Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN MASYARAKAT TERHADAP RISIKO SARKOPENIA DI WILAYAH KRENDANG Drew, Clement; Santoso, Alexander Halim; Dewi, Fransiska Iriani Roesmala; Massie, Andrew Christian
Jurnal Widya Laksmi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal WIDYA LAKSMI (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) - Inpress
Publisher : Yayasan Lavandaia Dharma Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59458/jwl.v5i1.148

Abstract

Sarkopenia adalah sindrom yang ditandai dengan penurunan massa dan fungsi otot, terutama pada lansia, yang meningkatkan risiko jatuh, kecacatan, dan biaya kesehatan. Berdasarkan kriteria sarkopenia terbaru, sarkopenia ditemukan pada 9,6 - 22,1% laki-laki Asia dan pada 7,7 - 21,8% perempuan Asia. Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Krendang, Jakarta Barat dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat mengenai sarkopenia. Metode Plan-Do-Check-Act (PDCA) diterapkan, dimana dilakukan pemeriksaan kekuatan genggaman tangan dan edukasi mengenai sarkopenia serta faktor risikonya. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 65 orang (48,15%) dan 86 orang (63,70%) megalami risiko sarkopenia melalui pemeriksaan handgrip strength tangan kanan dan kiri. Selain itu, didapatkan juga rerata handgrip strength tangan kanan dan kiri masing-masing adalah 18,6 dan 16 Kg. Dengan diadakannya kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sarkopenia agar dapat mencegah perburukan kondisi dan dapat meningkatkan kualitas hidup individu.
DIAGNOSIS KOMUNITAS UPAYA PENURUNAN KASUS HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DESA KRESEK, KABUPATEN TANGERANG Ananda, Muh. Pramudya; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.24635

Abstract

Background: Hypertension is a condition where the systolic and diastolic blood pressure is ? 140 and/ or ? 90 mmHg. WHO stated that 1 billion people in the world suffer from hypertension, of which 20-35% occur in adults. Hypertension cases in developing countries will continue to increase and it is estimated that around 639 million cases in 2000 will become 1.15 billion cases in 2025 with an increase of around 80%. Based on Riskesdas 2018, the prevalence of hypertension in Banten Province is 29.47%. The incidence of hypertension cases in Kresek Community Health Center has increased quite significantly in the period July – September 2023, namely around 2,169 visits with the largest increase in cases coming from Kresek Village. Objective: Increase public knowledge about hypertension. Method: The community diagnosis method uses the Blum Paradigm and data collection is carried out throughmini survey. Problem priority is determined using the Delphi non-scoring method. The root cause of the problem is done with a diagramfishbone. Data on intervention results were obtained from questionnairespre-test andpost-test. Monitoring is carried out with PDCACycle and systems approach. Results: The results of the counseling showed that ? 70% of participants got a scorepost-test ? 70 and 30 participants were obtained with the result that 1 participant were able to perform antihypertensive exercise movements properly and correctly. Conclusion: The community diagnosis approach implemented was able to increase community knowledge about hypertension.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DALAM UPAYA PENURUNAN KASUS HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KRESEK Permata, Inezia; Vania, Vania; Bahari, Intan Fredika; Yakin, Moh. Niko F; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27229

Abstract

Hipertensi merupakan keadaan tekanan darah sistolik dan diastolik ? 140 dan/atau ? 90 mmHg. WHO 2021 melaporkan penderita hipertensi dunia meningkat dua kali lipat; 1,3 miliar orang dunia mengalami hipertensi. Di Asia Tenggara hipertensi mencapai 36%. Riskesdas Nasional 2018 menyatakan hipertensi di Indonesia meningkat menjadi 34,11% dan prevalensi hipertensi Provinsi Banten mencapai 29,47%. Kabupaten Tangerang salah satu yang memiliki kasus hipertensi tertinggi tahun 2018. Di Puskesmas Kresek bulan Agustus-Oktober 2023 terdapat 3,991 kunjungan, salah satunya Desa Pasir Ampo. Hasil Mini survey menunjukkan pengetahuan hipertensi pada masyarakat masih kurang. Kegiatan dilakukan untuk mengetahui masalah yang menyebabkan menetapnya kasus hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kresek. Pendekatan metode diagnosis komunitas menggunakan Paradigma Blum, dilakukan pengumpulan data melaui mini survey. Prioritas masalah ditentukan dengan teknik non-skoring Delphi. Akar penyebab masalah ditentukan dengan fishbone diagram. Data hasil intervensi menggunakan kuisioner pre-test dan post-test. Pemantauan dilakukan Plan-do-check-action (PDCA) cycle, dan pendekatan sistem. Hasil skrining hipertensi didapatkan 18 orang peserta terdiagnosis hipertensi dari 40 orang peserta. Hasil penyuluhan didapatkan 32 (80%) peserta mendapat nilai post- test > 70 dan 40 peserta dengan perwakilan 1 peserta dapat melakukan gerakan senam antihipertensi. Pendekatan diagnosis komunitas mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, sehingga diharapkan dapat membantu menurunkan jumlah kasus baru hipertensi di Puskesmas Kresek. Kata Kunci: Diagnosis Komunitas, Diagram Fishbone , Hipertensi, Paradigma Blum
Upaya Menjaga Kesehatan Ginjal Dengan Pemeriksaan eGFR dan Serum Kreatinin Sejak Awal pada Populasi Usia Produktif di Kelurahan Grogol Drew, Clement; Santoso, Alexander Halim; Gunaidi, Farell Christian; Zhalila, Zhillan; Pranata, Catherine Christiana
Nusantara: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Mei: NUSANTARA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/nusantara.v5i2.5205

