Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

EVALUATION OF DRUG MANAGEMENT AND SERVICE QUALITY OF SEVERAL PUBLIC PRIMARY HEALTH CARE PHARMACIES IN BANDUNG Nurfitria, Rizki Siti; Priyadi, Akhmad; Sepriantina, Sepriantina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.629 KB)

Abstract

ABSTRACTIn national health coverage era, public primary health care pharmacy must be supported by good drug management and service quality. These include human resources, pharmaceutical inventory management, and pharmacy service quality. This paper empirically evaluates the drug management that consist of planning, procurement, storage, distribution, and documentation aspects; and also how patients perceived pharmacy service quality. The research used observational descriptive design through triangulation method (observation, interview and checklist) for drug management evaluation in two primary public HCs and a self-completion Likert-scale SERVQUAL questionnaire was developed using a convenience sampling technique, given to 794 patients from three Primary public HCs that received medicine from pharmacy. This survey included five service quality dimensions; tangibility, reliability, responsiveness, assurance and empathy. The drug management in two primary public HCs had been categorized as having excellent management with the mean score 88.89% and 89.58% of all aspects and gap analysis showed mean gap score for five service quality dimensions of -0.98; -0.83 for responsiveness, -0.91 for reliability, -0.81 for assurance, -1.47 for empathy, -0.89 for tangibility, showing that patient expectation was still not met. Satisfaction level for pharmacy service was 79.53 % which is categorized as excellent. This paper provides useful information to primary public health care provider that the pharmacy unit is not providing service quality level expected by patients and needs improvement in many variables.Keywords: Drug Management, Service Quality, Pharmacy, Public Primary Health Care, EvaluationEVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN KUALITAS PELAYANAN KEFARMASIAN DI BEBERAPA PUSKESMAS DI KOTA BANDUNGABSTRAKDi era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), unit farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama milik pemerintah dalam hal ini Puskesmas, harus didukung oleh pengelolaan obat dengan kualitas pelayanan yang baik. Hal ini meliputi sumber daya manusia (SDM), manajemen persediaan obat dan kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan obat yang terdiri dari aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan pencatatan serta mengevaluasi kualitas pelayanan farmasi di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif melalui metode triangulasi untuk mengevaluasi pengelolaan obat dua Puskesmas (observasi, wawancara dan checklist) dan kuesioner SERVQUAL dengan skala Likert untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan kepada 794 pasien yang memperoleh obat di tiga Puskesmas secara convenience sampling berkaitan dengan lima dimensi kualitas: bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Pengelolaan obat di dua Puskesmas dikategorikan sangat baik dengan nilai rata-rata seluruh aspek 88,89% dan 89,58%. Hasil analisis celah menunjukkan nilai celah rata-rata seluruh dimensi kualitas -0,98; daya tanggap -0,83, kehandalan -0,91, jaminan -0,81, empati -1,47, bukti langsung -0,89, mengindikasikan bahwa harapan pasien belum terpenuhi. Tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan farmasi 79,53 % dan dikategorikan sangat baik. Penelitian ini memberikan informasi yang berguna bagi Puskesmas bahwa unit farmasi terkait belum dapat memberikan taraf kualitas pelayanan yang diharapkan oleh pasien dan memerlukan perbaikan dalam berbagai aspek.Kata kunci: Pengelolaan Obat, Kualitas Pelayanan, Unit Farmasi, Puskesmas, Evaluasi
Praktek Pengelolaan dan Pemusnahan Limbah Obat pada Sarana Pelayanan Farmasi Komunitas Wilayah Bandung Timur Nurfitria, Rizki Siti; Rasyidin, Khoerul; Hartini, Ni Nyoman Sri Mas; Anggriani, Ani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.1.83-92

