Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Identification of Rice Field Potential Using a Geographic Information System Approach in Sambas Regency Romiyanto, Romiyanto; Agustine, Leony
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11386

Abstract

Sustainable food cropland protection is similar to the system and process of planning and determining, developing, utilizing, guiding, controlling, and supervising sustainable food cropland and its areas. This study aims to determine the distribution and changes in the intended rice fields, especially in Sambas Regency, West Kalimantan Province. The research methodology refers to the Decree of the Director General of Agricultural Infrastructure and Facilities Number 14/KPTS/SR/B/01/2022 concerning Technical Guidelines for Recommendations for Sustainable Food Cropland Protection. The initial stage of implementation is collecting data from relevant agencies, then creating a work map, collecting field data (groundcheck) in the form of open camera photos at 4,213 points. Then, field data processing is carried out and then the preparation of updated raw rice field data. The results of the RPLP2B study in Sambas Regency show that based on the type of irrigation, rice fields in Sambas Regency are identified as technical irrigated rice fields with an area of ± 643.12 ha, non-technical irrigation ± 16,415.69 ha, and non-irrigated rice fields ± 26,976.67 ha, the area of rice fields with IP 100 reaches ± 10,091.15 ha, IP 150 covers an area of ± 5,614.59 ha, IP 200 covers an area of ± 27,943.68 ha, IP 250 covers an area of  ± 50.43 ha, and the area of land with IP 300 covers an area of ± 335.64 ha. The conclusion is that the potential of rice fields in Sambas Regency is as follows: Of the total 43,508.29 ha of raw rice fields, only 93.65% or 40,743.77 ha of rice fields have been identified, the remaining 6.35% consists of others, food fields, built-up areas and water bodies.
Analisis Yuridis Inkonsistensi Undang - Undang Nomor 44 Tahun 2009 dan Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2023 Terkait Pengawasan Terhadap Rumah Sakit Romiyanto, Romiyanto; Supeno, Supeno; Wardani, Nyimas Enny Fitriya
Legalitas: Jurnal Hukum Vol 17, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/legalitas.v17i2.1226

Abstract

Adanya inkonsistensi antara Pasal 453 dan 454 Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Pasal 1169 dan 1170 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Kesehatan, yang secara normatif merupakan pengulangan tetapi mengandung implikasi terhadap kejelasan status hukum regulasi sebelumnya, khususnya yang berkaitan dengan keberadaan dan kewenangan Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui, memahami dan menganalisis secara mendalam terkait implikasi yuridis dari inkonsistensi norma antara Pasal 453 dan 454 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 dan Pasal 1169 dan Pasal 1170 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 terhadap sistem pengawasan rumah sakit di Indonesia. untuk mengetahui, memahami dan menganalisis upaya harmonisasi hukum yang diperlukan untuk menyelesaikan disharmoni antara Undang- Undang Nomor 44 Tahun 2009 dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 dan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2013 dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024. Dalam penulisan tesis ini, Metode penelitian yang digunakan pendekatan secara yuridis normatif, yaitu dengan mengkaji menganalisis data sekunder yang berupa bahan-bahan hukum terutama bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memahami hukum sebagai seperangkat peraturan atau norma-norma positif dalam sistem perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Analisis Yuridis Inkonsistensi Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Serta Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2013 Dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 Terkait pengawasan Terhadap Rumah Sakit adalah Inkonsistensi norma yang muncul akibat keberlakuan bersamaan Pasal 453 UU No. 17/2023 dan Pasal 1169 PP No. 28/2024 yang mempertahankan regulasi lama dan Pasal 454 UU No. 17/2023 serta Pasal 1170 PP No. 28/2024 yang mencabut UU No. 44/2009 dan PP No. 49/2013 tanpa pengecualian telah menciptakan kekosongan yuridis dan fragmentasi kewenangan dalam sistem pengawasan rumah sakit. Penulis menyarankan bahwa penerapan asas lex specialis derogat legi generali menuntut agar norma khusus mengenai Pencegahan dan Pengawasan oleh Badan Pengawas Rumah Sakit dalam PP No. 49/2013 dijadikan prioritas atas norma umum dalam PP No. 28/2024, sehingga status kelembagaan, kewenangan, dan fungsi BPRS tidak hilang begitu saja saat norma umum berlaku. Oleh karena itu, pemerintah seyogyanya merevisi Pasal 1170 PP No. 28/2024 untuk mengecualikan ketentuan terkait BPRS (Pasal 60–62 PP No. 49/2013), sehingga penerapan prinsip lex specialis dapat menjaga kontinuitas pengawasan non-teknis rumah sakit. Prinsip ini merupakan bagian dari hierarki perundang-undangan dan merupakan pendekatan legal reasoning dalam harmonisasi regulasi yang bijak dan berkelanjutan.
Penyiapan Lahan Jagung Tanpa Bakar Untuk Mendukung Swasembada Pangan Di Kelompok Tani Tuah Talino Kelurahan Mayasopa Kecamatan Singkawang Timur Kota Singkawang Riduansyah, Riduansyah; Romiyanto, Romiyanto; Nuriman, Muhammad; Vitri Indrawati, Urai Suci Yulies
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.7032