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a metabolic disorder that is increasingly prevalent among the productive-age population and can significantly impair quality of life, particularly due to its progressive nature and often asymptomatic presentation in the early stages. Routine assessments of kidney function—such as estimated glomerular filtration rate (eGFR) and serum creatinine levels—are essential for the early detection of kidney impairment. The Community Service Program (PKM) conducted in Grogol Village aimed to raise public awareness regarding the importance of early screening for kidney dysfunction. Among the 71 participants involved in the activity, 9 individuals (12.68%) had elevated serum creatinine levels, 4 individuals (5.63%) showed evidence of stage 3a kidney function decline, and 31 individuals (43.66%) were identified with stage 2 kidney function decline. Only 36 participants (50.7%) had normal kidney function. These results underscore the necessity of early detection efforts to prevent the progression of CKD and to promote sustained public awareness on the importance of maintaining kidney and metabolic health. Keywords: Chronic Kidney Disease, Creatinine, eGFR, Early Detection, Productive Age
Peningkatan Pengetahuan dalam Upaya Pencegahan Kasus Baru Leptospirosis di Wilayah Kerja Puskesmas Kresek Jahja, Sarah Janitra; Drew, Clement
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i2.12875

Abstract

ABSTRACT Leptospirosis is a zoonotic disease caused by the Leptospira bacterium, poses a significant public health concern due to its potential severity, including flu-like symptoms and the risk of organ failure and mortality. This disease is transmissible from animals to humans, primarily through contact with infected animals' urine, and is prevalent in tropical regions. Understanding its prevalence, risk factors, and implications is crucial for effective disease management and prevention. A comprehensive investigation was conducted to identify the prevalence and risk factors for Leptospirosis in Puskesmas Kresek, including data collection, discussions with healthcare professionals, and community representatives. Utilizing Blum's Paradigm and non-scoring technique Delphi method, the study aimed to prioritize risk factors and intervention strategies. Health education initiatives were implemented to address lifestyle factors influencing disease transmission, involving medical professionals and community engagement. The health education intervention conducted at Puskesmas Kresek successfully increased the knowledge and awareness of Leptospirosis among the participants. Pre- and post-tests revealed a significant increase in the participants' knowledge regarding the disease, with an average improvement of 32 points, yielding a p-value of 0.001. The study findings underscore the importance of health education as an effective tool in enhancing community awareness about the risks and preventive measures concerning Leptospirosis. It was evident that an improved understanding of the disease led to potential changes in behavior and adoption of preventive measures, as seen in the post-test results. Health education and community engagement play a vital role in improving public awareness and understanding of Leptospirosis, allowing individuals to recognize risk factors and take appropriate preventive actions. This study emphasizes the significance of targeted interventions in public health to reduce the incidence and impact of Leptospirosis, particularly in the region of Puskesmas Kresek. Keywords: Leptospirosis, Zoonotic Disease, Risk Factors, Public Health Education, Disease Prevention  ABSTRAK Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena potensinya yang serius, termasuk gejala mirip flu dan risiko kegagalan organ serta kematian. Penyakit ini dapat ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak dengan urin hewan yang terinfeksi, dan banyak ditemukan di daerah tropis. Memahami prevalensinya, faktor risiko, dan implikasinya adalah krusial untuk manajemen dan pencegahan penyakit yang efektif. Dilakukan penyelidikan komprehensif untuk mengidentifikasi prevalensi dan faktor risiko Leptospirosis di Puskesmas Kresek, termasuk pengumpulan data, diskusi dengan profesional kesehatan, dan wakil komunitas. Dengan menggunakan Paradigma Blum dan metode Delphi non-skoring, studi bertujuan memprioritaskan faktor risiko dan strategi intervensi. Inisiatif edukasi kesehatan dilaksanakan untuk menangani faktor gaya hidup yang memengaruhi penularan penyakit, melibatkan para profesional medis dan keterlibatan masyarakat. Intervensi edukasi kesehatan yang dilakukan di Puskesmas Kresek berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai Leptospirosis di kalangan peserta. Uji prates dan pascates menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan peserta tentang penyakit, dengan peningkatan rata-rata sebesar 32 poin, menghasilkan nilai p sebesar 0,001. Temuan studi ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan sebagai alat efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko dan langkah-langkah preventif terkait Leptospirosis. Terbukti bahwa pemahaman yang ditingkatkan tentang penyakit ini menyebabkan perubahan perilaku dan adopsi langkah-langkah preventif, sebagaimana terlihat dari hasil uji pascates. Edukasi kesehatan dan keterlibatan masyarakat memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik tentang Leptospirosis, memungkinkan individu untuk mengenali faktor risiko dan mengambil tindakan preventif yang sesuai. Studi ini menekankan signifikansi intervensi terarah dalam kesehatan masyarakat untuk mengurangi insiden dan dampak Leptospirosis, terutama di wilayah Puskesmas Kresek. Kata Kunci: Leptospirosis, Penyakit Zoonosis, Faktor Risiko, Edukasi Kesehatan Masyarakat, Pencegahan Penyakit
Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada mahasiswa Maramis, Putri Anggelina Sofyan; Drew, Clement
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 8 (2025): Volume 19 Nomor 8
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i8.1377

