Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

DETERMINAN FAKTOR KEJADIAN KOMPLIKASI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI KOTA BENGKULU TAHUN 2021 HERU LAKSONO; HENDRI HERIYANTO; RISMA APRIANI
Journal of Nursing and Public Health Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v10i1.2368

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi didefinisikan sebagai kondisi kronis yang memunculkan dua atau lebih penyakit, dengan salah satu penyakit tidak selalu lebih sentral daripada yang lain. Komplikasi dapat mempengaruhi kualitas hidup, kemampuan untuk bekerja, kecacatan dan kematian. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat meningkatkan dengan cepat prevalensi komplikasi pada penderitanya, bahkan kematian penyandang diabetes melitus tidak jarang disebabkan oleh komplikasi. Prevalensi diabetes melitus yang terdiagnosis pada penduduk usia di atas 65 tahun menurut data Riskesdas tahun 2007 adalah 4,6%. Diabetes melitus pada lansia seringkali tidak disadari karena gejala-gejala diabetes seperti sering haus, sering berkemih, dan penurunan berat badan tersamarkan akibat perubahan fisik alamiah lansia yang mengalami penurunan, sehingga diabetes yang tidak terdiagnosis ini akan terus berkembang menjadi komplikasi yang dapat berakibat fatal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional yaitu penelitian yang melakukan pengukuran variabel dependen dan independen secara bersamaan (potong lintang) pada populasi penderita Diabetes Melitus yang terdata di Puskesmas dalam wilayah Kota Bengkulu pada tahun 2020 yang berjumlah 2.109 penderita. Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan antara variabel lama sakit (OR=2,770; 95% CI=1,300-5,904), diit (OR=2,770; 95% CI=1,300-5,904) dan keteraturan minum obat (OR=2,770; 95% CI=1,300-5,904) dengan kejadian komplikasi Diabetes Melitus. Kesimpulan: hasil penelitian ini menunjukan bahwa Prevalensi kejadian komplikasi DM di Kota Bengkulu tahun 2021 adalah sebesar 48 % yang mana memiliki hubungan erat dengan kebiaasaan diit, lama sakit, dan keteraturan minum obat.
Inhibitory Test of Onion Extract (Allium Cepa L.) Against The Growth of Trichophyton rubrum Fungus Causing Tinea Pedis Heru Laksono; Ahmad Ade Saputra; Sunita Raden; Jon Farizal; Dahrizal Dahrizal
SANITAS: Jurnal Teknologi dan Seni Kesehatan Vol 13 No 2 (2022): SANITAS Volume 13 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36525/sanitas.2022.24

Abstract

Tinea pedis is a disease that attacks the area between the fingers, soles of the feet, heels, nails and is a source of infection in other areas. Trichophyton rubrum is the cause of 70 % of cases of tinea pedis. Fungal infections are usually treated using antifungal drugs which mostly have limitations, such as poor penetration into certain tissues, narrow spectrum of fungi, high side effects, and resistance of fungi to certain antifungals. Utilization of natural materials is done as an alternative treatment for fungal infections. One of the natural ingredients that has the potential to be used as antifungal is onion (Allium cepa L.). The aim of the study was to determine the ability of onion extract to inhibit the growth of the fungus Trichophyton rubrum. The type of research is Experimental Laboratory. This study used onion extract concentrations of 70 %, 60 %, 50 %, 40 %, control (+) and control (-). Data analysis using Kruskal Wallis Test and Post Hoc Mann Whitney Test. The average diameter of the inhibition zone at the extract concentration of 70 %, 60 %, 50 %, and 40 %, respectively, was 2,01 mm, 1,75 mm, 0,87 mm, and 0.58 mm. The results of the in vitro test using the disc diffusion method showed that onion extract had the ability to inhibit the growth of Trichophyton rubrum with a weak category.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN ESRD (END STAGE RENAL DISEASE) PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RSHD KOTA BENGKULU; CASE CONTROL STUDY HERU LAKSONO; TEDY FEBRIYANTO; LISMA NINGSIH
Journal of Nursing and Public Health Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v11i1.4116

