Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Public Health Concerns

Edukasi tentang kepatuhan pembatasan cairan kepada pasien gagal ginjal kronik Maritasari, Dwi Yulia; Aziza, Nurul; Surya, Syiefa Renanda; Karyus, Aila; Listina, Febria; Oktarida, Avina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2473

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive decline in kidney filtration function lasting more than three months, often with non-specific symptoms that allow the disease to advance unnoticed. Hemodialysis is the most widely used renal replacement therapy; however, patient adherence to fluid restriction remains a major challenge, as non-compliance can lead to fluid overload, edema, dyspnea, and increased mortality risk through elevated Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG). Studies indicate that adherence to fluid restriction is associated with improved quality of life, with success strongly influenced by family support and the implementation of self-care practices including diet, medication, and physical activity. Video-based educational media has proven effective in enhancing patient knowledge, attitudes, and behaviors, thereby promoting adherence to hemodialysis therapy and reducing long-term complications. Purpose: Increase patient understanding of the impact of excess fluid on the body and the serious complications that can occur if fluid restrictions are not adhered to. Method: This community service activity was conducted in a hemodialysis unit involving 68 patients with fluid overload, identified by significant inter-dialytic weight gain, edema, or hypertension. Samples were selected through observation based on weight gain criteria between sessions. An educational and participatory approach was applied, with fluid restriction education delivered via video displayed in the hemodialysis room, accompanied by interactive discussions. Patient engagement was observed to assess involvement and comprehension, while knowledge levels were evaluated through question-and-answer sessions and peer experience sharing. Results: The intervention demonstrated increased knowledge and active engagement among hemodialysis patients following video-based counseling. The visually and interactively packaged material effectively captured patient attention, while accompanying discussions reinforced understanding. Video-based educational interventions integrated knowledge, attitudes, and behaviors synergistically, supporting adherence to fluid restriction and improving the quality of hemodialysis therapy. Conclusion: Video-based health promotion is an effective educational tool to enhance patient adherence to fluid restriction in hemodialysis. Improved adherence positively impacts the control of Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), making video media a recommended component of routine educational strategies to support therapy success and patient quality of life. Suggestion: Health care facilities, particularly hemodialysis units, are advised to integrate video media into routine education to strengthen patient adherence to fluid restriction. Regular evaluation of adherence should involve family support to ensure a more comprehensive and sustainable educational process. Keywords: Chronic kidney disease; Compliance; Fluid restriction; Health education; Hemodialysis Pendahuluan: Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan penurunan fungsi filtrasi ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dengan gejala yang sering tidak spesifik, sehingga penyakit dapat berkembang ke tahap lanjut tanpa disadari. Hemodialisis menjadi terapi pengganti ginjal yang paling banyak digunakan, namun kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan masih menjadi tantangan utama karena ketidakpatuhan dapat menimbulkan kelebihan cairan, edema, sesak napas, hingga meningkatkan risiko mortalitas melalui Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pembatasan cairan berhubungan dengan kualitas hidup pasien, dan keberhasilan sangat bergantung pada dukungan keluarga serta penerapan self care yang mencakup diet, pengobatan, dan aktivitas fisik. Media edukasi berbasis video terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien, sehingga dapat mendorong kepatuhan terhadap terapi hemodialisis dan menekan komplikasi jangka panjang. Tujuan: Meningkatkan pemahaman pasien tentang dampak kelebihan cairan terhadap tubuh serta komplikasi serius yang dapat terjadi apabila tidak mematuhi pembatasan cairan Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di ruang hemodialisis dengan melibatkan 68 pasien yang mengalami kelebihan cairan, ditandai oleh peningkatan berat badan inter-dialytic, edema, atau hipertensi. Sampel ditentukan melalui observasi pasien dengan kriteria peningkatan berat badan signifikan antar kunjungan. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif dan partisipatif. Edukasi mengenai pembatasan cairan disampaikan melalui media video yang ditayangkan di ruang hemodialisis, disertai diskusi interaktif antara pasien dan pemateri. Aktivitas peserta diamati untuk menilai keterlibatan dan pemahaman, sedangkan tingkat pengetahuan dievaluasi melalui sesi tanya jawab serta berbagi pengalaman antar pasien. Hasil: Adanya peningkatan pengetahuan dan keterlibatan aktif pasien hemodialisis setelah mengikuti penyuluhan melalui media video. Penyampaian materi yang dikemas secara visual dan interaktif efektif menarik perhatian pasien, diskusi yang menyertai tayangan memperkuat pemahaman mereka. Intervensi edukatif berbasis video yang disertai diskusi mampu mengintegrasikan aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien secara sinergis, sehingga mendukung kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan kualitas terapi hemodialisis. Simpulan: Media promosi kesehatan berbasis video merupakan alat edukasi yang efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien hemodialisis terhadap pembatasan cairan. Peningkatan kepatuhan tersebut berdampak positif pada pengendalian Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), sehingga penggunaan media video dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi edukasi rutin untuk mendukung keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien. Saran: Fasilitas pelayanan kesehatan khususnya unit hemodialisis, dapat mengintegrasikan media video sebagai bagian dari edukasi rutin untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan. Evaluasi kepatuhan perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan dukungan keluarga, sehingga proses edukasi lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Upaya peningkatan pengetahuan dan perilaku pencegahan mengenai tuberkulosis (TBC) pada masyarakat Wardani, Ratna; Listina, Febria
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2475

