Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Identifikasi dan Uji Antagonis Trichoderma spp. Indigenus Beberapa Daerah Kalimantan Timur Terhadap Penyebab Penyakit Layu Tomat (Fusarium oxysporum) Rosfiansyah, Rosfiansyah; Sopialena, Sopialena
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 7, No 1 (2024): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 7 Nomor 1 Agustus 2024
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jatl.7.1.2024.15630.26-34

Abstract

Penyakit layu Fusarium oxysporum merupakan penyakit penting pada tanaman tomat. Pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma sp. dalam pengendalian layu Fusarium tanaman tomat merupakan salah satu teknik Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang aman terhadap lingkungan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengetahui Trichoderma spp. indigenus Kalimantan Timur berdasarkan karakter morfologi, dan mengetahui kemampuan Trichoderma spp. indigenus Kalimantan Timur dalam menekan pertumbuhan Fusarium oxysporum secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan Universitas Mulawarman. Identifikasi Trichoderma spp. berdasarkan karakter morfologi secara makroskopis maupun mikroskopis. Uji antagonis in vitro dilakukan dengan metode dual culture. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas tujuh perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh isolat Trichoderma spp. indigenus yang terdiri atas empat spesies, yaitu T. harzianum yang berasal dari Lempake Samarinda, Sindang Sari Samarinda, Kelinjau Kutai Timur dan Karang Joang Balikpapan, T. hamatum dari Bongan Kutai Barat, T. koningii dari Nenang Penajam Paser Utara (PPU) dan T. viride dari Nenang Penajam Paser Utara. Trichoderma spp. yang memiliki diameter laju pertumbuhan tertinggi adalah T. harzianum isolat Balikpapan (60,6 mm) dan terendah T. viride PPUS (2,79 mm). Trichoderma spp. dengan kerapatan spora tertinggi terdapat pada T. hamatum isolat Kubar (6,52 x 109 konidia g - 1 ) dan terendah T. viride isolat PPUS (1,79 x 109 konidia g -1 ). Pemanfaatan Trichoderma spp. juga dapat menekan pertumbuhan Fusarium oxysforum dengan persentase penghambatan tertinggi terdapat pada T. hamatum isolat Kubarr (64,85%), sedangkan terendah adalah T. viride isolat PPUS (40,95%).
Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Putih dan Kayumanis terhadap Penyakit Antraknosa pada Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Sopialena, Sopialena; Sofian, Sofian; Suryadi, Andi; Naibaho, Jessica Ester
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 6, No 2 (2024): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 6 Nomor 2 Februari 2024
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35941/jatl.6.2.2024.14055.29-35

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) atau biasa dikenal dengan cabai teropong menjadi salah satu tanaman hortikultura yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai pelengkap masakan dan obat. Produksi cabai pada tahun 2021 mencapai 1,36 juta ton dengan persentase peningkatannya hingga 7,62%. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogen yang menyerang cabai merah (Capsicum annuum L.) pada gejala penyakit antraknosa dan untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang putih (Cinnamomum burmannii), kayu manis (Cinnamomum burmanni), dan kombinasi keduanya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Samarinda dimulai sejak bulan November 2022 sampai bulan Maret 2023. Percobaan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap dengan (empat) 4 perlakuan dan (tujuh) 7 ulangan yang digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan terdiri dari kontrol (A0), ekstrak bawang putih (A1), ekstrak kayu manis (A2), ekstrak kombinasi bawang putih dan kayu manis (A3). Faktor tunggal dalam penelitian ini adalah daya hambat ekstrak bunga krisan terhadap pertumbuhan jamur Colletotrichum sp. data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan di uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Penelitian ini menunjukkan pemberian ekstrak bawang putih dan kayu manis telah memberikan aktivitas penghambatan pertumbuhan koloni jamur uji. Pemberian perlakuan ekstrak kayu manis memiliki efektifitas terbaik dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur uji dengan konsentrasi 47 mL ditunjukkan pada data daya hambat sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antifungi ekstrak kayu manis mampu menghambat pertumbuhan miselium jamur Colletotrichum gloeosporioides.
Pengaruh Pupuk Organik Cair Kitosan pada Tanaman Porang (Amorpophallus muelleri Blume) terhadap PengendalianPenyakit Layu Fusarium (Fusarium sp.) Sofian, Sofian; Suryadi, Andi; Sopialena, Sopialena; Nurwahidah, Nurwahidah
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 6, No 1 (2023): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 6 Nomor 1 Agustus 2023
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jatl.6.1.2023.11323.69-73

