Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Gambaran Kualitas Tidur pada Penduduk Usia Dewasa di Daerah Rob Kota Pekalongan Aulia Fara Dhila; Benny Arief Sulistyanto
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana rob dapat berdampak pada psikologis korban bencana. Gangguan psikologis yang paling banyak diderita oleh korban rob adalah gangguan kualitas tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas tidur pada penduduk usia dewasa di daerah rob Kelurahan Pasirkratonkramat Kecamatan Pekalongan Barat Kota Pekalongan. Sampel pada penelitian ini adalah korban rob di Kota Pekalongan yang pernah mengungsi sebanyak 94 responden (response rate 94%). Penelitian ini bersifat deskripsi menggunakan pendekatan survey. Instrument yang digunakan yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index. Pada penelitian ini ditemukan sebagian besar responden memiliki kualitas tidur yang buruk (68,1%), kualitas tidur baik (31,9%). Penelitian ini menyarankan kepada pihak terkait untuk bisa meningkatkan pendidikan kesehatan terutama pada gangguan psikologis kualitas tidur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas penduduk pasca bencana rob masih mengalami kualitas tidur yang buruk.
Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Dipondok Pesantren International Muhammadiyah Boarding School Miftakhul Ulum Pekajangan Pekalongan Rifka Maulida Syafrina; Benny Arief Sulistyanto
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 16th University Research Colloquium 2022: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia sering terjadi pada remaja putri usia 13-15 tahun karena pada masa itu remaja mengalami masa-masa awal menstruasi, sehingga remaja membutuhkan asupan zat besi yang adekuat. Anemia pada remaja putri akan berdampak pada penurunan konsentrasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kejadian anemia pada remaja putri dipondok pesantren International Muhammadiyah Boarding School Miftakhul Ulum Pekajangan Pekalongan. Sampel penelitian ini adalah 66 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Convenience sampling, dan instrument yang digunakan saat pengecekan kadar Hemoglobin adalah Easy Touch. Kejadian anemia pada remaja putri dipondok pesantren International Muhammadiyah Boarding School Miftakhul Ulum Pekajangan Pekalongan mayoritas mengalami anemia (56,1%) atau 37 responden. Dari total 66 responden (36,4%) mengalami anemia ringan, (15,2%) anemia sedang, (4,5%) anemia berat dan sisanya (43,9%) tidak mengalami anemia. kejadian anemia pada remaja putri dipondok masih tinggi. Diharapkan pengelola pondok pesantren dapat mencegah dan mengatasi anemia dengan melibatkan instansi kesehatan.
Self-reported Emergency Skills Competence among Pre-hospital Emergency Personnel in a Rural Area of Indonesia Benny Arief Sulistyanto; Irnawati Irnawati; Retno Sugesti; Devi Listiana; Sri Hayati; Evra Yusandra
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 3 (2022): Proceedings of the 3rd International Nursing and Health Sciences Universitas Muhammad
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pshms.v3i.613

Abstract

Background: Pre-hospital emergency medical services (EMS) personnel are responsible for providing intervention outside of the hospital setting. Consequently, the pre-hospital emergency personnel demand high capability of the personnel to perform emergency aid at the scene and during transport to the hospital. Objective: The purpose of this study is to explore emergency skills competence among pre-hospital emergency personnel in the area on the north coast of Java. Method: This study used the Essential Knowledge and Skills Questionnaire (EKSQ) as the instrument. There was 42 pre-hospital emergency personnel participated in this study. Results: This study revealed that most pre-hospital emergency personnel are nurses (93%). Most respondents reported not having sufficient competency in resuscitation (2,78 of 5 points) and giving medication (2,81 of 5 points). Age and experience were significantly correlated with pre-hospital emergency personnel's competence. Conclusion: This study concluded that there was a lack of competence in resuscitation. Hence, continuous professional-development courses are necessary to maintain pre-hospital emergency personnel's professional proficiency.
THE EFFECT OF PURSED LIP BREATHING (PLB) EXERCISE ON RESPIRATORY STATUS IN PATIENTS WITH CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD) Benny Arief Sulistyanto; Dwi Indri Rahmawati; Irnawati Irnawati; Dian Kartikasari
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 7 No. 1 (2023): May 2023
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jpi.v7i1.2180

