Ratih Kumala Fajar Apsari
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat Dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Blok Saraf Perifer sebagai Salah Satu Suplemen Analgesia Pascaseksio Sesarea Ekuarianto, Donny; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 3 (2023): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i3.148

Abstract

Persalinan melalui seksio sesarea menjadi salah satu prosedur operasi kebidanan yang paling umum dilakukan. Meningkatnya angka persalinan secara seksio sesarea, tentu juga meningkatkan terjadinya angka nyeri akut pascaoperasi yang menyertai. Nyeri pascaseksio sesarea menempati urutan kesembilan dari 179 prosedur pembedahan, dengan intensitas nyeri sedang hingga berat. Multimodal analgesia menjadi salah satu strategi penatalaksaan pelayanan nyeri akut pascaoperasi seksio sesarea, dengan tujuan mengurangi penggunaan opioid serta memberikan analgesia tambahan secara sinergis. Selain penggunaan opioid dan teknik neuraksial, jenis anestesi regional lainnya yang banyak digunakan sebagai suplemen analgesia tambahan pascaoperasi obstetri atau ginekologi yaitu blok syaraf perifer. Beberapa teknik untuk blok saraf perifer sebagai analgesia pascaoperasi seksio sesarea seperti, blok paravertebral, transversus abdominis plane, quadratus lumborum, iliohypogastric dan ilioinguinal, erector spinae, dan blok infiltrasi luka makin familiar dilakukan dengan adanya panduan ultrasonografi. Peripheral Nerve Block as an Analgesia Supplement Post-Cesarean Section AbstractDelivery by cesarean section is one of the most commonly performed obstetric surgical procedures. As the number of cesarean deliveries increases, the incidence of acute postoperative pain also increases. Multimodal analgesia is one of the strategies for acute pain management after cesarean section and aims to reduce opioid consumption and synergistically provide additional analgesia. In addition to the use of opioids and neuraxial techniques, various types of regional anesthesia, which are often used as an adjunct to analgesics in obstetric or gynecological procedures, include various peripheral nerve block techniques in the abdominal area. Keyword : Caesarean section, analgesia supplement, peripheral nerve block
Perbandingan Anestesi Spinal Bupivakain Low Dose dan Conventional Dose dalam Mencapai Adekuasi Blok Sensorik untuk Prosedur Seksio Sesarea: Penelitian Noninferioritas Acak Tersamar Tunggal Ikhwandi, Arif; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Rahardjo, Sri
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 6 No 3 (2023): November
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v6i3.150

Abstract

Latar belakang: Anestesi spinal merupakan teknik pilihan untuk seksio sesarea. Penggunaan bupivakain dosis rendah kombinasi opioid diharapkan dapat mengurangi terjadinya hipotensi pascaanestesi spinal, meningkatkan mobilisasi dini, pelepasan kateter urin dini. Besarnya dosis bupivakain yang adekuat masih menjadi perdebatanTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan adekuasi blok sensorik anestesi spinal bupivakain dosis konvensional dan dosis rendah pada prosedur seksio sesarea elektif.Subjek dan Metode: Penelitian non-inferioritas acak tersamar tunggal dilakukan di dua institusi terhadap 56 pasien seksio sesarea elektif yang dibagi menjadi 2 kelompok: kelompok LDFM mendapatkan bupivakain dosis rendah (6,5mg) kombinasi dua opioid (fentanil 25mcg dan morfin 80mcg) dan kelompok CDF menggunakan bupivakain dosis konvensional (10 mg) kombinasi fentanil (25mcg). Blok sensorik dinilai adekuat jika pasien tidak diperlukan analgetik tambahan intraoperatif dalam 90 menit pascaobat anestesi spinal diinjeksikanHasil: Sebanyak 3 pasien pasien memerlukan analgetik tambahan intraoperatif (2 pasien CDF dan 1 pasien LDFM). Tingkat keberhasilan blok adekuat tercapai pada 96,4% dalam kelompok LDFM dan 92,6% dalam kelompok CDF, dengan perbedaan proporsi sebesar 3,8% (95% CI -8,3% hingga 15,9%). Hasil ini memenuhi kriteria noninferioritas.Simpulan: Bupivakain hiperbarik low dose kombinasi dengan dua opioid mampu memberikan blok sensorik intraoperatif adekuat non inferior terhadap bupivakain hiperbarik conventional dose kombinasi
Hubungan Kegawatdaruratan dengan Teknik Anestesi pada Plasenta Akreta di RSUP H. Adam Malik Medan Fadinie, Wulan; Fajar Apsari, Ratih Kumala; Uyun, Yusmein; Widyastuti, Yunita; Kurniawaty, Juni
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.172

