Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pemanfaatan Teknologi Droplet Digital PCR (ddPCR) dalam Kegiatan Analisis Molekuler Tanaman Nugroho, Kristianto; Widyajayantie, Dwi; Ishthifaiyyah, Sayyidah Afridatul; Apriliani, Elisa
JURNAL BIOS LOGOS Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.11.1.2021.31101

Abstract

(Article History: Received 23 October 2020; Revised 9 January 2021; Accepted 18 January 2021) ABSTRAKSelama beberapa dekade terakhir, teknik PCR memberikan manfaat yang begitu besar dalam kegiatan penelitian di bidang biologi molekuler. Digital droplet PCR (ddPCR) merupakan salah satu teknologi PCR terbaru yang diklaim memiliki keunggulan dibanding teknik qPCR. Prinsip kerja teknik ini yaitu membagi sampel menjadi molekul-molekul kecil yang dipisahkan oleh emulsi minyak, air, dan senyawa penstabil sehingga membentuk droplets. Teknik ini memiliki kelebihan mampu melakukan kuantifikasi absolut maupun relatif pada DNA dengan konsentrasi sangat rendah, tidak memerlukan kurva standar, serta tidak sensitif terhadap kehadiran senyawa inhibitor. Teknik ini telah diaplikasikan pada kegiatan analisis molekuler tanaman di antaranya kegiatan pengukuran konsentrasi DNA dengan sangat akurat, deteksi kehadiran patogen pada jaringan tanaman, dan estimasi jumlah salinan T-DNA pada proses transformasi genetik.Kata kunci: PCR; droplet digital PCR; DNA; biologi molekuler; alat deteksi ABSTRACTOver the past decades, PCR technique has provided enormous benefits in molecular biology research activities. Digital droplet PCR (ddPCR) is one of the latest PCR technologies that is claimed to have advantages over the qPCR technique. The working principle of this technique is to divide the sample into small molecules, which separated by emulsions of oil, water, and stabilizing compounds to form droplets. This technique has the advantage of being able to perform absolute and relative quantification with very low DNA concentrations, does not require a standard curve, and less sensitive to the presence of inhibitor compounds. This technique has been applied to a number of plant molecular analysis, such as for measuring DNA concentrations very accurately, detecting the presence of pathogens in plant tissue, and estimating the copy number of T-DNA in the genetic transformation process.Keywords: PCR; droplet digital PCR; DNA; molecular biology; diagnostic tool.
PENGARUH LIMBAH AMPAS SAGU YANG DIKOMPOSKAN DENGAN AKTIVATOR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.) Elisa Apriliani; Idwar Idwar; Sri Yoseva
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Pertanian Vol 6 (2019): Edisi 1 Januari s/d Juni 2019
Publisher : Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the efforts to increase the production of eggplant in an intensified manner is to balance fertilization. This study aims to determine the effect of giving sago pulp compost with different activators, as well as the best treatment in increasing the growth and production of eggplant. The research was carried out at UPT Faculty of Agriculture, University of Riau in May to August 2018 experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of six treatments and three replications. Treatment includes S0 = Without compost, S1 = Sago waste, S2 = Compost sago waste with chicken manure activator, S3 = Compost sago waste with EM4 activator, S4 = Compost sago waste with Trichoderma activator, and S5 = Compost sago waste with Bacillus activator, each of 5 tons.ha-1 or 1,26 kg per 2,52 m2. The observed parameters included total N, total P, total K, pH, organic C, plant height, stem diameter, flowering day, harvest day, fruit weight, fruit diameter, fruit length, fruit weight per plant, number of fruits per plant, and production per plot on eggplant. The results showed that the nutrient content of N, P, K from the compost use each activator results had met the SNI compost quality standard (2004). Sago waste compost fertilizer with activator EM4 has a best chemical content of pH value 7.12, N-total 0.92%, P-total 1.26%, K-total 1.16% and C/N 33.54 and compost was able to increase fruit weight, fruit diameter, fruit length, fruit weight per plant, number of fruits per plant and production per eggplant plot. Compost of sago waste with chicken manure activator (5 ton.ha-1) was able to increase the growth of plant height and stem diameter of eggplant.Keywords: Compost, Sago waste, Activator, Eggplant, Quality of compost
Poliploidi Phalaenopsis amabilis L Menggunakan Senyawa Kolkisin pada Eksplan Protocorm Like Bodies (PLB) Elisa Apriliani; Dwi Widyajayantie; Ummu F Hidayah; Yoshua S Yudha
Agriculture and Biological Technology Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.1.1.31-39