Abstract

Latar belakang: Limbah farmasi sebagai salah satu penyebab pencemaran lingkungan masih menjadi masalah dilematis pada sarana pelayanan farmasi komunitas dimana obat harus dimusnahkan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada sarana farmasi komunitas wilayah Bandung Timur.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara pada bulan April – September 2021. Responden merupakan penanggung jawab kegiatan pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada 47 sarana farmasi yang terdiri dari apotek dan klinik pratama yang ditentukan secara accidental sampling. Data diolah dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif mencakup karakteristik limbah obat dan gambaran kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan obat.Hasil: Semua sarana hanya menghasilkan limbah obat golongan obat keras, obat OTC, obat tradisional dengan bentuk sediaan solid mendominasi sebanyak rerata 330,2 item (41,9 g). Kegiatan pemusnahan limbah obat dilakukan secara mandiri sebesar 85,7% sedangkan 13,3 % penanganan dilakukan dengan cara diserahkan ke pihak lain. Sebagian besar sarana farmasi belum melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Sebesar 59,6% sarana telah memiliki alur pengelolaan limbah yang sesuai sedangkan sebelas apotek dan tiga klinik pratama memiliki alur penanganan limbah obat yang tidak sesuai.Simpulan: Separuh lebih sarana farmasi telah memiliki alur pengelolaan limbah sesuai Pedoman Pengelolaan Limbah Obat Rusak dan Kadaluarsa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tahun 2021 namun diperlukan sinkronisasi dengan pedoman layanan farmasi yang lain serta sosialisasi kepada pengelola. Apoteker sebagai pengelola perbekalan farmasi perlu mendapat daya dukung yang baik dalam menangani limbah obat secara professional. Title: Suitability of Practices for Management and Destruction of Drug Waste in Community Pharmacy Service Facilities in the East Bandung RegionBackground: Pharmaceutical waste as one of the causes of environmental pollution is still a dilemma for community pharmacy service facilities where drugs must be destroyed independently. This study aimed to evaluate the suitability of the management and destruction of drug waste in community pharmacy facilities in the East Bandung area.Method: This research was a descriptive study conducted through direct observation and interviews in April – September 2021. Respondents were responsible for the management and destruction of drug waste at 47 pharmaceutical facilities consisting of pharmacies and primary clinics determined by accidental sampling. The data was processed and analyzed quantitatively and qualitatively including the characteristics of drug waste and a description of the suitability of the management and destruction of drugs.Result: All facilities only produce solid drug, OTC drugs,and traditional medicines waste with solid dosage forms dominating an average of 330.2 items (41.9 g). The activity of destroying drug waste is carried out independently by 85.7%, while 13.3% of handling is carried out by handing it over to other parties. Most of the pharmaceutical facilities have not collaborated with third parties. As many as 59.6% of the facilities had appropriate waste management lines, while eleven pharmacies and three primary clinics had inappropriate drug waste management lines.Conclusion: More than half of pharmaceutical facilities already have a waste management flow in accordance with the Guidelines for Waste Management of Damaged and Expired Drugs in Health Service Facilities in 2021, but synchronization with other pharmaceutical service guidelines and socialization to managers is required. Pharmacists as managers of pharmaceutical supplies need to have good support in dealing with drug waste in a professional manner.
TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU MAHASISWI MENGENAI LEGALITAS DAN KEAMANAN KOSMETIK Hani Sri Fitriani; Rizki Siti Nurfitria
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 20, No 1 (2021): VISIKES
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/visikes.v20i1.3614

