Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Konsep Sihir dalam Perspektif Buya Hamka dan M. Quraish Shihab Faisol Rahman; Ghozi Mubarok
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 5 No. 2 (2021): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In The Al-Qur’an, there are less than 30 thirty verses to magic. among them are in the letter Al-Baqarah verse 102, Al-A’ra>f verse 116, Tha>ha verse 66, Al-Falaq verse 3-4, dan surat Yu>nus verse 81-82. in Indonesia, the practice of magic is believed to have taken place in various places with all its variations. How ever, scholars differed on the concepts and the laws of studying magic. On that basis, the author intends to examine the views of Buya Hamka and M. Quraish Shihab in the work Tafsi>r Al-Azha>r and Tafsi>r Al-Misba>h which concerns verses about magic in the holy Al-Qur'an. the theary used thematic. By colleting an understanding verses about magic in thr holy Al-Qur’an, then constructing it into a complete and systematic concept. The essence of magic does exist. However, Buya Hamka and M. Quraish do not explain significantly the nature of magic in the holy Al-Qur'an. Buya Hamka and M. Quraish Shihab said that magic is just an illusion which according to their allegations the origin is from two angels, namely Ha> rut and Ma> rut. While regarding working of magic, Buya Hamka and M. Quraish Shihab mentioned how magic works by reciting spells with the aim of harming others, and from the women blowing the knots. Buya Hamka explains in more detail how magic works and contains more of the elements archipelago that which looks very thick in Minangkabau. As Buya Hamka mentioned items commonly used by witches, as; needles totaling 7 pieces, shredded the shroud, burial ground that is still new and some are using tombstones. Meanwhile, M. Quraish Shihab only explains how magic works in general. Di dalam Al-Qur'an, Terdapat kurang dari 30 ayat yang berkenaan dengan sihir. Diantaranya terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 102, Al-A’ra>f ayat 116, Tha>ha ayat 66, Al-Falaq ayat 3-4, dan surat Yu>nus ayat 81-82. Di Indonesia praktik sihir diyakini telah berlangsung di berbagai tempat dengan segala variasinya. Meski demikian, para ulama berbeda pendapat tentang konsep dan hukum mempelajari sihir. Atas dasar itu, penulis bermaksud mengkaji pandangan Buya Hamka dan M. Quraish Shihab dalam karya Tafsi>r Al-Azha>r dan Tafsi>r Al-Misba>h yang menyangkut ayat-ayat tentang sihir dalam Al-Qur’an. Adapun teori yang digunakan adalah tematik konseptual dengan cara mengumpulkan dan memahami ayat-ayat tentang sihir dalam Al-Qur’an, lantas dikonstruksikan menjadi sebuah konsep yang utuh dan sistematis. Hakikat sihir memang ada. Akan tetapi, Buya Hamka dan M. Quraish tidak menjelaskan secara signifikan mengenai hakikat sihir dalam Al-Qur’an. Buya Hamka dan M. Quraish Shihab mengatakan bahwa sihir hanyalah sebuah khayal yang menurut dugaan mereka asal usulnya dari dua Malaikat yaitu Ha>rut dan Ma>rut. Sementara mengenai cara kerja sihir, Buya Hamka dan M. Quraish Shihab menyebutkan cara kerja sihir dengan membaca mantra yang tujuannya untuk mencelakakan orang lain, dan dari wanita-wanita peniup pada buhul-buhul. Buya Hamka lebih rinci menjelaskan cara kerja sihir dan lebih banyak mengandung unsur nusantaranya yang nampak sangat kental yang ada di Minangkabau. Sebagaimana Buya Hamka menyebutkan barang-barang yang biasa digunakan oleh tukang sihir, seperti; jarum yang berjumlah 7 buah, cabikan kain kafan, tanah perkuburan yang masih baru dan ada juga yang menggunakan batu nisan. Sedangkan M. Quraish Shihab hanya menjelaskan cara kerja sihir secara umum.
Understanding the Meaning of the Qur'an, Education, and Entrepreneurship Comprehensively and Their Relationship Suhairi; Ghozi Mubarok
Values: Jurnal Kajian Islam Multidisiplin Vol. 2 No. 3 (2025)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/values.v2i3.41

