Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PRESENTASI DIRI INTAN KEMALA SARI SEBAGAI BEAUTY INFLUENCER PLUS SIZE DI INSTAGRAM Febri Angellia, Tiara; Kusuma, Ade
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 7 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i7.2023.3384-3394

Abstract

Instagram sebagai media sosial telah menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan referensi mengenai konten kecantikan khususnya bagi beauty influencer. Intan Kumala Sari hadir sebagai beauty influencer plus size untuk mengkampanyekan mengenai body positivity yaitu keanekaragaman bentuk tubuh kepada publik dan mendobrak makna cantik bagi perempuan melalui postingan di akun Instagramnya @kumalasari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan presentasi diri Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size di Instagram. Dengan teori Impression Management oleh Jones Pittman, maka penelitian ini difokuskan strategi yang ditampilkan Intan Kumala Sari dalam mempresentasikan dirinya di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Intan Kemala Sari menggunakan keseluruhan taktik Jones Pittman yaitu ingratiation, self promotion, exemplification, intimidation dan supplication. Taktik yang digunakan ini pada dasarnya menjadi sebuah upaya membangun atau menjaga citra Intan Kemala Sari sebagai beauty influencer plus size yang mendobrak standar kecantikan dan melawan perlakuan diskriminasi terhadap wanita bertubuh plus size seperti perundungan, hate speech, dan body shaming. Tujuan utama yang terlihat dalam presentasi dirinya adalah ingin mematahkan stereotype bentuk tubuh ideal dan mengajak lebih menghargai secara positif mengenai segala bentuk dan penampilan tubuh.
PENERIMAAN AUDIENS TERHADAP FLEXING PADA VIDEO “FLEXING 2.0: GELOMBANG DISRUPSI KELUARGA PEJABAT” Claurena Yospikha Ade Wiransani, Martha; Kusuma, Ade
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2987-2996

Abstract

Penelitian ini membahas tentang fenomena flexing yang sering ditemui di media sosial. Konten flexing dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk keluarga dan teman dekat, vlogger, content creator, serta pejabat beserta keluarganya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa audiens terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, posisi hegemoni dominan, di mana audiens menerima bahwa flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan dan kekayaan melalui jabatan dan harta benda. Mereka juga ingin mendapatkan pengakuan dan status lebih tinggi di mata masyarakat. Kedua, posisi negosiasi, di mana audiens menerima flexing sebagai bentuk kebutuhan personal, seperti ingin dikenal dan mendapatkan rasa percaya diri. Terakhir, posisi oposisional, di mana audiens menolak dan tidak menerima flexing yang dilakukan oleh pejabat atau keluarganya, merasa kurangnya edukasi terkait fenomena tersebut. Flexing juga dapat memiliki tujuan pemasaran dan branding produk serta kepentingan bisnis lainnya.
The Impact of Pandemic on Bancakan Salak Cultural Tourism Firdaus, Praja; Suksmawati, Herlina; Hapsari, Renitha; Kusuma, Ade
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 10 No. 1 (2022)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2022.010.01.02

Abstract

This second-term research examined the dynamics of Bancakan Salak cultural tourism after being hit by the COVID-19 pandemic. Knowing how the tourism strategy was implemented in the times of pandemic and what were the tips to be able to survive in this limited condition were two interesting things this article studied. Like many other tourist attractions, Bancakan Salak cultural tourism was also affected by the pandemic. Yet, as previous research has concluded, Galengdowo's local society had three essential traditional values reflected in Bancakan Salak cultural tourism that helped them to get through this situation. These three values were collectivism, gratitude, and almsgiving. These three values also created further key concepts in responding to the pandemic, the importance of resilience, and innovation. Using qualitative method (in-depth interview) combined with the observation participatory method, and also ABCD (asset-based community development), this article highlighted the crucial role of human basic needs resilience and socio-cultural resilience. Because in the era of globalization nowadays, connectivity had proven could be substituted by collectivism, gratitude, almsgiving, and other traditional values that hold tight the element of togetherness. This article also highlighted the role played by cultural assets and personal assets to build villages' capacity. In the end, Bancakan Salak and its tourism industry in Galengdowo was hit by the pandemic and Galengdowo's local society responded with resilience and innovation.   Keywords: Bancakan Salak, cultural tourism, community, pandemic, globalization.