Abstract

Cosmetic is secondary needs for human life and commodities used by all ages the rise of illegal cosmetics findings in community, increased promoting by public figures while safe cosmetics knowladge of community has not been balanced. The purpose of this study was to determine the level of knowledge and behavior regarding cosmetic legality and safety in students of health faculty including pharmacy and non-pharmacy in Bhakti Kencana University. The research methodology used was descriptive observational with cross-sectional approach. Data was presented in quantitative and qualitative descriptive. Data retrieval was done through filling out questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed by Rank Spearman test and Mann-Witney test. The results showed that the level of knowledge and behavior of pharmacy and non pharmacy was in the fair category (65,85%) (56,09%) and (67,47%) (73,98%). There was a weak and significant positive relationship between level of knowledge and behavior of cosmetic use in non-pharmacy student with correlation coefficient 0.133 so as pharmacy student not significant with correlation coefficient of 0.02. There was significant relationship between faculty with the level of knowledge and behavior cosmetic use of pharmacy faculty and non-pharmacy faculty with a correlation coefficient 0.000 and 0.003.
EVALUATION OF DRUG MANAGEMENT AND SERVICE QUALITY OF SEVERAL PUBLIC PRIMARY HEALTH CARE PHARMACIES IN BANDUNG Rizki Siti Nurfitria; Akhmad Priyadi; Sepriantina Sepriantina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTIn national health coverage era, public primary health care pharmacy must be supported by good drug management and service quality. These include human resources, pharmaceutical inventory management, and pharmacy service quality. This paper empirically evaluates the drug management that consist of planning, procurement, storage, distribution, and documentation aspects; and also how patients perceived pharmacy service quality. The research used observational descriptive design through triangulation method (observation, interview and checklist) for drug management evaluation in two primary public HCs and a self-completion Likert-scale SERVQUAL questionnaire was developed using a convenience sampling technique, given to 794 patients from three Primary public HCs that received medicine from pharmacy. This survey included five service quality dimensions; tangibility, reliability, responsiveness, assurance and empathy. The drug management in two primary public HCs had been categorized as having excellent management with the mean score 88.89% and 89.58% of all aspects and gap analysis showed mean gap score for five service quality dimensions of -0.98; -0.83 for responsiveness, -0.91 for reliability, -0.81 for assurance, -1.47 for empathy, -0.89 for tangibility, showing that patient expectation was still not met. Satisfaction level for pharmacy service was 79.53 % which is categorized as excellent. This paper provides useful information to primary public health care provider that the pharmacy unit is not providing service quality level expected by patients and needs improvement in many variables.Keywords: Drug Management, Service Quality, Pharmacy, Public Primary Health Care, EvaluationEVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN KUALITAS PELAYANAN KEFARMASIAN DI BEBERAPA PUSKESMAS DI KOTA BANDUNGABSTRAKDi era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), unit farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama milik pemerintah dalam hal ini Puskesmas, harus didukung oleh pengelolaan obat dengan kualitas pelayanan yang baik. Hal ini meliputi sumber daya manusia (SDM), manajemen persediaan obat dan kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan obat yang terdiri dari aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan pencatatan serta mengevaluasi kualitas pelayanan farmasi di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif melalui metode triangulasi untuk mengevaluasi pengelolaan obat dua Puskesmas (observasi, wawancara dan checklist) dan kuesioner SERVQUAL dengan skala Likert untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan kepada 794 pasien yang memperoleh obat di tiga Puskesmas secara convenience sampling berkaitan dengan lima dimensi kualitas: bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Pengelolaan obat di dua Puskesmas dikategorikan sangat baik dengan nilai rata-rata seluruh aspek 88,89% dan 89,58%. Hasil analisis celah menunjukkan nilai celah rata-rata seluruh dimensi kualitas -0,98; daya tanggap -0,83, kehandalan -0,91, jaminan -0,81, empati -1,47, bukti langsung -0,89, mengindikasikan bahwa harapan pasien belum terpenuhi. Tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan farmasi 79,53 % dan dikategorikan sangat baik. Penelitian ini memberikan informasi yang berguna bagi Puskesmas bahwa unit farmasi terkait belum dapat memberikan taraf kualitas pelayanan yang diharapkan oleh pasien dan memerlukan perbaikan dalam berbagai aspek.Kata kunci: Pengelolaan Obat, Kualitas Pelayanan, Unit Farmasi, Puskesmas, Evaluasi
Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Lansia terhadap Pencegahan Covid-19 melalui Aktivitas Fisik dan Hypnoterapi Mamay Maulana; Rizki Siti Nurfitria; Meti Sulastri; Neneng Elviana; Ratna Dian Kurniawati
ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 5, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.904 KB) | DOI: 10.32509/abdimoestopo.v5i1.1748

