Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Papantunan: Cikal Bakal Kawih Cianjuran Hendrayana, Dian
LOKABASA Vol 16, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i2.91706

Abstract

Kawih Cianjuran adalah kekayaan seni vokal yang dimiliki masyarakat Jawa Barat. Materi Kawih Cianjuran bermula dari kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat dari kawih pantun di pertengahan abad XIX. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses terjadinya alih wahana dari kawih pantun menjadi kawih papantunan. Metoda yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan melalui studi pustaka serta fenomenologi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui desain deduktif, menganalisis data secara parsial untuk dijalinkan satu data dengan data lainnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat merupakan cikal bakal terbentuknya seni cianjuran yang hingga saat ini terdiri atas beberapa jenis kawih yakni Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, serta Panambih. Jenis-jenis kawih cianjuran tersebut secara bentuk berpedoman kepada kawih papantunan.Cianjuran songs are a vocal art form that represents the cultural richness of the people of West Java. The materials of Cianjuran songs originated from kawih papantunan, which were created by RAA Kusumaningrat based on kawih pantun in the mid-19th century. This study aims to explore the process of transformation from kawih pantun to kawih papantunan. The method used is qualitative, employing a literature study and a phenomenological approach. The collected data were analyzed deductively, connecting and interpreting each set of data to form a coherent analysis. The findings reveal that the kawih papantunan created by RAA Kusumaningrat served as the foundation for the development of Cianjuran vocal art, which today consists of several types of kawih, namely Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, and Panambih. Structurally, these various forms of kawih cianjuran are based on the kawih papantunan tradition.
Rorokan Adat Struktur Kemasyarakatan Tradisional di Kasepuhan Ciptagelar Kabupaten Sukabumi (Kajian Etnografi) YULIA SAFITRI, ELVA; KOSASIH, DEDE; HENDRAYANA, DIAN
Jaladri : Jurnal Ilmiah Program Studi Bahasa Sunda Vol 10 No 1 (2024): Jaladri
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jaladri.v10i1.3544

Abstract

The background of the research was carried out due to the lack of social knowledge about the traditional social system that is still carried out in the lives of indigenous peoples. The purpose of this study are to describe 1) the history of Kasepuhan Ciptagelar, 2) the role and function of the elders of Kasepuhan as well as the traditional customs or social system in Kasepuhan Ciptagelar, and 3) the governance of Kasepuhan Ciptagelar. The research method used is descriptive qualitative-participant method, by using an ethnographic understanding that has the purpose of circumstance research, by participating into the lives of the people researched. The techniques used are participatory observation techniques, interviews, and documentation.
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH (BAHASA SUNDA DAN BAHASA JAWA) BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI OLAHRAGA UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI BERBAHASA SISWA Nurjanah, Nunuy; Hendrayana, Dian; Suherman, Agus
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v5i4.6599

Abstract

Learning regional languages ??(Sundanese and Javanese) in schools often faces the problem of low student interest and engagement due to teaching methods that have not been optimally integrated with the local cultural context. This study focuses on developing an innovative local wisdom-based regional language learning model, integrating traditional sports to create meaningful and enjoyable learning. The key stages of this research used qualitative methods through literature studies, analyzing various relevant primary and secondary sources to formulate a conceptual model. The main findings of this study indicate that combining regional languages ??with traditional sports can be an effective medium for improving students' language competencies, both oral and written, as well as understanding contextual meanings. Another finding is that this model also fosters positive attitudes towards preserving local culture. It is concluded that the developed model, which is contextual, communicative, and interactive, is effective for actively internalizing ancestral cultural values ??and is aligned with the principles of the Independent Curriculum. ABSTRAKPembelajaran bahasa daerah (Sunda dan Jawa) di sekolah seringkali menghadapi latar belakang masalah berupa rendahnya minat dan keterlibatan siswa akibat metode pengajaran yang belum terintegrasi secara optimal dengan konteks budaya lokal. Penelitian ini berfokus pada pengembangan model pembelajaran bahasa daerah berbasis kearifan lokal yang inovatif, dengan mengintegrasikan olahraga tradisional untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Tahapan penting penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka, dengan menganalisis berbagai sumber primer dan sekunder yang relevan untuk merumuskan model konseptual. Temuan utama dari studi ini menunjukkan bahwa penggabungan bahasa daerah dengan olahraga tradisional dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kompetensi berbahasa siswa, baik lisan maupun tulisan, serta pemahaman makna secara kontekstual. Temuan lain adalah bahwa model ini juga menumbuhkan sikap positif terhadap pelestarian budaya lokal. Disimpulkan bahwa model yang dikembangkan yang bersifat kontekstual, komunikatif, dan interaktif efektif untuk menginternalisasi nilai-nilai budaya leluhur secara aktif dan selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka.
Representasi Budaya dalam Menu Sundaland di Restoran Mari Merangkai Bunga Seroja (MMBS) Yosi Anisa Basmahulwah; Dede Kosasih; Dian Hendrayana
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9 No 2 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v9i2.5357

