Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Relationship between Knowledge and Attitude Towards Hypertension Incidents Martha, Intan Puspita; Andora, Novika; Listina, Febria
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4713

Abstract

Hypertension is one of the chronic diseases that is a global health problem today because it is a disease with a high prevalence and continues to increase. The survey results found that most patients had low knowledge about hypertension and showed a less supportive attitude in the prevention and management of hypertension. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and attitudes towards the incidence of hypertension at Clinic X Teluk Betung in 2024. This study is a quantitative study that uses the cross-sectional method. The sample in the study were patients who visited the Clinic X Teluk Betung, totaling 99 people using the purposive sampling technique. The research instrument was a questionnaire with data analysis using the Chi-Square test. The results of the analysis showed that the majority of research respondents had good knowledge as much as 95% and those who still had poor knowledge were 4%. As for the attitude category, the majority of respondents had an unfavorable attitude as much as 58.6% and those who had a good attitude were 41.4%. The Chi-Square test results obtained a p-value (0.626), which means that there is no relationship between the level of knowledge and the incidence of hypertension and has a 0.610 times chance of not having hypertension. And the p-value (0.016), which means there is a relationship between attitude and the incidence of hypertension in respondents with a good attitude and has a 0.346 times chance of not having a history of hypertension. We recommend that health counseling related to hypertension and hypertension prevention measures, especially factors that can cause hypertension, be increased again as an effort to prevent the incidence of hypertension.
PENYULUHAN CARA CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI TPA DUSUN SUMBERSARI 3 PESAWARAN: PENYULUHAN CARA CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI TPA DUSUN SUMBERSARI 3 PESAWARAN LISTINA, FEBRIA; Maritasari, Dwi Yulia; Rukamana, Nova Mega
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2022): MARET
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.508 KB) | DOI: 10.32832/abdidos.v6i1.1063

Abstract

Cuci tangan pakai sabun sebagai upaya preventif dalam melindungi diri dari berbagai penyakit menular. Cuci tangan menggunakan sabun dapat kita lakukan pada waktu-waktu berikut: sebelum menyiapkan makanan, sebelum dan sesudah makan, setelah BAK dan BAB, setelah membuang ingus, setelah membuang dan atau menangani sampah, kemudian setelah bermain/memberi makan/memegang hewan, serta setelah batuk atau bersin pada tangan kita. Cuci tangan pakai sabun yang dipraktikkan secara tepat dan benar merupakan cara termudah dan efektif untuk mencegah berjangkitnya penyakit. Mencuci tangan dengan air dan sabun dapat lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis dari permukaan kulit dan secara bermakna mengurangi jumlah mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya pada kedua tangan. Mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur cacing yang menempel pada permukaan kulit, kuku dan jari-jari pada kedua tangan. terdapat empat faktor utama yang berkaitan dalam derajat kesehatan seseorang, kelompok dan masyarakat yaitu perilaku, pelayanan kesehatan, lingkungan dan keturunan atau herediter. Faktor – faktor tersebut memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat dan kesehatan perorangan. Diantara empat faktor tersebut faktor determinan yang paling berpengaruh besar adalah faktor perilaku manusia dan disusul faktor lingkungan pada urutan kedua. Hal ini dapat terjadi akibat faktor perilaku memiliki pengaruh lebih besar dari faktor lingkungan sehingga lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.
Program Penyuluhan untuk Pencegahan ISPA dengan Demonstrasi Cuci Tangan dan Etika Batuk Pada Anak-Anak di Panti Asuhan Mustika Lampung Listina, Febria; Surya, Siefa Renanda; Rukmana, Nova Mega; Rustika, Rustika; Erfiyani, Nyoman; Putri, Davina Melani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.18559

