Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MEMELIHARA RIAK SASTRA SUNDA Dian Hendrayana
Paramasastra : Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol. 4 No. 2 (2017): VOL 4 NO 2 BULAN SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/paramasastra.v4n2.p%p

Abstract

Sastra merupakan wahana untuk mengekspresikan sebuah situasi tertentu pada periode tertentu pula melalui tafsir dan kacamata sastrawan. Dengan pengertian lain, sastra bisa menjadi media perekaman sosial kemasyarakatan tertentu untuk dibaca, ditelaah, dan dijadikan acuan untuk membentuk suasana serta karakter masyarakatnya di kemudian hari. Sastra Sunda tentu saja merupakan rekaman dari situasi kehidupan sosial masyarakat Sunda. Sastra Sunda bisa menjadi media dan menjadikannya album sosial kemasyarakatan untuk ditelaah dan dijadikan pijakan demi menunaikan pola sosial kemasyarakatan di kemudian hari bagi masyarakat Sunda yang lebih berkembang dan maju. Sementara itu, nyaris di setiap sudut, pengaruh asing seolah berlomba-lomba merangsek ke masyarakat kita. Tak terkecuali di masyarakat Sunda. Berkembangnya dunia teknologi, serta merta akan mampu mengubah cara bersikap dan berfikir bagi masyarakat agar tetap melaju sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zamannya.Persoalannya adalah, bagaimana masyarakat Sunda mampu memelihara dan mempertahankan keberadaan sastra Sunda sebagai media rekam masyarakatnya. Padahal, di samping upaya pemeliharaan dan pelestarian keberadaan sastra, baik tulis maupun lisan, pengaruh asing tadi begitu deras menerjang tatanan sosial kemasyarakatan di tatar Sunda. Sebagai sebuah entitas yang serta-merta bisa memorak-porandakan keberadaan sosial masyarakat, maka pengaruh asing itu jelas harus disikapi dengan hati-hati dan pikiran bijak.Tentu saja, upaya-upaya dengan cara bekerja keras dan upaya-upaya konstruktif harus segera dilakukan. Pemberlakuan upaya ini tentu dengan melibatkan berbagai pihak, lembaga-lembaga terkait baik pemerintah maupun swasta.  
Sistem Nama Diri Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Dede Kosasih; Dian Hendrayana; Winci Firdaus; Denny Adrian Nurhuda; Basori Basori
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6106

Abstract

The background of this research is the curiosity about the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people. In the name string generally implies faith and wisdom (wisdom) and can reflect prayer, ideals (expectation). This means that the name given (bears) will be in accordance with the demands (expectations) of the community at the time it was made. The purpose of this study is to photograph the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people and to examine the factors and values underlying this practice. This study uses a qualitative methodological approach, namely descriptive analytical method. The data source in this study is the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people in three generations. Data collection techniques in this study were participant observation and observation and note-taking techniques. Data analysis techniques begin with collecting data, reducing data, conducting analysis based on classification. The results of this study show that the pattern of giving and changing names is caused by several reasons. First, driven for psychological reasons, in the form of hopes such as for the sake of glory, fame, profit and avoidance of disaster as well as inner satisfaction. Second, related to socio-cultural values that have roots in the past. From the diachronic study, the pattern of naming the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people has experienced a shift, although the shift or change is relatively not that massive. This is because the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people still adhere to traditions and customs that have been passed down from generation to generation. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan praktik pemberian nama diri di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Dalam untaian nama itu umumnya menyiratkan keyakinan dan kebijaksanaan (wisdom) serta dapat merefleksikan doa, cita-cita (expectation). Artinya bahwa nama yang diberikan (disandangnya) tersebut akan sesuai dengan tuntutan (harapan) masyarakat pada masa dibuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret praktik pemberian nama diri dalam masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dan akan mengkaji faktor-faktor dan nilai-nilai apa saja yang melatarbelakangi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif yakni metode deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam tiga generasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan serta teknik simak dan catat. Teknik analisis data dimulai dengan mengumpulkan data, mereduksi data, melakukan analisis berdasarkan klasifikasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pola pemberian maupun pergantian nama disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, didorong karena alasan psikologis, berupa harapan seperti demi kejayaan, ketenaran, keuntungan dan terhindar dari malapetaka serta kepuasan batiniah. Kedua, yaitu berkaitan dengan nilai sosio-kultural yang mempunyai akar ke masa silam. Dari kajian secara diakronis pola pemberian nama masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami pergeseran, walaupun pergeseran atau perubahan itu relatif tidak begitu masif. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih pengkuh (kuat) memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Rorokan Adat Struktur Kemasyarakatan Tradisional di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi (Kajian Etnografi) ELVA YULIA SAFITRI; DEDE KOSASIH; DIAN HENDRAYANA
JALADRI : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 1 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i1.3544