Abstract

This study examines the representation of Sundanese culture in the Sundaland menu served at Mari Merangkai Bunga Seroja (MMBS) restaurant in Bandung. Sundaland is a fine dining tasting menu that integrates Sundanese and Thai cuisines within a contemporary fusion cuisine concept. This research employs a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, analyzed using Roland Barthes' semiotics. The findings reveal that the Sundaland menu represents Sundanese culture through seven cultural elements: religious system, social system, knowledge system, language, arts, livelihood system, and technology and tools. These representations are conveyed symbolically through ingredient selection, cooking techniques, menu naming, presentation aesthetics, and gastronomic narratives accompanying the dining experience. Conceptually, this study affirms that fusion fine dining practices can function as a space for local cultural identity, while broadening the understanding of gastronomy as cultural communication in a modern context.
Sistem Nama Diri Masyarakat Adat Kasepuhan Ciptagelar Dede Kosasih; Dian Hendrayana; Winci Firdaus; Denny Adrian Nurhuda; Basori Basori
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.6106

Abstract

The background of this research is the curiosity about the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people. In the name string generally implies faith and wisdom (wisdom) and can reflect prayer, ideals (expectation). This means that the name given (bears) will be in accordance with the demands (expectations) of the community at the time it was made. The purpose of this study is to photograph the practice of giving personal names in the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people and to examine the factors and values underlying this practice. This study uses a qualitative methodological approach, namely descriptive analytical method. The data source in this study is the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people in three generations. Data collection techniques in this study were participant observation and observation and note-taking techniques. Data analysis techniques begin with collecting data, reducing data, conducting analysis based on classification. The results of this study show that the pattern of giving and changing names is caused by several reasons. First, driven for psychological reasons, in the form of hopes such as for the sake of glory, fame, profit and avoidance of disaster as well as inner satisfaction. Second, related to socio-cultural values that have roots in the past. From the diachronic study, the pattern of naming the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people has experienced a shift, although the shift or change is relatively not that massive. This is because the Kasepuhan Ciptagelar indigenous people still adhere to traditions and customs that have been passed down from generation to generation. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan praktik pemberian nama diri di masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Dalam untaian nama itu umumnya menyiratkan keyakinan dan kebijaksanaan (wisdom) serta dapat merefleksikan doa, cita-cita (expectation). Artinya bahwa nama yang diberikan (disandangnya) tersebut akan sesuai dengan tuntutan (harapan) masyarakat pada masa dibuatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret praktik pemberian nama diri dalam masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dan akan mengkaji faktor-faktor dan nilai-nilai apa saja yang melatarbelakangi praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif yakni metode deskriptif analitis. Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam tiga generasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi partisipan serta teknik simak dan catat. Teknik analisis data dimulai dengan mengumpulkan data, mereduksi data, melakukan analisis berdasarkan klasifikasi. Hasil dari penelitian ini bahwa pola pemberian maupun pergantian nama disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, didorong karena alasan psikologis, berupa harapan seperti demi kejayaan, ketenaran, keuntungan dan terhindar dari malapetaka serta kepuasan batiniah. Kedua, yaitu berkaitan dengan nilai sosio-kultural yang mempunyai akar ke masa silam. Dari kajian secara diakronis pola pemberian nama masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar telah mengalami pergeseran, walaupun pergeseran atau perubahan itu relatif tidak begitu masif. Hal ini dikarenakan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih pengkuh (kuat) memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
GUGURITAN SUNDA DALAM TIGA GAYA PENYAIR Dian Hendrayana
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v7i1.681

