keywords:  Self Care,Quality of Life,Orif,Fracture  ABSTRAK  Fraktur adalah  diskontinuitas tulang  yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik, baik bersifat keseluruhaan maupun sebagian yang ditentukan berdasarkan jenis dan luasnya sehingga dapat menimbulkan kecacatan, bahkan trauma yang sangat membayakan. Trauma adalah keadaan seseorang mengalami cidera oleh salah satu sebab. Penyebab utama trauma adalah kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja/industri, olah raga dan rumah tangga. Salah satu penyakit yang dapat terjadi karena trauma yaitu fraktur. Penanganan fraktur ada 2 macam yaitu secara operatif dan non operatif. Penanganan fraktur secara operatif yaitu dengan pemasangan ORIF (Open Reduction Internal Fixation). Dalam hal ini fisioterapis berperan dalam memelihara, memperbaiki dan mengembalikan kemampuan fungsional penderita seperti semula dengan cara melakukan pembedahan. Tindakan pembedahan merupakan suatu ancaman potensial maupun aktual pada integritas seseorang dan selanjutnya bisa menyebabkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis yang dapat menimbulkan cemas, motivasi dan semangat yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kualitas penyembuhan dan bisa melakukan aktifitas kembali secara mandiri. Tujuan Penelitian untuk mengetahui apakah ada Hubungan Self Care Terhadap Kualitas Hidup pasien  Post Operasi orif.  Metode Penelitian menggunakan metode survei, dimana peneliti melakukannya untuk mendapatkan data yang sesuai untuk memecahkan masalah, pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan menyebarkan kuesioner. Telaah penulis dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara self care dengan kualitas hidup pasien post orif di Rumah Salkit Mitra Keluarga Deltamas tahun 2023 dengan p-value = 0,00 (<0,05) . Oleh karena itu para tenaga kesehatan mampu melakukan edukasi dan motivasi, serta semanagat yang tinggi untuk meningkatkan kualitas hidup lebih baik, serta dukungan dari keluarga sehingga mampu melakukan perawatan diri sendiri atau self care secara mandiri. Kata Kunci: Self care,Orif,Kualitas Hidup,Fraktur
THE EXISTENCE OF BASYARNAS IN THE JUSTICE SYSTEM IN INDONESIA Sahrudi, Sahrudi; Syahrul Ansari, Teuku; Koswara, Indra; Hadipura, Margo
UNES Law Review Vol. 5 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v5i4.693

Abstract

In legal matters, there are two attempts to resolve disputes between parties, one of which is by using a sharia-based dispute resolution system. Settlement of sharia-based disputes includes non-litigation (outside court) and/or litigation in court). Sharia disputes in court (Litigation) are requested through religious courts, and dispute resolution outside the court (Non Litigation) through sharia Arbitration bodies. In Indonesia, the institution that resolves sharia arbitration disputes is called BASYARNAS (National Sharia Arbitration Board), and the procedures for settlement are not much different from arbitration procedures in general. The legal basis for the settlement of sharia arbitration disputes is regulated in Law No. 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution and furthermore regarding the execution of sharia arbitral awards is regulated in Supreme Court Circular Letter No. 08 of 2008. This research uses a qualitative method with a normative approach and uses a library research collection method, as well as analyzing documents, data, information related to BASYARNAS. The results of research on the existence of BASYARNAS still depend on the district court.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kecemasan, Nyeri, dan Mobilisasi Dini Pada Pasien Pasca Operasi Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) Said, M Irhas; Metalia, Penda; Ramadhan, Muhamad Gilang; Aliman, Nandana Arya Satya; Sahrudi, Sahrudi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i12.19969