Abstract

Pelaksanaan PKM ini bertujuan untuk melakukan penyuluhan kepada anggota kelompok tani Tuah Talino di Kelurahan Mayasopa Kecamatan Singkawang Timur Kota Singkawang Provinsi Kalimantan Barat dalam upaya meminimalkan pembukaan lahan tanpa bakar. Pembukaan lahan dengan cara membakar sampai saat ini masih dilakukan oleh beberapa petani, selain murah hal ini juga di dukung oleh Perda Kalbar No 1 Tahun 2022 Tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal. Namun harus dilakukan secara terbatas dan terkendali, serta tidak boleh dikukan pada lahan gambut. Penyuluhan dimaksud dilakukan selama 2 bulan terutama pada saat masyarakat membuka lahan. Kegiatan penyuluhan salah satunya adalah untuk memperkenalkan jenis-jenis sekat bakar alami maupun buatan guna memitigasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Disisi lain, juga menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam masyarakat lokal, yang sudah lama menghilang, dimana hal dimaksud adalah gotong royong dalam membuka lahan menggunakan peralatan tradisional. Upaya ini sangat efektif dalam upaya menghilangkan pembukaan lahan dengan cara membakar, sehingga permasalahan kebakaran lahan dapat terselesaikan, selain itu juga dapat memupuk tali silaturahmi dan kekompakan antar masyarakat dan kelompok tani dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
PENGARUH PEMBERIAN TRICHOKOMPOS DAN BIOCHAR SEKAM PADI TERHADAP SERAPAN HARA N, P, K SERTA HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) PADA TANAH ULTISOL Nurfadillah, Jelita Amalia; Hayati, Rita; Romiyanto, Romiyanto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.99147

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh trichokompos dan biochar sekam padi terhadap serapan hara N, P, K dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) pada tanah ultisol. Penelitian menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor Trichokompos dengan kode (C) yang terdiri dari dosis: C0 tanpa perlakuan trichokompos, C1 20 ton/ha atau 400 gram/polybag, dan C2 30 ton/ha atau 600 gram/polybag, sedangkan faktor Biochar dengan kode (B) terdiri dari dosis B0 tanpa perlakuan, B1 10 ton/ha atau 200 gram/polybag, B2 20 ton/ha atau 400 gram/polybag dan B3 30 ton/ha atau 600 gram/polybag. Perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 polybag, setiap perlakuan tanaman diulang sebanyak 2 set perlakuan, sehingga total 72 polybag. Variabel pengamatan adalah serapan nitrogen tanaman, serapan fosfor tanaman, serapan kalium tanaman, berat kering bagian atas tanaman, dan berat pipilan per tanaman. Perlakuan trichokompos dosis 30 ton/ha meningkatkan serapan P, serapan K, berat kering bagian atas tanaman, dan berat pipilan per tanaman.
Analisis Laju Infiltrasi Tanah Gambut Pada Beberapa Penggunaan Lahan Di Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya Amelia, Nindia; Widiarso, Bambang; Romiyanto, Romiyanto
Pedontropika: Jurnal Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Vol 12, No 1 (2026): Februari
Publisher : Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pedontropika.v12i1.91588

Abstract

Mega Timur Village, Kubu Raya Regency has a type of peat soil that is utilized by the community as a livelihood such as farming and gardening. The availability of water in the land will affect plant growth and agricultural yields, one of which is the process in the hydrological cycle that plays a very important role in controlling surface flow and the availability of water in the soil is infiltration. This study aims to identify the physical properties of peat soil and determine the differences in infiltration rates in the use of rubber plantations, oil palm plantations and mixed gardens in Mega Timur Village. The study was conducted for 4 months from September to December in Mega Timur Village, Sungai Ambawang District, Kubu Raya Regency. Sampling was carried out using the transect method with a distance between points of 20 meters at three land uses of five points each. The results of the One Way ANOVA test on land use showed that land use did not significantly affect the parameters of soil maturity, bulk density, total porosity, field condition water content and permeability at a soil depth of 0-30 cm. The constant infiltration rate in mixed gardens was 452.14 mm/hour (very fast criteria), rubber gardens were 338.33 mm/hour (very fast criteria) and oil palm gardens were 195.80 mm/hour (fast criteria).
Peranan Red Mud dan Pupuk Kandang Kambing Terhadap Ketersediaan Hara N, P, K Serta Pertumbuhan Tanaman Jagung pada Tanah Gambut Tanti, Dwi; Suswati, Denah; Romiyanto, Romiyanto
Pedontropika: Jurnal Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Vol 12, No 1 (2026): Februari
Publisher : Soil Science Department, Faculty of Agriculture, Tanjungpura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/pedontropika.v12i1.102368

