Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK DENGAN PENYAKIT PNEUMONIA DI PUSKESMAS KECAMATAN BATUJAJAR Anggriani, Ani; Azhar, Rivan Fajarudin; Lisni, Ida
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No Edisi Khus (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 Edisi Khusus SemNas Tanaman Obat Indon
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.228 KB)

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan dan penyumbang terbesar penyebab kematian anak usia dibawah lima tahun (anak-balita). Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Ketidaktepatan diagnosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak adekuatnya pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi, timbulnya masalah resistensi dan efek obat yang tidak dikehendaki. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien anak dengan penyakit pneumonia di puskesmas kecamatan batujajar, berdasarkan ketepatan dosis, ketepatan indikasi, ketepatan frekuensi pemberian, ketepatan obat dan potensi interaksi obat. Penelitian ini bersifat observasional dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan catatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Resep. Selama periode bulan Januari sampai maret 2016 terdapat 54 Pasien dengan rentang usia 0 sampai 5 tahun yang menderita penyakit pneumonia. 31 pasien (57,40%) diantaranya berjenis kelamin laki-laki, antibiotik yang sering digunakan adalah cotrimoksazole 92.73% dan Amoksisilin 5,45%. Semua pasien menerima obat sesuai indikasi dan  tepat obat, 40,74% memenuhi kriteria tepat dosis, 90,74% memenuhi kriteria tepat frekuensi pemberian obat dan ditemukan potensi interaksi obat antara cotrimoksazole dengan salbutamol sebanyak satu kasus.
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT HIPERTENSI GOLONGAN ANGIOTENSIN RESEPTOR BLOKER PADA PASIEN YANG INTOLERANSI ACE INHIBITOR Anggriani, Ani; Herawati, Ineke; Budiastuti, Jacinta
JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No 1, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.761 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian paling sering di dunia.Terapi mengunakan Angiotensin  Converting Enzyme Inhibitors (ACE inhibitor) merupakan terapi yang aman dan konvensional. Angiotensin Reseptor Blockers (ARB) digunakan pada pasien yang mengalami intoleransi ACE inhibitor. Penelitian bertujuan untuk menilaii penggunaan obat ARB sebagai terapi bagi pasien yang intoleransi ACE inhibitor. Metode penelitian ini meliputi penelusuran pustaka, penetapan kriteria obat, penetapan kriteria pasien dan kriteria penggunaan obat. Pengambilan data dilakukan dengan metode retrosfektif dari  rekam medis pasien rawat jalan di poliklinik Ginjal dan Hipertensi, pengolahan dan analisa data, dan pengambilan kesimpulan. Riwayat pasien mendapat terapi ACE inhibitor sebanyak 50% respon intoleransi batuk,  sebanyak 31.1% karena dalam pengobatan dan pemantauan tekanan darah pasien tidak stabil sesuai target yang diharapkan dan 18.9% pasien di indikasikan adanya gangguan terhadap ginjal. Interaksi obat yang banyak ditemukan pemberian kombinasi obat hipertensi ARB dengan Bisoprolol (52.3%) dan ARB dengan obat lainnya yaitu Suplemen Kalium  (42.9%). Kesimpulan : Pasien yang mendapatkan terapi ACE inhibitor dengan respon intoleransi ACE inhibitor menggunakan obat golongan ARB seperti Candersartan, Irbesartan, Telmisartan, Valsartan
PENYIMPANAN & DISTRIBUSI SEDIAAN VAKSIN DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GARUT Santoso, Rahmat; Anggriani, Ani; Suryaman, Aman
IKRA-ITH HUMANIORA : Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 2 (2020): IKRAITH-HUMANIORA VOL 4 NO 2 Bulan Juli 2020
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.852 KB)

