Claim Missing Document
Check
Articles

FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI Rajab, Mustika Nur; Edy, Hosea Jaya; Siampa, Jainer Pasca
PHARMACON Vol 10, No 3 (2021): PHARMACON
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/pha.10.2021.35604

Abstract

ABSTRACTGarlic (Allium sativum L.) is a plant white bulbs onion  that contains antibacterial compounds such as alicin, flavonoid, and saponin. The aim of this study was to formulate an ointment extract of white bulbs onion  (Allium sativum L.) with various concentrations of 2,5%; 5%; 7,5%; and 10%, and then evaluated the ointment according to the physical evaluation requirements. The diffusion method was utilized to test the activity of the ointment preparation towards Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis. The results showed that garlic (Allium sativum L.) could be formulated as an antibacterial ointment and met the requirements of the ointment evaluation test according to the results of the organoleptic test based on the white ointment, F1 and F2 were pale yellow, and F3 and F4 were brownish yellow with odor lemon. The homogeneity tests indicated no lumps in the ointment preparation, and the pH test revealed that it was within the range of 4.5 to 6.5. The spreadability  test met the requirements of 5 - 7 cm, and the adhesion test met the requirements of more than 4 seconds. The results showed that the ethanol extract ointment of garlic (Allium sativum L.) could inhibit the growth of Staphylococcus aureus and Staphylococcus epidermidis bacteria which concentrations of 10 % Staphylococcus aureus resulted in the zone of inhibition of 15.5 mm is categorized as strong and Staphylococcus epidermidis bacteria resulted in the zone of inhibition of 15.1 mm is categorized as strong and F4 is the best formula for generating the zone of inhibition.Keywords: Garlic (Allium sativum L.), Antibacterial ointment, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidisABSTRAKBawang Putih (Allium sativum L.) merupakan tanaman umbi bawang putih yang memiliki kandungan senyawa alicin, flavonoid dan saponin yang mampu memberikan efek antibakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk memformulasikan salep ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) dengan berbagai konsentrasi 2,5%; 5%; 7.5%; 10% dan mengevaluasi sediaan salep sesuai dengan persyaratan evaluasi fisik. Pengujian aktivitas sediaan salep terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dilakukan dengan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  bawang putih (Allium sativum L.) dapat diformulasikan sebagai sediaan salep antibakteri dan memenuhi persyaratan uji evaluasi sediaan salep sesuai dengan hasil uji organoleptik basis salep berwarna putih, F1 dan F2 berwarna kuning pucat, dan F3 dan F4 berwarna kuning kecoklatan berbau lemon. Uji homogenitas menunjukkan tidak adanya gumpalan pada sediaan salep, uji pH sesuai dengan persyaratan yaitu 4.5 – 6.5. Uji daya sebar sesuai dengan persyaratan yaitu 5 – 7 cm, dan uji daya lekat sesuai dengan persyaratan yaitu lebih dari 4 detik. Hasil menunjukkan bahwa salep ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dimana konsentrasi 10 % bakteri Staphylococcus aureus menghasilkan zona hambat 15.5 mm termasuk kategori kuat dan bakteri Staphylococcus epidermidis menghasilkan zona hambat 15.1 mm termasuk kategori kuat dan  formula F4 merupakan formula terbaik dalam menghasilkan zona hambat.Kata Kunci : Bawang putih (Allium sativum L.), Salep antibakteri, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis
Pemberdayaan Anak-Anak Panti Asuhan melalui Edukasi dan Pelatihan Pembuatan Sabun Cair Antiseptik Jayanti, Meilani; Sumantri, Surya; Jayanto, Imam; Siampa, Jainer Pasca
JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia Vol 3, No 1 (2021): JPAI: Jurnal Perempuan dan Anak Indonesia
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/jpai.3.1.2021.36725