Abstract

Tanaman porang merupakan tanaman umbi-umbian yang saat ini digemari masyarakat untuk dibudidaya karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Umbi tanaman porang memiliki kandungan serat pangan berupa glukomanan yang merupakan serat pangan yang dapat larut dalam air  bersifat hidrokolid kuat yang rendah kalori. Organisme Penganggu Tumbuhan merupakan salah satu yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman, salah satunya penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp. yang merupakan penyakit tular tanah. Pada penelitian ini pengendalian penyakit layu fusarium dilakukan dengan aplikasi pupuk organik cair kitosan. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2022 hingga Mei 2023 di Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan, 5 ulangan dan setiap ulangan memiliki 10 sampel sehingga total tanaman yang diamati adalah 250 tanaman. Perlakuan pupuk organik cair kitosan adalah kontrol (0 ml kitosan/L air), K1 (5 ml kitosan/L air), K2 (10 ml kitosan/L air), K3 (15 ml kitosan/L air) dan K4 (20 ml kitosan/L air). Parameter yang diamati yaitu intensitas serangan penyakit layu fusarium, tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah mikroorganisme di media tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K1 (5 ml kitosan/ L air) sudah dapat mengendalikan penyakit layu fusarium pada minggu kedua (0,6%) dan  ketiga (1,2%).
Antagonist Test of Trichoderma sp and Gliocladium sp Againts Fungal Pathogens That Cause Diseases on Tomato Plant Sopialena, Sopialena; Arwita, Nanda Nadira Putri; Suyadi, Suyadi
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 7, No 1 (2024): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 7 Nomor 1 Agustus 2024
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jatl.7.1.2024.15636.78-84

Abstract

Tomatoes (Solanum lycopersicum) are one of the widely cultivated crops consumed by people worldwide, including Indonesia. Tomato farming often faces various challenges that result in reduced tomato productivity. One of the challenges is the presence of diseases that affect tomatoes, leading to crop failure for farmers. Some important diseases that commonly affect tomato plants include Fusarium wilt and anthracnose. Most farmer use chemical fungicides to control the diseases. These methods have greater negative impacts on both plants and the surrounding environment. One alternative control technique that can be used is the use of biological agents with antagonistic properties, such as Trichoderma sp. and Gliocladium sp. This research aims to assess antagonistic abilities of endophytic fungi Trichoderma sp. and Gliocladium sp. againts the pathogens responsible for suppresing the growth of these disease-causing phatogens in tomato plants. in the Laboratory of Plant Pest and Disease Science, OECF Building, Faculty of Agriculture, Universitas Mulawarman. The experiment was designed using a completely randomized single-factor design with four treatments and five replications. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance and the least significant difference test at a 5% significance level. The research results indicate that the antagonistic tests of Trichoderma sp. and Gliocladium sp. in vitro significantly differ againts the pathogenic fungi Fusarium sp. and Colletotrichum sp. Furthermore, it was found that the antagonistic fungus Gliocladium sp. is the best fungus capable of suppressing the growth of important pathogenic fungi in tomato plants.Keyword: Gliocladium sp., Trichoderma sp., Fusarium sp., Colletotrichum sp. and Tomato (Solanum lycopersicum)
KAJIAN FAKTOR IKLIM TERHADAP DINAMIKA POPULASI Pyricularia oryzae PADA BEBERAPA VARIETAS PADI SAWAH (Oryza sativa) Sopialena, Sopialena
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 14, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/af.v14i2.1432

Abstract

Study On Climate Factor Pyricularia oryzae Population Dynamics Of Some Variety Rice Field Rice (Oryza sativa). The research was conducted in June-September 2015 in the district of North Samarinda. The purpose of this study was to determine the climatic factors (temperature, humidity and rainfall) the most dominant on the rate of broad patches, the rate of infection of the pathogen P. intensity of the attacks and the number of spores of P. oryzae oryzae on rice varieties of rice (Inpari7, Ciherang and Cibogo) and to determine the effect of the number of spores of P. oryzae against pathogen attack intensity of P. oryzae on rice varieties of rice (Inpari7, Ciherang and Cibogo) in the district of North Samarinda. The parameters used in this study are climatic factors (humidity, temperature and rainfall) in the field, the extensive development of the disease spots of blast, the intensity of the attack and the number of pathogenic P. oryzae spores of P. oryzae.The results showed that the climatic factors influencing the development of extensive patches of blast disease, the intensity of the attack and the number of pathogenic P. oryzae spores of P. oryzae. Inpari7 varieties are more susceptible than Ciherang and Cibogo seen extensive development of the high spots of blast disease, the intensity of the attack and the number of pathogenic P. oryzae spores of P. oryzae at the beginning of the first week after planting.
EFEKTIFITAS BEBERAPA FUNGISIDA TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT DAN PRODUKSI TANAMAN CABAI (Capsicum frutescens) Sila, Surya; Sopialena, Sopialena
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 15, No 1 (2016): Maret
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/af.v15i1.1789