Abstract

Puisi guguritan dalam khazanah sastra Sunda merupakan materi puisi lama yang hingga kini masih ditulis dan diminati. Tradisi menulis guguritan dalam sastra Sunda banyak dilakukan sejak awal abad XX. Puisi ini masih pula ditulis dan dibaca oleh masyarakat Sunda, terutama para peminat sastra hingga awal abad XXI. Penelitian ini mendeskripsikan bagaimana gaya penulisan guguritan dari tiga penyair Sunda yang pada tiga dekade terakhir dianggap tokoh penulis guguritan. Ketiga penyair guguritan tersebut yakni Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, dan Wahyu Wibisana. Mereka merupakan tokoh penyair yang dianggap baik dalam menulis puisi guguritan seperti yang terbaca pada  Jamparing Hariring (1992) karya Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) karya Dyah padmini,  dan Riring-riring Ciawaking (2004) karya Wahyu Wibisana. Penelitian dimaksudkan untuk memperlihatkan sejauh mana gaya kepenulisan dari ketiga penyair ini beserta pembeda yang dimilikinya masing-masing, terutama dalam pemilihan tema, pemilihan diksi, pengimajinasian, kata konkret, serta bahasa figuratif dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Dari hasil penelitian ini muncul kecenderungan-kecenderungan gaya kepenulisan sebagai pembeda dari masing-masing penyair, yakni kecenderungan nuansa feminin pada guguritan karya Dedy, kecenderungan nuansa maskulin pada guguritan Dyah Padmini, serta kecenderungan nuansa netral pada guguritan karya Wahyu Wibisana. Abstract: Guguritan Poetry in the Sundanese literature is a matter of old poetry which is still written and have a good demand in current condition. The tradition of writing guguritan in Sundanese literature is mostly done since the beginning of the XX century. This poem is still written and read by Sundanese people, especially literary enthusiasts until the early of XXI century. This study describes how the style of writing the guguritan of three Sundanese poets who in the last three decades are considered as guguritan authors. The three poets are Dedy Windyagiri, Dyah Padmini, and Wahyu Wibisana. They are well-known poets in writing guguritan poetry as it reads in works Jamparing Hariring (1992) by Dedy Windyagiri, Jaladri Tingtrim (1999) by Dyah Padmini, and Riring-Riring Ciawaking (2004) by Wahyu Wibisana. The research is intended to show the extent of the authorship style among the three poets and their respective distinctions; especially in the themes selection, dictionary selection, imagination, concrete words, and figurative languages which using descriptive-analytic methods. From the results of this study appeared the tendencies of the authorship style as a differentiator of each poet, namely the tendency of feminine nuances in the Dedy's work, the tendency of masculine nuance in Dyah Padmini's work, and the tendency of neutral nuances in the work of Wahyu Wibisana.
PEMBERDAYAAN GURU BAHASA SUNDA MELALUI PELATIHAN PENULISAN ILMIAH POPULER BERBASIS LITERASI BUDAYA DAN EDUKASI LINGKUNGAN Nugraha, Haris Santosa; Alia, Dwi; Cahyani, Isah; Hendrayana, Dian; Kusdinar, Hidayat; Herdiyanti, Febri; Dakir, Siti Humaira Ramadhani
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.68172

