Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL PROMOSI KESENIAN WAYANG KULIT PALEMBANG Fahrezi, Zikri Ahmad; Mubarat, Husni; Halim, Bobby
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v8i1.2893

Abstract

Wayang didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2002, salah satunya yakni Wayang Kulit Palembang yang pada saat itu terancam akan hilang. Hingga saat ini Kesenian Wayang Kulit Palembang masih diperjuangkan keberadaanya agar tidak hilang terbawa oleh zaman, karena banyak generasi muda yang tidak mengetahui bahwa terdapat kesenian pewayangan di Kota Palembang. Dalam prespektif desain komunikasi visual terdapat faktor yang mempengaruhi yakni belum adanya media promosi yang di khususkan untuk menjangkau target sasaran remaja, dalam hal ini media berbentuk Motion Graphics maupun media yang mengikuti trend terkini. Adapun tujuan untuk memberikan informasi terkait Wayang Kulit Palembang kepada generasi muda di Kota Palembang. Metode perancangan yang digunakan yakni Design Thinking yang terdiri dari 5 tahapan yakni: Empathize (Pengumpulan Data), Define (Analisis Data), Ideate (Konsep), Prototype (Perancangan), serta Test (Uji Coba kepada masyarakat). Perancangan Komunikasi Visual Promosi Kesenian Wayang Kulit Palembang ini menghasilkan beberapa media promosi yang menyasar generasi muda dengan media utama berupa Motion Graphics, Serta beberapa media pendukung berupa Kartu Augmented Reality, Poster, Lampu Tidur, Case Handphone, Jam Dinding, Tumbler, T-Shirt, Totebag, X-Banner, dan Gantungan Kunci. Sebagai penunjang media utama dalam mempromosikan Kesenian Wayang Kulit Palembang.
Komunikasi Visual Penjenamaan Dalam Upaya Membangun Citra Visual Identitas Baru Kota Palembang Bakar, Abu; Halim, Bobby
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v8i2.2970

Abstract

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia yang memiliki banyak sejarah tentang pusat peradaban kerajaan Sriwijaya. Hal tersebut, tidak terlepas dari pengaruh peninggalan kerajaan Sriwijaya. Bukti yang sangat kuat dimiliki Kota Palembang yaitu beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya itu sendiri yang paling banyak dikenal yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Saat ini kota Palembang telah berhasil menjadi kota yang sangat besar yang bisa memangku kepentingan tuan rumah Asian Games 2018 yang merupakan pesta olahraga terbesar di Asia, dan Sea Games 2011. Dengan perkembangan kemajuan yang dimiliki kota Palembang belum dibarengi dengan sebuah penjenamaan tempat dalam menunjang citra visual kota yang belum memiliki kaidah kaidah ilmu desain komunikasi visual dan typeface yang menghasilkan bentuk luaran visual dalam produk branding dengan memiliki media media yang fungsional, unik, dan representatif sesuai dengan citra kotanya. Desain komuniksi visual sebagai sarana identifikasi dapat menjadi penengah dalam usaha pembentukan citra karena memiliki kemampuan untuk mencerminkan jiwa dari suatu entitas, sedangkan typeface atau rupa huruf adalah sekumpulan huruf dengan bentuk dan proporsi sedemikian rupa yang disimpan dalam sebuah wadah bernama font. Menilik pada perkembangan teknologi dalam perancangan huruf dan tren tipografi saat ini, sebuah typeface dapat menjadi bentuk identitas visual pendamping yang diperlukan untuk menunjang citra sebuah kota Palembang yang representatif. Produk media penjenamaan tempat kota Palembang akan dibukukan dalam bentuk pedoman identitas visual atau yang disebut brand guideline. Dari studi pustaka yang telah dilakukan, belum ditemukan adanya perancangan typeface lain yang ditujukan untuk kebutuhan citra visual baru kota Palembang dalam lingkup akademis maupun non akademis yang menjadikan perancangan ini memiliki nilai kebaruan yang signifikan. Citra visual penjenamaan tempat adalah topik yang masih hangat untuk diperbincangkan, terutama dalam lingkup akademis. Oleh karena itu, perancangan ini dapat bermanfaat sebagai pijakan teori dan referensi kepustakaan mengenai perancangan penjenamaan tempat yang berangkat dari permasalahan identitas kota Palembang bagi perkembangan ilmu Desain Komunikasi Visual.
Pelatihan Perancangan Cover Buku sebagai Media Penguatan Kompetensi Keahlian Desain Komunikasi Visual di SMKN 1 Suak Tapeh Banyuasin Yulius, Yosef; Halim, Bobby; Amalia, Shalyna Nadya; Ubaidillah, Muhammad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/rsx2r185