Abstract

Efektifitas Beberapa Fungisida Terhadap Perkembangan Penyakit Dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum frutescens). Aplikasi beberapa fungisida terhadap berbagai macam intensitas serangan penyakit pada pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.) khususnya penyakit bercak daun dan Antraknose yang sering menyerang tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pengaruh aplikasi beberapa fungisida dalam mengendalikan intensitas serangan penyakit bercak daun dan Antraknose oleh cendawan Cercospora dan colletotrichum capsici terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum frutescens L. ) dan untuk mengetahui fungisida manakah yang paling efektif dalam menekan perkembangan cendawan penyebab penyakit bercak daun dan Antraknose terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum frutescens L. ).Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 5 bulan terhitung mulai persiapan lahan penelitian hingga pengambilan data terakhir. Tempat penelitian berlokasi di lempake Samarinda.Hasil penelitian menunjukkan aplikasi beberapa fungisida mampu menekan intensitas penyakit-penyakit pada tanaman cabai rawit baik penyakit bercak daun maupun terhadap busuk buah. Intensitas penyakit bercak daun terendah terdapat  pada perlakuan penyemprotan 7 hari sekali yaitu 1,92 % pada umur 33 hari setelah tanam. Intensitas penyakit busuk buah terendah terdapat pada perlakuan penyemprotan 7 hari sekali yaitu 1,25 % pada umur 88 hari setelah tanam. Penyebab penyakit yang ditemukan pada tanaman cabai besar adalah: Cercospora capsici (penyebab penyakit bercak daun) dan  Colletotricum capsici (penyebab penyakit busuk buah). Aplikasi fungisida Antracol adalah jenis fungisida yang paling efektif menekan laju intensitas serangan penyakit bercak daun dan Antraknose yang disebabkan oleh cendawan Cercospora dan colletotrichum capsici terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Dapat dilihat dari produksi terbaik pada perlakuan penyemprotan 7 hari sekali yaitu rata-rata jumlah buah 231,74 buah, rata-rata berat segar 157,65g ha-1.
Giving Effect Trichoderma sp. In Tomato Plant To Production Factors Sopialena, Sopialena
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 17, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/af.v17i2.3620

Abstract

Research on the effect of Trichoderma sp. In tomato plants on the factors of production is a study carried out for 4 months starting from June to October 2017. The research was carried out at the Green House of the Faculty of Agriculture, Mulawarman University, Samarinda.This research was conducted using a completely randomized design (CRD) with each treatment repeated 3 times. The treatment is Po: Without Trichoderma sp. / Control treatment; P1: 25 g culture of Trichoderma sp. per polybag; P2: 30 g of mushroom culture Trichoderma sp. per polybag; P3: 35 g of mushroom culture Trichoderma sp. Per polybag; and P4: 40 g culture of Trichoderma sp. per polybag As the second factor, tomato varieties include V1: Lentana; V2: Permata and V3: Ratna. The data observed included the number of planting fruit (calculated from the first harvest to the last harvest for each crop); Average diameter of planting fruit and. The average weight of fresh fruit plantations.The results showed that the dose of 40g Trichoderma sp. most effective in controlling F. oxysporum wilt disease on tomato plants, which can increase tomato crop production by 293.48 g. Variety treatment was not significantly different from all treatments. So that there is no interaction between Trichoderma sp. and tomato varieties.
EKSPLORASI JAMUR ENDOFIT PADA Echinochloa crus-galli (L.) P.Beauv UNTUK MENGENDALIKAN JAMUR Pyricularia oryzae PADA TANAMAN PADI SECARA IN-VITRO Sopialena, Sopialena; Suryadi, Andi; Sofian, Sofian; Azzahra, Jessie
Agrifor : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan Vol 23, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/agrifor.v23i2.7622