Abstract

Panti asuhan yang merupakan lembaga sosial nirlaba, secara tidak langsung ikut mengalami dampak yang diakibatkan oleh adanya pandemi COVID-19. Banyak donatur yang mulai membatasi sumbangan yang diberikan ke panti-panti asuhan. Sedangkan, panti asuhan masih membutuhkan banyak biaya untuk keberlangsungan operasionalnya. Oleh karena itu, untuk membantu panti asuhan menjadi lebih mandiri dalam perekonomiannya, maka tim pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi melaksanakan edukasi dan pelatihan pembuatan sabun cair antiseptik yang juga menjadi upaya pencegahan penularan COVID-19. Kegiatan ini dimulai dari tahap koordinasi, persiapan kegiatan, pelaksanaan penyuluhan, pelatihan pembuatan sabun cair antiseptik, serta evaluasi. Kegiatan ini memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak-anak di panti asuhan mengenai sabun cair antiseptik dengan pemberian edukasi tentang sabun, pelatihan pembuatan sabun cair, pengemasan hingga pemasaran, serta praktek cara cuci tangan yang benar. Pengetahuan dan keterampilan tersebut diharapkan dapat terus diimplementasikan oleh panti asuhan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas ekonomi panti asuhan. Selain itu, produk sabun yang dihasilkan dapat dimanfaatkan dalam lingkungan panti asuhan sebagai upaya pencegahan penularan  COVID-19.
Profil Penetrasi Sediaan Gel Antioksidan Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) dengan Variasi Hydrocolloid sebagai Gelling agent Siampa, Jainer Pasca; Wiyono, Weny Indayany; Lestari, Utami Sasmita; Lebang, Julianri Sari; Antasionasti, Irma
Jurnal MIPA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.v11i1.35787

Abstract

The exposure of sunlight consisting UV radiation has been reported to be the main cause of skin cancer and contribute about 80% of the incidence of skin damage. In an attempt to overcome this problem, antioxidant agents have been used both orally and topically. Compared to oral administration, topical route has been found to be preferred due to the direct action to the desired site. Amongst topical preparation, gel possesses numerous because it provides a cool and fresh sensation. Here, we developed gel antioxidant containing cinnamon extract as active ingredient. Cinnamon was selected as it has a very strong antioxidant activity. This study aimed to obtain the penetration profile of the antioxidant gel of cinnamon extract prepared from two different hydrocolloid agents. The gels were made using various concentrations of Carbopol 940 and NaCMC. The prepared gels were further characterized for their antioxidant capacities using the DPPH free radical scavenging method and their total phenolic contents using the spectrophotometric method. The formulation possessing the strongest antioxidant capacity was continued for ex vivo penetration study using Franz diffusion cells. The results exhibited that the total phenolic value of the cinnamon extract obtained was 908.38 ± 6.54 mg GAE/g extract. The penetration percentages for the formula with Carbopol and NaCMC bases were 53.310 ± 1.217% and 27.969 ± 1.151%, respectively, and the retention percentages were 28.495 ± 0.031% and 18.356 ± 0.191%, respectively. Based on these findings, we concluded that cinnamon extract could potentially be formulated into antioxidant gel preparations and formulas based on Carbopol showed the best penetration profile.
Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) dan Sediaan Masker Gel ¬Peel-Off Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Tunas, Theresia H.; Edy, Hosea Jaya; Siampa, Jainer Pasca
Jurnal MIPA Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jmuo.8.3.2019.25778

