Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis proksimat, ultimat, dan kadar sulfur dalam penentuan kualitas batubara pada formasi bobong Pulau Taliabu-Maluku Sardi, Bambang; Ripky, Moh; Marhum, Fitrawati; Nompo, Supardin; Arif, Muhammad
Sultra Journal of Mechanical Engineering Vol. 2 No. 1 (2023): Sultra Journal of Mechanical Engineering
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu parameter utama yang menentukan suatu kegiatan pengolahan dan pemanfaatan bahan galian batubara adalah kualitas batubara. Di daerah penelitian terdapat singkapan batubara yang perlu dilakukan analisis proksimat, ultimat, dan kadar sulfur. Sampling dilakukan pada lapisan batubara pada Formasi Bobong yang tersingkap pada beberapa singkapan. Kemudian sampel A dan sampel B dianalisis di laboratorium. Hasil analisis di laboratorium yaitu analisis proksimat sampel A untuk moisture in air dried (6,54%), ash content  (11,86%), volatile matter  (43,56%)  dan fixed carbon (38,05%). Selain itu, hasil analisis ultimat seperti carbon (74,75%), hydrogen (6,87%), nitrogen (0,76%), oxygen (12,21%), dan kadar sulfur (4,41%), serta pengukuran sulfur total (5,40%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa batubara sampel A merupakan batubara kelas bituminus pada grup high volatile C bituminous coal (ASTM D 388). Sedangkan, hasil analisis sampel B yaitu moisture in air dried (12,23%), ash content  (13,60%), volatile matter (36,05%) dan fixed carbon (38,13%). Selain itu, untuk hasil rata-rata kandungan ultimat seperti carbon (70,70%.daf), hydrogen (6,22%), nitrogen (0,85%), oxygen (11,99 %), dan kadar sulfur (7,60%), serta pengukuran sulfur total (10,25%). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa batubara pada sampel B termasuk dalam kelas sub-bituminous pada grup A sub-bituminous coal (ASTM D 388). Kedua sampel dari Formasi Bobong ini, jika ditinjau dari sulfur total menunjukkan kualitas batubara kurang baik untuk diperuntukkan sebagai bahan-bakar (steaming coal) menurut Polish Geological Institute (PGI).
Perancangan sistem plambing instalasi air bersih dan air buangan pada penginapan dua lantai pada wilayah padat penduduk Juraejo, Sudaya; Runtunuwu, Henry; Hardiyanti, Maharani; Ningrum, Widya; Suhaela, Suhaela; Yumiron, Yumiron; Sardi, Bambang
Sultra Journal of Mechanical Engineering Vol. 2 No. 2 (2023): Sultra Journal of Mechanical Engineering
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu bangunan yang baik merupakan bangunan yang memiliki sistem penyediaan air bersih dan sanitasi atau sistem plambing terencana dengan baik sesuai kontruksi bangunan. Pada bangunan penelitian dilakukan metode analisis arkan studi literatur, pengumpulan dan pengolahan data sekunder serta perancangan teknis. Metode yang digunakan bertujuan untuk merancang model sistem plambing instalasi air bersih dan air buangan pada penginapan dua lantai, menentukan kebutuhan air bersih pada penginapan serta memperoleh mekanisme daripada sistem plambing dari penginapan dua lantai tersebut. Air bersih pada penginapan berasal dari sumur bor yang dialirkan ke tangki penampungan menggunakan pompa transfer yang didistribusikan ke setiap ruangan melalui media pipa. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada perancangan bangunan penginapan dua lantai dengan jumlah penghuni sebanyak 16 orang ialah sebesar 1,36 m3/hari. Pemakaian air pada jam puncak sebesar 357 l/jam serta pemakaian air pada menit puncak sebesar 11,9 l/menit. Kapasitas alat penampung air pada penginapan tersebut sebesar 1,8 m3. Air buangan hasil dari kegiatan penggunaan air bersih dialiri secara terpisah ke pembuangan akhir berdasarkan jenisnya yakni grey water dan black water dengan sistem gravitasi. Perencanaan sistem plambing pada penginapan dua lantai tersebut aman dan efisien bagi penghuni dan lingkungan sekitar bangunan.
Perancangan sistem plumbing instalasi air bersih dan air kotor pada pembangunan rumah bertingkat dua lantai daerah rawan gempa Hentu, Moh; Sabani, Wulan; Avicenna, Diva; Hidayat, Wahyudi; Airin, Nur; Wulandari, Fidya; Zulhija, Sari; Aulia, Thazkia; Auliandari, Auliandari; Karim, Nur; Jakaria, Anti; Sardi, Bambang
Sultra Journal of Mechanical Engineering Vol. 3 No. 1 (2024): Sultra Journal of Mechanical Engineering
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem plumbing dipergunakan untuk menyediakan air bersih dan air kotoran ke tempat yang telah ditentukan tanpa mencemari bagian-bagian terpenting lainnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada perancangan rumah bertingkat 2 lantai dengan jumlah penghuni sebesar 10 orang diperlukan air bersih sebesar 2/hari. Dengan pemakaian air pada jam puncak sebesar 0.375/menit, serta pemakaian air pada menit puncak sebesar 0.014/menit.
Perancangan sistem plumbing instalasi air bersih dan air kotor pada pembangunan rumah bertingkat dua lantai daerah rawan gempa Hentu, Moh Ghifta; Jakaria, Anti A; Karim, Nur Anisa; Auliandari, Auliandari; Aulia, Thazkira; Zulhija, Sari; Wulandari, Fidya Tri; Airin, Nur; Hidayat, Wahyu; Avicenna, Diva; Sabani, Wulan Mutiara; Sardi, Bambang
Sultra Journal of Mechanical Engineering Vol 3 No 1 (2024): Sultra Journal of Mechanical Engineering
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54297/sjme.v3i1.466