Abstract

Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan,masih utuh atau bagiannya yang telah diolah berupa toksin mikroorganisme yang telah diolahmenjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkankekebalan yang spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu. Dinas kesehatan secaraumum bertanggung jawab terhadap terlaksananya penyimpanan dan pendistribusian vaksin yangmerata dan teratur secara tepat waktu sampai kepada unit pelayanan kesehatan dasar, yang sangatrentan terhadap berbagai masalah dan kendala. Untuk mempertahankan kualitas vaksin makadiperlukan rencana aksi dalam melakukan pengelolaan vaksin yakni penyimpanan danpendistribusian yang efektif dan efisien sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangandalam penyimpanan maupun pendistribusian vaksin, agar potensi vaksin tetap terjaga hingga saatakan digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil penyimpanan danpendistribusian vaksin di Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dengan berdasarkan 3 kategoripenilaian yaitu sarana dan prasarana serta implementasi pedoman pengelolaan vaksin. Penelitianini bertujuan untuk mengevalusi penyimpanan dan pendistribusian vaksin dari Dinas KesehatanProvinsi Jawa Barat ke Dinas Kesehatan Kabupaten Garut dengan menggunakan metodeobservasional yang bersifat deskriptif dan evaluasi dengan teknik pengumpulan data denganpengamatan langsung menggunakan lembar observasi, kemudian dilakukan pengolahan data,dihitung dan dinyatakan dalam persentase. Dari hasil penelitian yang dilakukan, kategoripenyimpanan dan pendistribusian vaksin, relatif baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehanpersentase ketiga kategori penyimpanan vaksin yaitu Sarana dengan persentase 79%, Prasaranadengan persentase 77% dan Implementasi pedoman pengelolaan vaksin dengan persentase 80%.Kesimpulan yang diperolah dari profil penyimpanan dan disrtibusi vaksin dinyatakan relatifbaik, namun perlu ditingkatkan, agar sesuai dengan pedoman pengelolaan rantai dingin (coldchain) dalam hal penyimpanan dan pendistribusian vaksin yang terlihat dari kurangnyaprasarana: Alat pengukur suhu digital, freeze tag, genset, kamar dingin (cold room), tempatpenyimpanan vaksin (refrigerator) dan kotak dingin cair selama pendistribusian.
Praktek Pengelolaan dan Pemusnahan Limbah Obat pada Sarana Pelayanan Farmasi Komunitas Wilayah Bandung Timur Nurfitria, Rizki Siti; Rasyidin, Khoerul; Hartini, Ni Nyoman Sri Mas; Anggriani, Ani
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 21, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.21.1.83-92