Abstract

The background of the research was carried out due to the lack of social knowledge about the traditional social system that is still carried out in the lives of indigenous peoples. The purpose of this study are to describe 1) the history of Kasepuhan Ciptagelar, 2) the role and function of the elders of Kasepuhan as well as the traditional customs or social system in Kasepuhan Ciptagelar, and 3) the governance of Kasepuhan Ciptagelar. The research method used is descriptive qualitative-participant method, by using an ethnographic understanding that has the purpose of circumstance research, by participating into the lives of the people researched. The techniques used are participatory observation techniques, interviews, and documentation.
PELATIHAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN “MERDEKA BELAJAR” BAGI GURU BAHASA SUNDA DI KOTA SUKABUMI Ruhaliah, Ruhaliah; Sudaryat, Yayat; Isnendes, Retty; Hendrayana, Dian
Dimasatra Vol 1, No 1 (2020): OKTOBER
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.948 KB) | DOI: 10.17509/dm.v1i1.30157

Abstract

Program Merdeka Belajar merupakan program baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, karena itu harus dilakukan sosialisasi termasuk yang berkaitan dengan bidang studi Bahasa Sunda. Selain itu, adanya pandemik sejak bulan Maret 2020 ini menyebabkan guru harus kreatif agar proses belajar-mengajar tetap berlangsung tetapi tidak menjadi beban berat bagi semua pihak. Pelatihan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru-guru bahasa Sunda di Kota Sukabumi dalam menyusun perangkat pembelajaran “Merdeka Belajar” dan memadukan dengan situasi pandemi. Pesertanya adalah guru-guru bahasa Sunda jenjang SMP dan SMA di Kota Sukabumi. Kegiatan yang dilakukan ini merupakan kegiatan pelatihan untuk mempersiapkan guru-guru bahasa Sunda dalam menghadapi era digital dan persaingan global. Selain itu, adanya pandemi saat ini menyebabkan banyak perubahan dalam proses pembelajaran. Kota Sukabumi dipilih sebagai tempat pelatihan dikarenakan potensi akan perubahan yang cepat dan belum ada pelatihan yang sama sebelumnya, sehingga guru bahasa Sunda di sana harus lebih dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan ini. Pelatihan ini menuntut peningkatan keterampilan guru dalam menyusun perangkat “Merdeka Belajar” dengan tetap menyesuaikan dengan tuntutan dari kurikulum 2013 revisi 2017. Guru juga dipersiapkan untuk Menyusun perangkat pembelajaran dengan memanfaatkan micro learning agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik. Kegiatan dilakukan dengan tatap muka serta dilanjutkan dengan webinar
PEMANFAATAN APLIKASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA Ruhaliah, Ruhaliah; Solehudin, Oleh; Isnendes, Retty; Hernawan, Hernawan; Sutisna, Ade; Hendrayana, Dian
Dimasatra Vol 2, No 2 (2022): APRIL
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.076 KB) | DOI: 10.17509/dm.v2i2.55242