Abstract

Lansia merupakan kelompok masyarakat yang lebih rentan tertular Covid-19. Pencegahan penularan virus ini pada kelompok lansia harus dilakukan secara maksimal, karena lansia beresiko mengalami gejala yang lebih berat jika terinfeksi Covid-19. Salah satu upaya untuk pencegahan penularan Covid-19 pada lansia yaitu dengan langkah promotif dan preventif kesehatan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap lansia terhadap protocol pencegahan Covid-19 khususnya aktivitas fisik dan hypnoterapi. Kegiatan ini dengan metode ceramah (penyuluhan) yang dilakukan secara hybrid yaitu kombinasi antara kegiatan luring dan daring melalui aplikasi Zoom, serta kegiatan bakti social berupa pemeriksaan kesehatan gratis, latihan nafas dan workshop hipnoterapi dengan menghadirkan seorang pakar hypnosis. Kuesioner pre- dan post-test mengenai aktivitas fisik dan kuesioner umpan balik diberikan kepada mitra untuk mengevaluasi keberhasilan program. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta lansia memiliki parameter kimia klinik gula darah dan kolesterol di atas angka normal menunjukkan bahwa sebagian besar mitra lansia memiliki kondisi kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Penyuluhan yang merupakan inti program secara umum telah menghasilkan luaran peningkatan pengetahuan dan sikap lansia terhadap protocol kesehatan dan aktivitas fisik selama pandemi. Melalui kegiatan ini diharapkan mitra lansia dapat meningkatkan upaya pemeliharaan kesehatan guna mencegah penularan Covid-19 serta meningkatkan kepercayaan diri dalam mengatasi gangguan fisik dan psikis akibat pandemi.
KAJIAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERILAKU PENGGUNAAN OBAT NON RESEP PADA IBU HAMIL DI LAMPUNG-INDONESIA Ni Nyoman Sri Mas Hartini; Indah Febriyanti Amir; Rizki Siti Nurfitria
Jurnal Farmagazine Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v7i1.158

Abstract

Badan Pusat Statistik Indonesia menyatakan bahwa selama satu bulan terakhir di tahun 2014 sekitar 20,99% Penduduk Indonesia memilih melakukan swamedikasi. Penelitian di Nigeria menunjukkan sebanyak 375 dari 518 wanita hamil (72,4%) melakukan swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, gambaran dan perilaku penggunaan juga hubungan antara tingkat pengetahuan penggunaan obat non resep pada ibu hamil dengan dengan perilaku penggunaannya di Desa Jatimulyo Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional dan data disajikan dalam bentuk deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 94 ibu hamil, sebanyak 56 orang menggunakan obat tanpa resep (59,57 %). Obat yang paling banyak digunakan yaitu parasetamol 28,57%. Tingkat pengetahuan ibu hamil dalam kategori cukup baik (68,95%). Tingkat perilaku penggunaan obat non resep dalam kategori baik (78,53%), dan terdapat hubungan positif antara tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat non resep dengan nilai signifikansi 0,001. Kata Kunci: Ibu Hamil, Obat Non Resep, Swamedikasi
Prevalensi Kejadian dan Pola Pengobatan Tuberkulosis pada Pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Bandung: Tuberkulosis pada Pasien HIV/AIDS Yani Mulyani; Raden Roro Maryana Ulfah; Rizki Siti Nurfitria
Jurnal Kesehatan Komunitas Vol 5 No 3 (2019): Jurnal Kesehatan Komunitas
Publisher : STIKes Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.162 KB) | DOI: 10.25311/keskom.Vol5.Iss3.417