Abstract

Latar belakang: Limbah farmasi sebagai salah satu penyebab pencemaran lingkungan masih menjadi masalah dilematis pada sarana pelayanan farmasi komunitas dimana obat harus dimusnahkan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada sarana farmasi komunitas wilayah Bandung Timur.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang dilakukan melalui pengamatan langsung dan wawancara pada bulan April – September 2021. Responden merupakan penanggung jawab kegiatan pengelolaan dan pemusnahan limbah obat pada 47 sarana farmasi yang terdiri dari apotek dan klinik pratama yang ditentukan secara accidental sampling. Data diolah dan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif mencakup karakteristik limbah obat dan gambaran kesesuaian pengelolaan dan pemusnahan obat.Hasil: Semua sarana hanya menghasilkan limbah obat golongan obat keras, obat OTC, obat tradisional dengan bentuk sediaan solid mendominasi sebanyak rerata 330,2 item (41,9 g). Kegiatan pemusnahan limbah obat dilakukan secara mandiri sebesar 85,7% sedangkan 13,3 % penanganan dilakukan dengan cara diserahkan ke pihak lain. Sebagian besar sarana farmasi belum melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. Sebesar 59,6% sarana telah memiliki alur pengelolaan limbah yang sesuai sedangkan sebelas apotek dan tiga klinik pratama memiliki alur penanganan limbah obat yang tidak sesuai.Simpulan: Separuh lebih sarana farmasi telah memiliki alur pengelolaan limbah sesuai Pedoman Pengelolaan Limbah Obat Rusak dan Kadaluarsa di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tahun 2021 namun diperlukan sinkronisasi dengan pedoman layanan farmasi yang lain serta sosialisasi kepada pengelola. Apoteker sebagai pengelola perbekalan farmasi perlu mendapat daya dukung yang baik dalam menangani limbah obat secara professional. Title: Suitability of Practices for Management and Destruction of Drug Waste in Community Pharmacy Service Facilities in the East Bandung RegionBackground: Pharmaceutical waste as one of the causes of environmental pollution is still a dilemma for community pharmacy service facilities where drugs must be destroyed independently. This study aimed to evaluate the suitability of the management and destruction of drug waste in community pharmacy facilities in the East Bandung area.Method: This research was a descriptive study conducted through direct observation and interviews in April – September 2021. Respondents were responsible for the management and destruction of drug waste at 47 pharmaceutical facilities consisting of pharmacies and primary clinics determined by accidental sampling. The data was processed and analyzed quantitatively and qualitatively including the characteristics of drug waste and a description of the suitability of the management and destruction of drugs.Result: All facilities only produce solid drug, OTC drugs,and traditional medicines waste with solid dosage forms dominating an average of 330.2 items (41.9 g). The activity of destroying drug waste is carried out independently by 85.7%, while 13.3% of handling is carried out by handing it over to other parties. Most of the pharmaceutical facilities have not collaborated with third parties. As many as 59.6% of the facilities had appropriate waste management lines, while eleven pharmacies and three primary clinics had inappropriate drug waste management lines.Conclusion: More than half of pharmaceutical facilities already have a waste management flow in accordance with the Guidelines for Waste Management of Damaged and Expired Drugs in Health Service Facilities in 2021, but synchronization with other pharmaceutical service guidelines and socialization to managers is required. Pharmacists as managers of pharmaceutical supplies need to have good support in dealing with drug waste in a professional manner.
Komunikasi, Informasi dan Edukasi Pencegahan Covid-19 di Panti Asuhan Kecamatan Panyileukan Bandung Winasih Rachmawati; Ani Anggriani; Emma Emawati; Garnadi Jafar; Irisanna Tambunan
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v4i1.166

Abstract

The Covid-19 pandemic in Indonesia is increasing until the end of 2020, this is due to a lack of public understanding to overcome the spread transmission of the Covid-19 virus, including as wearing masks, keeping a safe distance, and maintaining good hand hygiene. Awareness of this behavior is very low in orphanages so that it may accelerate the transmission of the Covid-19 virus. Therefore, it is necessary to provide Communication, Information and Education (CIE) related to preventing the transmission of the Covid-19 virus to residents of orphanages in the area around Panyileukan District, Bandung City, West Java. This activity was carried out in two orphanages located in the area for two months. The activity began with the creation of information media, knowledge surveys, cadre training, Covid prevention education, making hand sanitizers and disinfectants, and final evaluation. The result showed that there is a relationship between knowledge and actions after being given CIE methods in orphanages to avoid the transmission Covid-19.
Menanggulangi Kesalahan Pengobatan Bagi Pasien Peserta BPJS Di Depo Farmasi Rawat Jalan Salah Satu Rumah Sakit Bandung Eva Kusumahati; Ani Anggriani; Choirul Anik
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.597 KB) | DOI: 10.37874/ms.v3i1.65

