Claim Missing Document
Check
Articles

DETEKSI FORMALIN DALAM MAKANAN DENGAN INDIKATOR ALAMI DARI EKSTRAK BUNGA TELANG (CLITORIA TERNATEA L.) Yuliantini, Anne
Journal of Pharmacopolium Vol 1, No 3 (2018)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.623 KB)

Abstract

Anthocyanin is a plant dye that can change in the presence of protein. Formalin-containing foods such as fish, chicken, wet noodles, and tofu have proteins that can methylene bond with formalin so that the protein becomes damaged. Anthocyanin color will be change if added to proteins that contain formalin and only protein because proteins are able to change and stabilize anthocyanin color. This study aims to detect the presence of formalin in foods with telang flower extract (Clitoria ternatea L.) which contains high levels of blue anthocyanins. The method used in this study is the result of visual observations assisted by visible spectrophotometer and confirmed by chromatropic acid method. The results showed that the flower extract of telang ethanol was able to detect formalin in food by not showing discoloration when added with telang flower extract which gradually turned into greenish ash while for the negative color results it was stabilized green turkey with a limit of detection of fish, chicken, wet noodles , and know, respectively 1.9654; 1,6987; 2,2514; and 1.5821 mg / g, with a SBR value of 10.845; 9,372; 22,625; and 5.908%. From the results of testing the samples with telang flower extract showed 4 positive samples while the chromatropic acid method 6 positive samples contained formalin.
PENETAPAN KADAR DEKSAMETASON DAN DEKSKLORFENIRAMIN MALEAT SECARA SIMULTAN PADA SEDIAAN SIRUP MENGGUNAKAN METODE KCKT Yuliantini, Anne
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.536 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v17i2.266

Abstract

Salah satu sirup yang mengandung lebih dari satu macam zat aktif adalah sirup campuran deksametason dan deksklorfeniramin maleat. Untuk menjamin kualitas sediaan obat, dilakukan pemeriksaan kadar zat aktif dalam sirup campuran deksametason dan deksklorfeniramin maleat. Tujuan penelitian ini adalahh mendapatkan metode alternatif dalam menentukan kadar deksametason dan deksklorfeniramin maleat secara simultan pada sediaan sirup yang beredar dipasaran dengan metode KCKT yang telah dikembangkan. Analisis dilakukan dengan metode KCKT fase balik dengan kolom C18, fase gerak air-asetonitril (65:35,V/V), laju alir 1,0 mL/menit dan panjang gelombang pengamatan adalah 241 nm. Hasil validasi metode diperoleh nilai batas deteksi, batas kuantisasi, koefisien korelasi, persen perolehan kembali dan nilai RSD yang baik. Dari hasil pengukuran sampel, didapatkan bahwa sampel 1 dan 2 mengandung sebesar 103,383% dan 102,626% (deksametason) dan 102,454% dan 99,349% (deksklorfeniramin maleat) sesuai dengan persyaratan kadar yang terdapat dalam FI V (90,0%-110,0%). Metode KCKT dapat digunakan untuk menentukan kadar dalam sediaan sirup deksametason dan deksklorfeniramin maleat secara simultan.
ANALISIS KADAR FORMALIN DALAM DAGING AYAM DAN IKAN MENGGUNAKAN METODE KOLORIMETRI Yuliantini, Anne; Sakiba, Lutfiah; Andriatna, Wendi
Jurnal Mitra Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): JMK
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daging ayam dan ikan merupakan jenis pangan yang mudah membusuk jika tidak segera dimasak sehingga memungkinkan penjual menambahkan formalin kedalamnya agar lebih tahan lama. Berdasarkan Permenkes RI No. 033 Tahun 2012, formalin dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis formalin dalam daging ayam dan ikan yang beredar di salah satu pasar induk Kota Bandung. Metode analisis formalin dilakukan dengan kolorimetri, yaitu mereaksikan formalin dengan asam kromatropat dan asam sulfat menghasilkan senyawa berwarna merah ungu yang dioptimasi dan divalidasi terlebih dahulu sebelum dilakukan analisis pada sampel. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa metode kolorimetri ini optimum pada penambahan 0,5 mL asam kromatopat 0,5 % dan 6 mL asam sulfat pekat yang diukur pada panjang gelombang maksimum 572 nm, memberikan hasil batas deteksi dan kuantisasi berturut-turut sebesar 0,095 dan 0,316 bpj. Hasil perolehan kembali formalin dengan metode adisi pada sampel ikan dan ayam berturut-turut adalah sebesar 96,202-108,365% dan 92,776-102,857% dengan nilai standar baku relativ kurang dari 2% dari semua pengukuran. Kesimpulan metode kolorimetri memenuhi persyaratan validasi dan dari hasil penggujian dengan metode ini ditemukan ada sampel ikan yang positif mengandung formalin dengan kadar 7,48 µg/g.
DETEKSI TESPONG (Oenanthe javanica) PADA BAHAN BAKU DAUN ASHITABA (Angelica keiskei) MENGGUNAKAN METODE FTIR YANG DIKOMBINASIKAN DENGAN PCA Yuliantini, Anne
INDONESIA NATURAL RESEARCH PHARMACEUTICAL JOURNAL Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/inspj.v5i2.4230