Abstract

Adanya pandemik sejak bulan Maret 2020 menyebabkan guru harus kreatif agar proses belajar-mengajar tetap berlangsung tetapi tidak menjadi beban berat bagi semua pihak. Untuk mengatasinya berbagai kegiatan dilaksanakan secara daring (online). Tetapi kegiatan ini kadang-kadang menyebabkan kejenuhan. Segi positifnya menimbulkan kreativitas agar berbagai kegiatan tetap berlangsung, termasuk dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan berbagai aplikasi digital yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa, baik yang berkaitan dengan empat keterampilan berbahasa maupun secara umum, yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan blended learning atau hybrid learning. Metode yang digunakan yaitu deskriptif. Hasilnya didapat pengelompokan aplikasi pembelajaran yang dapat digunakan berdasarkan empat keterampilan berbahasa. Tetapi ada juga aplikasi yang dapat digunakan tanpa klasifikasi tersebut.
PEMANFAATAN APLIKASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA Ruhaliah, Ruhaliah; Solehudin, Oleh; Isnendes, Retty; Hernawan, Hernawan; Sutisna, Ade; Hendrayana, Dian
Dimasatra Vol 2, No 1 (2021): OKTOBER
Publisher : Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.174 KB) | DOI: 10.17509/dm.v2i1.47504

Abstract

The existence of a pandemic since March 2020 has caused teachers to be creative so that the teaching-learning process continues but does not become a heavy burden for all parties. To overcome this, various activities are carried out online. But this activity sometimes causes burnout. On the positive side, it creates creativity so that various activities can continue, including in the fields of education and teaching. The purpose of this paper is to explain various digital applications that can be used in language learning, both related to the four language skills and in general, which can be utilized in blended learning or hybrid learning activities. The method used is descriptive. The result is a grouping of learning applications that can be used based on four language skills. But there are also applications that can be used without these classifications.
The language realization of the role of women as anthropocentric subjects in Sundanese culture Awaliah, Yatun Romdonah; Kosasih, Dede; Widyastuti, Temmy; Sutisna, Ade; Hendrayana, Dian
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 14, No 2 (2024): Vol. 14, No.2, September 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v14i2.74902

Abstract

Local culture often inherits a patriarchal view that regards women as the second gender category. However, this stereotyped view is only partially correct, especially when looking at the extent to which Sundanese culture views, defines, and places the role of women. Women in the local Sundanese culture have a role as balance keepers in the sense of anthropocentrism. This study aims to describe the role of women as anthropocentric subjects in Sundanese culture. The data of this study were taken from the film Ambu (2019), which represents women's roles in the Sundanese culture, especially as shown in the Baduy tribe. This study is descriptive-qualitative. It used Fairclough's Critical Discourse Analysis approach. This framework enables the film to be studied through its discursive dialogues and scenes, examining how these elements reflect and engage with social and cultural practices. The findings show that the film portrays a representation of women through Ambu Misnah, who embodies gender balance in Sundanese culture, challenging traditional views of domestication. As a cultural symbol connected to Sunan Ambu, her role contrasts with liberal feminist ideals, highlighting a more localized form of female empowerment. Furthermore, the language used by a male character, specifically the head of the Baduy Tribe, reflects a transfer of authority, signaling a shift in gender-power relations. Thus, these findings emphasize an anthropocentric awareness of the role of women, particularly within the Sundanese community.
Pelurusan Istilah Kawih, Tembang, dan Cianjuran Dian Hendrayana; Reiza Dienaputra; Teddi Muhtadin; Widyo Nugrahanto
PANGGUNG Vol 30 No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i3.1268

