Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Risk Identification and Safety Assessment in Kemuning Sky Hills Tourism Area Yasmin Zulfa Agustin Alfiyah Hariyanto; Bambang Suhardi; Rahmaniyah Dwi Astuti; Irwan Iftadi; Eko Liquiddanu; I Wayan Suletra; Ade Aisyah Arifna Putri
Performa: Media Ilmiah Teknik Industri Vol. 25 No. 1 (2026): Performa: Media Ilmiah Teknik Industri
Publisher : Industrial Engineering Study Program, Faculty of Engineering, Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/performa.v25i1.2841

Abstract

Kemuning Sky Hills is a natural tourist attraction in Karanganyar Regency that offers various extreme rides, including a glass bridge, a sky swing, a flying chair, and a flying bicycle. Although it attracts tourists, the safety risks associated with these rides have not been optimally managed. This study aims to assess safety risks using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determination of Control (HIRADC) and provide a deeper understanding of the importance of safety risk analysis in extreme tourism destinations. The risk assessment is based on the Australian Standard HB 205-2004 reference. Data were collected through direct observation, interviews with officers and visitors, and field documentation. The results showed that several potential hazards fall into the High Risk to Extreme Risk categories. There are 10 risks in the High Risk category and 4 risks in the Extreme Risk category. The most extreme risks identified include overloading due to visitor density, gaps in the fence on the Glass Bridge, broken ropes on the Sky Swing, and the threat of landslides in the tourist area. Proposed controls include installing safety nets, rope guides, and warning signs, establishing a structured maintenance schedule, and providing education. This study concludes that safety management at Kemuning Sky Hills should be strengthened by implementing an integrated, structured safety management system that includes standardized operational procedures, routine risk assessments, clear emergency response mechanisms, and continuous staff training to ensure a consistently safe and sustainable tourist environment.
Assessing Readiness Index toward Industry 4.0 of SMEs Leather Industry in Yogyakarta's Ratna Purwaningsih; Ade Aisyah Arifna Putri; Melati Syahrani Ryandy; Ary Arvianto; Chaterine Alvina Prima Hapsari; Rifki Daris Dzulfikar
MIX: JURNAL ILMIAH MANAJEMEN Vol. 16 No. 1 (2026): MIX : Jurnal Ilmiah Manajemen
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jurnal_mix.2026.v16i1.016

Abstract

Objective: This study focuses on create a readiness index measurement model tailored to the transformation of technology in the creative industry for small and medium-sized enterprises (SMEs)measuring the readiness level of leather SMEs as they transition towards Industry 4.0. The indicators developed in INDI 4.0 need to be adjusted again when used to measure the readiness of the creative industry. After developing the measurement model, then proceed with test the model by using it to assess the readiness levels of leather SMEs in Yogyakarta. Based on the results of the readiness index assessment, which indicators need to be improved will be identified and be the basis for formulate recommendations to enhance the readiness levels of leather SMEs.Methodology: The research methodology is divided into Developing Measurement Indicators and Measuring Readiness Index. Developing indicators was conducted through literature review and validated with expert opinion using the Delphi method. Measuring the readiness index was conducted using the multidimensional scaling method and validated using the Monte Carlo method.Finding: The contribution of this research is to develop dimensions and indicators suitable for the creative industry. These additional indicators shed light on digitalization issues in marketing and finance that were not yet fully addressed in INDI 4.0. There is also additional collaboration to strengthen supply chain channels and expand factory operations. The result of measuring the readiness index give a value of 1.92, categorized as Level 1 (initial readiness). The highest value of readiness index is in the product and service dimension and the lowest value is in the technology dimension. The assessment results revealed several points on what the leather creative industry needs to improve to raise the readiness index such as strengthening business management skills, particularly related to digital marketing and financial skills, technology investments, and intensive collaboration with product suppliers and distributors.
MODEL MULTI-DEPOT VEHICLE ROUTING UNTUK SISTEM TRANSPORTASI BALIKPAPAN CITY TRANS Tito Bisma May Willis; Ade Aisyah Arifna Putri; Zelania In Haryanto; Ahmad Jamil; Anis Rohmana Malik
LOGISTIK Vol. 18 No. 02 (2025): Logistik
Publisher : Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/logistik.v18i02.60828