Abstract

Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) bermanfaat untuk menghambat aktivitas pertumbuhan bakteri karena adanya kandungan senyawa flavonoid , alkaloid, dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun Kelor dan sediaan masker gel peel-off ekstrak etanol daun Kelor terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium, ekstrak etanol daun kelor dan sediaan masker gel peel-off ekstrak etanol daun Kelor dibuat dengan konsentrasi 1, 3, 5, 7, dan 9%. Ekstrak daun Kelor diperoleh dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Pada pengujian antibakteri menggunakan metode sumuran. Diameter zona hambat paling besar yang ditimbulkan oleh ekstrak etanol daun Kelor yaitu pada konsentrasi 7% dengan diameter zona hambat sebesar 5,75 mm, sedangkan pada sediaan masker gel peel-off tidak menunjukkan adanya daya hambat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun Kelor memiliki aktivitas antibakteri yang termasuk dalam kategori sedang.Moringa oleifera Lam. (Moringa oleifera) leaves are useful for inhibiting bacterial growth activity due to the presence of flavonoid, alkaloid, and phenol compounds. This study aims to test the antibacterial activity of the Moringa leaf ethanol extract and the gel peel-off mask preparation of Moringa leaf ethanol extract against Staphylococcus aureus bacteria. This study uses laboratory experimental methods, Moringa leaf ethanol extract and gel mask peel-off preparation for Moringa leaf ethanol extract made with concentrations of 1, 3, 5, 7, and 9%. Moringa leaf extract was obtained by maceration using 96% ethanol solvent. In antibacterial testing using the well method. The biggest inhibition zone diameter caused by ethanol extract of Moringa leaves is at a concentration of 7% with a inhibition zone diameter of 5.75 mm, whereas the peel-off gel mask preparation did not show any inhibitory power. It can be concluded that the ethanol extract of Moringa leaves has antibacterial activity which is included in the medium category.
Uji Aktivitas Antioksidan dan Karakterisasi Minyak Tulang Ikan Tindarung : Antioxidant Activity and Characterization of Fish Oil from Marlin Fish Bone Antasionasti, Irma; ABDULLAH, SURYA SUMANTRI; Siampa, Jainer Pasca; Jayanto, Imam
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 12 No.1 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.1.2024.54368

Abstract

Marlin fish (tindarung) is one of the fish produced in the waters of North Sulawesi. The process of processing tindarung fish produces fish bone waste which can be maximized for processing as fish oil. Fish oil contains essential fatty acids that the body cannot produce naturally. This research aimed to determine the antioxidant activity and characteristics of tindarung fish bone oil. Tindarung fish bone oil extraction was carried out using wet rendering method. Next, antioxidant activity was tested using DPPH method. Characterization was carried out using the titration method. Based on the results of the antioxidant activity test, tindarung fish bone oil has an antioxidant activity of 20,958 ± 2,736 µg/mL. Apart from that, tindarung fish bone oil has characteristics that meet the standards of the International Fish Meal and Oil Manufacturers Association, namely a density of 0.91 g/mL; peroxide value of 20 meq/kg; free fatty acids of 5.65%; and the iodine number is 7.25 mg/100 g. This shows that tindarung fish bone oil can be consumed regularly as a supplement to maintain health. Keywords: antioxidant activity, characterization, fish oil, marlin fish Ikan Tindarung merupakan salah satu ikan yang dihasilkan di perairan Sulawesi Utara. Proses pengolahan ikan tindarung menghasilkan limbah tulang ikan yang dapat dimaksimalkan pengolahannya sebagai minyak ikan. Minyak ikan mengandung asam lemak esensial yang tidak dapat diproduksi secara alami oleh tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan dan karakteristik dari minyak tulang ikan tindarung. Ekstraksi minyak tulang ikan tindarung dilakukan dengan menggunakan metode wet rendering. Selanjutnya, pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. karakterisasi dilakukan menggunakan metode titrasi. Berdasarkan hasil ujiaaktivitasantioksidan, minyak tulang ikan tindarung memiliki aktivitas antioksidan sebesar 20,958 ± 2,736 µg/mL.  selain itu, minyak tulang ikan tindarung memiliki karakteristik yang memenuhi standar International Fish Meal and Oil Manufacturers Association, yaitu massa jenis sebesar 0,91 g/mL; bilangan peroksida sebesar 20 meq/kg; asam lemak bebas sebesar 5,65%; dan bilangan iod sebesar 7,25 mg/100 g. Hal ini menunjukkan bahwa minyak tulang ikan tindarung dapat dikonsumsi secara teratur sebagai suplemen untuk menjaga kesehatan. Kata kunci: aktivitas antioksidan, karakterisasi, minyak ikan, tindarung
Pelatihan Pembuatan Minyak Gosok Berbahan Alami Jahe Dan Sereh Bagi Masyarakat Kolom 28 Dan Kolom 29 Gmim Imanuel Leilem Datu, Olvie Syenni; Siampa, Jainer Pasca; Sekeon, Crista Gretasia
The Studies of Social Sciences Vol. 7 No. 1 (2025): The Studies of Social Sciences
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35801/tsss.v7i1.58458