Abstract

Phalaenopsis amabilis L merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki keunggulan dalam variasi warna bunga yang beragam dan waktu bunga mekar yang lebih lama. Upaya dalam peningkatan nilai estetika terkait ukuran bunga dapat dilakukan dengan metode induksi poliploidi tanaman anggrek. Induksi poliploidi dapat dilakukan menggunakan senyawa kolkisin dengan cara penggandaan kromosom sel lebih banyak dari kromosom diploid. Penelitian dilakukan untuk mengetahui respon pertumbuhan eksplan protocorm like bodies (plb) Phalaenopsis amabilis L pada induksi ploidisasi menggunakan senyawa kolkisin. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor konsentrasi kolkisin (0%; 0,02%; dan 0,04%) dan lama waktu perendaman (1 jam dan 24 jam) yang diinokulasi pada eksplan plb anggrek Phalaenopsis amabilis L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kolkisin dengan konsentrasi 0,02% dan 0,04% pada plb Phalaenopsis amabilis menunjukkan persentase hidup hingga 80%. Lama perendaman eksplan pada senyawa kolkisin selama 1 dan 24 jam tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada persentase hidup dan waktu bertunas, namun cukup berpengaruh pada jumlah tunas.  Penggunaan media KC dengan modifikasi meningkatkan kemampuan recovery plb untuk tumbuh membentuk tunas.
Perbanyakan Spesies Phalaenopsis amabilis L Melalui Induksi Protocorm Like Bodies (PLB) Sekunder Ummu Fitrothul Hidayah; Yoshua S Yudha; Dwi Widyajayantie; Elisa Apriliani
Agriculture and Biological Technology Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.1.1.10-16

Abstract

Secara umum perbanyakan anggrek secara in vitro dilakukan dengan menggunakan protocorm like bodies (plb). Faktor terpenting dalam kultur jaringan salah satunya adalah penggunaan media kultur yang responsif bagi pertumbuhan eksplan. Pengembangan protokol produksi membutuhkan penelitian terkait media yang sesuai untuk memperbanyak tanaman. Penelitian bertujuan untuk mempelajari formulasi media yang sesuai untuk multiplikasi plb anggrek Phalaenopsis amabilis, serta mengetahui respon pertumbuhan dan perkembangan plb Phalaenopsis amabilis pada tiga media yang berbeda. Penelitian menggukan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor jenis media (Murashige and Skoog, Kudson C, dan Schenk dan Hildebrant) dengan penambahan zat pengatur tumbuh (1 mg L-1 BA + 0.5 mg L-1 NAA + 1 mg L-1 CaP + 0.1 mg L-1 arang aktif + gula 30 g L-1).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dalam menumbuhkan tunas pada eksplan plb terdapat pada media Schenk dan Hildebrant (SH) dengan nilai rata rata sebesar 6,30. Sedangkan waktu pembetukan plb sekunder tercepat terlihat pada penggunaan media Knudson C (KC) pada minggu ke-3 setelah kultur.
Perbanyakan Tanaman Chrysanthemum pada Kondisi Fotoautotropik Secara in Vitro Elisa Apriliani; Dwi Widyajayantie; Ummu F Hidayah; Yoshua S Yudha
Agriculture and Biological Technology Vol. 1 No. 1 (2023): Desember
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.1.1.1-9