Abstract

Ashitaba (Angelica keiskei) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai bahan baku obat tradisional dan tespong (Oenanthe javanica) diketahui sebagai tanaman yang satu famili dengan ashitaba. Karena ketersediaan ashitaba yang sedikit ditambah dengan harganya yang relative mahal, dapat menjadi alasan ditambahkannya bahan lain dalam bahan baku ashitaba. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya tespong pada serbuk daun ashitaba menggunakan metode FTIR yang dikombinasikan dengan PCA. Penelitian ini terdiri dari 4 tahapan utama, yaitu determinasi tanaman, maserasi dengan etanol, pengukuran spectrum IR, dan analisis PCA. Hasil analisis PCA menunjukkan nilai  PC1 dan PC2 berturut-turut sebesar 71 dan 22% dengan nilai eigen value lebih dari 1 dan plot PCA menggambarkan keterpisahan daerah antara ashitaba dan tespong. Dari ketiga sampel yang diproyeksikan terhadap plot PCA, terdapat sampel yang diduga mengandung tespong dan bahan campuran lain. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa metode FTIR yang dikombinasikan dengan PCA dapat menjadi metode alternative dalam mendeteksi tespong dalam bahan baku ashitaba.Kata kunci: Ashitaba; FTIR; PCA; tespong
PENGEMBANGAN METODE ANALISIS CEMARAN LOGAM TIMBAL (Pb) PADA ASAM ASKORBAT DENGAN TEKNIK SSA Yuliantini, Anne
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.302 KB) | DOI: 10.36465/jkbth.v18i1.313

Abstract

Batas cemaran timbal (Pb) dalam asam askorbat tidak melebihi 20 bpj ditentukan dengan metode visual kolorimetri berdasarkan Farmakope Indonesia V. Metode ini perlu dikembangkan agar mendapatkan hasil yang lebih akurat dan sensitif salah satunya dengan teknik Spetrofotometer Serapan Atom (SSA). Penelitian ini dilakukan untuk menentukan parameter validasi dari metode SSA dan dibandingkan terhadap metode kolorimetri pada FI V. Metode yang digunakan adalah metode standar adisi, yaitu  asam askorbat ditambahkan larutan Pb dengan  konsentrasi 5, 10,15, 20,25,30, 35, 40, 45 dan 50 bpj yang diukur dengan metode SSA dan FI V dan ditentukan parameter validasinya, berupa akurasi, presisi, batas deteksi, dan kuantisasi.  Hasil penelitian didapatkan  batas deteksi yang dapat diamati secara visual sebesar 20 bpj sedangkan batas deteksi metode SSA sebesar 1,44 bpj dengan parameter validasi lain yang memnuhi syarat validasi, diantaranya batas kuantisasi sebesar 4,79 bpj, persen perolehan kembali sebesar 83,39%, dan %KV 0,49%. Kesimpulan metode SSA dapat dijadikan metode alternatif penentuan Pb dalam asam askorbat yang lebih akurat dan sensitif.
PENETAPAN KADAR NITRIT (NO2-) DALAM BAYAM MERAH DAN BAYAM HIJAU DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI VISIBEL Emma Emawati; Anne Yuliantini; Yusiana Yusiana
As-Syifaa Jurnal Farmasi Vol 11, No 2 (2019): AS-SYIFAA Jurnal Farmasi
Publisher : Fakultas Farmasi UMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.59 KB) | DOI: 10.33096/jifa.v11i2.573