Abstract

The use of peat soil as a growing medium for corn plants faces various problems regarding soil fertility and low productivity. One of the materials that can improve fertility is red mud, which can increase the pH of peat soil, and goat manure as a soil fertility improver. This study aims to determine the effect of red mud and goat manure on increasing the availability of N, P, and K nutrients in peat soil. The study was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, and soil sample analysis was carried out at the Chemistry and Soil Fertility Laboratory of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University. The research design used in this study was a completely randomized design (CRD) factorial pattern and Duncan's test with a 5% confidence level, consisting of 9 treatments and 3 replicates, resulting in 27 polybags (plants). The red mud treatment doses were: M0 (0 g/polybag), M1: 100 g/polybag (4 tons/ha), M2: 200 g/polybag (8 tons/ha). Goat manure treatment doses: K0 (0 g/polybag), K1: 1500 g/polybag (60 tons/ha), K2: 3000 [A3.1]g/polybag (120 tons/ha). The parameters observed were Soil Reaction (Soil Acidity), Soil Organic Carbon, Total Soil Nitrogen (N), Available Phosphorus (P), Exchangeable Potassium (K), Plant Height, and Corn Stem Diameter. Based on the research results, it can be concluded that the M2K2 treatment with 200 g/polybag (8 tons/ha) of red mud and kambi manure.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN TANAMAN KELAPA SAWIT DI PTPN IV REGIONAL V GUNUNG EMAS KECAMATAN TAYAN HILIR KABUPATEN SANGGAU Putra, Muhammad Rizky Haikal; Krisnohadi, Ari; Romiyanto, Romiyanto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 2
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i2.102668

Abstract

Tanah Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut akibat curah hujan yang tinggi. Tanah ini dicirikan dengan agregat kurang stabil, permeabilitas, bahan organik dan tingkat kebasaan rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sub-kelas kesesuaian lahan, mengidentifikasi karakteristik lahan, dan rekomendasi untuk pengelolaan lahan untuk menetukan faktor pembatas lahan tanaman kelapa sawit di PTPN IV kebun Gunung Emas Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau serta memberikan saran berdasarkan faktor pembatas yang ada di lahan perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Gunung Emas Afdeling VI Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan ialah metode grid, pengambilan sampel tanah secara komposit pada 12 titik pengamatan dan menganalisis sampel tanah di laboratorium. Kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kelapa sawit digolongkan kedalam kategori sesuai marginal (S3) dengan memiliki faktor pembatas yaitu curah hujan (w) dan K2O (n). Kesesuaian lahan potensial tanaman kelapa sawit digolongkan kedalam kelas sesuai marginal (S3) dengan faktor pembatas yaitu curah hujan (w). Hasil penelitian akan disajikan kedalam bentuk peta.
Assessing environmental degradation in a tropical watershed: Evidence from artisanal and small-scale gold mining (ASGM), and plantation expansion in West Kalimantan, Indonesia Desmaiani, Herda; Akbar, Aji Ali; Romiyanto, Romiyanto; Hermawati, Ery; Suhartoyo, Aji; Rahma, Syafira Nur; Jati, Dian Rahayu; Saziati, Ochih; Sulastri, Aini; Jumiati, Jumiati
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 13 No. 2 (2026)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2026.132.9859

Abstract

This study presents a systematic environmental assessment of the Raya River Sub-Watershed in West Kalimantan, Indonesia, from 2018 to 2025. It addresses a critical data gap in a region heavily impacted by artisanal and small-scale gold mining (ASGM) and oil palm expansion. Establishing the first multi-year physicochemical and sedimentological dataset for this tropical catchment enables the identification of key drivers of ecosystem degradation. An analysis was conducted across nine strategic sampling points, with results indicating significant acidification (pH 4.10), elevated total suspended solids (up to 125 mg/L), and heavy metal concentrations in sediments exceeding international quality standards. Utilising X-ray fluorescence (XRF) spectroscopy, the study quantified community exposure to Pb (13.0-45.5 ppm), Fe (290.0-642.3 ppm), Sn (16.0-22.8 ppm), and Mn (67.9-233.0 ppm), signalling persistent toxicological risks. This research establishes a link between in-situ pollution monitoring and human health implications by associating ASGM with agricultural runoff and potential bioaccumulation. These findings provide a scientifically robust baseline, essential for informing targeted remediation strategies, including phytoremediation and erosion control, and for offering a framework for evidence-based environmental governance in contaminated tropical watersheds.