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) terjadi karena obstruksi jalan napas. Obstruksi ini menyebabkan penderitaPPOK mengalami kesulitan untuk mengeluarkan napas. Dengan memberikan Pursed Lip Breathing akan membuatfase ekspirasi menjadi lebih lama sehingga lebih banyak udara yang dihembuskan dan mencegah udara terperangkapdi dalam alveoli. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experimen dengan menggunakan convenience sampling.Terdapat 20 responden yang terbagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Data dianalisis menggunakan pairedsample t-test untuk mengetahui perbedaan pre-test dan post-test pada masing-masing kelompok. Uji-t independendigunakan untuk mengidentifikasi perbedaan rata-rata dua variabel yang tidak berpasangan. Uji paired t-testmenunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kelompok intervensi pada variabel FEV1, SpO2, danrespiratory rate (p-value < .01). Independent t-test menunjukkan variabel SpO2 dan respiratory rate berbeda secarasignifikan (p-value 0,019, dan 0,028 berturut-turut), sedangkan FEV1 tidak ada perbedaan antara kelompokintervensi dan kontrol (p-value = 0,599). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pursed lips breathingberpengaruh signifikan terhadap status pernapasan. Independent t-test test menunjukkan perbedaan antara kelompokintervensi dan kontrol pada peningkatan SpO2 dan penurunan RR namun tidak menunjukkan hasil yang signifikandalam peningkatan FEV1. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pursed lips breathing dapat digunakan sebagai terapitambahan untuk penatalaksanaan sesak napas pada pasien PPOK. Penelitian lanjutan diperlukan dengan menambahjumlah sampel dan pengacakan/randomisasi untuk mengurangi bias penelitian.   Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) occurs due to airway obstruction. This obstruction causes COPDsufferers to have difficulty exhaling. By giving pursed lip breathing will make the expiration phase longer so thatmore air is exhaled and prevent air trapping in the alveoli. The study used Quasy Experiment design. Theconvenience sampling technique was used in the study. There were 20 respondents divided into intervention andcontrol groups. Data were analyzed using Paired sample t-test to determine the difference between pre-test and post-test in each group. In addition, an independent t-test was used to investigate the difference in the mean of twounpaired variables. The paired t-test showed that there were significantly different in the intervention group in thevariables FEV1, SpO2, and Respiratory rates (p-value < .01). The independent t-test revealed variables SpO2 andRespiratory Rate were significantly different (p-value of .019, and .028 respectively), whereas FEV1 was nodifference between intervention and control group (p-value was .599). This study concluded that pursed lipsbreathing shows a significant effect on respiratory status. The independent sample t-test test showed a differencebetween the intervention and control groups after pursed lips breathing was performed on an increase in SpO2 and adecrease in RR but did not show a significant result in an increase in FEV1. Pursed lips breathing can be used as anadditional therapy for managing shortness of breath in COPD patients. Further research is expected to have moresample size and randomization. Keywords: COPD, FEV1, pursed lips breathing, respiratory rate, SpO2
Hubungan Letak Geografis dengan Kepatuhan Pengobatan pada Pasien Hipertensi di Kabupaten Pekalongan Benny Arief Sulistyanto; Mukti Lestari Madyoratri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 13 No. 1 (2020): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/jiks.v13i1.225

Abstract

Abstrak. Kepatuhan pengobatan hipertensi dapat dipengaruhi oleh faktor sosial-demogafik. Perbedaan fasilitas penunjuang kesehatan pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi mengakibatkan tidak meratanya informasi dan pengobatan terkait hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan letak geografis dengan tingkat kepatuhan pengobatan hipertensi di Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini merupakan studi deskirptif dengan pendekatan cross-sectional. Kuesioner The 8-item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) versi Bahasa Indonesia digunakan untuk mengukur kepatuhan pengobatan hipertensi pada 65 responden di daerah dataran tinggi dan dataran rendah. Hasil penelitian ini menemukan bahwa letak geografis mempunyai korelasi terhadap kepatuhan pengobatan hipertensi (p-value < 0,01). Petugas kesehatan hendaknya menggunakan berbagai metode untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan khususnya yang berlokasi di dataran rendah. Namun demikian, peningkatkan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan di dataran tinggi tidak boleh diabaikan Kata kunci: kepatuhan pengobatan, hipertensi, MMAS-8, letak geografis Relationship between Geographical Location and Medication Adherence in Hypertensive Patients in Pekalongan DistrictAbstract. Medication adherence among hypertensive patients can be influenced by socio-demographic factors. The differences in health care facilities in the lowlands and highlands create a gap of information and treatment related to hypertension treatments. The purpose of this study is to identify the relationship between geographical location and medication adherence in Pekalongan Regency. A descriptive study with a cross-sectional approach was used. The Indonesian version of the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) questionnaire was used to measure the adherence of medication treatment among 65 respondents in the highlands and lowlands. The results of this study revealed that geographical location was highly correlated with medication adherence (p-value <0.01). Health workers should use various methods to improve medication adherence, especially those located in the lowlands. Although, improving the quality and quantity of health facilities in the highlands should not be ignored Keywords: medication adherence, hypertension, MMAS-8, geographical location
The Pelatihan resusitasi jantung dan paru (RJP): Manajemen henti jantung di luar rumah sakit untuk kader kesehatan desa Benny Arief Sulistyanto; Irnawati Irnawati; Sri Hayati; Evra Yusandra; Atika Noviyanti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i3.348

