Kawih Cianjuran adalah kekayaan seni vokal yang dimiliki masyarakat Jawa Barat. Materi Kawih Cianjuran bermula dari kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat dari kawih pantun di pertengahan abad XIX. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses terjadinya alih wahana dari kawih pantun menjadi kawih papantunan. Metoda yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan melalui studi pustaka serta fenomenologi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui desain deduktif, menganalisis data secara parsial untuk dijalinkan satu data dengan data lainnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kawih papantunan yang dikreasikan oleh RAA Kusumaningrat merupakan cikal bakal terbentuknya seni cianjuran yang hingga saat ini terdiri atas beberapa jenis kawih yakni Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, serta Panambih. Jenis-jenis kawih cianjuran tersebut secara bentuk berpedoman kepada kawih papantunan.Cianjuran songs are a vocal art form that represents the cultural richness of the people of West Java. The materials of Cianjuran songs originated from kawih papantunan, which were created by RAA Kusumaningrat based on kawih pantun in the mid-19th century. This study aims to explore the process of transformation from kawih pantun to kawih papantunan. The method used is qualitative, employing a literature study and a phenomenological approach. The collected data were analyzed deductively, connecting and interpreting each set of data to form a coherent analysis. The findings reveal that the kawih papantunan created by RAA Kusumaningrat served as the foundation for the development of Cianjuran vocal art, which today consists of several types of kawih, namely Jejemplangan, Rarancagan, Dedegungan, Kakawen, and Panambih. Structurally, these various forms of kawih cianjuran are based on the kawih papantunan tradition.