Abstract

Latar Belakang : ESRD didefinisikan sebagai kondisi kronis yang memunculkan dua atau lebih penyakit, dengan salah satu penyakit tidak selalu lebih sentral daripada yang lain. ESRD dapat mempengaruhi kualitas hidup, kemampuan untuk bekerja, kecacatan dan kematian. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat meningkatkan dengan cepat prevalensi ESRD pada penderitanya, bahkan kematian penyandang diabetes melitus tidak jarang disebabkan oleh ESRD. Salah satu ESRD yang menyebabkan kematian pada penderita diabetes melitus di Indonesia adalah penyakit gagal ginjal kronik stadium lima. Sepuluh persen penduduk di dunia mengalami Penyakit Ginjal Kronis dan jutaan meninggal setiap tahun karena tidak mempunyai akses untuk pengobatan. Laporan IRR 2018 menyebutkan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit penyerta penderita ESRD terbanyak kedua setelah hipertensi. Terjadi peningkatan ESRD ESRD-DM pada tahun 2018 yaitu Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko kejadian ESRD pada penderita Diabetes melitus di RSHD Kota Bengkulu tahu 2022 Metode:Jenis penelitian yang digunakan adalah case control study. Populasi dalam penelitan ini adalah seluruh penderita DM dengan ESRD di ruangan Hemodialisa RSHD Kota Bengkulu sebagai kelompok kasus yaitu sebanyak 25 orang dan sebagai kelompok kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 75 orang (1:3). di Poli Penyakit Dalam RSHD Kota Bengkulu Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah convenience sampling yaitu sampel merupakan penderita yang ditemukan pada saat dilaksanakan penelitian. Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan antara variabel lama sakit (OR=2,770; 95% CI=1,300- 5,904), diit (OR=2,770; 95% CI=1,300-5,904) dan keteraturan minum obat (OR=2,770; 95% CI=1,300-5,904) dengan kejadian ESRD pada penderita DM. Kesimpulan: hasil penelitian ini menunjukan bahwa yang memiliki hubungan erat dengan kebiaasaan diit, lama sakit, dan keteraturan minum obat.
STRUCTURAL EQUATION MODELING OF CLEAN AND HEALTHY LIVING BEHAVIOR AMONG MOTHERS IN HOUSEHOLDS Lisma Ningsih; Heru Laksono
Proceeding B-ICON Vol. 2 No. 1 (2023): Proceeding of The 3rd Bengkulu International Conference on Health (B-ICON 2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/bicon.v2i1.200

Abstract

The number of maternal deaths in Bengkulu Province for the last three years is still high, and Bengkulu City is one of the second highest contributors to maternal mortality. The purpose of this study was to determine whether the proposed theoretical model is suitable (fit) to explain the determinants of clean and healthy living behavior in mothers in the home setting in Bengkulu City in 2021. Quantitative research method with cross sectional research design. The research population is mothers who have toddlers in Bengkulu City, while the research sample is mothers who have toddlers who were chosen intentionally. The variable being measured is the latent variable, so it uses a structural equation modeling (SEM) application that examines the relationship between the variables as a unit. Clean and healthy living behavior (PHBS) in mothers in household settings in Bengkulu City is still low on the indicators of consumption of vegetables and fruit (8.7%) and non-smoking behavior (39.7%). The factor that plays the strongest role in shaping clean and healthy living behavior is perception. Clean and healthy living behavior can be improved if they have good knowledge, receive adequate social support, correct perception of clean and healthy living behavior and the availability of adequate sources of information. It is hoped that the Bengkulu City Health Office through the Coordinator of Midwives, Health Promoters and Cadres can encourage clean and healthy living behaviors in mothers by involving village officials or their peers so that together they improve clean and healthy living behaviors.
IMPLEMENTATION OF PHARMACY STANDARD SERVICE AND RELATED FACTORS IN BENGKULU CITY Laksono, Heru; Susilo, Avrilya Iqoranny; Muslim, Zamharira; Ningsih, Lisma; Febriyanto, Tedy
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 18 No. 3 (2023): Avicenna: Jurnal Ilmiah
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v18i3.5822

Abstract

Introduction: The current development of pharmaceutical science has caused a shift in the orientation of pharmaceutical services from managing drugs as commodities to comprehensive services (pharmaceutical care). Pharmacists are not only drug managers but in a broader sense, include the implementation of rational drug use in the context of patient safety. Method: This research is an analytical observational study with a cross sectional design. The research population in this study were pharmacies operating in Bengkulu City, with samples taken using a purposive sampling technique taking into account the activeness of pharmacies in sending reports. Data collection was carried out by interviewing research respondents using a questionnaire. The Pharmaceutical Service Standard variable uses pharmaceutical standard indicators by referring to Minister of Health Regulation Number 73 of 2016 concerning Pharmaceutical Service Standards in Pharmacies. Results and Discussion: Overall research results show that pharmaceutical service standards in Bengkulu City pharmacies have not been implemented properly. The results obtained were that there were still 54% of pharmacies that had not implemented service standards for providing information to support the correct and rational use of medicines, monitoring the use of medicines to find out the final destination, as well as the possibility of medication errors. Conclusion: The existence of pharmaceutical service standards in pharmacies aims to improve the quality of pharmaceutical services; guarantee legal certainty for pharmaceutical personnel; and properly protect patients and the pharmaceutical community. The factor that hinders the implementation of pharmaceutical service standards in Bengkulu City pharmacies is the number of prescriptions that must be served every day (p value = 0.039, OR= 2.131). Keyword : Pharmacy ; Pharmaceutical Care; Standard of Service
GAMBARAN VIABILITAS DAN VISKOSITAS SPERMATOZOA PADA CAIRAN SEMEN PEMINUM ALKOHOL DI KOTA BENGKULU TAHUN 2023 Febriyanto, Tedy; Laksono, Heru; Hidayatullah
Avicenna: Jurnal Ilmiah Vol. 18 No. 3 (2023): Avicenna: Jurnal Ilmiah
Publisher : Public Health Department, Faculty of Health Science University Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/avicenna.v18i3.5843