Abstract

Green and red spinach is a vegetable that has a lot of nutritional content and is needed by the body. Besides containing many nutrients that are beneficial to the body, spinach vegetables also contain compounds that are toxic, can harm the body such as nitrite (NO2-) and cause methemoglobinemia. The purpose of this study was to analyze the levels of nitrites in green and red spinach with a visible spectrophotometric method and to determine whether the nitrites contained were still within safe limits of consumption in accordance with the ADI (Acceptable Daily Intake) value. Before the content analysis, a validation method was conducted with parameters including linearity with r = 0.9994, BD = 0.0499 µg / mL, BK = 0.1664 µg / mL,% recovery of day 1 = 1.5597 to 2 = 1.7547, the 3rd = 1.0126 and accuracy at a concentration of 0.3 μg / mL = 88.800%, 0.5 μg / mL = 95.332% and 0.7 μg / mL = 107.410%. Nitrite levels in fresh green spinach obtained an average of 23.4084 mg / kg, and 12.7272 mg / kg in red spinach. Furthermore, the green spinach after boiling yields an average of 16.8392 mg / kg and red spinach was 5.3359 mg / kg. Nitrite levels from all green and red spinach samples are still within safe limits for consumption in accordance with the ADI (Acceptable Daily Intake) value of 0.07 mg / kg of a predetermined human body weight.
Pengembangan Metode Penentuan Kadar Neotam dalam Sediaan Obat dengan Spektrofotometri UV Dewi Kurnia; Anne Yuliantini; Dian Faizal
EduChemia (Jurnal Kimia dan Pendidikan) Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Department of Chemical Education Faculty of Teacher Training and Education Universitas Su

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.924 KB) | DOI: 10.30870/educhemia.v3i1.2052

Abstract

Neotam merupakan pemanis sintetis yang baru muncul di pasaran pada tahun 2002. Neotam sering digunakan pada industri farmasi sebagai eksipien obat karena tidak memiliki nilai kalori dan terbukti aman dikonsumsi oleh penderita gangguan fenilketonuria, diabetes dan wanita.hamil. Penelitian ini bertujuan sebagai metode alternatif penentuan neotam dalam sediaan obat secara spektrofotometri UV. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu uji kualitatif, optimasi panjang gelombang, validasi metode dan penetapan kadar neotam dalam sampel obat. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan KLT dengan silika gel GF254 60 dan eluen n-butanol, asam asetat glasial, aquadest (6:1:1) menunjukkan hasil yang positif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan spektrofotometri UV pada panjang gelombang 210 nm. Dari hasil validasi, didapatkan persamaan regresi kurva kalibrasi y = 0,0229x + 0,0335 dengan nilai koefisien korelasi (r) 0,9959; batas deteksi dan kuantisasi berturut-turut sebesar 1,2 bpj dan 4,2 bpj; nilai persen perolehan kembali sebesar 100,7 % dengan nilai SBR interday dan intraday berturut-turut 0,64% dan 1,4%. Hasil pengukuran terhadap sampel obat menunjukkan kadar neotam sebesar 0,09 mg/tablet. Hasil ini dinyatakan masih memenuhi persyaratan BPOM, yaitu maksimum penggunaan perhari < 2 mg/kg berat badan. Berdasarkan hasil peneltian, dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar neotam dalam sampel obat dapat dilakukan dengan metode spektrofotometri UV.
ANALISIS CEMARAN LOGAM BERAT TEMBAGA (Cu) PADA AMDK DAN AMIU DI DAERAH PANYILEUKAN DENGAN MENGGUNAKAN SSA Ivan Andriansyah; Anne Yuliantini; Avita Rischa Yunita
Jurnal Kimia Riset Vol. 4 No. 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.045 KB) | DOI: 10.20473/jkr.v4i1.13192