Abstract

Background: Diarrhea is a common illness in the community, especially among college students. This condition can cause decreased appetite, abdominal pain, fatigue, and weight loss. Rapid fluid and electrolyte loss can also lead to dehydration, organ damage, and even coma. One effective way to prevent diarrhea is by implementing clean and healthy living behaviors. Purpose: To determine the relationship between clean and healthy living behaviors and the incidence of diarrhea in college students. Method: This is an observational analytical study with a cross-sectional design. Data were collected through questionnaires distributed to students of the Faculty of Medicine, Tarumanagara University, intake of 2022 during February–March 2024. The sampling technique used quota-based sampling with a minimum of 194 respondents. The relationship analysis was performed using the Mann-Whitney test. Results: There was no significant relationship between the implementation of clean and healthy living behaviors and the incidence of diarrhea in respondents. Conclusion: Students' behavior and knowledge regarding clean and healthy living behaviors are quite good and have been implemented in their daily lives. However, to prevent diarrhea more effectively, regarding clean and healthy living behaviors implementation still needs to be improved.   Keywords: Diarrhea; Clean and Healthy Living Behavior; Knowledge.   Pendahuluan: Diare merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi di masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, nyeri perut, kelelahan, hingga penurunan berat badan. Kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat juga dapat menimbulkan dehidrasi, kerusakan organ, bahkan koma. Salah satu upaya pencegahan diare yang efektif adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada mahasiswa. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2022 selama Februari–Maret 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode quota-based sampling dengan jumlah minimum 194 responden. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kejadian diare pada responden. Simpulan: Perilaku dan pengetahuan mahasiswa terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sudah cukup baik dan telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, untuk mencegah kejadian diare secara lebih efektif, penerapan PHBS masih perlu ditingkatkan.   Kata Kunci: Diare; Pengetahuan; Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS).
HEMIPARESEDEXTRA DAN AFASIA MOTORIK EZ STROKE ISKEMIK HEMORAGIK : LAPORAN KASUS Widjaya, William; Albek, Aliawati; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.50118