Abstract

Kesalahan pengobatan dapat terjadi pada semua tahap mulai dari peresepan, penyiapan dan penyerahan. Tujuan penelitian ini mengkaji kesalahan pengobatan yang terjadi pada proses pelayanan farmasi dan menganalisis akar masalah penyebab kegagalan untuk tindakan perbaikan dan menanggulangi kejadian kesalahan pengobatan. Metode Penelitian dilakukan secara observasional, pengambilan data secara konkuren terhadap resep rawat jalan pasien BPJS yang dilakukan pada bulan Maret-Mei 2018. Data yang diambil yaitu kelengkapan resep, frekuensi kejadian kesalahan penyiapan dan data kelengkapan pemberian informasi obat. Pada fase peresepan ditemukan tipe kesalahan KPC dan KNC. Pada fase penyiapan ditemukan 95 kejadian kesalahan, tahap penerimaan dan pengkajian resep tidak ditemukan kesalahan, dua temuan pada tahap pengkajian administrasi peraturan (2,11%), 49 temuan terjadi pada tahap entri data (51,58%), 25 temuan terjadi pada tahap pengambilan obat (26,32%), 4 temuan pada tahap pengisian obat (4,21%), dan 15 temuan terjadi pada tahap pemeriksaan akhir (15,79%). Berdasarkan tipe kesalahannya, tipe kesalahan KPC 9 temuan (9,5%), KNC 69 temuan (72,63%), dan KTC 17 temuan (17,89%). Pada fase penyerahan obat pemberian informasi cenderung tidak pernah diberikan seperti cara mengatasi terjadi efek samping. Analisis efek dan mode kegagalan dilakukan perhitungan kegawatdaruratan. Tahap yang paling beresiko adalah pengambilan obat (RPN 125) dan entri data (RPN 100) dan akan dianalisis akar masalah. Kesimpulan: Kesalahan yang paling beresiko adalah tahap pengambilan obat dan entri data, Cara menanggulangi kesalahan pengobatan yang terulang menandakan kesalahan system maka perlu monitoring untuk diuji coba didepo famasi rawat jalan terutama untuk pasien BPJS dalam mencegah terjadinya kegagalan di rumah sakit.
Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Di Salah Satu Rumah Sakit Swasta Di Bandung Ani Anggriani; Ida Lisni; Kusnandar Kusnandar
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 15 No. 02 Desember 2018
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.9 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v15i2.3061

Abstract

Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dan infeksi nosokomial lebih banyak terjadi di ruang Intensive care unit (ICU). Faktor peningkatan resistensi antibiotik di ruang ICU meliputi penggunaan obat antibiotik dengan spektrum yang luas, kemudahan terjadinya cross-transmission, dan gangguan pertahanan tubuh pasien yang dirawat di ruang ICU. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di ICU di salah satu RS swasta di Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dan konkuren, dan penyajian data secara deskriptif meliputi data hasil analisis kuantitatif yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia, diagnosa, penggunaan obat antibiotik dan data analisis kualitatif yaitu berdasarkan indikasi, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, kombinasi, dan interaksi obat. Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan secara bermakna, berdasarkan usia paling banyak usia 65 tahun ke atas, berdasarkan diagnosa terbanyak adalah gastroenteritis akut dan stroke infark, sedangkan antibiotik paling banyak digunakan di ruang ICU adalah antibiotik seftriakson. Analisis kualitatif dinilai kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit 100%, berdasarkan dosis pemberian 100%, berdasarkan interval waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan lama waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan kombinasi sinergis terjadi pada penggunaan antibiotik seftriakson dengan meropenem, seftazidim dengan levofloxacin, dan metronidazol dengan levofloxacin masing-masing 7,69%. Berdasarkan interaksi, terjadi interaksi mayor pada obat deksametason dengan levofloksasin (7,69%) dan moderate pada obat seftriakson dengan furosemid (7,69%). Antibiotik seftriakson paling banyak digunakan di ruang ICU. Dari kajian rasionalitas diketahui adanya kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, dan penggunaan kombinasi antibiotik. Terjadi interaksi obat signifikan secara klinis.
Analisis Pengetahuan dan Alasan Penggunaan Kontrasepsi Suntik di Masyarakat Panyileukan Bandung Ani Anggriani; Deni Iskandar; Devi Aharyanti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 16 No. 02 Desember 2019
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.152 KB) | DOI: 10.30595/pharmacy.v16i2.5771