Abstract

Background: Cardiac arrest may occur anywhere and anytime. Therefore, everyone should know how to perform CPR to assist a victim before an ambulance arrives. Purpose: To increase knowledge about CPR, improve skills on how to do Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) correctly; and increasing the awareness of village health cadres to help residents who have stopped breathing and cardiac arrest by immediately performing CPR. Method: These activities involved checking blood pressure, pulse, oxygen saturation, and CPR training. Result: The result of this community service activity was that the compression quality among participants was very good. The average chest compression rate was 118 x/minute, which was following the recommendations of AHA 2020. The average compression depth was slightly deeper than the recommendation, which was 68 mm (6.8 cm). Conclusion: It is expected that the community will engage in cardiopulmonary resuscitation (CPR) in cardiac arrest, irrespective of the potential difficulties that may arise from the administration of CPR. Keywords: Cardiopilmonary Resuscitation; Community Service; CPR; Health Cadres Pendahuluan: Henti jantung dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki kemampuan untuk melakukan RJP agar dapat menolong korban sebelum ambulan tiba. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai RJP, meningkatkan keterampilan cara melakukan Resusitasi Jantung dan paru (RJP) dengan benar; dan meningkatkan kesadaran kader kesehatan desa untuk menolong warga yang mengalami henti nafas dan henti jantung dengan segera melakukan RJP. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dan pelatihan RJP. Hasil: Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kualitas kompresi peserta pengabdian masyarakat sudah sangat baik. Rata-rata kecepatan kompresi dada sudah sesuai dari rekomendasi rentang kecepatan kompresi dari AHA 2020 yaitu 118 x/menit. Rata-rata kedalaman kompresi peserta sedikit lebih dalam yang direkomendasikan berkisar 5-6 cm, sedangkan rata-rata kedalaman kompresi peserta adalah sebesar 68 mm (6,8 cm). Simpulan: Masyarakat diharapkan dapat segera melakukan RJP kapanpun dan dimanapun menemukan warga dengan henti nafas dan henti jantung tanpa khawatir akan resiko komplikasi yang mungkin diakibatkan oleh tindakan RJP. 
The Pelatihan resusitasi jantung dan paru (RJP): Manajemen henti jantung di luar rumah sakit untuk kader kesehatan desa Arief Sulistyanto, Benny; Irnawati, Irnawati; Hayati, Sri; Yusandra, Evra; Noviyanti, Atika
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v3i3.348

Abstract

Background: Cardiac arrest may occur anywhere and anytime. Therefore, everyone should know how to perform CPR to assist a victim before an ambulance arrives. Purpose: To increase knowledge about CPR, improve skills on how to do Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) correctly; and increasing the awareness of village health cadres to help residents who have stopped breathing and cardiac arrest by immediately performing CPR. Method: These activities involved checking blood pressure, pulse, oxygen saturation, and CPR training. Result: The result of this community service activity was that the compression quality among participants was very good. The average chest compression rate was 118 x/minute, which was following the recommendations of AHA 2020. The average compression depth was slightly deeper than the recommendation, which was 68 mm (6.8 cm). Conclusion: It is expected that the community will engage in cardiopulmonary resuscitation (CPR) in cardiac arrest, irrespective of the potential difficulties that may arise from the administration of CPR. Keywords: Cardiopilmonary Resuscitation; Community Service; CPR; Health Cadres Pendahuluan: Henti jantung dapat terjadi dimana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki kemampuan untuk melakukan RJP agar dapat menolong korban sebelum ambulan tiba. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai RJP, meningkatkan keterampilan cara melakukan Resusitasi Jantung dan paru (RJP) dengan benar; dan meningkatkan kesadaran kader kesehatan desa untuk menolong warga yang mengalami henti nafas dan henti jantung dengan segera melakukan RJP. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dan pelatihan RJP. Hasil: Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kualitas kompresi peserta pengabdian masyarakat sudah sangat baik. Rata-rata kecepatan kompresi dada sudah sesuai dari rekomendasi rentang kecepatan kompresi dari AHA 2020 yaitu 118 x/menit. Rata-rata kedalaman kompresi peserta sedikit lebih dalam yang direkomendasikan berkisar 5-6 cm, sedangkan rata-rata kedalaman kompresi peserta adalah sebesar 68 mm (6,8 cm). Simpulan: Masyarakat diharapkan dapat segera melakukan RJP kapanpun dan dimanapun menemukan warga dengan henti nafas dan henti jantung tanpa khawatir akan resiko komplikasi yang mungkin diakibatkan oleh tindakan RJP. 
Meningkatkan Keterampilan Penanganan Kegawatdaruratan: Pelatihan Penanganan Tersedak Pada Kader Kesehatan Arief Sulistyanto, Benny; Putri Aryati, Dyah; Fara Dhila, Aulia
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Batik-MU
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v4i2.2011