Abstract

The Qur'an not only covers spiritual aspects, but also includes aspects of education and entrepreneurship. In this context, education is not only understood as the transfer of knowledge, but also as a process of forming noble character and morals. On the other hand, entrepreneurship in the Islamic perspective is not only related to economic activities, but also includes ethics and morality in doing business. The concept of the Qur'an is discussed and studied by various scholars with various perspectives that are rich in interpretation by many Muslim scholars and scholars. Understanding of what the Qur'an is can vary among scholars, depending on the theological approach and methodology they use. The relationship between the Qur'an, Education, and Entrepreneurship includes: 1. The Qur'an as a Guide in Education, 2. Education and Entrepreneurship in the Context of Islam, 3. The Teachings of the Qur'an on Entrepreneurship 4. Education in Preparing Muslim Entrepreneurs, 5. Integration of the Values ​​of the Qur'an in Education and Entrepreneurship. This study uses a qualitative approach with a library research method.
KONSEP NIFĀQ  DALAM TAFSIR MODERN(Studi Komparatif Penafsiran ʿAlī al-Ṣābūnī Dan Wahbah al-Zuḥaylī) Fiqri Nur Aulia Rahmi; Ghozi Mubarok
MAHAD ALY JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Vol 3 No 1 (2024): Ma had Aly Journal of Islamic Studies
Publisher : AL-BAYAN INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63398/5ynp0r93

Abstract

The meaning of nifaq in the Qur'an must be interpreted deeply, broadly and in detail. Moreover, the meaning regarding a person's characteristics helps in practicing the contents of the Qur'an to the maximum. Discussions and debates of modern commentators about nifaq have several differences. This study will discuss the definition of nifaq and its characteristics according to the two commentators, namely Muhammad ʿAlī al-Ṣābūnī and Wahbah al-Zuḥaylī and how the similarities and differences between the two commentators regarding the definition of nifaq and its characteristics. The research method used is library research, in collecting data using the documentation method. while in analyzing data using descriptive analytical and comparative methods, the selection of verses focuses on verses that discuss nifaq. The results of the study can be concluded that the interpretation of the two commentators on the concept of nifaq has three conclusions, including: First, the definition of nifaq, Al-Ṣābūnī and Al-Zuḥaylī put forward the same opinion, namely nifaq are those who display faith and hide disbelief. Second, regarding the characteristics of nifaq, it can be concluded into two forms of nifaq, namely Al-nifaq al-i'tiqadi, including: deceiving and forgetting Allah, hesitating and doubting in faith, pretending to believe and al-nifaq al-'amali, including: lying (lying), ordering evil, forbidding good, Third, the comparison between the interpretations of Al-Ṣābūnī and Wahbah Al-Zuḥaylī on the concept of nifaq shows more similarities than differences, but the details of the differences are not substantial.
Konsep Keadilan Pembagian Warisan dalam Ayat “Li Al-Dzakari Mithlu Hazizi Al-Unthayayn”: Studi Kitab Tafsir Klasik dan Tafsir Kontemporer Muridatul Qutsiyah; Mubarok, Ghozi
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.89

Abstract

Kewarisan merupakan salah satu dari beberapa aspek mu’amalah yang mana diatur oleh Allah SWT, terutama hal yang berkaitan dengan pembagian harta setelah seseorang meninggal dunia. Pembagian warisan Antara laki-laki dan perempuan dalam al-Qur’an dengan rumus satu banding dua seringkali memicu perdebatan di kalangan ulama dan pemikir kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis interpretasi ayat li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn dalam tafsir klasik dan tafsir kontemporer serta menilai pengaruh dari interpretasi tersebut terhadap pemahaman keadilan pembagian warisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan analisis konten dan deskriptif terhadap berbagai sumber tafsir terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir klasik menekankan reformasi social yang dibawa oleh Islam dalam hal ketidakadilan pembagian warisan pra- Islam, sementara tafsir kontemporer cenderung mengkaji ulang interpretasi tersebut dengan mempertimbangkan perubahan peran dan tanggung jawab gender dalam masyarakat modern. Dengan kesimpulan, pertama penafsiran dalam kitab tafsir klasik dan kontemporer menunjukkan bahwa ajaran Islam mengubah praktik pembagian warisan dari sistem tidak adil pra-islam menjadi sistem yang adil dan merata. Kedua, dalam penafsiran klasik, ayat "li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn" dianggap sebagai penegasan Allah SWT dalam pembagian warisan yang adil. Sedangkan menurut tafsir kontemporer, ayat ini merupakan penerapan konsep kesetaraan gender dalam hokum waris. Meskipun ada diferensiasi berdasarkan jenis, hal ini mencerminkan peran gender dalam masyarakat Islam, yakni di mana laki-laki memiliki tanggung jawab ekonomi yang lebih besar.   Abstract Inheritance is one of several aspects of mu'amalah which is regulated by Allah SWT, especially matters related to the distribution of property after someone dies. The division of inheritance between men and women in the Qur'an with the formula one to two often triggers debate among contemporary scholars and thinkers. This study aims to analyze the interpretation of the verse li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn in classical and contemporary interpretations and to assess the influence of these interpretations on the understanding of the justice of inheritance distribution. The method used in this study is a literature study with content and descriptive analysis of various leading sources of interpretation. The results of the study show that classical interpretations emphasize the social reform brought by Islam in terms of the injustice of pra-Islamic inheritance distribution, while contemporary interpretations tend to review these interpretations by considering changes in gender roles and responsibilities in modern society. In conclusion, first, the interpretation in classical and contemporary tafsir books shows that Islamic teachings changed the practice of inheritance distribution from an unfair pre-Islamic system to a just and equitable system. Second, in classical interpretation, the verse "li al-dzakari mithlu haz}z} al-unthayayn" is considered as an affirmation of Allah SWT in the fair distribution of inheritance. Meanwhile, according to contemporary interpretation, this verse is an application of the concept of gender equality in inheritance law. Although there is differentiation based on gender, this reflects gender roles in Islamic society, namely where men have greater economic responsibility.
Karakterisrik Term Al-Ta’lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah dalam al-Qur’an Mubarok, Ghozi; Mohammad Zakin Mamduh
Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 5 No. 2 (2024): Izzatuna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62109/ijiat.v5i2.101