Abstract

Minyak gosok mengandung bahan-bahan alami seperti minyak esensial yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan terutama untuk meredakan nyeri. Produk ini beraroma spesifik dan berfungsi sebagai penghangat tubuh sekaligus dapat menghilangkan rasa nyeri dan pegal linu, diminati masyarakat untuk pemeliharaan Kesehatan dan berpotensi dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan mengenai proses pembuatan minyak gosok berbahan alami kepada masyarakat. Metode yang digunakan berupa sosialisasi dan pelatihan pembuatan minyak gosok pada jemaat kolom 28 dan 29 GMIM Imanuael leilem. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan masyarakat telah memahami mengenai materi sosialisasi dan cara pembuatan minyak gosok terlihat dari sesi tanya jawab yang ada. Berdasarkan hasil yang ada menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada dalam bentuk minyak gosok
Studies of Wound Healing Activity and Irritation Test of Chili (Capsicum frutescens L.) Leaves Gel on Rats (Rattus novergicus): (Studi Aktivitas Penyembuhan Luka Dan Uji Iritasi Gel Daun Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Pada Tikus (Rattus novergicus) Lebang, Julianri Sari; Siampa, Jainer Pasca; Nurmiati, Nurmiati
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): (March 2021)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2021.v7.i1.15430

Abstract

Chili pepper (Capsicum frutescens L.) leaves have been used empirically as wound healing caused by sharp objects. Several studies showed that it has antibacterial and wound healing activities. This study aims to formulate gel from chili leaves extract, then determine wound healing activity and irritating properties on rat’s skin. Gel was formulated by using various types and concentrations of gelling agents, consisted of Carbopol 0.5%, 0.75%, 1% and hydroxy propyl methyl cellulose at 2.5%, 5% and 7.5% respectively. Cycling test was conducted to determine the physical stabilities. The results showed that all formula has no altered on organoleptic properties and pH value. Gel of 0.5% Carbopol (F2) and 7.5% of HMPC (F5) has no change in spreadability and adhesion properties. Based on statistical analysis using paired t-test and one-way ANOVA, it concludes that F2 and F5 were physically stable and further evaluated as wound healer. Wound healer evaluation showed that the healing time (days) of Carbopol based gel (F2) was 10.2±1.26 and HPMC based gel was 8±0.82. The length of incision wound (cm) at 8th day was 0.5±0.183 for F2 and 0.06±0.071 for F5. Statistical analysis of healing time showed p<0.01 and wound length showed p<0.05 indicated that F5 (contained 5% HPMC) was significantly different compared to negative control. The results of the irritation test showed that gel formulas were not causing erythema and edema on rat’s skin. It can be concluded that gel of chili leaves extract that formulated with 5% of HPMC has wound healing activity and safety to be used.
Analisis Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Leilem (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.) dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrihidrazil) Pratiwi, Dian; Fatimawali; Siampa, Jainer Pasca
Jurnal Lentera Farma Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Lentera Farma
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/sjh47492