Abstract

Air mineral merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling penting. Kebutuhan air minum dapat dipenuhi dari AMDK. Ada syarat yang harus dipenuhi oleh AMDK untuk menjamin kualitas air minum yang layak dikonsumsi. Salah satu syarat AMDK adalah tidak mengandung logam berat tembaga (Cu) yang lebih dari 0,5 bpj. Tembaga termasuk logam yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit tetapi dalam jumlah yang berlebihan akan bersifat toksik. Oleh karena itu, diperlukan analisis kadar Cu pada AMDK khususnya di daerah Panyileukan guna menjamin kualitas AMDK. Penelitian ini terdiri dari 2 tahapan, yaitu validasi, penetapan kadar sampel menggunakan SSA pada panjang gelombang 324,75 nm dan statistika. Dari hasil validasi, didapatkan persamaan kurva kalibrasi y = 0,1537x + 0,0134 dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,998, batas deteksi dan kuantisasi berturut-turut sebesar  0,03 dan 0,12 bpj, persen perolehan kembali 0,5 – 1,7% dengan nilai SBR kurang dari 2 %. Hasil pengukuran kadar Cu pada AMDK berkisar antara 0,00100 – 0,00192 bpj. Dari data AMDK dapat dikatakan bahwa kadar Cu tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh SNI 01-3553-2006 yaitu 0,5bpj.
PENETAPAN KADAR TIMBAL (Pb) PADA PANGAN JAJANAN ANAK SEKOLAH (PJAS) DI SEKOLAH DASAR CIBIRU Anne Yuliantini; Noneng .; Vina Juliana
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.197 KB) | DOI: 10.37874/ms.v2i2.48

Abstract

Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) sangat digemari oleh anak sekolah dengan keanekaragaman jenisnya. Akan tetapi, ada fenomena yang patut diwaspadai dari PJAS terutama yang dijual di pinggir jalan, yaitu tercemar logam berat timbal. Karena toksisitasnya, BPOM RI membatasi cemaran timbal yang ada dalam makanan ebesar 0, 25 bpj. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar logam berat timbal pada PJAS di salah satu sekolah dasar wilayah Cibiru Bandung yang berada tepat di pinggir jalan raya. Sampel didestruksi pada suhu 110-320 o C, ditambahakan HCl 10 M sebagai katalis dan digenapkan dengan HNO 3 0,1 M. Analisis dilakukan secara kualitatif menggunakan serbuk KI dan Na 2 CO 3 menunjukan hasil negatif sedangkan analisis secara kuantitatif dilakukan dengan mengukur serapan sampel menggunakan spektrofotometri serapan atom (SSA) pada panjang gelombang 217 nm. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, kelima sampel diketahui mengandung logam timbal dengan rentang kadar 1,4644 - 5,6934 bpj. Sampel PJAS yang di analisis memiliki kadar timbal yang melebihi batas persyaratan BPOM sehingga dapat berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.
Analisis Kualitatif Boraks dalam Bakso dengan Indikator Alami Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Anne Yuliantini; Winasih Rahmawati
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.592 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.411

Abstract

Boraks merupakan senyawa kimia yang dilarang digunakan dalam pangan tetapi sering disalahgunakan oleh produsen atau penjual makanan. Salah satu makanan yang sering ditambahkan boraks adalah bakso untuk tujuan pengawetan dan menambah kekenyalan. Namun, penambahan boraks pada bakso ini dapat memberikan efek toksik jika dikonsumsi jangka panjang. Oleh karena itu, kita sebagai konsumen harus lebih cerdas dalam membedakan makanan yang mengandung boraks dan tidak. Untuk dapat membedakannya, kita membutuhkan suatu indikator baik alami atau pun sintesis. Senyawa antosianin adalah zat warna pada tumbuhan yang dapat menganalisis boraks. Bunga telang (Clitoria ternatea L) merupakan bunga yang mengandung senyawa antosianin yang berwarna biru sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan indikator alami dari ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) guna mendeteksi boraks dalam bakso. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil pengamatan visual yang dikonfirmasi dengan menggunakan spektrofotometer visibel. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga telang mampu mendeteksi bakso yang mengandung boraks mulai dari 0,5% dengan mengubah warna ekstrak dari biru menjadi hijau, dengan nilai SBR 3,944 %. Dari 10 sampel bakso yang diuji, 3 sampel bakso positif mengandung boraks dengan ekstrak bunga telang sedangkan 5 sampel positif menggunakan metode kertas kunyit.