Abstract

ABSTRAK ISPA adalah salah satu dari sepuluh penyakit teratas di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan berkontribusi signifikan pada morbiditas anak-anak. Penyakit ini dapat dicegah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat, terutama melalui penyuluhan kesehatan. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pencegahan ISPA melalui praktik mencuci tangan dan etika batuk yang benar. Penyuluhan dilaksanakan melalui ceramah, demonstrasi langsung, dan Diskusi interaktif bersama anak-anak di panti Asuhan Mustika Bandar Lampung. Partisipan memahami pengertian, penyebab, gejala, dan pencegahan ISPA serta mampu mempraktikkan kebiasaan mencuci tangan dan etika batuk dengan baik. Penyuluhan efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anak-anak mengenai pencegahan ISPA. Perlu adanya dukungan dan pengawasan dari pengasuh panti serta pengadaan fasilitas yang mendukung (seperti sabun cair, tisu, dan masker) agar kebiasaan Mencuci tangan dengan sabun (CTPS) dan tata cara batuk yang benar ini dapat terus diterapkan. Kata Kunci: ISPA, Pencegahan, Etika Batuk, Cuci Tangan, Anak-Anak  ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) is among the top ten diseases in developing countries, including Indonesia, significantly contributing to childhood morbidity. It can be prevented by increasing public knowledge, especially through health education. To enhance children's knowledge and awareness of ARI prevention through proper handwashing and coughing etiquette practices. Outreach was conducted via lectures, live demonstrations, and interactive Q&A sessions at Mustika Orphanage, Bandar Lampung. Participants understood ARI concepts, causes, symptoms, and prevention, and successfully adopted proper handwashing and coughing etiquette. The outreach program effectively increased children’s awareness of ARI prevention. Suggestion: there needs to be support and supervision from nursing home caregivers as well as providing supporting facilities (such as liquid soap, tissues and masks) so that the habit of washing hands with soap properly (CTPS) and cough etiquette can continue to be implemented. Keywords: ARI, Prevention, Coughing Etiquette, Handwashing, Children
IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS (PROLANIS) UNTUK PENYAKIT HIPERTENSI DI UPT PUSKESMAS KUPANG KOTA BANDAR LAMPUNG Septiani, Vina; Rustika, Rustika; Aziza, Nurul; Listina, Febria
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.35074

Abstract

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) adalah sebuah inisiatif layanan kesehatan proaktif yang dirancang untuk peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka sekaligus mengelola biaya kesehatan secara efektif. Penelitian ini menyelidiki implementasi PROLANIS untuk hipertensi di UPT Kupang, Kota Bandar Lampung, dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur tekanan darah menggunakan sphygmomanometer dan menilai obesitas sentral melalui kuesioner terstruktur dan pemeriksaan antropometri. Studi ini menemukan bahwa di antara 45 pasien hipertensi, tekanan darah rata-rata adalah 150/30 mmHg, dengan pasien berusia semuda 25 tahun. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hipertensi termasuk merokok, gaya hidup, konsumsi alkohol, asupan garam dan lemak yang tinggi, serta kurangnya konsumsi sayur dan buah. Temuan utama menyoroti ketersediaan sumber daya manusia untuk mengimplementasikan PROLANIS. Prosesnya meliputi pemeriksaan kesehatan untuk pasien PROLANIS dan PTM, diikuti dengan pembinaan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini secara efektif mengatasi hipertensi, memfasilitasi manajemen kesehatan yang lebih baik dan mempromosikan pilihan gaya hidup yang lebih sehat di antara para peserta. Hal ini menggarisbawahi pentingnya layanan kesehatan terpadu dalam mengelola penyakit kronis.
Hubungan Kelengkapan Resume Medis terhadap Ketepatan Waktu Klaim BPJS Kesehatan di Puskesmas Klumbayan Barat Kabupaten Tanggamus Sugianto, Eka Reni; Listina, Febria; Aziza, Nurul
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17349