Abstract

Pelatihan perancangan cover buku ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi keahlian desain komunikasi visual (DKV) siswa SMKN 1 Suak Tapeh Banyuasin dalam menerapkan prinsip estetika dan tata letak pada media publikasi pendidikan. Permasalahan utama mitra adalah rendahnya kemampuan siswa dalam merancang cover buku yang komunikatif dan profesional akibat keterbatasan pengalaman praktik serta minimnya pemahaman terhadap elemen desain grafis digital. Kegiatan dilaksanakan dengan metode pelatihan partisipatif berbasis praktik langsung (learning by doing) yang melibatkan dosen dan mahasiswa program studi DKV sebagai fasilitator. Materi mencakup teori tipografi, komposisi, pemilihan warna, serta penggunaan perangkat lunak desain seperti Canva dan Adobe Illustrator. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata 35% pada pemahaman teori dan keterampilan desain siswa. Sebanyak 85% peserta mampu menghasilkan desain cover yang estetis dan komunikatif sesuai kaidah profesional. Dampak pelatihan terlihat pada meningkatnya motivasi berkarya, kepercayaan diri, serta kemampuan bekerja kolaboratif. Selain itu, guru pendamping memperoleh manfaat berupa penguatan strategi pembelajaran berbasis proyek, sementara sekolah mendapatkan peningkatan citra sebagai lembaga vokasi yang adaptif terhadap perkembangan industri kreatif digital. Pelatihan ini mengisi kekosongan kegiatan pengembangan literasi visual terapan yang menggabungkan metode design thinking dan perangkat lunak industri kreatif dalam konteks sekolah menengah kejuruan di luar kawasan industri besar. Dengan demikian, kegiatan ini terbukti efektif dalam memperkuat kompetensi keahlian DKV dan menumbuhkan literasi visual siswa SMK. Training on Book Cover Design as a Medium for Strengthening Visual Communication Design Competencies at SMKN 1 Suak Tapeh, Banyuasin Abstract This training on book cover design aims to enhance the competencies of Visual Communication Design (VCD) students at SMKN 1 Suak Tapeh Banyuasin in applying principles of aesthetics and layout to educational publication media. The main issue faced by the partner school lies in students’ limited ability to create communicative and professional book cover designs due to a lack of practical experience and insufficient understanding of digital graphic design elements. The activity was carried out through a participatory training method based on hands-on practice (learning by doing), involving lecturers and students from the VCD program as facilitators. The materials covered typography, composition, color selection, and the use of design software such as Canva and Adobe Illustrator. The results showed an average improvement of 35% in students’ theoretical understanding and design skills. Approximately 85% of participants successfully produced aesthetic and communicative book cover designs that met professional standards. The training also increased students’ motivation, self-confidence, and ability to work collaboratively. Additionally, the accompanying teachers benefited from strengthened project-based learning strategies, while the school gained an improved image as a vocational institution adaptive to the development of the digital creative industry. This training fills the gap in applied visual literacy development activities that integrate the design thinking approach with creative industry software within the context of vocational schools located outside major industrial areas. Thus, the program proved effective in strengthening students’ VCD competencies and fostering visual literacy among vocational students.
Pola Semiotika Representasi Emosi pada Desain Sampul Buku Anak: Analisis Peirce pada The Feelings Series Karya Trace Moroney Lubis, Hestia Rachmat Nunciata; Yulius, Yosef; Halim, Bobby
JURNAL RUPA Vol 10 No 1 (2025): In Press
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study investigates semiotic patterns of emotional representation in children’s book cover design using Charles Sanders Peirce’s icon-index-symbol framework. The research examines ten book covers from The Feelings Series by Trace Moroney, a children’s picture book series that consistently addresses basic emotions in early childhood. The study aims to identify how emotional meanings are constructed through visual signs and to examine the dominant semiotic strategies employed across covers. A descriptive qualitative method was employed was applied through structured visual observation of key cover elements, including character facial expressions, body gestures, color palettes, typography, and background composition. Each visual element was treated as a unit of analysis and independently coded by two coders according to Peirce’s classification of iconic, indexical, and symbolic signs. Inter-coder reliability was assessed using percentage agreement, resulting in an initial agreement rate of 90%, with remaining discrepancies resolved through reflective discussion grounded in operational definitions and contextual visual analysis. The findings reveal a consistent cross-cover semiotic pattern in which indexical signs such as body posture, gesture, gaze direction, and compositional emphasis play a dominant role in constructing emotional context, while iconic signs, particularly facial expressions, function as primary cues for immediate emotional recognition. Symbolic signs, including color conventions, typographic treatment, and series identity, operate to stabilize and reinforce emotional meanings through culturally familiar visual codes. These three sign types work in an integrated manner to form a cohesive and readable system of emotional representation across the series. The study demonstrates that Peirce’s semiotic framework can be systematically operationalized as and analytical tool in visual communication design research, particularly within the context of children’s emotional literacy. The identified semiotic patterns provide practical insights for designers and publishers in developing children’s book cover that effectively communicate emotions in ways that are visually clear, developmentally appropriate, and emotionally supportive.
Pelatihan Menggambar Dasar Bagi Anak Panti Asuhan Aisyiyah Humairoh Halim, Bobby; Lubis, Hestia Rachmat Nunciata; Haderisyandi, Kgs. Wibi; Habibi, Khalif Muhammad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v11i1.4777