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses penanaman nilai-nilai kehidupan ke dalam diri seseorang. Islam setidaknya memperkenalkan istilah pendidikan dalam merujuk ke beberapa istilah yaitu Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah. Ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, namun istilah al-Tarbiyah merupakan istilah yang paling umum digunakan dalam praktik pendidikan. Secara keseluruhan, Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah merupakan elemen-elemen pendidikan yang saling mendukung dalam kerangka pendidikan Islam. Ketika suatu pendidikan difokuskan kepada al-Tazkiyah (Pensucian), pengajaran (Al-Ta’lim) menjadi sarana untuk memperoleh ilmu yang kemudian harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudia agar ilmu ini benar-benar melekat dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang, diperlukan bimbingan dan pembinaan yang menyeluruh melalui Al-Tarbiyah (pendidikan). Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka dengan analisis konten dan deskriptif terhadap berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, dan Al-Tazkiyah merupakan elemen-elemen yang membentuk kerangka proses pendidikan yang lengkap dan integral, yang bertujuan untuk menciptakan individu yang berpengetahuan luas, berkarakter mulia, dan beradab dalam setiap aspek kehidupannya. Abstract Education is a process of instilling life values ​​into a person. Islam at least introduced the term education in referring to several terms, namely Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah. These three terms have different meanings, but the term al-Tarbiyah is the term most commonly used in educational practice. Overall, Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah are educational elements that support each other within the framework of Islamic education. When education is focused on al-Tazkiyah (Purification), teaching (Al-Ta'lim) becomes a means of acquiring knowledge which must then be understood, internalized and put into practice in everyday life. Then, for this knowledge to truly stick and become part of a person's personality, comprehensive guidance and coaching through Al-Tarbiyah (education) is needed. The method used in this research is a literature study with content and descriptive analysis of various sources. The research results show that Al-Ta'lim, Al-Tarbiyah, and Al-Tazkiyah are elements that form a complete and integral educational process framework, which aims to create individuals who are knowledgeable, have noble character, and are civilized in every aspect of his life.
Character Education in the Qur'an Abdillah, Abdillah; Ihwan Amalih; Ghozi Mubarok
Maklumat: Journal of Da'wah and Islamic Studies Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/maklumat.v3i2.47