Abstract

Perbanyakan bibit melalui kultur jaringan yang dilakukan dapat memberikan solusi untuk meningkatkan ketersediaan bibit krisan (Chrysanthemum sp.) yang berkualitas, terbebas dari virus maupun hama penyakit, dapat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dan bersifat seragam. Pengendalian lingkungan in vitro bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang lebih mudah untuk beradaptasi pada lingkungan ex vitro salah satunya melalui sistem kultur fotoautotropik. Pada penelitian ini dilakukan studi mengenai keefektifan modifikasi media dan kondisi kultur menggunakan sistem autotropik. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pengujian tiga jenis media MS + 30 g/L gula + 2 mg/L CaP (M1); MS + 30 g/L gula + 0.1 mg/L NAA + 1 mg/L BAP (M2); dan MS + 15 g/L gula + 0.1 mg/L NAA + 1 mg/L BAP (M3). Serta pemberian 1 lubang ventilasi (V1); 2 lubang ventilasi (V2).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi gula dapat meningkatkan pertumbuhan tunas, namun bila dalam jumlah banyak juga dapat menghambat pertumbuhan tunas aksilar. Penggunaan lubang ventilasi pada sistem autotropik dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi yang lebih banyak, hal ini dapat dikurangi dengan mengkontrol sterilitas eksplan yang digunakan serta lingkungan yang sesuai seperti kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya yang sesuai
Potensi Tanaman Sagu (Metroxylon sagu) di Kabupaten Kepulauan Meranti : Tinjuan Literatur Putri, Mega Novia; Kurniawan, Ronal; Karsih, Okta Rizal; Apriliani, Elisa; riswan, M.
Agriculture and Biological Technology Vol. 2 No. 2 (2025): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.2.2.34-39

Abstract

Kabupaten Kepulauan Meranti di Provinsi Riau merupakan salah satu wilayah penghasil sagu terbesar di Indonesia, dengan potensi produksi yang diperkirakan mencapai hampir 3,92 juta ton beras sagu pada tahun 2040. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk bernilai seperti pakan ternak, pupuk organik, dan bioenergi, yang mendukung keberlanjutan dan pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan. Namun, pemanfaatan sagu masih dihadapkan pada kendala rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan teknologi pengolahan, serta akses pasar yang terbatas. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi agronomis, sosial-ekonomi, dan lingkungan dari sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, serta mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pengembangannya. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur relevan antara tahun 2010 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sagu memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan dengan dampak positif terhadap ketahanan pangan dan perekonomian lokal. Namun, pengembangannya memerlukan peningkatan teknologi pengolahan, dukungan infrastruktur, dan penguatan akses pasar. Sagu juga memiliki peluang sebagai bahan baku bioenergi yang ramah lingkungan, khususnya bioetanol. Untuk memaksimalkan potensi ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan masyarakat lokal dalam meningkatkan nilai tambah produk dan pengembangan industri berbasis sagu.
Induction of Organogenesis and Regeneration Species Tagetes erecta In Vitro Apriliani, Elisa; Sukma, Dewi; Sudarsono, Sudarsono; Syukur, Muhammad
Jurnal Natur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2025): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jnat.23.1.58-62

Abstract

Marigold (Tagetes erecta) from the Asteraceae family is well-known for its various uses as cut flowers, potted plants, ornamental plants, medicines, dyes, and biopesticides. Micropropagation and optimization of in vitro regeneration of T.erecta species provide opportunities for plant propagation and utilization of biotechnology in plant breeding. This study evaluated the regeneration efficiency of in vitro plantlet leaf explants with different combinations of IAA and BAP concentrations in organogenesis induction media. IAA concentration affects the growth of adventitious shoots on explants. Decreasing IAA concentration affects the percentage of shoot growth, roots, and average number of roots in organogenesis induction media. Meanwhile, adding cytokinins to the induction media will modulate auxin movement during organogenesis and plant cell regeneration. Leaf explants on Murashige and Skoog (MS) media supplemented with 2.8 µM IAA + 31.0 µM BAP showed shoot growth reaching 58%, with root growth reaching 32%. Meanwhile, using lower BAP 2.8 µM IAA + 13.3 µM BAP resulted in 63% of explants forming shoots with a lower percentage of root growth. Increasing the concentration of IAA (5.7 µM + 13.3 µM BAP) showed a root formation response reaching 61% with a smaller number of shoots (48%). The explant response began with the explant part differentiating to form a callus with a growing point that would form yellowish-green shoots (RHS / Fan3-N144-C) at 28 days of induction
Induksi Umbi Mikro pada Tanaman Kentang dengan Penambahan ZPT dan Retardan pada Media Pertumbuhan secara in Vitro Apriliani, Elisa; Chairunnisa, Putri
Agriculture and Biological Technology Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.1.2.51-57