Abstract

Transportasi sangat penting bagi kemajuan kota cerdas. Balikpapan, sebagai salah satu kawasan penting di Indonesia, menghadapi tantangan dalam mengatur peningkatan mobilitas penduduk. Permasalahan utama meliputi kemacetan lalu lintas, rute transportasi umum yang tidak teratur, serta tingginya biaya operasional. Vehicle Routing Problem (VRP) dapat meningkatkan efisiensi sistem transportasi. Penelitian ini menggunakan Multiple Depot Vehicle Routing Problem (MDVRP) untuk mengusulkan rute optimal untuk Balikpapan City Trans (Bacitra). Studi ini meninjau depot, jarak tempuh, jumlah armada, kapasitas kendaraan, waktu perjalanan, dan permintaan penumpang dalam koridor layanan untuk meningkatkan efisiensi rute transportasi. Sistem transportasi publik Bacitra disusun berdasarkan model MDVRP. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rute koridor Bacitra yang lebih optimal, efisien, dan ramah pengguna. Sebelum optimasi, 17 kendaraan melayani 18 titik pelanggan dari beberapa depot. Melalui optimasi rute dan penjadwalan, ditemukan bahwa hanya 14 kendaraan yang dibutuhkan untuk melayani seluruh lokasi pelanggan yang ada. Tiga kendaraan yang tersisa dialokasikan menggunakan VRP untuk melayani rute baru yang mencakup titik terbanyak dengan jarak tempuh total minimum.
PENENTUAN LOKASI COLD STORAGE DAN RUTE KENDARAAN PADA PRODUK PERISHABLE DENGAN LOCATION ROUTING PROBLEM: 246 - 256 Tito Bisma May Willis; Ade Aisyah Arifna Putri
SPECTA Journal of Technology Vol. 10 No. 2 (2026): Specta Journal of Technology
Publisher : LPPM ITK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35718/specta.v10i2.8481356

Abstract

Jarak tempuh dalam aktifitas distribusi merupakan suatu variable cost yang dibebankan oleh pihak penanggung, semakin jauh jarak tempuh dalam pendistribusian atau penjemputan barang maka akan semakin besar variable cost yang harus ditanggung. Jarak tempuh dapat dipangkas dengan cara pengambilan rute yang efisien atau dengan merencanakan penentuan lokasi fasilitas yang efektif. Studi kasus dalam penelitian ini adalah pengangkutan produk susu segar peternak sapi perah oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Kertajaya dari pos pengumpulan ke cold storage yang melibatkan lebih dari 700 peternak sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui solusi terbaik dari permasalahan lokasi dan rute yang dihasilkan oleh Maximal Covering Models dalam penentuan lokasi cold storage, dan Vehicle Routing Problem dengan algoritma Tabu Search dalam penentuan rute kendaraan untuk meminimasi jarak tempuh. Dari hasil Maximal Covering Model, menghasilkan usulan lokasi cold storage baru dengan cakupan yang dilayani lebih besar dengan jarak tempuh terpendek, serta algoritma Tabu Search dalam penentuan rute kendaraan menghasilkan usulan rute yang paling optimal. Usulan dalam penelitian ini dapat memangkas jarak tempuh kendaraan hulu sebesar 12.1 km dan kendaraan hilir sebesar 4.2 km setiap harinya, serta efisiensi jumlah kendaraan hulu sebanyak dua unit kendaraan
Inovasi Inkubator Fermentasi Tempe sebagai Implementasi SDGs 9 pada IKM Tempe Obor Mojosongo, Surakarta Rahmaniyah Dwi Astuti; Bambang Suhardi; Ade Aisyah Arifna Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan aplikasi Teknologi Vol. 4, No. 2: October 2025
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.adipati.2025.v4i2.8222

Abstract

Proses fermentasi tempe pada Industri Kecil dan Menengah (IKM) umumnya masih dilakukan secara manual sehingga sering menimbulkan ketidakkonsistenan suhu dan kelembapan, yang berdampak pada lamanya waktu fermentasi serta kualitas produk yang kurang seragam. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membantu mitra IKM Tempe dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas melalui penerapan inkubator fermentasi tempe yang stabil, terjangkau, dan mudah dioperasikan. Inkubator dirancang menyerupai kabinet logam dengan enam tingkat rak tarik yang ergonomis, dilengkapi sembilan lampu pijar sebagai sumber panas dan lima exhaust fan untuk sirkulasi udara, dengan pengoperasian sederhana menggunakan saklar manual. Mitra dilibatkan dalam proses uji coba dan pelatihan penggunaan alat. Hasil pendampingan menunjukkan inkubator mampu menjaga suhu 30–40 °C dan kelembapan 60–70%. Tempe yang dihasilkan memiliki kualitas lebih seragam dari segi tekstur, aroma, dan warna, serta mengurangi risiko kegagalan fermentasi. Dengan alat yang ergonomis dan biaya produksi relatif murah, kegiatan ini dinilai memberikan manfaat nyata bagi mitra IKM, serta mendukung pencapaian SDG 9 (industri, inovasi, dan infrastruktur).