Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Masker Medika

ANALISA METODE FIKSASI KERING MENGGUNAKAN GIEMSA DAN FIKSASI BASAH MENGGUNAKAN PAPANICOLAOU PADA PEMERIKSAAN PAP SMEAR Indah Sari; Bastian Darwin; Try Era Realita
Masker Medika Vol 9 No 1 (2021): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v9i1.456

Abstract

Kanker serviks adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan penyebaran sel abnormal yang terjadi di serviks. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa kanker serviks merupakan penyebab kematian nomor dua pada perempuan dari seluruh penyakit kanker yang ada. Pap smear merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan pap smear menggunakan bahan pemeriksaan swab vagina yang harus dilakukan fiksasi basah sebelum pewarnaan papanicolaou dan fiksasi kering sebelum pewarnaan giemsa. Penelitian bertujuan untuk menganalisa metode fiksasi basah menggunakan pewarnaan papanicolaou dan fiksasi kering menggunakan pewarnaan giemsa pada pemeriksaan pap smear yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Dyatnitalis Palembang. Jenis penelitian menggunakan cross sectional dengan rancangan penelitian menggunakan intact group comparison. Sampel terdiri atas 8 responden masing-masing dilakukan fiksasi basah diwarnai dengan papanicoloau dan fiksasi kering diwarnai dengan giemsa. Penelitian dilakukan mulai dari persiapan pasien, pengambilan bahan pemeriksaan, pengolahan bahan pemeriksaan, analisis dan hasil pemeriksaan. Hasil uji Chi-Square diketahui bahwa nilai signifikan adalah p = 0,064. Nilai p yang didapatkan adalah p˃0,05. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara metode fiksasi kering menggunakan giemsa dan fiksasi basah menggunakan papanicolaou pada pemeriksaan pap smear.
ANALISA JUMLAH KOLONI BAKTERI Escherichia coli PADA MEDIA NUTRIENT AGAR DENGAN PELARUT AKUADES DAN AIR MINUM DALAM KEMASAN (AMDK) Bastian Darwin; Indah Sari; Annisa Fitri
Masker Medika Vol 9 No 1 (2021): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v9i1.457

Abstract

Pendahuluan: Penyakit diaere yang di sebabkan Escherichia coli patogen bahwa ada sekitar dua miliar kasus diare diseluruh dunia setiap tahun, dan 1,9 juta anak balita meninggal akibat diare setiap tahunnya. Standar pelarut dalam pembuatan media nutrient agar adalah akuades, Tetapi di daerah-daerah tertentu masih belum terjangkau untuk mendapatkan akuades, selain harganya yang mahal jangkauan untuk mendapatkan akuades tidaklah mudah karena alat untuk pembuatan akuades masih cukup mahal. upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan pelarut alternatif, dimana air minum dalam kemasan adalah air baku yang telah diproses, dikemas, dan aman diminum. Tujuan untuk mengetahui perbedaan jumlah koloni bakteri E.coli pada media nutrien agar dengan pelarut akuades dan air minum dalam kemasan. Metode Penelitian: Eksperimen laboratorium, yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Sains dan Teknologi Institut Ilmu Kesehatan dan Teknologi Muhammadiyah Palembang. Sampel berupa Strain Murni Bakteri Escherichia coli ATCC 25922. Hasil: penelitian didapatkan jumlah koloni pada media nutrient agar dengan pelarut akuades mendapatkan nilai rata-rata 54 koloni, pada pelarut air minum dalam kemasan mendapatkan rata-rata 59 koloni. Dan uji-T berpasangan (paired sampel T test) di dapatkan nilai p =>0.112. Kesimpulan: Penelitian ini bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah koloni bakteri E.coli pada media nutrient agar dengan pelarut akuades dan air minum dalam kemasan
Perbandingan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pada Sampel Serum Dan Plasma Lithium Heparin Bastian Darwin
Masker Medika Vol 10 No 2 (2022): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v10i2.488

Abstract

C-Reactive Protein (CRP) ialah protein fase akut dengan struktur homopentamer dan memiliki tempat ikatan kalsium yang spesifik terhadap phosphocholine. Peningkatan kadar C-Reactive Protein (CRP) dikarnakan adanya trauma, infek bakteri dan inflamasi (peradangan dan kerusakan jaringan). Pemeriksaan laboratorium C-Reactive Protein (CRP) dapat dilakukan dengan metode, aglutinasi, ELISA, dan immunoturbidimetri. Konsentrasi dari CRP ditentukan secara kuantitatif dengan pengukuran immunoturbidimetri, dalam pemeriksaan CRP lebih banyak menggunakan sampel serum tetapi penggunaan serum dalam pemeriksaan laboratorium sering terjadinya hemolisis sehingga pada proses pengambilan sampelnya membutuhkan waktu yang lebih lama dan membuat proses pemeriksaan kurang efisien, sehingga diperlukan penggunaan plasma lithium heparin dari pada serum karena plasma lithium heparin leebih baik dalam menggambarkan situasi patologis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pebandingan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Pada Sampel Serum dan Plasma Lithium Heparin. Metode Penelitian: Penelitian ini dilakukan dilaboratorium Patologi Klinik Intitut Ilmu Kesehatan dan Teknologi Muhammadiyah Palembang pada bulan Januari 2022. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu Crosssection. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon, Hasil: Didapatkan Hasil p= 0,000 dengan adanya perbedaan selisih kadar CRP menggunakan serum dan plasma lithium heparin mengalami peningkatan sebesar 15%.. Diskusi: terdapat perbedaan yang signitifikan pada pemeriksaan kadar CRP menggunakan sampel serum dan plasma lithium heparin.
ANALISA KUALITAS PREPARAT TELUR CACING STH MENGGUNAKAN PEWARNAAN EOSIN 2% DAN PEWARNAAN ALTERNATIF LIMBAH GAMBIR Bastian Darwin
Masker Medika Vol 12 No 1 (2024): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v12i1.587