Abstract

ABSTRACT Often Puskesmas usually cannot submit JKN claims on time, which will have an impact on the financial cycle of the Puskesmas and also affect health services to patients. The cause that is often encountered is the return of claim files because the diagnosis on the medical resume sheet submitted is incomplete or inaccurate. The data obtained from BPJS health Tanggamus Regency with a time span of submitting claims from January to April 2024 is 87.8% of the number of claims that are eligible to be paid from the total number of claims submitted by the First Level Health Facility. The purpose of this study was to determine the relationship between the completeness of medical resumes and the timeliness of BPJS health claims at the West Klumbayan Health Center, Tanggamus Regency. This type of quantitative research with a cross sectional approach. The population in this study were all BPJS health patients registered at the West Klumbayan Health Center as many as 428 patients, with a sample of 207 BPJS patients using purposive sampling technique. The research was conducted at the West Klumbayan Health Center, Tanggamus Regency in July 2024. Data collection using questionnaires and observation. Data analysis was univariate and bivariate (chi square). Univariate research results obtained as many as 144 (69.6%) respondents with complete medical resume completeness and as many as 163 (78.7%) respondents with appropriate claim timeliness. Bivariate analysis there is a relationship between the completeness of medical resumes and the timeliness of BPJS health claims at the West Klumbayan Health Center, Tanggamus Regency (p-value = 0.009). Suggestions for health workers must understand and apply the SOP for filling out medical resumes in accordance with applicable regulations and conduct periodic evaluations to improve the discipline of health workers with quality medical resume content. Keywords: Completeness of Medical Resumes and Timeliness of BPJS Claims  ABSTRAK Seringkali Puskesmas biasanya tidak bisa mengajukan klaim JKN tepat waktu akan berdampak pada siklus keuangan Puskesmas dan juga berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan terhadap pasien. Penyebab yang sering dijumpai adalah adanya pengembalian berkas klaim karena diagnosa pada lembar resume medis yang diserahkan tidak lengkap atau tidak akurat. Adapun data yang diperoleh dari BPJS kesehatan Kabupaten Tanggamus dengan rentang waktu pengajuan klaim bulan Januari hingga April 2024 adalah sebanyak 87,8% jumlah klaim yang layak dibayarkan dari total seluruh pengajuan klaim yang diajukan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Diketahui hubungan kelengkapan resume medis terhadap ketepatan waktu klaim BPJS kesehatan di Puskesmas Klumbayan Barat Kabupaten Tanggamus. Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien BPJS kesehatan yang tercatat di Puskesmas Klumbayan Barat sebanyak 428 pasien, dengan sampel yang digunakan sebanyak 207 pasien BPJS menggunakan Teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan di Puskesmas Klumbayan Barat Kabupaten Tanggamus pada bulan Juli 2024. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi. Analisis data secara univariat dan bivariat (chi square). Univariat didapatkan sebanyak 144 (69.6%) responden dengan kelengkapan resume medis lengkap dan sebanyak 163 (78.7%) responden dengan ketepatan waktu klaim tepat. Analisis bivariat ada hubungan kelengkapan resume medis terhadap ketepatan waktu klaim BPJS kesehatan di Puskesmas Klumbayan Barat Kabupaten Tanggamus (p-value = 0.009). Saran bagi tenaga kesehatan wajib memahami dan menerapkan SOP pengisian resume medis sesuai dengan peraturan yang berlaku dan melakukan evaluasi berkala demi meningkatkan kedisplinan tenaga kesehatan dengan isi resume medis yang berkualitas Kata Kunci: Kelengkapan Resume Medis Dan Ketepatan Waktu Klaim BPJS
Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencegahan komplikasi diabetes mellitus Listina, Febria; Ghufronsyah, Muhammad Zakky; Rukmana, Nova Mega
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1478

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease that can lead to serious complications if not properly managed. These complications include heart disease, kidney failure, vision impairment, and nerve damage. According to data from Comunity Health Center Way Halim II in Bandar Lampung, the number of DM cases increased significantly from 30 cases in 2020 to 472 cases in 2024. Furthermore, 141 cases were already recorded from January to April 14th, 2025 alone. Purpose: To determine the relationship between knowledge and attitudes toward complication prevention behavior among DM patients at Comunity Health Center. Method: A quantitative research used a cross-sectional design with 59 respondents selected by purposive sampling. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using Chi-Square test. Results: The majority of respondents had poor knowledge and negative attitudes toward prevention. There was a significant correlation between knowledge (p=0.013; OR=3.2) and attitude (p=0.041; OR=2.7) with complication prevention behavior. Conclusion: Knowledge and attitudes play an important role in complication prevention behavior. Continuous health education and promotion are necessary to improve preventive practices among DM patients.   Keywords: Attitude; Complication Prevention; Diabetes Mellitus; Knowledge.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, gangguan saraf, dan gangguan penglihatan. Kasus DM di Puskesmas Way Halim II meningkat dari 30 kasus pada 2020 menjadi 472 kasus pada 2024, dan pada awal 2025 tercatat 141 kasus. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap pasien terhadap perilaku pencegahan komplikasi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional pada 59 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik dan sikap negatif. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan (p=0.013; OR=3.2) dan sikap (p=0.041; OR=2.7) dengan perilaku pencegahan komplikasi DM. Simpulan: Pengetahuan dan sikap berperan penting dalam perilaku pencegahan komplikasi. Edukasi dan promosi kesehatan berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan pasien diabetes.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus; Pengetahuan; Perilaku Pencegahan Komplikasi; Sikap.
Occupational health and safety management: The use of personal protective equipment (PPEs) in Indonesian mechanical workshop Aziza, Nurul; Listina, Febria; Mariantari, Regina Putri
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 8 No. 10 (2025): Volume 8 Number 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v8i10.1540