Abstract

Antioksidan adalah senyawa yang mengikat radikal bebas oksigen dan mencegahnya merusak sel-sel sehat. Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn. (C. minahassae) telah digunakan secara empiris oleh masyarakat di beberapa daerah di Sulawesi Utara. Tanaman ini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit dan juga mengandung nutrisi yang memperkuat imunitas tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada tanaman C. minahassae. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi pelarut etanol 1:10 dan dilanjutkan fraksinasi dengan masing-masing aquadest, etanol, etil asetat dan n-butanol dengan fraksinasi cair-cair. Ekstrak dan hasil fraksinasi digunakan pada pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil yang didapat pada pengujian antioksidan C. minahassae ekstrak dan fraksi mempunyai kemampuan antioksidan yang sangat kuat berdasarkan klasifikasi Bloise, yaitu nilai ????????50 yang kurang dari 50 ppm, dimana fraksi etil asetat dengan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai ????????50 5,76 ppm.
FORMULASI DAN UJI ANTIBAKTERI SEDIAAN SALEP EKSTRAK DAUN MIANA (COLEUS SCUTELLARIOIDES [L] BENTH) SECARA IN VITRO Nurbayasanti, Ni Luh; Siampa, Jainer Pasca; Riani Mansauda, Karlah Lifie
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i2.29376

Abstract

Daun miana (Coleus scutellarioides [L] Benth) adalah tanaman yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional khususnya sebagai antibakteri karena kandungan flavonoid, saponin dan tanin didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun miana dan efektivitas formula salep ekstrak daun miana sebagai antibakteri serta evaluasi fisik sediaan. Ekstrak daun miana dibuat dengan cara maserasi, pengujian aktivitas ekstrak daun miana dilakukan secara in vitro dengan metode difusi sumuran terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 50mg/mL, 100mg/mL, dan 150mg/mL. Kemudian ekstrak dibuat salep dengan  konsentrasi FI 5%, FII 10% dan FIII 15% yang diuji efektivitas antibakterinya secara in vitro dengan metode difusi sumuran. Kemudian sediaan dievaluasi secara fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat dan daya sebar. Kesimpulan dari penelitian ini, ekstrak daun miana terbukti menghambat Staphylococcus aureus pada konsentrasi 50, 100 dan 150mg/mL dengan besar zona hambat 16,2 mm; 17,9 mm dan 19,5 mm serta formula terbaik dari sediaan yaitu FIII dengan besar zona hambat 14,7 mm. Sediaan FI, FII dan FIII sudah memenuhi persyaratan salep yang baik.
FORMULASI SEDIAAN HIDROGEL DAUN MIANA (COLEUS SCUTELLARIOIDES (L.) BENTH) : UJI STABILITAS FISIK DAN UJI SPF Sandala, Ecleysia Retika Frolen; Siampa, Jainer Pasca; Abdullah, Surya Sumantri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.31942

Abstract

Suatu sediaan diperlukan evaluasi untuk efektivitas seperti nilai SPF untuk tabir surya dan memiliki kestabilan yang baik. Suatu sediaan yang stabil tidak akan mengalami perubahan selama masa penyimpanan pada kondisi uji. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur nilai SPF sediaan hidrogel ekstrak etanol daun miana dan menguji kestabilannya. Metode pengukuran nilai SPF menggunakan metode mansur dan untuk stabilitas menggunakan metode cycling test. Ekstrak daun miana diuji untuk aktivitas tabir surya dan digunakan dalam pembuatan hidrogel dengan variasi karbopol 940 (F1: 0,5%, F2: 0,75%, F3: 1%). Hasilnya nilai SPF tertinggi ekstrak adalah 22,60, sementara SPF hidrogel adalah 21,07 (F1), 21,18 (F2), dan 21,23 (F3). Evaluasi sediaan pada F2 dan F3 memenuhi standar, tetapi semua formula menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan setelah di uji cycling test. Maka dari itu, F2 menjadi formula yang optimum untuk digunakan sebagai sediaan tabir surya yang stabil secara fisik.