Abstract

Penyakit penting pada padi salah satunya yaitu penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. Penyakit menyerang hampir seluruh bagian tanaman seperti daun, buku-buku pada batang dan ujung tangkai malai. Pengendalian hayati menggunakan agensia hayati yang mempunyai kemampuan relatif lebih baik daripada yang lain adalah jamur endofit. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi jenis jamur endofit pada gulma Echinochloa crus-galli L. dan menganalisis jenis jamur endofit yang efektif untuk menghambat pertumbuhan jamur Pyricularia oryzae. Penelitian ini dilaksanakan bulan Agustus – November 2023 di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) sebanyak 4 perlakuan yang diulang sebanyak 10 kali. Percobaan perlakuan menggunakan (P1) Pyricularia oryzae vs Jamur Aspergillus niger, (P2) Pyricularia oryzae vs Jamur Gliocladium sp., (P3) Pyricularia oryzae vs Jamur Trichoderma sp. dan (P0) Pyricularia oryzae tanpa perlakuan (kontrol). Berdasarkan hasil penelitian setelah dilakukan uji daya hambat dari masing – masing jamur endofit pada hari ke tujuh memiliki perbedaan dimana persentase daya hambat tertinggi yaitu pada jamur Gliocladium sp. dengan persentase sebesar 16.5% diikuti oleh jamur Trichoderma sp. dengan persentase sebesar 5.70% dan disusul oleh jamur Aspergullis niger dengan persentase sebesar 2.78%. 
Identifikasi Patogen Pascapanen pada Buah Tomat (Solanum lycopersicum) di Pasar Tradisional Kota Samarinda Mirza, Muhammad Alexander; Sopialena, Sopialena; Rachim, Abdul Muhammad
Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab Vol 7, No 2 (2025): Agroekoteknologi Tropika Lembab Volume 7 Nomor 2 Februari 2025
Publisher : Mulawarman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jatl.7.2.2025.18950.119-127

Abstract

Mikroorganisme atau mikroba merupakan organisme yang memiliki ukuran yang sangat kecil. Salah satu jasad renik yang termasuk dalam mikrob adalah jamur dan bakteri patogen. Jamur dan bakteri patogen merupakan penyebab penurunan produk pascapanen buah tomat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis jamur dan bakteri patogen pascapanen pada buah tomat yang dijual di empat pasar tradisional Kota Samarinda.Pengambilan sampel dilakukan di lokasi pedagang buah tomat di empat pasar tradisional yang ada di Kota Samarinda, yaitu Pasar Merdeka, Pasar Segiri, Pasar Rahmat, dan Pasar Sungai Dama. Pengamatan dilakukan di Laboratorium Ilmu Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Mulawarman.pada bulan Maret-Juni 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei di lapangan dan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis di laboratorium. Data hasil wawancara, pengamatan gejala dan tanda patogen pada buah tomat serta identifikasi karakteristik patogen secara makroskopis dan mikroskopis dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar yang dibandingkan dengan literatur yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat jenis jamur patogen yang menyebabkan kerusakan pada buah tomat pascapanen di pasar tradisional Kota Samarinda, yaitu Geotrichum sp., Fusarium oxysporum, Colletotrichum sp., Mucor sp., dan Aspergilus niger. Jenis dan spesies bakteri yang menyebabkan kerusakan pada buah tomat pascapanen yaitu bakteri gram negatif, bakteri gram negatif dan berbentuk kokus
Antagonistic Test of Endophytic Fungi from Black Pepper (Piper nigrum L.) against Fusarium oxysporum the Main Cause of Fusarium Wilt in Chili Plants (Capsicum annuum L.) Sofian, Sofian; Sopialena, Sopialena; Aprilia, Risna
Journal of Agriprecision & Social Impact Vol. 2 No. 3 (2025): November: JAPSI (Journal of Agriprecision & Social Impact)
Publisher : CV. Komunitas Dunia Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62793/japsi.v2i3.75

Abstract

Fusarium wilt, caused by Fusarium oxysporum, is a major constraint in chili (Capsicum annuum L.) cultivation due to its severe impact on plant health and yield. Excessive use of synthetic fungicides to control this disease has resulted in environmental pollution and the development of resistant pathogens. This study aimed to identify endophytic fungi from black pepper (Piper nigrum L.) and evaluate their antagonistic potential against F. oxysporum as an eco-friendly biological control strategy. The novelty of this research lies in the exploration of endophytic fungi from black pepper, a crop not commonly studied as a microbial reservoir for chili disease control, providing new insight into cross-host endophytic interactions and their potential application in sustainable plant protection. Endophytic fungi were isolated from the stems, roots, and leaves of healthy black pepper plants, while F. oxysporum isolates were obtained from diseased chili plants. All isolates were cultured on Potato Dextrose Agar (PDA) and tested using a dual culture assay under a completely randomized design (CRD) with five treatments and six replications. Inhibition percentage and colony growth were observed for seven days, and antagonistic mechanisms such as competition, antibiosis, and parasitism were examined microscopically. Four endophytic fungi—Trichoderma sp., Gliocladium sp., Aspergillus niger, and Aspergillus flavus—showed antagonistic activity against F. oxysporum. The highest inhibition rates (60–75%) were observed in Gliocladium sp. and Trichoderma sp., primarily through competition and antibiosis mechanisms. These results demonstrate the potential of black pepper-derived endophytic fungi as novel, effective, and environmentally safe biocontrol agents, offering an innovative approach to developing sustainable alternatives to synthetic fungicides in integrated plant disease management systems.