Abstract

Background: A work accident occurs when an incident occurs during an industrial or related work process and results in the loss of time, property, or life. A work accident is an undesirable and often unpredictable event. Every year there are almost a thousand times more non-fatal work accidents than fatal work accidents. Purpose: To examine how the implementation of the use of Personal Protective Equipment (PPE) by workshop mechanics. Method: This type of research is descriptive qualitative. Data were collected through in-depth interviews with five informants: one key informant, one source informant, and three supporting informants. Each interview was conducted in one day, with a duration of no more than 30 minutes per respondent, using data analysis triangulation. Results: PT X has not implemented the use of PPE optimally, as it has not issued warnings or sanctions to its mechanics. The mechanics are also not yet aware of the importance of using complete PPE in carrying out their work. PT X has not conducted monitoring and evaluation of PPE. Conclusion: The ineffectiveness of the implementation of the use of PPE at PT X is due to the absence of strict regulations and sanctions given to mechanics, the lack of availability of PPE in various sizes for mechanics so that mechanics are less comfortable wearing all-size PPE. It is hoped that PT can enforce strict rules regarding PPE in the company, provide complete PPE and conduct monitoring and evaluation of the implementation of PPE.
Maternal health literacy and prevention of acute respiratory infection in toddlers Maritasari, Dwi Yulia; Listina, Febria; Ayu, Adila Tri; Rahmadhina, Anandha Widya Putri; Pradita, Aniza Salzadela; Gantha, Difa Masya; Azmi, Dinda Mutiara; Septiyana, Intan Nabela; Amrullah, Muhammad Zaidan; Sabila, Niken Junia; Ramadhani, Putri Sari; Maulana, Solvia Atika
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 10 (2026): January Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i10.2203

Abstract

Background: Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the leading causes of infant mortality worldwide, especially in developing countries. Lack of health literacy among mothers of toddlers is one factor that worsens the early treatment of ARI. Purpose: To determine the effectiveness of leaflet-based communicative counseling in improving the health literacy of mothers of toddlers to prevent ARI. Method: The research design was a quantitative pre-experimental study with a one-group pretest-posttest design. The sample in this study was all mothers of 31 toddlers detected with ARI, selected using a total sampling technique. The research instrument was a valid and reliable questionnaire used to measure maternal knowledge before and after the intervention. Result: The results showed a significant increase in maternal knowledge after counseling (p = 0.000). Conclusion: This indicates that leaflet-based communicative counseling is efficacious in improving the health literacy of mothers of toddlers. It is recommended that health workers at community health centers routinely provide similar counseling.  
Edukasi tentang kepatuhan pembatasan cairan kepada pasien gagal ginjal kronik Maritasari, Dwi Yulia; Aziza, Nurul; Surya, Syiefa Renanda; Karyus, Aila; Listina, Febria; Oktarida, Avina
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2473