Abstract

HIV causes a decrease in immunity which makes the patient susceptible to opportunistic infections such as tuberculosis. This research aims to find out the prevalence, patient descriptions’, treatment pattern and therapeutic goals for tuberculosis in HIV/AIDS patients who were taking the medication in polyclinic of DOTS and polyclinic of VCT in Regional General Hospital Of Bandung City. This was nonexperimental research. Data was collected retrospectively with cross-sectional approach using secondary data which were TB-01 form and HIV Care Summary Form and Antiretroviral Therapy from 1 January 2016 to 31 December 2018. From 668 Tuberculosis occurrence, there were 25 patients suffered HIV/AIDS. Result obtained the most risk factors was homosexual (60%), with the most ART treatment combination were Tenofovir, Lamivudine, and Evarirenz, 4% has a drug allergic, the most TB treatment history was new case (92%), with the most kind was pulmonary TB (56%), the most Anti TB treatment was category I (92%) and 60% patients done with full therapy
Edukasi Gaya Hidup, Pola Jajan Sehat dan Pemberian Jus Abc (Apple Bit Carrot) untuk Pencegahan Anemia pada Remaja Putri Antri Ariani; Desi Wijayanti Eko Dewi; Anne Yuliantini; Rizki Siti Nurfitria; Asep Mulyana; Ermilda Ermilda
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i4.8970

Abstract

ABSTRAK Anemia merupakan masalah gizi di dunia, terutama di Negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut WHO prevalensi anemia pada wanita di Indonesia yaitu sebesar 23,9%, yang terbagi dari prevalensi anemia pada wanita umur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan umur 15-25 tahun sebesar 18,4%. Remaja putri berisiko sepuluh kali untuk menderita anemia dibanding dengan remaja putri. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untk memberikan edukasi pemahaman anemia, memberikan edukasi mencegah anemia dengan mengubah gaya hidup dan pola jajan dan memberikan edukasi mengobati anemia pada remaja. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari sabtu, 26 November 2022 di ruang aula SMA Darul Fatwa, Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat, yang dihadiri oleh 124 orang remaja putri,kegiatan dalam bebrapa tahapan yaitu identifikasi kebutuhan mitra, perancangan kegiatan, pembuatan produk, uji operasi, pendampingan operasional dan penerapan iptek kepada mitra. Kegiatan Pengabian didapatkan adanya peningkatan pengetahuan remaja putri tentang anemia berdasarkan nilai rata-rata pre test 42,3±11,8 naik menjadi  64,7±9,7 saat post test,  materi gaya hidup sehat nilai rata-rata pre test 46,3±17 naik menjadi 63,6±9,3 saat post test, tidak ada remaja putri yang mengalami anemia, semua remaja putri sudah diajarkan tentang pembuatan jus ABC (Apple Bit Carrot) dan bersedia minum jus. Edukasi pemahaman anemia edukasi mencegah anemia dengan mengubah gaya hidup dan pola jajan dan memberikan edukasi mengobati anemia pada remaja telah terlaksana secara efektif, Terdapat peningkatan pemahaman siswi SMA Darul Fatwa mengenai materi anemia, gaya hidup, dan pola jajan sehat. Kata Kunci: Edukasi, Anemia, Pola Jajan Sehat  ABSTRACT Anemia is a nutritional problem in the world, especially in developing countries including Indonesia. According to WHO the prevalence of anemia in women in Indonesia is 23.9%, which is divided into the prevalence of anemia in women aged 5-14 years of 26.4% and 15-25 years of age of 18.4%. Young women are ten times at risk for suffering from anemia compared to young women. This service activity aims to provide education on understanding anemia, provide education on preventing anemia by changing lifestyles and eating patterns and provide education on treating anemia in adolescent. This activity was held on Saturday, 26 November 2022 in the hall room of Darul Fatwa High School, Jatinagor, Sumedang, West Java, which was attended by 124 young women, activities in several stages, namely identifying partner needs, designing activities, making products, testing operations, operational assistance and application of science and technology to partners. Community Service activities found that there was an increase in knowledge of young women about anemia based on an average pre-test score of 42.3 ± 11.8, increasing to 64.7 ± 9.7 during the post-test, healthy lifestyle material pre-test average value of 46 .3 ± 17 increased to 63.6 ± 9.3 during the post test, no young women experienced anemia, all young women had been taught about ABC (Apple Bit Carrot) juice making and were willing to drink juice. Education on understanding anemia, education on preventing anemia by changing lifestyles and eating patterns and providing education on treating anemia in adolescents has been carried out effectively. There is an increased understanding of Darul Fatwa High School students regarding anemia, lifestyle and healthy snacking patterns. Keywords: Education, Anemia, Healthy Snack Patterns
Nutrition Knowledge Improves Capabilities Educational Information Communication Service (EIC) Practice Community Pharmacist Health Supplement Rizki Siti Nurfitria; Tiara Ismadewi Hastuty; Ni Nyoman Sri Mas Hartini
Buletin Farmatera Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/bf.v8i2.12684

