Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Usadha

Analisis Angka Lempeng Total Minyak Balur Kombinasi VCO dan Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl.) dengan Variasi Suhu Pemanasan Sari, Luh De Cintya Kartika; Pramitha, Dewa Ayu Ika; Wardani, I Gusti Agung Ayu Kusuma
Usadha Vol 1 No 3 (2022): Usadha: Jurnal Integrasi Obat Tradisional
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/usadha.v1i3.5520

Abstract

Balur oil combined with VCO and Javanese long pepper is a liquid herbal ingredient obtained from the fruit of the Javanese long pepper (Piper retrofractum Vahl.) with the addition of coconut oil (Cocos nucifera). This study was conducted to analyze the microbiological quality of VCO and Javanese long pepper combined balur oil to determine the safety of combined VCO and Javanese long pepper balur oil using the Total Plate Count (ALT) method. Balur oil combined with VCO and Javanese long pepper was made into 3 samples with different heating temperatures. Sample 1 is balur oil with a heating temperature of 40°C, sample 2 is balur oil with a heating temperature of 50°C, and sample 3 is balur oil with a heating temperature of 60°C. The results showed that the three samples of balur oil combined with VCO and Javanese long pepper with variations in heating temperature had different total microbial values, namely 3, 0, and 6 CFU/mL. Sample 1 had a total microbial value of 3 CFU/mL, sample 2 had a total microbial value of 0 CFU/mL, and sample 3 had a total microbial value of 6 CFU/mL. The three samples of VCO and Javanese long pepper combination oil had a total safe microbial value because they had not exceeded the maximum allowable microbial contamination limit according to BPOM No. 32 of 2019, namely 107 colonies/mL.
Potensi Tanaman Obat Terhadap Epitelisasi dalam Penyembuhan Luka Bakar Suratmini, Putu Ayu; Wardani, I Gusti Agung Ayu Kusuma; Suena, Ni Made Dharma Shantini
Usadha Vol 1 No 1 (2021): Usadha: Jurnal Integrasi Obat Tradisional
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Burns are damage to the skin caused by fire, hot water, electricity, chemicals and radiation. In wound healing, epithelialization plays an important role in the regeneration of epithelial cells. Increased epithelialization causes wounds to close faster and improves the wound healing process. Treatment of burns must be done properly so that the healing process is not disturbed and infection is avoided. However, treating wounds using conventional drugs requires relatively more expensive costs, so alternatives are needed in treating burns by utilizing medicinal plants. This article review aims to determine the potential of medicinal plants for epithelialization in healing burns. The method used in this article is a literature review of scientific research journals that have been published from 2011 to July 10, 2021 in the Google Scholar, PubMed, Sciencedirect and Plos One databases. 11 Indonesian and English scientific research journals were obtained, then these journals were screened. From the results of the review of the articles, it was found that several medicinal plants have the potential for epithelialization in healing burns, including: Ampelopsis japonica, Ananas comosus, Anredera cordifolia, Bixa orellana, Carica papaya, Carissa spinarum, Curcuma longa, Phyllanthus niruri, Poincianella pluviosa, Rhaphidophora pinnata, and Solanum tuberosum.
Potensi Tanaman Herbal terhadap Peningkatan Jumlah Fibroblas dalam Penyembuhan Luka Bakar Devi, Putu Ika Divta Candra; Wardani, I Gusti Agung Ayu Kusuma; Suena, Ni Made Dharma Shantini
Usadha Vol 1 No 1 (2021): Usadha: Jurnal Integrasi Obat Tradisional
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka bakar merupakan bentuk kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh peristiwa perpindahan panas, yang sumber panasnya dapat bervariasi seperti kontak langsung atau tidak langsung dengan api, listrik, bahan kimia, gesekan atau radiasi. Luka bakar dapat terjadi pada semua kalangan mulai dari anak kecil dan orang tua yang merupakan populasi yang beresiko tinggi untuk mengalami luka bakar. Penyembuhan luka akan melewati beberapa fase yaitu fase haemostasis, fase inflamasi, fase proliferasi, dan fase maturasi Fibroblas sangat penting dalam proses penyembuhan luka. Jumlah fibroblas mengalami peningkatan selama fase proliferasi. Sejumlah studi menunjukkan bahwa tanaman tradisional potensial sebagai agen penyembuhan luka di samping pengobatan medis untuk luka bakar ringan sampai sedang. Review artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi tanaman herbal terhadap peningkatan jumlah fibroblas dalam penyembuhan luka bakar. Review ini menggunakan metode literatur review pada beberapa jurnal penelitian yang telah dipublikasi, digunakan 4 database termasuk Pubmed, Cochrane, Elsivier dan Google Scholar disaring dan dikumpulkan pada tahun 2011-2021 (hingga Juli). Didapatkan bahwa terdapat tanaman herbal beserta senyawa aktifnya yang berpotensi untuk penyembuhan luka bakar dengan meningkatkan jumlah fibroblas yakni Biji Kakao (flavonoid dan prosianidin), Daun Sirih (saponin, tannin, flavonoid), Daun Melati (saponin, tannin, flavonoid), Daun Remek Daging (flavonoid, tannin, saponi, dan fenol), Bij Edamame (isoflavon dan saponin), Daun Lidah Buaya (Acemannan), Daun Kaktus (alkaloid dan flavonoid), Batang Dan Daun Suruhan (flavonoid, alkaloid, tannin dan saponin), Bunga Saffron (Crocin, picrocracin dan safranal), Bunga Delima (tannin), Daun Kelapa Sawit (flavonoid).
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tanaman Obat terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Dwi Widyastrini, Desak Made; Cahyaningsih, Erna; I Gusti Agung Ayu Kusuma Wardani
Usadha Vol 1 No 1 (2021): Usadha: Jurnal Integrasi Obat Tradisional
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kemunculan infeksi multidrug-resistant yang disebabkan oleh mikroorganisme telah menjadi beban yang signifikan secara global. Mereka telah menghasilkan tingkat kematian, kecacatan dan penyakit yang tinggi di seluruh dunia terutama di negara berkembang. Laporan dari Centre for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa lebih dari 2 juta penyakit dan 23.000 kematian per tahun disebabkan oleh patogen resisten antibiotik di Amerika Serikat, salah satunya yaitu Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Tanaman obat telah diakui memiliki efek samping yang minimal dan juga dapat menekan pertumbuhan patogen dengan mekanisme yang berbeda dari antibiotik sintetik yang digunakan saat ini. Tujuan penulisan artikel review ini untuk mempelajari aktivitas antibakteri ekstrak tanaman obat terhadap Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Metode yang digunakan dalam penyusunan artikel review ini yaitu studi literatur melalaui beberapa basis data yang kemudian diskrining dengan beberapa kriteria. Hasil review mengatakan bahwa vankomisin sebelumnya merupakan obat yang digunakan secara luas untuk pengobatan infeksi MRSA. Hal ini tidak lagi terjadi dengan munculnya strain S. aureus dengan sensitivitas vankomisin yang berkurang sehingga membatasi pilihan pengobatan konvensional untuk infeksi MRSA. Saat ini, banyak peneliti telah melaporkan aktivitas antibakteri dari banyak ekstrak tanaman pada MRSA. Konsentrasi hambat minimum (MIC) dan konsentrasi bakterisida minimum (MBC) digunakan untuk menilai aktivitas antibakteri ekstrak dari tanaman obat. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa tanaman obat dapat digunakan sebagai kandidat alternatif untuk pengembangan obat yang dapat menghentikan atau mengendalikan infeksi dari MRSA.