Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DENGAN PENYAKIT PNEUMONIA DI PUSKESMAS KECAMATAN BATUJAJAR Anggriani, Ani; Azhar, Rivan Fajarudin; Lisni, Ida
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No Edisi Khus (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 Edisi Khusus SemNas Tanaman Obat Indon
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.228 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan dan penyumbang terbesar penyebab kematian anak usia dibawah lima tahun (anak-balita). Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Ketidaktepatan diagnosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak adekuatnya pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi, timbulnya masalah resistensi dan efek obat yang tidak dikehendaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan penyakit pneumonia di puskesmas kecamatan batujajar, berdasarkan ketepatan dosis, ketepatan indikasi, ketepatan frekuensi pemberian, ketepatan obat dan potensi interaksi obat. Penelitian ini bersifat observasional dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan catatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Resep. Selama periode bulan Januari sampai maret 2016 terdapat 54 Pasien dengan rentang usia 0 sampai 5 tahun yang menderita penyakit pneumonia. 31 pasien (57,40%) diantaranya berjenis kelamin laki-laki, antibiotik yang sering digunakan adalah cotrimoksazole 92.73% dan Amoksisilin 5,45%. Semua pasien menerima obat sesuai indikasi dan  tepat obat, 40,74% memenuhi kriteria tepat dosis, 90,74% memenuhi kriteria tepat frekuensi pemberian obat dan ditemukan potensi interaksi obat antara cotrimoksazole dengan salbutamol sebanyak satu kasus.
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT HIPERTENSI GOLONGAN ANGIOTENSIN RESEPTOR BLOKER PADA PASIEN YANG INTOLERANSI ACE INHIBITOR Anggriani, Ani; Herawati, Ineke; Budiastuti, Jacinta
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No 1, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.761 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian paling sering di dunia.Terapi mengunakan Angiotensin  Converting Enzyme Inhibitors (ACE inhibitor) merupakan terapi yang aman dan konvensional. Angiotensin Reseptor Blockers (ARB) digunakan pada pasien yang mengalami intoleransi ACE inhibitor. Penelitian bertujuan untuk menilaii penggunaan obat ARB sebagai terapi bagi pasien yang intoleransi ACE inhibitor. Metode penelitian ini meliputi penelusuran pustaka, penetapan kriteria obat, penetapan kriteria pasien dan kriteria penggunaan obat. Pengambilan data dilakukan dengan metode retrosfektif dari  rekam medis pasien rawat jalan di poliklinik Ginjal dan Hipertensi, pengolahan dan analisa data, dan pengambilan kesimpulan. Riwayat pasien mendapat terapi ACE inhibitor sebanyak 50% respon intoleransi batuk,  sebanyak 31.1% karena dalam pengobatan dan pemantauan tekanan darah pasien tidak stabil sesuai target yang diharapkan dan 18.9% pasien di indikasikan adanya gangguan terhadap ginjal. Interaksi obat yang banyak ditemukan pemberian kombinasi obat hipertensi ARB dengan Bisoprolol (52.3%) dan ARB dengan obat lainnya yaitu Suplemen Kalium  (42.9%). Kesimpulan : Pasien yang mendapatkan terapi ACE inhibitor dengan respon intoleransi ACE inhibitor menggunakan obat golongan ARB seperti Candersartan, Irbesartan, Telmisartan, Valsartan
PENYIMPANAN & DISTRIBUSI SEDIAAN VAKSIN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT Santoso, Rahmat; Anggriani, Ani; Suryaman, Aman
IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 2 (2020): IKRAITH-HUMANIORA VOL 4 NO 2 Bulan Juli 2020
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.852 KB)