Abstract

Sistem plumbing dipergunakan untuk menyediakan air bersih dan air kotoran ke tempat yang telah ditentukan tanpa mencemari bagian-bagian terpenting lainnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada perancangan rumah bertingkat 2 lantai dengan jumlah penghuni sebesar 10 orang diperlukan air bersih sebesar 2/hari. Dengan pemakaian air pada jam puncak sebesar 0.375/menit, serta pemakaian air pada menit puncak sebesar 0.014/menit.
Coal Upgrading: Desulfurization and Dehydration of Low-Rank Coal and High-Rank Coal through Blending Method Sardi, Bambang; Nurhidayat; Safitri, Nina
Tadulako Science and Technology Journal Vol. 1 No. 1 (2020): TADULAKO SCIENCE AND TECHNOLOGY JOURNAL
Publisher : LPPM Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/sciencetech.v1i1.15292

Abstract

Introduction : Sulawesi coals contain significantly high of sulfur. This makes it not suitable to be used as fuel, unless it went through an engineering process so that the use of low-rank coals can be optimized by preserving the environmental impacts that may be caused. The process is in the form of upgrading the coals through physical desulfurization and dehydration with blending method. The purpose is to make coal meet the fuel use standard in industry. This study used low-rank coal from Pattuku (BP),while the high-rank coal studied was from PT Semen Tonasa (BT) on a dry base with a size of 100 mesh. The variables observed were the smallest total sulfur content, the largest calorific value, and the smallest (optimal) water content. The results showed that the total sulfur content in all variations of BT:BP ratios are 1:0, 3:1, 1:1, 1:3 and 0:1. Thus, based on the ratios, the coal fulfilled the standard to be used as fuel for cement industry while the variation of BB that fulfilled the standard to be used as coal-fired power plants had ratios of 1:0, 3:1 and 1:1. The smallest (optimal) total sulfur level was 0.1046% at the BB ratio of 1:0. BB water content in all variations of BT: BP ratiosmetthe standard to make it as fuel for cement industry and coal-fired power plant (PLTU). The smallest (optimal) water content was 2.48% on the blending coal ratio of 0:1. The calorific values of BB on all variations of BT:BP met the standard to be used as fuel for cement industry had ratios of 3:1, 1:1 and 1:3,yet there was no single BB that metthe standard to be used as coal-fired power plant (PLTU). The largest (optimal) calorific value was 6.506.39 kcal/kg at the BB ratio of 0:1.