Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA MELALUI EDUKASI ASUPAN NUTRISI DAN SUPLEMENTASI TABLET TAMBAH DARAH PADA REMAJA PEREMPUAN Maribeth, Annisa Lidra; Sari, Widia; Hamda, Rialta; Khudri, Ghaniyyatul; Handayani, Kurnia Maidarmi
Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM) Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Pendidikan Masyarakat (JPPM), Vol 6 No 1 (Maret 2025)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52060/jppm.v6i1.2704

Abstract

Anemia is a common health problem worldwide, particularly among adolescent girls. This group is at high risk of anemia due to menstruation during adolescence, which leads to blood loss. Additionally, the increased need for iron in adolescent girls contributes to their vulnerability to anemia. Education about anemia and its prevention, as well as supplementation with iron tablets, is one solution to prevent and reduce the prevalence of anemia in females. Pesisir Selatan, a district in West Sumatra Province, recorded an increase in anemia prevalence in 2019. Based on this, it is necessary to provide education on anemia and its prevention to adolescent girls in the region. This counseling activity aimed to improve the knowledge and attitudes of adolescent girls regarding anemia. The activity consisted of pre-tests, counseling sessions, and post-tests. Counseling was conducted using lecture methods and interactive discussions with participants. Based on the evaluation of pre-test and post-test results, it was found that the counseling method was effective in increasing participants' knowledge. This was evidenced by a significant increase in participants' knowledge about anemia (p=0.004). The number of participants with good knowledge increased from 3 individuals (13.6%) to 7 individuals (31.8%), and none of the participants had poor knowledge after the counseling session. However, it was found that the counseling method did not significantly improve participants' attitudes towards anemia. In conclusion, although it did not affect participants' attitudes, the counseling method effectively enhanced their knowledge about anemia and is expected to help prevent anemia among adolescent girls
Vitamin D and Traumatic Brain Injury: A Systematic Review of Preclinical Evidence Jaslindo, Lieka Nugrahi; Sari, Widia; Dhuha, Alief; Handayani, Kurnia Maidarmi; Khudri, Ghaniyyatul Nugrahi; Maribeth, Annisa Lidra
Health and Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): HEME January 2026
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v8i1.2096

Abstract

Traumativ Brain Injury (TBI) triggers multiple secondary injury processes, such as inflammation, oxidative stress, apoptosis, BBB disruption, and impaired autophagy. These mechanisms contribute to progressive neuronal damage and functional decline. Vitamin D has emerged as a potential multi-target neuroprotective agent due to its regulatory roles in immune signaling, oxidative balance, neuronal survival, and autophagy pathways. This systematic review synthesized preclinical evidence evaluating the effects of Vitamin D supplementation in animal models of TBI. A comprehensive search of PubMed, OVID, and ProQuest identified six eligible studies. Across diverse dosing regimens and formulations, Vitamin D consistently improved key TBI outcomes. Reported benefits included reduced apoptosis, decreased neuroinflammation, attenuation of oxidative stress, preservation of BBB integrity, restoration of autophagy flux, and enhanced cognitive performance. Mechanistically, Vitamin D influenced several pathways, including Nrf2 activation, TLR4/MyD88/NF-κB suppression, mTOR and TRPM2 normalization, and improved microglial polarization. Although methodological quality varied, most studies demonstrated moderate rigor and supported the neuroprotective actions of Vitamin D. Heterogeneity in injury models, dosing strategies, and outcome measures limits direct comparison and highlights the need for standardized experimental approaches. Overall, current preclinical evidence indicates that Vitamin D confers robust neuroprotection following TBI. Further studies examining its mechanistic pathways, optimal therapeutic windows, and translational potential are warranted to inform future clinical applications.
Gambaran Kecemasan pada Pasien yang Akan Menjalani Pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Hamda, Rialta; Fisyanti; Widiastuti, Wisda; Maribeth, Annisa Lidra
Scientific Journal Vol. 5 No. 1 (2026): SCIENA Volume V No 1, January 2026
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v5i1.304

Abstract

Pendahuluan: Pembiusan digunakan untuk mencegah pasien mengalami rasa sakit selama pembedahan. Tujuan pembiusan adalah untuk menjaga pasien dalam kondisi yang optimal selama prosedur pembedahan dengan menghilangkan semua modalitas nyeri, rabaan, suhu, dan posisi. Kecemasan dapat terjadi akibat pembiusan atau anestesi yang sering disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan atau informasi, takut akan modalitas nyeri atau rasa sakit saat pembiusan. Tujuan penelitian: Mendapatkan gambaran kecemasan pada pasien yang akan menjalani pembiusan di Rumah Sakit Islam Siti Rahmah. Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif kategorik, menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 70 responden dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information scale). Hasil : Diketahui usia terbanyak adalah dewasa yaitu 55 orang (78,6%). Jenis kelamin responden terbanyak adalah perempuan yaitu 38 orang (45,3%). Pendidikan responden yang paling banyak ditemui adalah SMA yaitu 31 orang (44,3%). ASA responden terbanyak ASA 2 yaitu 50 orang (71,4%). Jenis pembiusan responden terbanyak adalah pembiusan umum yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang yaitu 32 orang (45,7%). Tingkat kecemasan ringan ada 20 responden (28,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 10 orang (14,3%) pada pembiusan regional. Tingkat kecemasan sedang ada 32 responden (45,7%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 17 orang (24,3%) pada pembiusan umum. Pada tingkat kecemasan berat ada 13 responden (18,6%) dengan proporsi terbesarnya yaitu 7 orang (10%) pada pembiusan umum. Kesimpulan : Usia terbanyak adalah dewasa. Jenis kelamin terbanyak adalah perempuan. Pendidikan yang paling banyak ditemui pada tingkat SMA. ASA terbanyak adalah ASA 2. Jenis pembiusan terbanyak adalah pembiusan umum. Tingkat kecemasan terbanyak adalah tingkat kecemasan sedang dan yang paling sedikit yaitu tidak cemas. Hasil kuesioner APAIS, didapatkan tingkat kecemasan banyak didapatkan pada pernyataan tentang pembiusan daripada tindakan operasi. Berdasarkan jenis pembiusan, tingkat kecemasan ringan banyak pada pembiusan regional, kecemasan sedang dan kecemasan berat banyak pada pembiusan umum.