Abstract

Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan,masih utuh atau bagiannya yang telah diolah berupa toksin mikroorganisme yang telah diolahmenjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkankekebalan yang spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu. Dinas kesehatan secaraumum bertanggung jawab terhadap terlaksananya penyimpanan dan pendistribusian vaksin yangmerata dan teratur secara tepat waktu sampai kepada unit pelayanan kesehatan dasar, yang sangatrentan terhadap berbagai masalah dan kendala. Untuk mempertahankan kualitas vaksin makadiperlukan rencana aksi dalam melakukan pengelolaan vaksin yakni penyimpanan danpendistribusian yang efektif dan efisien sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangandalam penyimpanan maupun pendistribusian vaksin, agar potensi vaksin tetap terjaga hingga saatakan digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil penyimpanan danpendistribusian vaksin di Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dengan berdasarkan 3 kategoripenilaian yaitu sarana dan prasarana serta implementasi pedoman pengelolaan vaksin. Penelitianini bertujuan untuk mengevalusi penyimpanan dan pendistribusian vaksin dari Dinas KesehatanProvinsi Jawa Barat ke Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dengan menggunakan metodeobservasional yang bersifat deskriptif dan evaluasi dengan teknik pengumpulan data denganpengamatan langsung menggunakan lembar observasi, kemudian dilakukan pengolahan data,dihitung dan dinyatakan dalam persentase. Dari hasil penelitian yang dilakukan, kategoripenyimpanan dan pendistribusian vaksin, relatif baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehanpersentase ketiga kategori penyimpanan vaksin yaitu Sarana dengan persentase 79%, Prasaranadengan persentase 77% dan Implementasi pedoman pengelolaan vaksin dengan persentase 80%.Kesimpulan yang diperolah dari profil penyimpanan dan disrtibusi vaksin dinyatakan relatifbaik, namun perlu ditingkatkan, agar sesuai dengan pedoman pengelolaan rantai dingin (coldchain) dalam hal penyimpanan dan pendistribusian vaksin yang terlihat dari kurangnyaprasarana: Alat pengukur suhu digital, freeze tag, genset, kamar dingin (cold room), tempatpenyimpanan vaksin (refrigerator) dan kotak dingin cair selama pendistribusian.
Praktek Pengelolaan dan Pemusnahan Limbah Obat pada Sarana Pelayanan Farmasi Komunitas Wilayah Bandung Timur Nurfitria, Rizki Siti; Rasyidin, Khoerul; Hartini, Ni Nyoman Sri Mas; Anggriani, Ani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.1.83-92

Abstract

Latar belakang: Limbah farmasi sebagai salah satu penyebab pencemaran lingkungan masih menjadi masalah dilematis pada sarana pelayanan farmasi komunitas dimana obat harus dimusnahkan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada sarana farmasi komunitas wilayah Bandung Timur.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara pada bulan April – September 2021. Responden merupakan penanggung jawab kegiatan pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada 47 sarana farmasi yang terdiri dari apotek dan klinik pratama yang ditentukan secara accidental sampling. Data diolah dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif mencakup karakteristik limbah obat dan gambaran kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan obat.Hasil: Semua sarana hanya menghasilkan limbah obat golongan obat keras, obat OTC, obat tradisional dengan bentuk sediaan solid mendominasi sebanyak rerata 330,2 item (41,9 g). Kegiatan pemusnahan limbah obat dilakukan secara mandiri sebesar 85,7% sedangkan 13,3 % penanganan dilakukan dengan cara diserahkan ke pihak lain. Sebagian besar sarana farmasi belum melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Sebesar 59,6% sarana telah memiliki alur pengelolaan limbah yang sesuai sedangkan sebelas apotek dan tiga klinik pratama memiliki alur penanganan limbah obat yang tidak sesuai.Simpulan: Separuh lebih sarana farmasi telah memiliki alur pengelolaan limbah sesuai Pedoman Pengelolaan Limbah Obat Rusak dan Kadaluarsa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tahun 2021 namun diperlukan sinkronisasi dengan pedoman layanan farmasi yang lain serta sosialisasi kepada pengelola. Apoteker sebagai pengelola perbekalan farmasi perlu mendapat daya dukung yang baik dalam menangani limbah obat secara professional. Title: Suitability of Practices for Management and Destruction of Drug Waste in Community Pharmacy Service Facilities in the East Bandung RegionBackground: Pharmaceutical waste as one of the causes of environmental pollution is still a dilemma for community pharmacy service facilities where drugs must be destroyed independently. This study aimed to evaluate the suitability of the management and destruction of drug waste in community pharmacy facilities in the East Bandung area.Method: This research was a descriptive study conducted through direct observation and interviews in April – September 2021. Respondents were responsible for the management and destruction of drug waste at 47 pharmaceutical facilities consisting of pharmacies and primary clinics determined by accidental sampling. The data was processed and analyzed quantitatively and qualitatively including the characteristics of drug waste and a description of the suitability of the management and destruction of drugs.Result: All facilities only produce solid drug, OTC drugs,and traditional medicines waste with solid dosage forms dominating an average of 330.2 items (41.9 g). The activity of destroying drug waste is carried out independently by 85.7%, while 13.3% of handling is carried out by handing it over to other parties. Most of the pharmaceutical facilities have not collaborated with third parties. As many as 59.6% of the facilities had appropriate waste management lines, while eleven pharmacies and three primary clinics had inappropriate drug waste management lines.Conclusion: More than half of pharmaceutical facilities already have a waste management flow in accordance with the Guidelines for Waste Management of Damaged and Expired Drugs in Health Service Facilities in 2021, but synchronization with other pharmaceutical service guidelines and socialization to managers is required. Pharmacists as managers of pharmaceutical supplies need to have good support in dealing with drug waste in a professional manner.
ANALISIS PENGETAHUAN, PERILAKU, DAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK DALAM SWAMEDIKASI DI SALAH SATU APOTEK DI KOTA BANDUNG Anggriani, Ani; Fitriani, Dinda Amelia; Lisni, Ida
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 15, No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v15i2.1376