Abstract

Abstract: Community pharmacists as the spearhead of pharmacy services may be asked to provide advice on the use of health supplements through Information Communication and Education services (EIC) such as counselling and drug information. Knowledge of nutrition and health supplements is very important to prevent misuse in consuming these products. The purpose of the study was to determine the extent of the relationship between nutritional knowledge and community pharmacist practice in EIC health supplements. The method used is observational analytic with a cross-sectional approach in Purwakarta Regency in March – April 2022. Data was taken using questionnaires on 59 community pharmacists and then processed qualitatively and quantitatively through the Spearman Rank correlation test using SPSS version 25.0. The results showed that all community pharmacists routinely conduct EIC (100%), most have positions as the first pharmacist practice license (SIPA) (88.6%) and practice in pharmacies (50%). The level of knowledge of nutritional counselling and community pharmacist practice in EIC health supplements falls into the good category (85.8% and 81.32%). The level of knowledge of nutritional counselling and community pharmacist practice in EIC health supplements falls into the good category (85.8% and 81.32%). There was a significant positive relationship between nutritional knowledge and community pharmacist practice in the EIC of health supplements at a significance value of 0.000 (p0.05) and a correlation coefficient value of 0.769 indicating that the relationship is strong.
HUBUNGAN PENGETAHUAN OBAT BAHAN ALAM DAUN KATUK (Sauropus Androgynus (L) Merr) UNTUK PENYAKIT SINDROM METABOLIK DAN KESEDIAAN MEMBAYAR DI KEC. PANYILEUKAN KOTA BANDUNG Nurfitria, Rizki Siti; Shinta, Nilo Arya; Hartini, Ni Nyoman Sri Mas
Journal of Herbal, Clinical and Pharmaceutical Science (HERCLIPS) Vol 5 No 02 (2024): HERCLIPS VOL 05 NO 02
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/herclips.v5i02.7145

Abstract

Daun katuk merupakan tanaman lokal Asia yang digunakan sebagai terapi berbagai penyakit. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat bahan alam terbukti lebih terjamin, namun yang menjadi permasalahan adalah kurangnya pengetahuan tentang daun katuk yang biasa digunakan sebagai ramuan obat-obatan bahan alam dan bagaimana pemanfaatannya sebagai antihipertensi, antidiabetes, antiinflamasi, antioksidan, dan pelancar Air Susu Ibu (ASI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan kesediaan membayar masyarakat terhadap penggunaan produk obat bahan alam daun katuk sebagai pengobatan penyakit sindrom metabolik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu observasional dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan berupa data primer dengan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Sampel pada penelitian ini yaitu pasien Puskesmas Panyileukan yang memiliki penyakit sindrom metabolik sebanyak 120 responden. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan uji Rank Spearman dengan aplikasi SPPS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang obat bahan alam daun katuk termasuk kategori baik (86,75%), rata-rata nilai Willingness to Pay (WTP) produk obat bahan alam daun katuk untuk penyakit sindrom metabolic di Puskesmas Panyileukan yaitu sebesar Rp36.175,00. Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dan kesediaan membayar dengan nilai signifikasi 0,688 (p > 0,05).