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas, dengan stroke iskemik sebagai tipe terbanyak. Transformasi hemoragik merupakan komplikasi serius yang memperburuk luaran neurologis. Faktor risiko seperti hipertensi, dislipidemia dan hiperglikemia yang tidak terkontrol berperan besar terhadap terjadinya penyakit serebrovaskular. Deteksi dini dan penatalaksanaan cepat penting untuk mencegah perburukan dan memperbaiki prognosis. Seorang laki-laki berusia 50 tahun datang dengan keluhan kelemahan pada ekstremitas kanan yang berlangsung selama dua minggu. Keluhan diawali dengan sakit kepala, muntah, dan bicara pelo secara tiba-tiba. Pasien tidak segera mencari pengobatan karena kendala finansial, sehingga gejala semakin memburuk. Pasien mengalami kesulitan berbicara serta kelemahan gerak ekstremitas kanan yang menyebabkan tirah baring. Riwayat medis menunjukan hipertensi dan dislipidemia yang tidak terkontrol, disertai status gizi berlebih. Pemeriksaan fisik, menemukan afasia motorik, hemiparesis kanan dengan hipotonus, penurunan sensasi pada ekstremitas kanan, ptosis mata kiri, parese nervus fasialis sinistra, serta gangguan pergerakan lidah dengan lateralisasi ke kiri. Pemeriksaan laboratorium menunjukan peningkatan gula darah puasa, kolesterol total, dan trigliserida, dari pemeriksaan CT scan kepala didapatkan Kesan stroke infark luas disertai perdarahan pada lobus temporal sinistra. Pasien ditegakkan diagnosis stroke iskemik hemoragik dan mendapatkan penatalaksanaan medis yang sesuai disertai edukasi komprehensif. Kasus ini menekankan pentingnya pengenalan dini dan penatalaksanaan cepat pada stroke iskemik dengan transformasi hemoragik untuk mencegah perburukan defisit neurologis yang lebih lanjut.
INTERVENSI DIAGNOSIS KOMUNITAS UNTUK MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI DESA SINDANG ASIH, KABUPATEN TANGERANG Natulewi, Chika; Mahrunisa, Yuni; Zaneta, Darlene; Prandesta, Kevin Neseldo; Drew, Clement
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51575

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang masih sangat tinggi di Indonesia. Penyakit infeksi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Termasuk di wilayah Tangerang terutama di wilayah kerja Puskesmas Sindang Jaya. Kasus terbanyak tercatat di Desa Sindang Asih yang termasuk wilayah Sindang Jaya. Menilai efektivitas intervensi diagnosis komunitas dalam menurunkan angka kejadian kasus baru TB paru di Desa Sindang Asih Studi ini menggunakan pendekatan diagnosis komunitas dengan analisis situasi, identifikasi masalah menggunakan Paradigma Blum, penentuan prioritas dengan metode Delphi non-scoring, dan identifikasi akar masalah dengan fishbone diagram. Intervensi dilaksanakan dalam dua tahap berupa penyuluhan TB paru dan pelatihan etika batuk. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi langsung keterampilan peserta. Pemantauan dilakukan dengan metode siklus PDCA (Plan-Do-Check- Act). Terdapat peningkatan rata-rata nilai pre-test dan post-test sebesar 18,94% setelah intervensi pertama. Sebanyak 76,2% peserta mencapai nilai post-test ≥80. Intervensi kedua menunjukkan bahwa seluruh peserta dapat memperagakan etika batuk yang benar. Diagnosis komunitas dengan pendekatan edukasi terbukti meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan TB paru, sehingga dapat menurunkan potensi peningkatan kasus baru TB paru di wilayah tersebut.
PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS TIPE II TIDAK TERKONTROL DISERTAI MILIARIA RUBRA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SALEMBARAN JAYA Nisrina, Rani; Drew, Clement; Aini, Syifa Qurratu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.52010

Abstract

Diabetes Melitus (DM) Tipe II merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan komprehensif karena sering disertai komplikasi, termasuk kelainan kulit seperti miliaria rubra. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan pendekatan kedokteran keluarga dalam tata laksana pasien DM Tipe II tidak terkontrol yang disertai miliaria rubra di Puskesmas Salembaran Jaya. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan biopsikososial melalui asesmen pasien, intervensi edukatif, terapi farmakologis, serta evaluasi berkelanjutan selama periode 22 Juli–15 Agustus 2025. Hasil menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah sewaktu (GDS) dari 402 mg/dL menjadi 233 mg/dL setelah dilakukan edukasi diet, aktivitas fisik terstruktur, dan pemberian terapi kombinasi Metformin serta Glimepiride. Keluhan miliaria rubra membaik setelah terapi topikal dan edukasi manajemen keringat. Peningkatan dukungan keluarga juga terlihat dari skor coping yang naik dari 3 menjadi 5, serta fungsi keluarga (APGAR) yang mencapai skor 7, menunjukkan fungsi keluarga yang baik. Hasil ini membuktikan bahwa pendekatan kedokteran keluarga efektif dalam meningkatkan kontrol glikemik, memperbaiki komplikasi kulit, serta memperkuat dukungan keluarga dalam pengelolaan penyakit kronis. Pendekatan holistik dengan kolaborasi pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan di tingkat primer dapat dijadikan model penanganan berkelanjutan bagi pasien DM Tipe II di layanan puskesmas.