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya masyarakat untuk mengobati dan memelihara kesehatan diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Salah satu obat yang paling banyak digunakan dalam swamedikasi yaitu analgesik untuk mengatasi nyeri. Tingkat pengetahuan mengenai obat analgesik diperlukan dalam kegiatan swamedikasi untuk menghindari penggunaan obat yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pasien serta ketepatan penggunaan obat pada swamedikasi analgesik di salah satu apotek di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 30% responden, pengetahuan cukup 46%, dan pengetahuan baik 24%, untuk perilaku responden terdapat  86%  baik dan 14% tergolong cukup. Analisis statistik korelasi menggunakan rank spearman didapat nilai signifikansi sebesar 0,000 dan koefisien korelasi 0,703 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah yang positif antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi obat analgesik. Sebanyak 100% responden sudah tepat dalam pemilihan obat analgesik dan 96% responden sudah tepat dosis.
PEMANFAATAN PUDING DAUN KELOR UNTUK PENCEGAHAN STUNTING DI KELURAHAN SEPANJANG JAYA KOTA BEKASI Simamora, Rotua Suriany; Agustina, Lisna; Wati, Puri Kresna; Rahayu , Feronika Evma; Nurhayati, Nunung; Anggriani, Ani
PROFICIO Vol. 6 No. 1 (2025): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v6i1.3900

Abstract

Kekurangan nutrisi selama kehamilan dapat menghambat pertumbuhan janin dan berlanjut setelah kelahiran. Pemenuhan kebutuhan nutrisi ini penting untuk mendukung pertumbuhan optimal janin dan mencegah risiko stunting pada anak yang akan dilahirkan. Pemberian ASI eksklusif pada 6 bulan pertama dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang tepat sangat penting. Dalam upaya pencegahan stunting, inovasi makanan berbasis bahan lokal yang kaya nutrisi menjadi salah satu strategi yang potensial. Salah satunya adalah penggunaan daun kelor dalam bentuk puding sebagai makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kepada masyarakat tentang gizi ibu hamil dan bayi balita serta pencegahan stunting di masyarakat. Metode yang digunakan adalah Pemeriksaan kesehatan (tinggi badan dan berat badan) bayi dan balita, dan ibu hamil. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita, serta meningkatkan kesadaran akan bahaya stunting. Pelatihan pembuatan puding kelor sebagai alternatif makanan bergizi tinggi telah memberdayakan masyarakat, terutama ibu-ibu. Antusiasme dan partisipasi aktif masyarakat menunjukkan bahwa program ini diterima dengan baik dan berpotensi untuk dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan status gizi ibu hamil dan balita, serta mendukung upaya pencegahan stunting di desa tersebut.
ANALISIS PENGETAHUAN, PERILAKU, DAN KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK DALAM SWAMEDIKASI DI SALAH SATU APOTEK DI KOTA BANDUNG Anggriani, Ani; Fitriani, Dinda Amelia; Lisni, Ida
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v15i2.1376

Abstract

Swamedikasi merupakan upaya masyarakat untuk mengobati dan memelihara kesehatan diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Salah satu obat yang paling banyak digunakan dalam swamedikasi yaitu analgesik untuk mengatasi nyeri. Tingkat pengetahuan mengenai obat analgesik diperlukan dalam kegiatan swamedikasi untuk menghindari penggunaan obat yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pasien serta ketepatan penggunaan obat pada swamedikasi analgesik di salah satu apotek di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 30% responden, pengetahuan cukup 46%, dan pengetahuan baik 24%, untuk perilaku responden terdapat  86%  baik dan 14% tergolong cukup. Analisis statistik korelasi menggunakan rank spearman didapat nilai signifikansi sebesar 0,000 dan koefisien korelasi 0,703 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan arah yang positif antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikasi obat analgesik. Sebanyak 100% responden sudah tepat dalam pemilihan obat analgesik dan 96% responden sudah tepat dosis.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Kesediaan Diri Vaksinasi COVID-19 RW 01 Kecamatan Cineam Anggriani, Ani; Sutrisno, Entris; Saskia, Puti Bela
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 14 No 2 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.995 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v14i2.95