Abstract

Pelatihan Menggambar Dasar bagi anak perempuan usia 10–19 tahun di Panti Asuhan Aisyiyah Humairoh Palembang dilaksanakan untuk menjembatani kesenjangan antara tingginya minat menggambar dan keterbatasan akses pendidikan seni yang sistematis, pengajar kompeten, serta sarana pendukung di panti. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis menggambar (ketepatan bentuk, teknik arsir, pemanfaatan bidang, dan kerapian), penguasaan alat dan media gambar, serta rasa percaya diri dan keberanian mengekspresikan gagasan visual, sekaligus menguatkan relevansi pendidikan seni dengan agenda SDGs, khususnya Tujuan 4, 3, 5, dan 10. Kegiatan dirancang dalam bentuk workshop partisipatif yang memadukan ceramah singkat, presentasi visual, demonstrasi langkah demi langkah, latihan terstruktur, dan umpan balik langsung, dengan peserta sebanyak 11 anak perempuan penghuni panti. Data dikumpulkan melalui rubrik penilaian karya sebelum–sesudah pelatihan, lembar observasi, wawancara singkat, dan kuesioner kepuasan, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan rata‑rata skor keterampilan menggambar dari 1,8 menjadi 3,2 pada skala 1–4 dengan kenaikan konsisten pada seluruh aspek, tingkat kehadiran 100%, skor keaktifan 3,4, serta lebih dari 80% peserta menyatakan ingin melanjutkan latihan menggambar setelah kegiatan. Secara kualitatif, peserta melaporkan bertambahnya keberanian untuk menunjukkan karya, sedangkan pengelola panti mulai merencanakan kegiatan menggambar sebagai rutinitas mingguan. Temuan ini mengonfirmasi bahwa pelatihan Menggambar Dasar berbasis prinsip konstruktivisme dan metode demonstrasi dapat menjadi strategi efektif untuk mengembangkan keterampilan teknis, kreativitas, dan pemberdayaan psikososial anak panti asuhan, sekaligus memberikan kontribusi ilmiah berupa penerapan rubrik penilaian terukur dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Basic Drawing Training for Children at the Aisyiyah Humairoh Orphanage Abstract The Basic Drawing Training program for girls aged 10–19 years at the Aisyiyah Humairoh Orphanage in Palembang was implemented to bridge the gap between their high interest in drawing and their limited access to systematic art education, competent instructors, and adequate facilities at the orphanage. This program aims to improve technical drawing skills (shape accuracy, shading techniques, use of drawing space, and neatness), mastery of drawing tools and media, as well as self‑confidence and the courage to express visual ideas, while strengthening the relevance of art education to the SDGs agenda, particularly Goals 4, 3, 5, and 10. The activity was designed as a participatory workshop combining short lectures, visual presentations, step‑by‑step demonstrations, structured exercises, and direct feedback, involving 11 female residents of the orphanage as participants. Data were collected through a rubric‑based assessment of pre‑ and post‑training artworks, observation sheets, short interviews, and satisfaction questionnaires, then analyzed using descriptive quantitative and qualitative approaches. The results show an increase in the average drawing skill score from 1.8 to 3.2 on a 1–4 scale, with consistent improvement across all aspects, 100% attendance, an activeness score of 3.4, and more than 80% of participants expressing a desire to continue practicing drawing after the program. Qualitatively, participants reported greater confidence in showing their drawings, while the orphanage management began planning drawing activities as a weekly routine. These findings confirm that Basic Drawing Training based on constructivist principles and demonstration methods can be an effective strategy to develop technical skills, creativity, and psychosocial empowerment of orphanage children, while also providing a scientific contribution through the application of a measurable assessment rubric in a community service context.
Media Pembelajaran Tari Tepak Keraton Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Palembang Rosalia; Halim, Bobby; Prasetya, Didiek
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol. 11 No. 1 (2026): Besaung: Desember 2025-Maret 2026
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jsdb.v11i1.7016

Abstract

Tari Tepak Keraton is one of the intangible cultural heritages originating from Palembang, Sumatera Selatan, which holds high historical, philosophical, and aesthetic values. However, it faces challenges in terms of regeneration, low interest among younger generations, and the lack of engaging and easily understandable learning media. This project aims to design and introduce a visual communication–based learning medium through an educational video of Tari Tepak Keraton for elementary school students aged 9–12 years in Palembang. The method used in this design process is the Design Thinking approach, which includes the stages of empathize, define, ideate, prototype, and test. Data were collected through observation, interviews, and literature studies related to culture and Visual Communication Design.The educational video is designed to be interactive and expressive, featuring clear and easily understandable narration, as well as a layout that represents the cultural character of Palembang. Through this learning medium, it is expected to enhance children’s understanding and interest in preserving Tari Tepak Keraton as a cultural identity of Palembang