Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Pada Pembelajaran IPA Untuk Mengembangkan Karakter Siswa SMP Fena Prayunisa, Fena; Rasyidi, Mulia; Mahariyanti, Ermila
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1481

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) serta dampaknya terhadap pengembangan karakter siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilaksanakan di SMP Negeri 5 Masbagik. Subjek penelitian terdiri dari guru IPA dan 34 siswa kelas VII. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh positif terhadap pengembangan karakter siswa. Karakter seperti disiplin, jujur, tanggung jawab, kerja sama, empati, dan peduli lingkungan mengalami peningkatan dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua dengan rata-rata persentase pengembangan karakter mencapai 81,24% dalam kategori baik. Model pembelajaran inkuiri mendorong siswa untuk aktif bertanya, berpikir kritis, bekerja sama, serta menemukan konsep melalui proses penyelidikan yang sistematis. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala dalam penerapan model inkuiri, antara lain ketidaksiapan siswa untuk belajar mandiri, keterbatasan kemampuan guru dalam menerapkan inkuiri, kurangnya sarana pendukung, serta kesulitan dalam menilai perkembangan karakter secara objektif. Meskipun demikian, hasil penelitian membuktikan bahwa model pembelajaran inkuiri efektif dalam mengembangkan karakter siswa dan layak diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran IPA di SMP.
Pendampingan pembuatan media pembelajaran IPA terintegrasi lingkungan bagi guru IPA di SMPN 1 Jerowaru Khaerus Syahidi; Kholida Ismatulloh; Yosi Nur Kholisho; Asrorul Azizi; Mulia Rasyidi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27707

Abstract

Abstrak Berdasarkan hasil observasi di sekolah mitra yaitu SMPN 1 Jerowaru, terlihat bahwa keadaan laboratorium belum memadai dimana alat dan bahan praktikum masih sangat kurang. Guru-guru IPA tidak melakukan inovasi dan kreasi untuk mengatasi kekurangan tersebut. Selain itu, kegiatan praktikum jarang dilakukan termasuk dalam memanfaatkan lingkungan sekitar. Guru IPA cenderung melakukan pembelajaran dengan teori dan monoton hanya di dalam kelas. Oleh karena itu, pengusul bersama mitra bekerja sama dalam mengatasi masalah tersebut melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program PkM ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam merancang dan mengembangkan media pembelajaran dengan bahan bekas yang berada di lingkungan sekitar. Metode yang digunakan dalam pencapaian tujuan tersebut adalah penyelenggaraan inservice berupa pelatihan dan pendampingan. Pelatihan yang dilaksanakan adalah latihan teknik-teknik merancang media pembelajaran terintegrasi lingkungan (bahan bekas). Hasil media yang dikembangkan ada enam yaitu kincir air, jangka sorong, elektroskop sederhana, alat destilasi, dan sistem peredaran darah. Kata kunci: media pembelajaran; lingkungan; konsep IPA Abstract Based on the results of observations at the partner school, namely SMPN 1 Jerowaru, it can be seen that the condition of the laboratory is inadequate where the tools and materials for practicum are still very lacking. Science teachers do not innovate and create to overcome these shortcomings. In addition, practicum activities are rarely carried out including in utilizing the surrounding environment. Science teachers tend to carry out learning with theory and monotonously only in the classroom. Therefore, the proposer and partners work together to overcome this problem through the Community Service (PKM) program. This PkM program aims to improve teacher skills in designing and developing learning media with used materials in the surrounding environment. The method used in achieving these goals is the implementation of inservice in the form of training and mentoring. The training carried out is training in techniques for designing integrated learning media for the environment (used materials). The results of the media developed are six, namely water wheels, vernier calipers, simple electroscopes, distillation tools, and blood circulation systems. Keywords: learning media; environment; science concept
Sosialisasi Miskonsepsi Pembelajaran IPA pada Guru MGMP IPA KKM MTs. Kecamatan Batukliang Rasyidi, Mulia; Hasanul Muttaqin, Muh. Zaini; Azizi, Asrorul; Prayunisa, Fena
Jurnal Inovasi dan Pengabdian kepada Masyarakat (JIPMas) Vol. 2 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Yayasan Arfah Bin Haji Muhammad Saleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63980/jipmas.v2i1.162

Abstract

Misconceptions in Science learning constitute a persistent problem that can hinder students’ conceptual understanding, particularly when such misconceptions are held by teachers. This community service activity aimed to improve the conceptual understanding of Madrasah Tsanawiyah Science teachers regarding learning misconceptions as well as strategies for their prevention and remediation. The activity was conducted through socialization sessions, group discussions, case study analyses, and training on the development of diagnostic assessments involving Science teachers from the Subject Teacher Forum of the Madrasah Working Group in Batukliang District. Data were collected using pre- and post-activity understanding questionnaires, observations, and participant reflections, and were analyzed descriptively. The questionnaire results indicated an increase in the teachers’ average understanding score from 57.6 before the activity to 81.8 after the activity. Improvements were also observed in teachers’ abilities to identify student misconceptions and to design diagnostic assessments. It was concluded that the activity was effective in strengthening teachers’ conceptual competence and contributed to improving the quality of Science learning in Madrasah Tsanawiyah.