Abstract

Abstract: The spread of the COVID-19 virus is rapidly expanding so that it becomes a big problem due to the increasing number of positive patient cases and cases of patients dying. Various efforts have been made, one of which is implementing a vaccination program with the aim of being able to work effectively by producing specific antibodies in the body so that it can reduce the incidence and break the chain of transmission. The attitude of the community towards their willingness to carry out the vaccination program still raises pros and cons. On November 4, 2021, it was recorded that Tasikmalaya Regency was ranked first as the region with the lowest vaccination rate in West Java. This study aims to analyze whether there is a significant relationship between the level of public knowledge on self- availability for the COVID-19 vaccine in the RW 01 area, Cineam District, Tasikmalaya Regency. This research is included in the type of quantitative research with analytical observational method with a cross sectional approach. Data were collected by distributing questionnaires and obtained a sample of 338 respondents. Data were analyzed using SPSS for frequency test and correlation test with Spearman Rank. The results obtained for the level of community knowledge of 88.9% and self-willingness of 67.8%, and the correlation test obtained is a significance value of 0.000 (0.000 <0.05) indicating a significant relationship between the level of knowledge and the presence of the community for implement a vaccination program.
Evaluation of Antibiotic Use in Inpatient and Outpatient Diabetic Ulcer Patients at a Government Hospital in Bandung Sutrisno, Entris; Anggriani, Ani; Sodik, Jajang Japar
Sciences of Pharmacy Volume 4 Issue 2
Publisher : ETFLIN Publishing House

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0402318

Abstract

Diabetic foot ulcers are caused by neuropathy and/or peripheral arterial disease in patients with type 2 diabetes mellitus. These infections are commonly treated with empirical antibiotics. However, excessive or inappropriate antibiotic use may lead to resistance and poor treatment outcomes. This study aimed to evaluate antibiotic prescribing patterns, rationality, and potential drug interactions in diabetic ulcer patients at a government hospital in Bandung from January to December 2023. A retrospective observational design was used to analyze medical records of 63 patients. The most frequently used single antibiotics were ceftriaxone (51%), cefixime (20%), and ceftizoxime (17%), while the most common combination therapy was ceftizoxime + metronidazole (24%). Evaluation of antibiotic rationality showed 100% appropriate indication, 90.48% appropriate drug selection, and 98.41% appropriate dosage. Despite this, 33.33% of prescriptions had potential drug interactions with commonly co-prescribed medications. These findings indicate generally rational antibiotic use with areas for improvement in drug selection and interaction management. The study highlights the importance of continuous monitoring and rational prescribing to prevent antimicrobial resistance and ensure patient safety.
Pemanfaatan Singkong Dalam Pembuatan Sushi Untuk Panganan Penderita Diabetes Emawati, Emma; Rachmawati, Winasih; Nurfitria, Rizki Siti; Zein, Fauzan; Anggriani, Ani
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xg4jz225

Abstract

Dabetes Militus (DM) disebut sebagai penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Hal ini karena gula tidak dapat dipakai oleh tubuh. Juga karenna pola hidup masyarakat yang tidak sehat mulai dari pola konsumsi yang serba instan, kurang aktivitas fisik dan life style yang buruk. Pada prinsipnya penderita DM harus melakukan pengaturan pada pola makannya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan jumlah kalori dan zat gizi yang dibutuhkan, jenis bahan makanan serta keteraturan jadwal makan. Penatalaksanaan diabetes melitus selain dengan menggunakan obat dapat dilakukan dengan cara diet makanan, edukasi dan olahraga. Sebagai upaya untuk mencegah peningkatan prevalensi diabetes melitus pengaturan diet menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah kenaikan kadar glukosa darah dan menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu makanan yang mengandung kadar karbohidrat rendah adalah makanan berbahan dasar singkong. Melalui ketua PKK Karini di RW 05 Kelurahan Cicaheum diinformasikan bahwa cukup banyak penduduk yang mengidap penyakit Diabetes sehingga wilayah tersebut memerlukan beberapa pencerahan terkait penyakit diabetes apa penyebab dan bagaimana pencegahannya. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan keterampilan Kader dan masyarakat terkait Pemanfaatan singkong dalam pembuatan sushi untuk penderita DM. Post test dan pretest sebelum dan sesudah kegiatan kemudian diberi pelatihan membuat makanan cemilan berupa shushi berbahan dasar singkong. Hasil pengukuran Tingkat pengetahuan masyarakat terekait penyakit DM sebelum dilakukan penyuluhan sebesar 4,16% dan sesudah penyuluhan meningkat menjadi 62,50%, Hal ini menunjukan adanya perubahan yang signifikan. Dan Masyarakat terampil dalam membuat shushi singkong.