Abstract

ABSTRACT Fracture is a bone condition where there is a break in bone continuity due to trauma, which can cause swelling and damage to blood vessels (Wijonarko & Jaya Putra, 2023). According to data obtained from the Indonesian Health Survey (SKI), the incidence of fractures in West Java province in 2023 was 0.8%, this is more common than the average number of fractures in all provinces in Indonesia with a value of 0.7%. The incidence of lower extremity fractures can cause patients to have to be hospitalized to get proper treatment. In addition, lower extremity fractures also cause patients to have difficulty in mobilizing and being less independent due to their condition, and more fatally if fracture treatment is not handled properly it can cause death. (Hadi & Stefanus Lukas, 2024). To determine the factors that influence anxiety, pain, and early mobilization in patients after open reduction internal fixation (ORIF) surgery. This study uses a quantitative method because this type of research does not require a long time to collect and reveal data, the research design used is Retrospective, namely research conducted in the past that has been experienced. This study is Data analysis was carried out using the Retrospective test. Univariate results show that there is a relationship between the Level of Knowledge and the Level of Anxiety with a p value = 0.000, the Level of Anxiety and the Level of Pain with a p value = 0.001, and Family Support for Early Mobilization in Post-Operative Patients Open Reduction Internal Fixation (ORIF) with a p value = 0.001. There is a relationship between the Level of Knowledge to the Level of Anxiety, the Level of Anxiety to the Level of Pain, and Family Support to Early Mobilization. Keywords: Fracture, Anxiety, Pain, Early Mobilization.  ABSTRAK Fraktur ialah keadaan tulang dimana terdapat pemutusan kontinuitas tulang akibat trauma, yang dapat menyebabkan pembengkakan dan kerusakan pada pembuluh darah (Wijonarko & Jaya Putra, 2023). Menurut data yang di dapat dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kejadian fraktur di provinsi jawa barat pada tahun 2023 adalah sebanyak 0,8%, ini lebih banyak terjadi dibandingkan dengan jumlah rata-rata kejadian fraktur di seluruh provinsi di Indonesia dengan nilai 0,7%. Kejadian fraktur ekstremitas bawah bisa menyebabkan pasien harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu fraktur ekstremitas bawah juga menyebabkan pasien mengalami kesulitan dalam mobilisasi dan ketidakmandirian karena kondisinya, dan lebih fatalnya jika penanganan fraktur tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan kematian.(Hadi & Stefanus Lukas, 2024). Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kecemasan, nyeri, dan mobilisasi dini pada pasien pasca operasi open reduksi internal fiksasi (orif). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dikarenakan jenis penelitian ini tidak membutuhkan waktu yang lama guna menarik serta mengungkapkan data, Desain penelitian yang digunakan adalah Retrosprectif yaitu penelitian yang dilakukan pada masa lampau yang pernah dialami. Penelitian ini adalah Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan  uji gamma. Hasil univariat menunjukan ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Terhadap Tingkat Kecemasan dengan nilai p value= 0.000, Tingkat Kecemasan Terhadap Tingkat Nyeri dengan nilai p value= 0.001, dan Dukungan Keluarga Terhadap Mobilisasi Dini Pada Pasien Pasca Operasi Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF)  dengan nilai p value= 0.001. Ada hubungan antara Tingkat Pengetahuan Terhadap Tingkat Kecemasan, Tingkat Kecemasan Terhadap Tingkat Nyeri, dan Dukungan Keluarga Terhadap Mobilisasi Dini. Kata Kunci:  Fraktur, Kecemasan, Nyeri, Mobilisasi Dini.
Efektivitas Terapi Musik Instrumental terhadap Nyeri Pada Pasien Pasca Operasi Orif Fraktur Ekstremitas Bawah di RSUD Cileungsi Chotimah, Chusnul; Sahrudi, Sahrudi; Rudana, I Wayan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i12.19744

Abstract

ABSTRACT Fracture is a term for the loss of bone continuity, either in whole or in part, which is determined based on the type and extent, usually caused by trauma or physical exertion. One of the treatments is Open Reduction Internal Fixation (ORIF) which aims to mobilize and repair broken bone fragments with several surgical procedures. One of the body's responses after surgery is pain, a physiological mechanism aimed at protecting itself. This study was conducted for effective non-pharmacological treatment to help reduce pain intensity. Classical music therapy is a non-pharmacological effort to improve physical and mental quality with stimuli containing rhythm, song, and harmony which is a work that is useful for reducing anxiety, pain, stress and creating a positive mood. The research used is quantitative research, the design used is "Quasi Experimental Pre-Post Test" The calculation of the number of samples was carried out using statistical methods using purposive sampling. The statistical test method uses univariate tests, normality tests, and Wilcoxon tests. The effect of instrumental music therapy on pain in post-operative patients with lower extremity fractures p value 0.00 <0.05. From the results of the study, it is known that there is an influence of the effectiveness of instrumental music therapy on pain in patients after lower extremity fracture surgery. After it is proven that there is an influence of instrumental music therapy on pain levels, it is hoped that this method can be implemented as one of the complementary therapies provided in the form of SOP and become one of the options in managing pain in patients after ORIF surgery. The results of the study add insight and knowledge in nursing education, especially complementary therapy for pain management. So that instrumental music therapy is included in complementary materials. Keywords: Instrumental Music Therapy, Pain, Fracture  ABSTRAK Fraktur adalah kejadian hilangnya kontinuitas tulang dan terjadi secara keseluruhan atau sebagian ditentukan oleh jenis dan luasnya yang pada umumnya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Salah satu penanganannya dengan Open Reduction Internal Fixation (ORIF) untuk mobilisasi dan memulihkan fragmen tulang yang patah dengan tindakan pembedahan. Salah satu respon tubuh setelah dilakukan pembedahan adalah nyeri merupakan mekanisme fisiologis untuk melindungi diri. Penelitian ini dilakukan untuk pengobatan non-farmakologis yang efektif untuk membantu mengurangi intensitas nyeri. Terapi musik instrumental merupakan tindakan  non farmakologis untuk meningkatkan kualitas mental dan fisik menggunakan rangsangan mengandung lagu, irama dan keharmonisan yang merupakan suatu karya bermanfaat menurunkan nyeri, stres, cemas dan menghasilkan mood positif. Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, desain menggunakan "Quasi Experimental Pre-Post Test" Perhitungan jumlah sampel dengan metode statistik menggunakan purposive sampling. Metode uji statistik menggunakan uji normalitas, uji univariat dan uji Wilcoxon. Pengaruh terapi musik instrumental terhadap nyeri pada pasien pasca operasi fraktur ekstremitas bawah ditandai nilai p 0,00 < 0,05. Dari hasil penelitian, diketahui terdapat pengaruh efektivitas terapi musik instrumental terhadap nyeri pada pasien pasca operasi patah tulang ekstremitas bawah. Setelah diketahui adanya pengaruh terapi musik instrumental terkait dengan tingkat nyeri, diharapkan metode ini dilaksanakan sebagai salah satu terapi komplementer yang disajikan dalam bentuk SOP dan dipilih dalam melakukan manajemen nyeri pasien pasca operasi ORIF. Hasil penelitian ini diperlukan untuk menambah pengetahuan dalam pendidikan keperawatan, khususnya terapi komplementer manajemen nyeri. Kata Kunci: Terapi Musik Instrumental, Nyeri, Fraktur