Abstract

Character education is one of the important issues in the world of education, especially in the context of moral and ethical formation. In the Qur'an, character education receives significant attention, providing comprehensive guidance for forming a noble personality. The verses of the Qur'an teach values ​​such as honesty, discipline, responsibility, and empathy, which are essential in everyday life. Character education not only targets cognitive aspects, but also emotional and spiritual aspects. This study aims to explore how the concept of character education is explained in the Qur'an. Through an in-depth study of certain verses, it was found that the Qur'an provides a solid foundation for the development of individual morality. Character education in the Qur'an includes important aspects such as patience, gratitude, and trustworthiness, which form personal integrity and harmonious social relationships. This article also identifies the main problems in the implementation of character education based on the values ​​of the Qur'an, as well as the solutions offered by the Qur'an itself. Using qualitative methods and a thematic interpretation approach, this article examines relevant Qur'anic verses and suggests implementation steps that can be applied in the context of modern education.
THE IMPACT OF CODE-SWITCHING ON STUDENTS' LEARNING PROCESS AND PSYCHOLOGICAL REGULATION IN BILINGUAL CLASSROOM: A PERSPECTIVE FROM EDUCATIONAL PSYCHOLOGY Mawardi, Mohammad Maqbul; Ruhiyah, Fida; Mubarok, Ghozi; Majid, Ach. Nurholis
Bayan lin-Naas : Jurnal Dakwah Islam Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/bayanlin-naas.v8i2.2261

Abstract

This study explores the impacts of code-switching practices in the teaching and learning process in bilingual schools. The background of this study is based on the fact that the use of code-switching practices not only impacts linguistic and academic aspects but also has significant implications for students' psychological conditions, such as building emotional closeness between teachers and students through humour, praise, and empathetic expressions. Therefore, the purpose of this study is to identify the impacts of code-switching on students' learning process and psychological regulation in bilingual language learning. The research method used in this study is a library research with a descriptive qualitative approach, referring to various scientific sources such as journal articles, books, and relevant research reports. The results of this study show several impacts of code-switching in the teaching and learning process. First, code-switching helps the students comprehend the lessons and achieve great success. Teachers switch their language when they give feedback, check students' understanding, make conclusions, clarify information, and explain specific information. Second, code-switching is used to control the students' enthusiasm and behaviour. Solidarity and intimate relationships between teachers and students are the elements that cannot be neglected in the education sector. Applying code-switching as a communication strategy to create humour is an effective way to support learning situations.
HARMONY OF HUSBAND-WIFE RELATION IN ISLAMIC RELIGION: MUBADALAH AND ATTACHMENT THEORY INTEGRATIVE ANALYSIS ON AL-BAQARAH 223 Auliyah, Iqna; Kusnadi; Apriyanti; Ghozi Mubarok; Mohammad Fatah
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 21 No. 02 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v2i2.6843

Abstract

This study aims to analyze in depth the harmony in husband and wife relations as implied in Surah al-Baqarah verse 223. This study integrates two relevant theoretical frameworks, namely the Mubadalah theory and Attachment theory. The Mubadalah theory, with its focus on reciprocal and mutual relations, is used to examine the implications of the verse on the dynamics of equal and mutually beneficial interactions in marriage. Meanwhile, the Attachment theory, which emphasizes emotional bonds and the need for security in relationships, is applied to understand how the verse contributes to the formation and maintenance of intimacy and emotional support between husband and wife. This study uses a qualitative approach that is library research. In interpreting the verse, this study uses the tahlili method. The primary data sources in this study are several classical and contemporary tafsir books, the mubadalah theory book by Faqihuddin Abdul Kodir and the attachment theory psychology book by John Bowlby. The secondary data in this study are: articles, journals, dissertations, family relationship books, and scientific papers which are relevant to the discussion of this study. The results of the study show that the integrative analysis of the mubadalah theory towards QS. Surah al-Baqarah verse 223; the wife has the same rights in the household, both in intimate relationships, love, rights and obligations as well as in decision making. Meanwhile, the integrative analysis of the Attachment theory with QS. Surah al-Baqarah verse 223 implicitly shows that the husband is the caregiver for his wife and the wife is the caregiver for her husband. The sacred agreement in marriage requires both the wife and husband to be present not only physically but also emotionally so that both become a safe place in the household. Keywords: Harmony, Al-Baqarah 223, Mubadalah, Attachment   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam harmoni dalam relasi suami istri sebagaimana tersirat dalam Surah al-Baqarah ayat 223. Penelitian ini mengintegrasikan dua kerangka teoritis yang relevan, yaitu teori Mubadalah dan teori Attachment. Teori Mubadalah, dengan fokusnya pada relasi timbal balik dan kesalingan, digunakan untuk mengkaji implikasi ayat terhadap dinamika interaksi yang setara dan saling menguntungkan dalam perkawinan. Sementara itu, teori Attachment, yang menekankan pada ikatan emosional dan kebutuhan akan rasa aman dalam hubungan, diterapkan untuk memahami bagaimana ayat tersebut berkontribusi pada pembentukan dan pemeliharaan keintiman serta dukungan emosional antara suami dan istri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat kepustakaan (Library Research). Dalam menafsirkan ayat, penelitian ini menggunakan metode tahlili. Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu beberapa kitab tafsir klasik dan kontemporer, buku teori mubadalah karya Faqihuddin Abdul Kodir dan buku psikologi attachment theory karya John Bowlby. Adapun data sekunder dalam penelitian ini yaitu: artikel, jurnal, disertasi, buku relasi keluarga, dan karya tulis ilmiah yang mana relevan dengan pemembahasan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis integratif teori mubadalah terhadap QS. Surah al-Baqarah ayat 223; istri memiliki hak yang sama dalam rumah tangga, baik dalam hubungan intim, cinta kasih, hak dan kewajiban serta dalam pengambilan keputusan. Sedangkan Analisis integratif teori Attachment dengan QS. Surah al-Baqarah ayat 223 secara implisit menunjukkan bahwa suami adalah pengasuh bagi istrinya dan istri adalah pengasuh bagi suaminya. Perjanjian sakral dalam pernikahan menuntut pasangan baik istri/suami tidak hanya hadir secara fisik tapi juga hadir secara emosional sehingga keduanya sam-sama menjadi tempat aman dalam rumah tangga.   Kata Kunci: Harmoni, Al-Baqarah 223, Mubadalah, Attachment
MENGHIDUPKAN TRADISI, MERAWAT SILATURAHMI: NYUNGKEM MATTOWAH DI HARI RAYA Aj, Abdillah; Fathorrahman, Fathorrahman; Fattah, Mohammad; Mubarok, Ghozi
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 1 (2025): Volume 5, Nomor 1, Maret 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i1.1513

