Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Representasi Peran Gender dalam Film Baby Blues Jannah, Debby Vironica Nur; Kusuma, Ade
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/azzahra.v4i1.25977

Abstract

Abstract: From the reformation period until now, Indonesian cinema has been trying to raise issues about gender equality or inequality. Gender stereotypes from the patriarchal culture that are inherent in some Indonesian people often bring gender inequalities. One of them is in the context of the division of gender roles in the family. It will not be a problem if the division does not cause gender inequalities. However, in reality there is the pressure that burdens one party. This study aims to reveal how the representation of gender roles in the film Baby Blues uses John Fiske's semiotic analysis method, which consists of three levels of analysis, reality, representation, and ideology. The study shows that gender stereotype is incorporated in both traditional and contemporary viewpoint of gender roles.. In the traditional role, men play a role in the public sector and women play a role in the domestic sector. While the new perspective tries to break it down by showing men who are starting to be domesticated from the results of the exchange of roles that happened before.
PRESENTASI DIRI INTAN KEMALA SARI SEBAGAI BEAUTY INFLUENCER PLUS SIZE DI INSTAGRAM Febri Angellia, Tiara; Kusuma, Ade
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 7 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i7.2023.3384-3394

Abstract

Instagram sebagai media sosial telah menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan referensi mengenai konten kecantikan khususnya bagi beauty influencer. Intan Kumala Sari hadir sebagai beauty influencer plus size untuk mengkampanyekan mengenai body positivity yaitu keanekaragaman bentuk tubuh kepada publik dan mendobrak makna cantik bagi perempuan melalui postingan di akun Instagramnya @kumalasari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan presentasi diri Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size di Instagram. Dengan teori Impression Management oleh Jones Pittman, maka penelitian ini difokuskan strategi yang ditampilkan Intan Kumala Sari dalam mempresentasikan dirinya di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Intan Kemala Sari menggunakan keseluruhan taktik Jones Pittman yaitu ingratiation, self promotion, exemplification, intimidation dan supplication. Taktik yang digunakan ini pada dasarnya menjadi sebuah upaya membangun atau menjaga citra Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size yang mendobrak standar kecantikan dan melawan perlakuan diskriminasi terhadap wanita bertubuh plus size seperti perundungan, hate speech, dan body shaming. Tujuan utama yang terlihat dalam presentasi dirinya adalah ingin mematahkan stereotype bentuk tubuh ideal dan mengajak lebih menghargai secara positif mengenai segala bentuk dan penampilan tubuh.
PENERIMAAN AUDIENS TERHADAP FLEXING PADA VIDEO “FLEXING 2.0: GELOMBANG DISRUPSI KELUARGA PEJABAT” Claurena Yospikha Ade Wiransani, Martha; Kusuma, Ade
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2987-2996

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena flexing yang sering ditemui di media sosial. Konten flexing dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk keluarga dan teman dekat, vlogger, content creator, serta pejabat beserta keluarganya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, posisi hegemoni dominan, di mana audiens menerima bahwa flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan dan kekayaan melalui jabatan dan harta benda. Mereka juga ingin mendapatkan pengakuan dan status lebih tinggi di mata masyarakat. Kedua, posisi negosiasi, di mana audiens menerima flexing sebagai bentuk kebutuhan personal, seperti ingin dikenal dan mendapatkan rasa percaya diri. Terakhir, posisi oposisional, di mana audiens menolak dan tidak menerima flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya, merasa kurangnya edukasi terkait fenomena tersebut. Flexing juga dapat memiliki tujuan pemasaran dan branding produk serta kepentingan bisnis lainnya.
INTERAKSI DIGITAL ANTARA TREASURE DAN FANDOM MELALUI APLIKASI WEVERSE Putri Noor Wahyuni, Febianti; Kusuma, Ade
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 2 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i2.2024.719-730

Abstract

Perkembangan teknologi informasi memberikan dampak besar khususnya berkomunikasi. Dengan adanya teknologi, interaksi lebih mudah meskipun dilakukan virtual tanpa bertatap muka. Treasure merupakan salah satu idol Kpop. Treasure juga memiliki fandom. Idol dan penggemar berinteraksi melalui platform khusus disebut Aplikasi Fandom seperti Weverse. Interaksi digital mengarah ke seluruh bentuk kegiatan komunikasi dan pertukaran informasi dengan melibatkan teknologi digital sebagai perantara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif pendekatan netnografi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui interaksi digital yang terjadi antara Treasure dan Fandom di Weverse. Sandor Vegh mengelompokkan bentuk aktivisme digital menjadi tiga kategori yakni kesadaran/advokasi, mobilisasi/organisasi, aksi/reaksi. Hasil penelitian adalah adanya aktivitas digital yang terjadi ada kesadaran/advokasi yang bertujuan penyebaran informasi tentang Treasure yang tidak diunggah oleh agensi dan mobilisasi/organisasi dalam mengarahkan dan mengajak Treasure maker pada tujuan tertentu seperti ajakan streaming, voting, penggalangan dana, doa, kampanye pemberian semangat kepada Treasure dan lainnya. Selain itu, ada kegiatan interaksi digital yang terjadi antara Treasure dan Fandom melalui aplikasi Weverse dapat berupa percakapan dengan saling berkomentar, menyukai postingan, berdiskusi sesama penggemar, berbagi informasi, membentuk ikatan sosial dengan menambah pertemanan.