Abstract

ABSTRACTLately, people are often confused with the definition of kawih, tembang, and cianjuran. Quite often the term kawih is dichotomized by the term tembang, or the term tembang is equated with cianjuran. This mistake even applies to educational institutions, both in high schools and in universities. Likewise with the media. This study aims to describe the meaning of kawih, tembang, and cianjuran. The method used is descriptive qualitative through an epistemological approach, which examines the exposure of the meanings of the three terms from several sources, as well as comparing from other sources who also describe the three terms to obtain meaning that is considered ideal. The results obtained are, kawih is a vocal art owned by the Sundanese people and has been around for a long time, long before the sixteenth century. Kawih is also interpreted as all kinds of songs that exist in Sundanese society. Tembang is a type of kawih or song that uses lyrics from the dangding and only emerged and was known in Sundanese society around the XVIII century as an influence of Mataram; cianjuran is a part of Sundanese kawih originating from Cianjur Regency.Keywords: Kawih, Tembang, Tembang Sunda, Cianjuran, Tembang Sunda CianjuranABSTRAKAkhir-akhir ini masyarakat kerap dikelirukan dengan definisi kawih, tembang, dan cianjuran. Tak jarang istilah kawih didikotomikan dengan istilah tembang, atau istilah tembang disamakan artinya dengan cianjuran. Kekeliruan ini bahkan berlaku pada dunia pendidikan, baik di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi. Demikian pula pada dunia pers. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna dari kawih, tembang, dan cianjuran. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan epistimologi, yakni menelaah dari paparan makna ketiga istilah dari beberapa sumber, serta membandingkan dari sumber-sumber lain yang juga memaparkan ketiga istilah tadi untuk memperoleh makna yang dianggap ideal. Hasil yang diperoleh adalah, kedudukan kawih merupakan seni suara atau nyanyian yang dimiliki masyarakat Sunda, serta sudah ada sejak lama, jauh sebelum abad XVI. Kawih dimaknai pula sebagai segala jenis nyanyian yang ada pada masyarakat Sunda. Tembang adalah jenis kawih atau nyanyian yang menggunakan lirik dari dangding dan baru muncul serta dikenal di masyarakat Sunda sekitar abad XVIII sebagai pengaruh dari Mataram; sedangkan cianjuran merupakan bagian dari kawih Sunda yang berasal dari daerah Cianjur.Kata kunci: Kawih, Tembang, Tembang Sunda, Cianjuran, Tembang Sunda Cianjuran
Rorokan Adat Struktur Kemasyarakatan Tradisional di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi (Kajian Etnografi) YULIA SAFITRI, ELVA; KOSASIH, DEDE; HENDRAYANA, DIAN
JALADRI : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 1 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i1.3544

Abstract

The background of the research was carried out due to the lack of social knowledge about the traditional social system that is still carried out in the lives of indigenous peoples. The purpose of this study are to describe 1) the history of Kasepuhan Ciptagelar, 2) the role and function of the elders of Kasepuhan as well as the traditional customs or social system in Kasepuhan Ciptagelar, and 3) the governance of Kasepuhan Ciptagelar. The research method used is descriptive qualitative-participant method, by using an ethnographic understanding that has the purpose of circumstance research, by participating into the lives of the people researched. The techniques used are participatory observation techniques, interviews, and documentation.
PUPUJIAN DI DESA GOMBONG KECAMATAN CIAWI KABUPATEN TASIKMALAYA UNTUK BAHAN PEMBELAJARAN MENYIMAK DI SMP KELAS VII (KAJIAN STRUKTURAL DAN NILAI MORAL) Shobariyah, Erina Shofia; Kosasih, Dede; Hendrayana, Dian
Jurnal Tradisi Lisan Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Volume 5, Nomor 2, September 2025
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/jtln.v5i2.1583

Abstract

Abstrak: Pupujian menjadi salah satu karya sastra Sunda yang harus dilestarikan. Selain menjadi warisan, dalam pupujian juga mengandung nilai-nilai yang mempengaruhi kehidupan. Penelitian ini menjelaskan tentang struktur lahir dan batin, serta nilai moral pada pupujian. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif analitik. Pupujian yang ditemukan ada 43 judul pupujian yang berbeda-beda isinya. Pupujian yang dianalisis yaitu pupujian Mugi Gusti Ngahampura, Sapaat Nabi, Perihal Kapercayaan, dan Dawuh Nabi. Pada struktur lahir, pupujian tersebut terdiri dari empat, enam, 12, dan 19 bait. Diksi yang digunakan yaitu bahasa sehari-hari serta dapat dipahami oleh pendengarnya. Imaji yang terdapat pada pupujian tersebut yaitu imaji visual dan rasa yang dibuktikan dengan kata kongkrit. Gaya bahasa yang ditemukan yaitu gaya bahasa simile. Terdiri dari purwakanti yang memiliki pola a-a-a-a, a-a, dan a-b. Berdasarkan struktur batin, tema yang sering muncul yaitu nasehat. Rasa yang tercipta yaitu rasa takut dan sedih. Nada dengan sikap memberi nasehat. Amanat pada pupujian tersebut yaitu menasehati supaya ada di jalan yang benar. Nilai moral yang terkandung tidak terlepas dari moral manusia kepada Tuhan. Setelah dianalisis, pupujian “Perihal Kapercayaan” dipilih untuk dijadikan bahan ajar menyimak di kelas VII SMP berdasarkan kurikulum Merdeka.