Abstract

Introduction: Worm infections are widespread in tropical and subtropical areas. Especially Indonesia, one of the countries that has quite high cases of worms, these cases are usually found in areas with high humidity, lack of personal hygiene, and poor environmental conditions. One of the laboratory tests that can be done to diagnose worm disease is a microscopic examination. Microscopic examination using stool samples requires staining which of course contains good dyes as support. This coloring substance is found in gambier waste (Uncaria gambier) in the form of catechin which is able to give a red and yellow color. Thus, gambier waste (Uncaria gambier) can be used as an alternative color to examine STH worm eggs. Research objective: to utilize catechins in gambier waste (Uncaria gambier) as a coloring agent to examine STH worm eggs. This research includes collecting feces samples, collecting gambier waste, processing gambier waste, making preparations using eosin staining and staining gambier waste, observing STH worm eggs microscopically. Research method: Laboratory experiment, carried out at the Parasitology Laboratory, Faculty of Science and Technology, Muhammadiyah Institute of Health Sciences and Technology, Palembang. The sample is feces. Research results: show that STH worm eggs can be stained with both stains, namely Gambier Waste Staining and Eosin Staining. Research conclusion: gambier waste coloring can be used as coloring for STH worm eggs. Staining gambier waste can be used as an alternative coloring to replace eosin dye for staining STH worm eggs
Titer Differences in Rheumatoid Factor Level in The Elderly Using The Glycine Saline Buffer Reagent and 0.9% NaCl Ready to Use Bastian Darwin
Masker Medika Vol 11 No 2 (2023): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v11i2.597

Abstract

Introduction: The incidence of Rheumatoid Arthritis (RA) in Indonesia has a case prevalence ranging from 0.1% to 0.3%. Limitations in the supply of Glyceline saline buffer in laboratory examinations, especially in the laboratory for examination of Rheumatoid Factor (RF), is one of the reasons for the need for alternative materials with the same effectiveness to be used in examinations. An alternative in carrying out inspections if commercial reagents are not available so that ready-to-use 0.9% NaCl reagent can be an alternative reagent. The purpose of this study was to determine whether there were differences in the titers of rheumatoid factor levels using glycine saline buffer reagents and ready-touse 0.9% NaCl. Method: The study was conducted at the IKesT MP Clinical Pathology Laboratory. The research design used a posttest only control group design. The population is 43 elderly people at the Harapan Kita Nursing Home. a sample of 30 elderly people with purposive sampling technique. Data were analyzed by Wilcoxon test. Results: The results obtained were p = 0.000 for titer examination of RF levels using Glycine Saline Buffer reagent and ready-to-use 0.9% NaCl reagent. Discussion: There are differences in the titers of rheumatoid factor levels using glycerin saline buffer and ready-to-use NaCl. 0,9%.
PERBEDAAN HASIL PEMERIKSAAN TROMBOSIT YANG SEGERA DIPERIKSA DAN DITUNDA 3 JAM PADA ALAT HEMATOLOGY ANALYZER DIRUI BCC 3600 A Aris Toteles
Masker Medika Vol 12 No 2 (2024): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/maskermedika.v12i2.639

Abstract

Pemeriksaan hitung jumlah trombosit bila disimpan pada suhu kamar harus segera diperiksa pada interval kurang dari dua jam karena perubahan jumlah sel darah. Pemeriksaan hitung jumlah trombosit menggunakan sampel darah EDTA stabil selama 2 jam pada suhu 200C-250C. Penundaan pemeriksaan laboratorium sering terjadi biasanya disebabkan oleh beberapa factor salah satunya pergantian shift. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil hitung jumlah trombosit yang di periksa segera dengan yang di periksa 3 jam dari pengambilan sampel. Metode penelitian : Penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif analitik dengan desain penelitian one group postest only. Sampel yang diperiksa segera sebagai pretest dan sampel yang diperiksa 3 jam sebagai posttest. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien dengan permintaan darah rutin di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan. Darah EDTA di periksa segera dan di tunda 3 jam dari pengambilan darah dengan menggunakan Hematology Analyzer . Hasil : Hasil pemeriksaan trombosit dianalisis dengan uji T berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. Rata-rata hasil hitung jumlah trombosit yang di periksa segera 358.800 mm3 hasil hitung jumlah trombosit yang di periksa 3 jam 313.966,67 mm3. Kesimpulannya, Terdapat perbedaan Hasil Pemeriksaan Trombosit Yang Segera Periksa Dan Ditunda 3 Jam Setelah Pengambilan Darah dengan nilai (sig 2 tailed) 0,000 < 0,05. Simpulan : Tidak disarankan untuk melakukan penundaan pemeriksaan trombosit.