Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Hubungan Beban Kerja Mental Terhadap Kelelahan (Fatigue) dan Kejenuhan (Burnout) pada Pengemudi (Studi Kasus : PT. CSM CORPORATAMA (Indorent) Gunawan, Sahrul; Safar T, La Ode Ahmad; Gunawan, Suwardi
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 7 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.11206756

Abstract

PT CSM CORPORATAMA (Indorent) had several complaints from the employee shuttle driver, such as fatigue and boredom while driving. This is due to the uncertain working time of the employee shuttle driver, which directly affects mental condition, work fatigue and work burnout. Based on these problems, a calculation and analysis of the relationship between mental workload and fatigue and burnout is carried out for the driver. The method used is NASA-TLX because it has advantages by considering six components, namely Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Own Performance, Effort, and Frustation, the IFRC (Industrial Fatigue Research Committee) method has 30 subjective questions to measure work fatigue, and the MBI (Maslach Burnout Inventory) method has 22 subjective questions to measure work saturation. There were 4 respondents in the research. The results of the NASA-TLX method obtained an average mental load of 76.4 and it is classified as a high mental workload. In the IFRC method, the results of moderate fatigue levels were obtained for drivers 1 and 2, while drivers 3 and 4 obtained low fatigue levels. In the MBI method, it was found that all drivers experienced fatigue in the moderate category. The relationship between mental workload and fatigue and the relationship between mental workload and saturation, respectively, the two variables have a very strong relationship but there is no significance.
Analisis Postur Kerja Dengan Menggunakan Metode Novel Ergonomic Postural Assessment (NERPA) (Studi Kasus: Pabrik Tahu Kediri Samarinda) Syahrir, Faisal; Pawitra, Theresia Amelia; Gunawan, Suwardi
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.021

Abstract

Proses produksi tahu yang dilakukan oleh Pabrik Tahu Kediri Samarinda, dilakukan secara manual oleh pekerja serta dibantu oleh mesin penggilingan dan penyaringan. Pabrik Tahu Kediri termasuk kedalam industri padat karya yang membuat banyak postur kerja tidak netral seperti membungkuk saat proses perendaman, penyaringan, penggumpalan, dan pemotongan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keluhan MSD dengan menggunakan kuisioner GOTRAK dan menganalisis postur kerja dengan menggunakan metode NERPA. Berdasarkan kuisioner GOTRAK, diketahui tahap perendaman dan penggilingan memiliki tingkat risiko keluhan MSD pada punggung atas dan punggung bawah. Tahap pemasakan dan penyaringan tingkat risiko sedang pada siku, punggung atas, punggung bawah, dan lengan. Tahap penggumpalan dan pencetakan tingkat risiko tinggi pada punggung bawah serta tingkat risiko sedang pada punggung atas dan pinggul. Tahap pemotongan memiliki tingkat risiko tinggi pada punggung bawah dan tingkat risiko sedang pada bahu dan pinggul. Berdasarkan kuisioner GOTRAK, pekerja 1 memiliki tingkat risiko tinggi MSD pada punggung atas dan punggung bawah. Pekerja 2 tidak memiliki tingkat risiko tinggi MSD, sedangkan pekerja 3 dan 4  memiliki tingkat risiko tinggi MSD pada punggung bawah. Berdasarkan hasil GOTRAK yaitu > 30 % dari seluruh  jumlah pekerja tergolong pada tingkat risiko tinggi maka dari itu, dilanjutkan analisis postur kerja menggunakan metode NERPA. Berdasarkan metode NERPA, Tahap perendaman, pemasakan, penyaringan, dan penggumpalan mendapatkan action level 4 dengan final score 7. Tahap pemotongan mendapatkan action level 3 dengan final score 6. Action level 2 dengan final score 4 dari tahap penggilingan dan pencetakan. Diberikan usulan perbaikan pada tahap produksi yang mendapat final score diatas 5. Pada perendaman diberikan usulan perbaikan pada meja perendaman. Tahap pemasakan menerapkan usulan postur kerja netral, tahap penyaringan penambahan tangga pijakan dan tahap penggumpalan penambahan alat pengaduk. Tahap pemotongan menambahkan ketinggian meja.
Analisis Beban Kerja Fisik dan Kelelahan Kerja Pada Pekerja Fabrikasi Workshop PT. XYZ Yusfitrida, Yusfitrida Yusfitrida; Pawitra, Theresia Amelia; Gunawan, Suwardi
Proceeding Mercu Buana Conference on Industrial Engineering Vol 6 (2024): DOWNSTREAMING RESEARCH AND ENTREPRENEURSHIP IN THE DIGITAL ERA: CHALLENGING AND OPPORT
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/MBCIE.2024.014

Abstract

Departemen fabrikasi di PT.XYZ merupakan area dengan tingkat konsentrasi tinggi yang dituntut menyelesaikan pekerjaan dalam waktu terbatas tanpa mengabaikan prosedur yang ada. Permasalahan yang dihadapi mencakup beban kerja, kelelahan, dan kenyamanan saat bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beban kerja fisik, kelelahna kerja yang dialami pekrja, mengetahui apakah terdapat hubungan antara beban kerja fisik dan kelelahan kerja serta memberikan saran perbaikan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan mengatasi permasalahan tersebut serta meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Penelitian ini menganalisis beban kerja fisik dan kelelahan kerja menggunakan survei Gangguan Otot Tulang dan Rangka (GOTRAK), %CVL, kuesioner subjective self-rating test (SSRT), dan tes waktu reaksi terhadap rangsang suara. Berdasarkan hasil pengukuran, ditemukan bahwa pekerja dengan jenis pekerjaan yang berbeda memiliki beban kerja fisik yang berada dalam kategori ringan, dan tingkat kelelahan kerja berdasarkan SSRT juga berada dalam kategori ringan. Pengukuran waktu reaksi terhadap rangsang suara menunjukkan bahwa pekerja helper, scaffolder, welder, dan rigger berada dalam kategori normal, sementara fitter berada dalam kategori ringan dengan skor 243,4. Usulan perbaikan berfokus pada pekerja fitter untuk mengurangi beban kerja dan kelelahan kerja mereka.