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna sosial dan budaya dari tradisi Nyungkem Mattowah, yaitu ritual bersimpuh dan mencium tangan orang tua atau tokoh masyarakat yang dilakukan oleh masyarakat Madura pada Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini merepresentasikan nilai-nilai penghormatan, kasih sayang, dan kesopanan antargenerasi. Namun, arus modernisasi dan gaya hidup individualis menimbulkan kekhawatiran akan lunturnya praktik ini, khususnya di kalangan generasi muda. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual di tiga desa di Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat dewasa dan anak-anak masih aktif menjalankan tradisi ini, sementara partisipasi remaja menunjukkan kecenderungan menurun. Nyungkem Mattowah terbukti tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga berfungsi mempererat silaturahmi dan membangun identitas kolektif masyarakat Madura. Penelitian ini merekomendasikan pelestarian tradisi melalui pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dan pelibatan generasi muda dalam ruang-ruang budaya yang relevan
TASAWUF AL-GHAZALI: ANTARA SPIRITUALITAS DAN FORMALISME HUKUM ISLAM Mubarok, Ghozi
Reflektika Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v8i2.138

Abstract

Al-Ghazali merupakan salah satu figur paling penting dalam sejarah tasawuf Islam. Hal itu disebabkan bukan hanya oleh melimpahnya karya al-Ghazali dalam bidang tasawuf, tetapi juga oleh posisinya yang unik di tengah-tengah proses tarik menarik antara wilayah spiritual dan yurisprudensial dalam Islam. Tulisan ini mencoba, pertama-tama, menentukan di mana posisi al-Ghazali di antara dua wilayah tersebut untuk kemudian, pada akhirnya, memberikan penilaian apakah tasawuf al-Ghazali termasuk ke dalam jenis tasawuf Sunnî atau Falsafî. Melalui analisis terhadap karya-karya al-Ghazali sendiri, tulisan ini kemudian menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, al-Ghazali sebetulnya konsisten dalam pendiriannya tentang tasawuf sebagai laku spiritual yang tidak boleh bertentangan dengan, namun sekaligus berada pada level yang lebih tinggi daripada, ketaatan lahiriah dan formal terhadap syari’at. Konsistensi itu kadang-kadang menempatkannya pada posisi yang dilematis sehingga boleh dibilang bahwa, dalam perspektif yang menyeluruh, al-Ghazali tidak sepenuhnya sukses menjembatani ketegangan di antara wilayah spiritual dan yurisprudensial dalam Islam itu. Kedua, karena al-Ghazali terlihat membidik dua audiens yang berbeda dalam karya-karyanya, maka model tasawuf al-Ghazali tidak bisa dikategorikan secara sederhana sebagai model tasawuf sunnî yang sepenuhnya non-falsafî.