Abstract

Background: Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive decline in kidney filtration function lasting more than three months, often with non-specific symptoms that allow the disease to advance unnoticed. Hemodialysis is the most widely used renal replacement therapy; however, patient adherence to fluid restriction remains a major challenge, as non-compliance can lead to fluid overload, edema, dyspnea, and increased mortality risk through elevated Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG). Studies indicate that adherence to fluid restriction is associated with improved quality of life, with success strongly influenced by family support and the implementation of self-care practices including diet, medication, and physical activity. Video-based educational media has proven effective in enhancing patient knowledge, attitudes, and behaviors, thereby promoting adherence to hemodialysis therapy and reducing long-term complications. Purpose: Increase patient understanding of the impact of excess fluid on the body and the serious complications that can occur if fluid restrictions are not adhered to. Method: This community service activity was conducted in a hemodialysis unit involving 68 patients with fluid overload, identified by significant inter-dialytic weight gain, edema, or hypertension. Samples were selected through observation based on weight gain criteria between sessions. An educational and participatory approach was applied, with fluid restriction education delivered via video displayed in the hemodialysis room, accompanied by interactive discussions. Patient engagement was observed to assess involvement and comprehension, while knowledge levels were evaluated through question-and-answer sessions and peer experience sharing. Results: The intervention demonstrated increased knowledge and active engagement among hemodialysis patients following video-based counseling. The visually and interactively packaged material effectively captured patient attention, while accompanying discussions reinforced understanding. Video-based educational interventions integrated knowledge, attitudes, and behaviors synergistically, supporting adherence to fluid restriction and improving the quality of hemodialysis therapy. Conclusion: Video-based health promotion is an effective educational tool to enhance patient adherence to fluid restriction in hemodialysis. Improved adherence positively impacts the control of Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), making video media a recommended component of routine educational strategies to support therapy success and patient quality of life. Suggestion: Health care facilities, particularly hemodialysis units, are advised to integrate video media into routine education to strengthen patient adherence to fluid restriction. Regular evaluation of adherence should involve family support to ensure a more comprehensive and sustainable educational process. Keywords: Chronic kidney disease; Compliance; Fluid restriction; Health education; Hemodialysis Pendahuluan: Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease/CKD) merupakan penurunan fungsi filtrasi ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dengan gejala yang sering tidak spesifik, sehingga penyakit dapat berkembang ke tahap lanjut tanpa disadari. Hemodialisis menjadi terapi pengganti ginjal yang paling banyak digunakan, namun kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan masih menjadi tantangan utama karena ketidakpatuhan dapat menimbulkan kelebihan cairan, edema, sesak napas, hingga meningkatkan risiko mortalitas melalui Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG) yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap pembatasan cairan berhubungan dengan kualitas hidup pasien, dan keberhasilan sangat bergantung pada dukungan keluarga serta penerapan self care yang mencakup diet, pengobatan, dan aktivitas fisik. Media edukasi berbasis video terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien, sehingga dapat mendorong kepatuhan terhadap terapi hemodialisis dan menekan komplikasi jangka panjang. Tujuan: Meningkatkan pemahaman pasien tentang dampak kelebihan cairan terhadap tubuh serta komplikasi serius yang dapat terjadi apabila tidak mematuhi pembatasan cairan Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di ruang hemodialisis dengan melibatkan 68 pasien yang mengalami kelebihan cairan, ditandai oleh peningkatan berat badan inter-dialytic, edema, atau hipertensi. Sampel ditentukan melalui observasi pasien dengan kriteria peningkatan berat badan signifikan antar kunjungan. Pendekatan yang digunakan bersifat edukatif dan partisipatif. Edukasi mengenai pembatasan cairan disampaikan melalui media video yang ditayangkan di ruang hemodialisis, disertai diskusi interaktif antara pasien dan pemateri. Aktivitas peserta diamati untuk menilai keterlibatan dan pemahaman, sedangkan tingkat pengetahuan dievaluasi melalui sesi tanya jawab serta berbagi pengalaman antar pasien. Hasil: Adanya peningkatan pengetahuan dan keterlibatan aktif pasien hemodialisis setelah mengikuti penyuluhan melalui media video. Penyampaian materi yang dikemas secara visual dan interaktif efektif menarik perhatian pasien, diskusi yang menyertai tayangan memperkuat pemahaman mereka. Intervensi edukatif berbasis video yang disertai diskusi mampu mengintegrasikan aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku pasien secara sinergis, sehingga mendukung kepatuhan terhadap pembatasan cairan dan kualitas terapi hemodialisis. Simpulan: Media promosi kesehatan berbasis video merupakan alat edukasi yang efektif dalam meningkatkan kepatuhan pasien hemodialisis terhadap pembatasan cairan. Peningkatan kepatuhan tersebut berdampak positif pada pengendalian Inter-Dialytic Weight Gain (IDWG), sehingga penggunaan media video dapat direkomendasikan sebagai bagian dari strategi edukasi rutin untuk mendukung keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien. Saran: Fasilitas pelayanan kesehatan khususnya unit hemodialisis, dapat mengintegrasikan media video sebagai bagian dari edukasi rutin untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan. Evaluasi kepatuhan perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan dukungan keluarga, sehingga proses edukasi lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Upaya peningkatan pengetahuan dan perilaku pencegahan mengenai tuberkulosis (TBC) pada masyarakat Wardani, Ratna; Listina, Febria
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2475