Abstract

Tersedak merupakan salah satu keadaan gawat darurat yang sering terjadi pada anak-anak, terutama akibat karakteristik dan perilaku anak yang cenderung aktif mengeksplorasi lingkungan. Kondisi ini memerlukan perhatian dan pemahaman yang baik dari orang tua, khususnya ibu, untuk mencegah risiko fatal. Pengetahuan yang memadai tentang penanganan tersedak dapat membantu masyarakat mengambil langkah tepat dalam menangani situasi darurat ini dan mengurangi risiko kematian. Salah satu cara efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat adalah melalui pelatihan. Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya kader kesehatan, melalui pelatihan penanganan anak yang tersedak. Metode yang digunakan meliputi pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, pelatihan dengan pendekatan praktis, dan post-test untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan. Kegiatan ini diikuti oleh 30 kader kesehatan, dengan hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan peserta. Sebelum pelatihan, hanya 6 orang (20%) yang memiliki tingkat pengetahuan baik, sementara setelah pelatihan jumlah tersebut meningkat menjadi 27 orang (90%). Hasil ini menegaskan pentingnya pelatihan sebagai intervensi efektif dalam meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi situasi darurat tersedak. Ke depan, diperlukan evaluasi berkelanjutan terkait kemampuan masyarakat dalam menangani kasus kegawatdaruratan jalan napas dan situasi serupa. Perguruan tinggi kesehatan diharapkan terus berperan aktif melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat untuk mendukung peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat.
Improving Emergency Skills: Training Program at Medono Health Center, Pekalongan City Arief Sulistyanto, Benny; Wirotomo, Tri Sakti; Ramadani, Nur Indah
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2024): Batik-MU
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v4i1.1791

Abstract

First aid is crucial and essential for providing emergency assistance. Early treatment of injured individuals at home can significantly reduce morbidity and mortality rates. Community health center staff, as primary service providers to the community, must be proficient in first aid since emergencies can happen anytime and anywhere. This study assessed the effectiveness of Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) training at the Medono Community Health Center in enhancing the knowledge and skills of healthcare workers. Initially, 76.2% of participants had inadequate knowledge about CPR, but after training, 86% showed a substantial improvement in knowledge. Furthermore, the training reduced errors in using the Bag Valve Mask (BVM) and performing chest compressions. Mistakes in ventilation decreased after proper instruction, and errors in compression positioning dropped from 57.8% to nearly zero. These findings highlight the critical role of CPR training in enhancing the preparedness and competence of healthcare workers in emergencies. The Medono Health Center is dedicated to regularly conducting CPR training to ensure the continuous improvement of healthcare quality and patient safety.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi Anggota SATPOL PP dan BNPB dalam Menghadapi Kasus Henti Jantung di Masyarakat Arief Sulistyanto, Benny; Wirotomo, Trisakti; Santoso, Kukuh Aji; Dhoni, Ahmad; Azzahra, Aziza; Wulan, Dian Pramesti
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Batikmu
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v5i1.2156

Abstract

Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang membutuhkan respons cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang keselamatan korban, terutama jika terjadi di luar rumah sakit. Artikel ini melaporkan hasil pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RJP) bagi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan. Pelatihan dilakukan melalui metode ceramah, diskusi, dan praktik langsung menggunakan manekin high-fidelity yang dilengkapi perangkat evaluasi kualitas kompresi dan ventilasi. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dasar peserta, meskipun demikian, kualitas RJP secara keseluruhan baru tercapai baik pada 31% peserta. Temuan ini menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi lintas instansi dalam meningkatkan kesiapsiagaan petugas lapangan sebagai penolong pertama (community first responder) pada kasus henti jantung di luar rumah sakit.