Abstract

Penggunaan umbi mikro pada tanaman kentang (Solanum tuberosum L)  memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat memproduksi umbi yang sehat, seragam, dan karakter pertumbuhan sama seperti induknya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komposisi media pertumbuhan dalam meningkatkan pembentukan umbi kentang secara in vitro. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor berupa kombinasi ZPT pada media cair. Hasil penelitian menunjukkan perlu adanya keseimbangan antara konsentrasi gula, konsentrasi hormon eksogen, dan zat retardan yang digunakan agar pembentukan umbi mikro optimum dan efektif. Terbentuknya umbi mikro kentang ini dimulai dari membengkaknya ujung stolon yang terbentuk atau tumbuh dari ketiak daun tanaman. Pengumbian kentang dapat dilakukan menggunakan media cair dengan komposisi ½ MS + BAP 5 ppm + paclo 2.5 ppm + 90 g gula; atau menggunakan media ½ MS + kinetin 5 ppm + paclo 2.5 ppm + 90 g  gula yang menunjukkan  pembentukan stolon dan umbi mikro yang lebih baik.
Kultur Anther dalam Produksi Tanaman Haploid: Review Apriliani, Elisa
Agriculture and Biological Technology Vol. 1 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/agiotech.1.2.84-96

Abstract

Tanaman haploid adalah tumbuhan dengan jumlah kromosom gametofit dan double haploid adalah tanaman haploid yang telah mengalami penggandaan kromosom. Produksi tanaman haploid dan double haploid dilakukan melalui embriogenesis gamet memungkinkan perkembangan suatu galur homozigot dari tetua heterozigot, sehingga mempersingkat waktu yang diperlukan untuk menghasilkan tanaman homozigot dibandingkan dengan metode pemuliaan konvensional yang menggunakan beberapa generasi. Adanya kemajuan dalam bidang bioteknologi memberikan dampak kemajuan yang signifikan pada sektor perrtanian. Termasuk telah ditemukan beberapa metode yang untuk memproduksi tanaman haploid dan double haploid, seperti kultur anther in vitro atau mikrospora yang paling efektif dan banyak digunakan oleh para pemulia tanaman. Kultur anther memiliki potensi yang tinggi, namun perlu adanya persiapan yang matang dalam pelaksanaan terkait dengan protokol, sumber eksplan, pre-treatment, kondisi lingkungan, serta media pertumbuhan.
Studi Pewarisan Karakter Komponen Hasil Persilangan Cabai Rawit pada Generasi F1 dan F2 Yunandra; Deviona; Yuliza Amanda Aulia; Khairunas; Fahsyadillah Aziz; Diva Oksafira; Ayu Putri Br Lumban Gaol; Dian Rakhmad; Elisa Apriliani
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 10 No 1 (2026): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v10i1.786

Abstract

Cabai rawit (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas hortikultura penting dengan nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Produktivitas cabai rawit nasional tahun 2023 mencapai 7,05 t/ha, meningkat 4% dari tahun sebelumnya, namun masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pewarisan karakter dan kemajuan genetik harapan hasil persilangan cabai rawit UNRI C18 dan UNRI C11 pada populasi F2. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Riau dari Januari hingga Agustus 2025, menggunakan rancangan persilangan biparental dengan materi genetik yang terdiri dari tetua 1 (P1) UNRI C18, tetua 2 (P2) UNRI C11, populasi F1, dan populasi F2. Pengamatan dilakukan pada sembilan karakter kuantitatif meliputi umur berbunga, umur panen, bobot buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, bobot per buah, panjang buah, panjang tangkai buah, diameter buah, dan tebal daging buah. Data dianalisis menggunakan metode pendugaan heritabilitas Mahmud-Kramer untuk menghitung heritabilitas arti luas serta kemajuan genetik harapan dengan intensitas seleksi 10%. Hasil penelitian menunjukkan populasi F2 memiliki keragaman dan segregasi lebih tinggi dibandingkan dengan F1. Nilai heritabilitas arti luas berkisar 0,07 – 0,76. Karakter produktivitas menunjukkan heritabilitas tinggi, yaitu bobot buah per tanaman (0,56) dan jumlah buah per tanaman (0,51). Kemajuan genetik harapan tertinggi ditemukan pada bobot buah per tanaman (117,35 g) dan jumlah buah per tanaman (99,27 buah), menunjukkan potensi seleksi sangat baik untuk meningkatkan produktivitas.