Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Harmonisasi Norma Dalam Pemanfaatan Ruang Sebagai Upaya Mengintegrasikan Ketentuan Zonasi Cagar Budaya ke Dalam Rencana Tata Ruang Nasution, Emmi Rahmiwita; Bima, Meirad Arianza; Rahayu, Rika; Dalimunthe, Huzraimahasri Aminatitassya
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13602

Abstract

Disharmoni regulasi antara rezim pelestarian cagar budaya dan rezim penataan ruang telah menimbulkan ketidakpastian hukum yang berdampak serius terhadap keberlanjutan warisan budaya di Indonesia. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya berpijak pada paradigma pelestarian yang bersifat proteksionis, sedangkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengedepankan optimalisasi ruang untuk kepentingan pembangunan. Ketidaksinkronan ini kian mengemuka pasca transformasi perizinan berbasis risiko melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, yang menempatkan Rencana Tata Ruang sebagai instrumen utama dalam sistem Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA) . Ketika zonasi cagar budaya tidak terintegrasi secara presisi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah maupun Rencana Detail Tata Ruang, situs sejarah berpotensi tidak terbaca dalam sistem, sehingga membuka peluang legalisasi pemanfaatan ruang yang destruktif. Fragmentasi kelembagaan, ego sektoral, serta minimnya interoperabilitas data memperparah kegagalan pengendalian ruang, sebagaimana tercermin pada berbagai kasus di Borobudur, Kota Lama Semarang, Trowulan, dan Yogyakarta. Melalui penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, artikel ini menemukan bahwa akar persoalan terletak pada benturan paradigma, ketidakharmonisan substansi zonasi, serta absennya integrasi sistem izin. Kajian ini menawarkan strategi harmonisasi melalui integrasi substansi zonasi cagar budaya ke dalam RDTR, rekonstruksi prosedur OSS agar mewajibkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya pada tahap KKPR, serta penguatan infrastruktur data melalui Kebijakan Satu Peta. Penelitian ini menyimpulkan bahwa harmonisasi norma bukan sekadar penyelarasan administratif, melainkan agenda rekayasa sosial untuk memastikan pembangunan berjalan tanpa mengorbankan warisan sejarah bangsa.
Digital Financial Literacy for Bamboo MSMEs: A SIAPIK Application Training Initiative in Lamongan Wahidahwati; Rahayu, Rika; Zahro, Maratus; Maryam, Dewi; Kirana, Ardilla Ayu
Warta Pengabdian Andalas Vol 33 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jwa.33.1.1-9.2026

Abstract

East Java is a region rich in MSMEs in the food, beverage, craft, and other handmade goods sectors. One such area is Sukolilo Village, Lamongan, which is a renowned center for the bamboo craftsmen industry in Lamongan. One of the reasons behind this initiative is the importance of financial literacy in the MSME sector, which is considered low and focuses only on profit/loss from a sales value. One thing that needs to be considered is the importance of determining the costs of the production process and determining the selling price, thus creating simple bookkeeping for MSMEs to increase financial literacy. One of the effective strategies in implementing community service activities in Sukolilo Village, Lamongan is to implement three stages of implementation, namely identification, training and mentoring, monitoring and evaluation. Based on the community service activities carried out in Sukolilo Village, which were attended by bamboo craftsmen in Sukolilo Village, Lamongan, it can be concluded that bamboo craftsmen in Sukolilo Village, Lamongan, started downloading the SIAPIK Bank Indonesia application from their respective cellphones via the Play Store and started using the SIAPIK application starting from registration, filling in business information, initial application settings, to entering financial data. The results of monitoring and evaluation indicate that bamboo craftsmen in Sukolilo Village require dedicated time and thought to prepare financial reports. Most bamboo craftsmen are housewives, so they require dedicated time to record their finances due to their busy daily schedules.