Abstract

  Background: The problem of fertility, especially in men or infertility is a very serious public health problem at this time. One of the causes is consuming alcohol. According to the Central Statistics Agency (BPS), per capita alcohol consumption for Indonesians aged 15 years and over in 2021 is 0.36 liters and in Bengkulu province itself it is 6.52%. This made the writer interested in knowing the description of viability and viscosity in the semen of alcoholic drinkers in Bengkulu City. Method: The sampling technique in this study used a purposive sampling method, and the sample used was liquid semen of alcoholic drinkers as many as 36 samples.  Result and Discussion: The results of observations from 36 samples showed that the majority of the percentage of samples who drank alcohol were 75% heavy drinkers with abnormal spermatozoa viability (75%) and with abnormal spermatozoa viscosity (72%).  Conclusion:  The results of a study of 36 samples of semen fluid drinkers in Bengkulu City, it was found that most of the respondents drank alcohol (75%) including heavy drinkers with abnormal spermatozoa viability (75%) and with abnormal spermatozoa viscosity (72%).   Keywords : Alcohol drinker ,Sperm,  Viability, Viscosity
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) TERHADAP KADAR GLUKOSA URINE SISWA SISWI SDN 01 KOTA BENGKULU FEBRIYANTO, TEDY; LAKSONO, HERU; FARIZAL, JON; AKRI, MUHAMMAD FERDIAN
Journal of Nursing and Public Health Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v12i1.6357

Abstract

Permasalahan: Overweight dan obesitas pada anak sekolah pada saat ini menjadi salah satu masalah serius yang jika dibiarkan akan berlanjut pada usia dewasa yang akan menyebabkan terjadi nya penyakit metabolik dan degeneratif. Kelompok usia sekolah dasar merupakan kelompok umur yang berisiko terjadinya penyakit diabates. Overweight dan obesitas berkaitan erat dengan gula darah. Jika glukosa darah dalam tubuh meningkat dan tidak dapat diserap kembali oleh ginjal, maka akan terjadi sekresi glukosa urine atau glukosuria, yaitu glukosa yang terdapat dalam urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Indeks massa Tubuh Terhadap kadar Glukosa Urine Siswa Siswi SD N 01 Kota Bengkulu Tahun 2023. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui Hubungan indeks massa tubuh (IMT) terhadap kadar glukosa urine siswa siswi SD N 01 Kota Bengkulu tahun 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis chi-square. Sampel pada penelitian ini sebanyak 34 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan menggunakan rumus slovin. Pemeriksaan glukosa urine dilakukan dengan metode carik celup menggunakan strip. Hasil: Diperoleh hasil responden sebagian besar overweight 74% dan sebagian kecil obesitas 26%, hampir seluruh responden 97% responden negatif glukosa urine dan sebagian kecil 3% positif glukosa urine, Siswa Siswi overweight dan obesitas hampir sebagian 38% laki-laki dan sebagian besar 62% Perempuan, dan tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap kadar glukosa urine responden (0,098 > 0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap kadar glukosa urine siswa siswi SD N 01 Kota Bengkulu Tahun 2023. Penelitian ini diharapkan agar responden selalu memeperhatikan pola hidup yang sehat agar gula darah tetap terkontrol sehingaa tidak menyebabkan glukosuria.
TREND PENYIMPANAN OBAT KERAS PADA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU SUSILO, AVRILYA IQORANNY; PUDIARIFANTI, NADIA; MUSLIM, ZAMHARIRA; LAKSONO, HERU
Journal of Nursing and Public Health Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v12i1.6405