Abstract

This community engagement program was implemented to enhance the capacity of Sundanese language teachers in writing popular scientific articles grounded in cultural literacy and environmental education. The main challenges faced by the partner were the teachers’ limited writing skills and the lack of accessible publication platforms that promote local culture and ecological awareness. The program was conducted through a combination of online and offline sessions at SMAN 1 Cisarua, involving twenty teachers as participants. The objective of the program was to develop teachers’ ability to write contextual, communicative, and inspiring articles that document cultural values and environmental issues within their local surroundings. The implementation consisted of several stages, including orientation, training in popular scientific writing, the application of digital technology in the creative process, intensive mentoring, and program sustainability. Participants were actively engaged through practical writing activities based on field observations and personal reflections on cultural and environmental phenomena around their schools. The results indicated a significant improvement in participants’ writing competence, particularly in terms of topic relevance, data enrichment, narrative structure, and the strength of the cultural messages conveyed. Fifteen articles were successfully produced and prepared for submission to both print and digital media. Furthermore, the program fostered participants’ awareness of the importance of digital technology as a tool for the exploration, documentation, and dissemination of local knowledge. Overall, this initiative contributed to enhancing teacher professionalism and supporting the preservation of Sundanese cultural heritage through meaningful and inspiring popular scientific writing.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas guru Bahasa Sunda dalam menulis karya ilmiah populer berbasis literasi budaya dan edukasi lingkungan. Permasalahan utama mitra adalah rendahnya keterampilan menulis populer dan minimnya akses terhadap media publikasi yang mengangkat nilai budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Program dilaksanakan secara kombinasi daring dan luring di SMAN 1 Cisarua dengan melibatkan dua puluh guru sebagai peserta. Tujuan kegiatan ini adalah membekali peserta dengan kemampuan menulis secara komunikatif, kontekstual, dan inspiratif, sehingga mampu menghadirkan isu budaya dan lingkungan dalam bentuk karya ilmiah populer yang layak disebarluaskan kepada masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan penulisan ilmiah populer, penerapan teknologi digital dalam proses kreatif, pendampingan intensif, dan keberlanjutan program. Peserta dilibatkan secara aktif melalui praktik menulis berbasis pengalaman lapangan dan refleksi personal terhadap fenomena budaya dan lingkungan di sekitar sekolah. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menulis peserta, terutama pada aspek ketepatan pemilihan tema, kelengkapan data lapangan, struktur naratif, dan kekuatan pesan budaya yang disampaikan. Sebanyak lima belas artikel berhasil disusun dan difasilitasi untuk dipublikasikan melalui media cetak dan digital. Selain peningkatan keterampilan menulis, peserta menunjukkan perubahan sikap dan kesadaran baru terhadap pemanfaatan teknologi digital sebagai alat eksplorasi, dokumentasi, dan penyebaran pengetahuan lokal. Program ini berkontribusi nyata dalam penguatan profesionalisme guru serta pelestarian kearifan lokal melalui karya ilmiah populer yang inspiratif dan edukatif.
Analisis Makna Semiotik dalam Lirik Lagu Bulan Dagoan: Representasi Identitas Lokal Dalam Musik Sunda rodhiya, fazalny robby; Hendrayana, Dian; Darajat, Danan
Linguistik : Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 11, No 3 (2026): LINGUISTIK : Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/linguistik.v11i3.%p

Abstract

Lagu "Bulan Dagoan" adalah salah satu karya musik Sunda yang sarat dengan unsur emosional dan filosofis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis arti yang terkandung dalam lirik lagu tersebut melalui tiga dimensi makna: denotatif, konotatif, dan mitos. Metode yang diterapkan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Temuan studi menunjukkan bahwa lirik ini secara denotatif mencerminkan hubungan kausal (hana nguni hana mangké) antara perpisahan dan kesedihan jiwa. Secara konotatif, penggunaan kata "Bulan" berubah menjadi lambang harapan dan pegangan batin bagi individu yang tengah menghadapi krisis eksistensial. Dalam konteks mitos, "Bulan" mencerminkan nilai budaya Sunda mengenai keikhlasan (caang bulan opat welas) dan perwujudan kasih sayang seorang ibu yang memberikan ketenteraman. Kesimpulan dari studi ini menekankan bahwa lagu "Bulan Dagoan" tidak hanya sebagai ungkapan kesedihan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi estetis yang mencerminkan spiritualitas serta cara masyarakat Sunda dalam memahami penderitaan melalui keharmonisan dengan alam dan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.