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem due to its high transmission rate and low public knowledge regarding prevention and control measures. Limited awareness and inadequate preventive behaviors contribute to the continued spread of tuberculosis. Health education is an important promotive and preventive strategy to increase public knowledge and encourage appropriate preventive behaviors regarding tuberculosis. Purpose: To improve knowledge and preventive behaviors related to tuberculosis in the community. Method: This community service activity was conducted on January 24, 2026, at the Village Office within the Palapa Community Health Center (Puskesmas) jurisdiction. Forty participants included the general public, families at risk of tuberculosis, and health cadres. The community service activity was implemented using an educational and participatory approach. Participants' activities during discussions and practical sessions were observed to assess their level of engagement and understanding, while also gathering their feedback on the material and delivery methods. The evaluation was presented in descriptive form, describing respondents' level of understanding of the material presented based on direct observations and interviews during the educational activity. Results: 40 participants actively participated in the counseling and discussion sessions. All participants attentively followed the material presented, covering the definition of tuberculosis, its causes, transmission, signs and symptoms, prevention efforts, the importance of early detection, cough etiquette, the implementation of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS), and adherence to treatment until completion. This demonstrated positive changes in community knowledge, attitudes, and behavioral tendencies toward tuberculosis prevention, including steps that can be implemented to prevent the spread of the disease. Conclusion: Health education on tuberculosis (TB) within community service activities has been proven to improve community knowledge, attitudes, and behaviors related to disease prevention. Participants understood the definition, causes, signs and symptoms, transmission methods, and the importance of early detection and adherence to tuberculosis treatment. Thus, this program contributed to reducing the risk of transmission and improving public health. Suggestion: Tuberculosis education activities are expected to be conducted on a continuous and scheduled basis to strengthen public knowledge and understanding of how to prevent complications and transmission, so that the benefits of these activities will be felt by the wider community. Keywords: Health education; Preventive behavior; Public health promotion; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TBC) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama karena tingkat penularannya yang tinggi dan rendahnya pengetahuan masyarakat terkait langkah-langkah pencegahan dan pengendalian. Kesadaran yang terbatas dan perilaku pencegahan yang kurang memadai berkontribusi pada terus berlanjutnya penyebaran tuberkulosis. Edukasi kesehatan merupakan strategi promotif dan preventif yang penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat serta mendorong perilaku pencegahan yang tepat terhadap tuberkulosis. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan terkait tuberkulosis pada masyarakat. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 24 Januari 2026 di Kantor Kelurahan wilayah kerja Puskesmas Palapa, dengan 40 peserta yang terdiri dari masyarakat umum, keluarga berisiko tuberkulosis, dan kader kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif. Aktivitas peserta selama diskusi dan praktik diamati untuk menilai tingkat keterlibatan dan pemahaman, sekaligus mengumpulkan tanggapan mereka mengenai materi dan metode penyampaian. Evaluasi disajikan dalam bentuk deskriptif mengenai tingkat pemahaman responden terhadap materi yang disampaikan berdasarkan observasi dan wawancara langsung selama kegiatan edukasi dilaksanakan. Hasil: Mendapatkan 40 peserta yang aktif terlibat dalam sesi penyuluhan dan diskusi. Seluruh peserta secara tertib mengikuti kegiatan dengan menyimak materi disampaikan meliputi pengertian tuberkulosis, penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, upaya pencegahan, pentingnya deteksi dini, etika batuk, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta kepatuhan pengobatan hingga tuntas. Menunjukkan adanya perubahan positif pada pengetahuan, sikap, dan kecenderungan perilaku masyarakat terhadap pencegahan tuberkulosis seperti langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang tuberkulosis (TBC) dalam kegiatan pengabdian masyarakat terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit. Peserta memahami pengertian, penyebab, tanda dan gejala, cara penularan, serta pentingnya deteksi dini dan kepatuhan pengobatan tuberkulosis. Dengan demikian, program ini berkontribusi dalam menurunkan risiko penularan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan penyuluhan tuberkulosis sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan dan terjadwal untuk memperkuat pengetahuan dan pemahaman masyarakat untuk mencegah komplikasi dan penularan sehingga kegiatan penyuluhan akan dirasakan manfaatnya pada masyarakat yang lebih luas.