Abstract

Pendahuluan: Praktik pengobatan sendiri pada masyarakat atau swamedikasi mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menyebabkan 94,3% masyarakat menyatakan menyimpan obat-obatan di rumah dan diperoleh 49,8% masyarakat mendapatkan obat keras tanpa resep dokter dalam praktik swamedikasi yang mereka lakukan. Penyimpanan ini memiliki resiko cukup tinggi jika tidak dilakukan manajemen obat dengan baik dalam penyimpanan obat pada rumah tangga. Perlunya penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku penyimpanan obat keras yang dibeli tanpa resep dokter pada rumah tangga. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Cross-Sectional dengan desain survei cluster 2 tahap. Penelitian kuantitatif dilakukan dengan menggunakan kuesioner semi terstruktur. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling) digunakan untuk memilih klaster pada tahap pertama dan pengambilan klaster tahap kedua pada rumah tangga dilakukan secara acak sistematik (Systematic Random sampling). Hasil dan Pembahasan: Diperoleh 100 rumah tangga dari 9 klaster yang ditetapkan. Diperoleh 82% terdapat penyimpanan obat keras tanpa resep dokter dengan mayoritas 86% obat keras dengan indikasi analgetik pada rumah tangga. Diperoleh 30% obat kadaluarsa dan 54% antibiotik yang disimpan. Kesimpulan: Penyimpanan obat kadaluarsa membahayakan jika dikonsumsi kembali dan penyimpanan antibiotik menggambarkan bahwa masyarakat masih banyak yang tidak menyelesaikan dalam penggunaan antibiotik yang dapat menyebabkan resistensi penggunaan obat.
Gambaran Kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) Pada Pekerja Bangunan Di PT Agung Automall Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu Tahun 2020 Ranita, Ilva; Muslim, Zamharira; Laksono, Heru
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 1 No 1 (2021): Bacteriology dll
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v1i1.147

Abstract

Latar Belakang : Beban kerja yang berlebihan pada pekerja buruh bangunan, seperti jadwal proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan tentu saja memerlukan jumlah energi yang lebih besar yang dapat menimbulkan kerusakan. SGPT merupakan enzim yang terlibat dalam metabolisme hati, karena hati adalah terlibat dalam jenis aktifitas fisik dibandingkan dengan kegitan lain. Apabila terjadi kerusakan sel, enzim akan banyak keluar ke ruang ekstra sel dan ke dalam aliran darah. Pengukuran konsentrasi enzim didalam darah dengan uji SGPT dapat memberikan informasi penting mengenai tingkat gangguan fungsi hati. Metode :Jenis penelitian yang digunakan survey deskritif, Teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling, jumlah sampel yang diperiksa sebanyak 32. Semua sampel yang diperiksa dengan menggunakan alat spektofotometer UV-Vis (Yundai) Hasil :Hasil Analisa Deskriptif didapatkan bahwa sebanyak 28 orang (87,5%) pekerja bangunan memiliki kadar SGPT normal dan sebanyak 4 orang (12,5%) pekerja bangunan memiliki kadar SGPT tidak normal Kesimpulan :Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kadar SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) Pada Pekerja Bangunan Di PT Agung Automall Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu dapat disimpulkan bahwa dari 32 pekerja bangunan didapatkan hasil sebanyak 87,5 % pekerja bangunan dengan kadar SGPT normal dan sebagian kecil 12,5% pekerja bangunan dengan kadar SGPT tidak normal.
GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH SEBELUM DAN SESUDAH MENGKONSUMSI KOPI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI WILAYAH PUSKESMAS SAWAH LEBAR KOTA BENGKULU Helandu, Dwi Cahya; Laksono, Heru; Welkriana, Putri Widelia
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 3 No 1 (2023): Pemeriksaan Laboratorium Medis
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v3i1.404

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gukosa darah (Hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresiinsulin,kerja insulin atau keduanya. Adapun factor risiko terkatit dengan diabetes mellitus salah satunya yaitu mengkonsumsi kopi. Salah satu senyawa kopi yang dapat menurunkan kadar glukosa darah yaitu asam kloregenat. Tujuan : Untuk mengetahui kadar glukosa darah sebelum dan sesudah megkonsumsi kopi pada penderita diabetes mellitus tipe 2. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian deskriptif degan analisis data univariat. Sampel pada penelitian ini sebanyak 32 orang dengan menggunakan metode purposive sampling. Pemeriksaan dilakukan dengan metode strip test. Hasil : Hasil penelitian kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 menunjukkan terjadi penurunan kadar glukosa darah yang memiliki nilai mean sebelum mengkonsumsi kopi sebesar 203,06 mg/dl dan sesudah mengkonsumsi kopi sebesar 201,65 mg/dl. Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang “ Gambaran Kadar Glukosa Darah Sebelum Dan Sesudah Mengkonsumsi Kopi Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Puskesmas Sawah Lebar Kota Bengkulu”, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah mengkonsumsi kopi pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan nilai mean sebelum mengkonsumsi kopi yaitu 203,06 mg/dl dan sesudah mengkonsumsi kopi sebsar 201,65 mg/dl.