Abstract

Metode kontrasepsi yang paling banyak digunakan peserta KB aktif di Indonesia tahun 2014 adalah suntikan (47,54%). Karena rendahnya pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat mengakibatkan banyaknya perempuan mengalami kesulitan dalam menentukan jenis kontrasepsi dan sering menyebabkan wanita beralih ke metode lain bahkan mengakibatkan banyak wanita yang berhenti menggunakan kontrasepsi hingga terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan alasan menggunakan kontrasepsi suntik pada akseptor KB di Panyileukan Bandung. Penelitian ini menggunakan survei deskriptif dengan analisis kuantitatif menggunakan instrumen kuesioner dengan sampel berjumlah 51 responden. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Sebesar 72% responden memiliki tingkat pengetahuan cukup baik. Alasan penggunaan kontrasepsi suntik pada akseptor KB secara berturut-turut adalah karena aspek manfaat kontrasepsi suntik 74,83%, kemudahan menggunakan kontrasepsi suntik (74,50%), kenyamanan menggunakan kontrasepsi suntik (72,71%), dan biaya metode kontrasepsi suntik (67,81%). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan jenis kontrasepsi suntik dengan p-value 0,310. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan cukup baik dan alasan menggunakan kontrasepsi suntik paling banyak adalah karena aspek manfaat kontrasepsi suntik tersebut.
PROFIL ANTIBIOTIK UNTUK PENGOBATAN PASIEN COVID-19 DI SUATU RUMAH SAKIT DI BANDUNG Ida Lisni; Devi Mujianti; Ani Anggriani
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jfb.v12i2.1196

Abstract

Coronavirus disease (Covid-19) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-Cov2. Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menyatakan penyakit ini sebagai pandemi, dan skala penyebaran penyakit terjadi secara global di seluruh dunia. Dalam penatalaksanaan pasien Covid-19 menggunakan terapi antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran terapi antibiotik pada pasien Covid-19. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dilakukan secara retrospektif melalui data Kartu Obat Pasien (KOP) 157 pasien dengan diagnosis Covid-19 yang menerima terapi antibiotik selama periode Januari sampai Maret 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik azitromisin yang terbanyak digunakan (40,42%), pemberian kombinasi antibiotik terbanyak yaitu kombinasi azitromisin dan ceftriakson (28,03%), semua pasien menerima antibiotik dengan dosis dan lama terapi yang sesuai. Ditemukan potensi interaksi obat tipe farmakodinamik dengan tingkat keparahan sedang pada penggunaan antibiotik, interaksi obat azitromisin-remdesivir (30,57%), azitromisin-ondansetron (5,73%), dan azitromisin-levofloksasin (38,04%). Perlu peningkatan peran apoteker rumah sakit dalam pemantauan terhadap terapi obat pasien Covid-19 untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: antibiotik, azitromisin, pengobatan Covid-19
Penyuluhan Penggunaan Dan Penyimpanan Vitamin C Kepada Pkk Rw 02 Dan 09 Kecamatan Panyileukan Bandung Ani Anggriani; Ade Tika H; Siti Saidah; Winasih Rachmawati; Ida Lisni; Amida Sriwianti
Jurnal Abdi Masyarakat Kita Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Abdi Masyarakat Kita
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/asta.v2i2.226

Abstract

Vitamin C has a very important role related to various processes that occur in the body, especially during the Covid-19 pandemic that has hit all countries in the world for 2 years, this vitamin is much sought after. Vitamin C plays a role in maintaining and making the body's immune system work more optimally, helping the process of forming protein, collagen, and helping to increase iron absorption in the body. The occurrence of panic buying in the community with the stockpiling of vitamin C products which has an impact on the high price of the vitamin, so that the vitamin is in short supply. In fact, you can get vitamin C by consuming foods that contain vitamin C. With the rampant accumulation of vitamin C with storage for too long it will affect the levels of vitamin C itself, and excessive consumption of vitamin C will have a bad impact on the body. For this reason, so that people understand the importance of using Vitamin C correctly and how to store Vitamin C, community service is carried out which will be provided through counseling to PKK cadres RW 02 and RW 09 Panyileukan Bandung. The method used is to conduct an offline webinar to related PKK cadres on the use and storage of vitamin C with speakers from the lecturers of the pharmacy faculty.