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem due to its high transmission rate and low public knowledge regarding prevention and control measures. Limited awareness and inadequate preventive behaviors contribute to the continued spread of tuberculosis. Health education is an important promotive and preventive strategy to increase public knowledge and encourage appropriate preventive behaviors regarding tuberculosis. Purpose: To improve knowledge and preventive behaviors related to tuberculosis in the community. Method: This community service activity was conducted on January 24, 2026, at the Village Office within the Palapa Community Health Center (Puskesmas) jurisdiction. Forty participants included the general public, families at risk of tuberculosis, and health cadres. The community service activity was implemented using an educational and participatory approach. Participants' activities during discussions and practical sessions were observed to assess their level of engagement and understanding, while also gathering their feedback on the material and delivery methods. The evaluation was presented in descriptive form, describing respondents' level of understanding of the material presented based on direct observations and interviews during the educational activity. Results: 40 participants actively participated in the counseling and discussion sessions. All participants attentively followed the material presented, covering the definition of tuberculosis, its causes, transmission, signs and symptoms, prevention efforts, the importance of early detection, cough etiquette, the implementation of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS), and adherence to treatment until completion. This demonstrated positive changes in community knowledge, attitudes, and behavioral tendencies toward tuberculosis prevention, including steps that can be implemented to prevent the spread of the disease. Conclusion: Health education on tuberculosis (TB) within community service activities has been proven to improve community knowledge, attitudes, and behaviors related to disease prevention. Participants understood the definition, causes, signs and symptoms, transmission methods, and the importance of early detection and adherence to tuberculosis treatment. Thus, this program contributed to reducing the risk of transmission and improving public health. Suggestion: Tuberculosis education activities are expected to be conducted on a continuous and scheduled basis to strengthen public knowledge and understanding of how to prevent complications and transmission, so that the benefits of these activities will be felt by the wider community. Keywords: Health education; Preventive behavior; Public health promotion; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama karena tingkat penularannya yang tinggi dan rendahnya pengetahuan masyarakat terkait langkah-langkah pencegahan dan pengendalian. Kesadaran yang terbatas dan perilaku pencegahan yang kurang memadai berkontribusi pada terus berlanjutnya penyebaran tuberkulosis. Edukasi kesehatan merupakan strategi promotif dan preventif yang penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat serta mendorong perilaku pencegahan yang tepat terhadap tuberkulosis. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan terkait tuberkulosis pada masyarakat. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 24 Januari 2026 di Kantor Kelurahan wilayah kerja Puskesmas Palapa, dengan 40 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, keluarga berisiko tuberkulosis, dan kader kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Aktivitas peserta selama diskusi dan praktik diamati untuk menilai tingkat keterlibatan dan pemahaman, sekaligus mengumpulkan tanggapan mereka mengenai materi dan metode penyampaian. Evaluasi disajikan dalam bentuk deskriptif mengenai tingkat pemahaman responden terhadap materi yang disampaikan berdasarkan observasi dan wawancara langsung selama kegiatan edukasi dilaksanakan. Hasil: Mendapatkan 40 peserta yang aktif terlibat dalam sesi penyuluhan dan diskusi. Seluruh peserta secara tertib mengikuti kegiatan dengan menyimak materi disampaikan meliputi pengertian tuberkulosis, penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, upaya pencegahan, pentingnya deteksi dini, etika batuk, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta kepatuhan pengobatan hingga tuntas. Menunjukkan adanya perubahan positif pada pengetahuan, sikap, dan kecenderungan perilaku masyarakat terhadap pencegahan tuberkulosis seperti langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang tuberkulosis (TBC) dalam kegiatan pengabdian masyarakat terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit. Peserta memahami pengertian, penyebab, tanda dan gejala, cara penularan, serta pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan tuberkulosis. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam menurunkan risiko penularan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan penyuluhan tuberkulosis sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan terjadwal untuk memperkuat pengetahuan dan pemahaman masyarakat untuk mencegah komplikasi dan penularan sehingga kegiatan penyuluhan akan dirasakan manfaatnya pada masyarakat yang lebih luas.