Abstract

Latar Belakang: Plasenta akreta dapat terjadi selama kehamilan karena implantasi plasenta yang tidak normal, dengan anestesi neuraksial saat ini lebih umum digunakan dalam persalinan seksio sesarea untuk kasus ini.Tujuan: Penelitian bertujuan untuk menilai hubungan antara kegawatdaruratan dan teknik anestesi pada kasus plasenta akreta di RSUP H. Adam Malik Medan.Subjek dan Metode:Melibatkan analisis deskriptif kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien plasenta akreta di RSUP H. Adam Malik Medan dari 2020 hingga 2023.Hasil: Hasil dari 200 sampel terungkap adanya hubungan antara kegawatdaruratan dan teknik anestesi. Ditemukan bahwa kasus emergensi terjadi pada 70,6% dari pasien yang menggunakan anestesi umum dan 44,9% dari pasien yang menggunakan anestesi neuraksial. Sedangkan kasus elektif terjadi pada 29,4% dari pasien yang menggunakan anestesi umum dan 55,1% dari pasien yang menggunakan anestesi neuraksial.Simpulan: Pemilihan teknik anestesi, baik anestesi umum maupun neuraksial, dipengaruhi oleh kegawatdaruratan dalam persalinan seksio sesarea pada kasus plasenta akreta.
Konversi Epidural Labor Analgesia (ELA) menjadi Anestesi Epidural untuk Crash Seksio Sesarea pada Pasien Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan Pulmonary Hypertension (PH) Pranata, Yoga; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 1 (2024): Maret
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i1.173

Abstract

Metode untuk mengatasi nyeri persalinan telah berkembang sejak tahun 1847. Epidural Labor Analgesia (ELA) tetap menjadi intervensi utama untuk mengatasi nyeri persalinan. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesarea bila diperlukan. Seorang wanita berusia 37 tahun hamil 32 minggu datang ke ruang gawat darurat dengan sesak napas. Selanjutnya diketahui pasien memiliki Patent Ductus Arteriosus (PDA) bidireksional dengan Pulmonary Hypertension (PH). Riwayat 2 kali persalinan sebelumnya tidak ada masalah. Pasien ini direncanakan partus pervaginam dengan ELA segera setelah pematangan paru janin. Kombinasi anestesi lokal konsentrasi rendah dan opioid diberikan sebagai dosis awal, dilanjutkan dosis intermiten setiap 3-6 jam. Setelah 22 jam, dilakukan crash seksio sesarea karena gawat janin. ELA dikonversi menjadi anestesi epidural untuk operasinya. Dosis anestesi lokal yang lebih tinggi diberikan saat persiapan operasi dilakukan. Vasopresor diberikan dalam dosis titrasi untuk menjaga agar resistensi vaskular sistemik tetap tinggi. Pasien stabil baik selama ELA maupun operasi. Skor Apgar bayi adalah 5/7. Setelah 48 jam di ICU, pasien dipindahkan ke HCU. ELA dapat dikonversi menjadi anestesi epidural untuk seksio sesaria emergensi. Konsentrasi anestesi lokal yang diberikan untuk operasi sedikit lebih tinggi dibanding untuk analgesia persalinan. Tujuannya bukan hanya untuk memberikan analgesia yang memadai tetapi juga untuk menjaga kestabilan hemodinamik pasien dengan PDA dan PH.
Tatalaksana Anestesi pada Tumor Payudara Kanan cT2N3Mx dan Kiri cT2N1Mx Curiga Ganas pada G4P2A1 Usia Kehamilan 22 Minggu Atmadja, Linda Stefanie; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.182

Abstract

Operasi non obstetrik selama kehamilan merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh ahli anestesi. Operasi non obstetrik dapat diperlukan pada trimester berapapun dalam kehamilan, dimana tantangannya unik karena memperhatikan keselamatan ibu dan bayi. Ketika menangani wanita hamil yang menjalani operasi non obstetrik, dokter anestesi perlu untuk memodifikasi protokol anestesi standar untuk mengakomodasi perubahan fisiologi yang disebabkan oleh kehamilan dan adanya janin. Pada kasus ini, seorang wanita 41tahun,G4P2A1 pada usia kehamilan 22 minggu didiagnosa dengan tumor payudara kanan dan kiri cT2n3Mx dan cT2N1Mx curiga ganas direncanakan pengangkatan tumor payudara dengan anestesi umum. Pasien diinduksi dengan fentanyl 75mcg, sevoflurane 2 vol%, rocuronium 20mg, pemeliharaan anestesi dengan sevoflurane 2 vol %, O2 dan N2O. Intraoperatif hemodinamik pasien stabil. Selain perubahan fisiologi dan anatomi pada ibu, operasi non obstetrik pada kehamilan juga perlu memperhatikan keselamatan janin. Hal ini termasuk risiko teratogenisitas, pemantauan janin selama tindakan dan setelah tindakan. Perlu mendapat perhatian juga pada trimester berapa operasi dilakukan dan adanya risiko obat-obatan yang digunakan dapat melewati plasenta dan dapat berisiko terhadap janin. Selain itu perlu diperhatikan juga hal-hal yang dapat mempengaruhi sirkulasi uteroplasenta.
Fenilefrin pada Obstetri Anestesi Hayatunnisa, Nurul Ulfah; Uyun, Yusmein; Fajar Apsari, Ratih Kumala
Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia Vol 7 No 2 (2024): Juli
Publisher : Indonesian Society of Obstetric Anesthesia and Critical Care (INA-SOACC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47507/obstetri.v7i2.183

Abstract

Fenilefrin merupakan obat yang sudah dikenal lama. Saat ini dengan adanya kemajuan pengetahuan, telah ditemukan fungsi lain dari fenilefrin sehingga dokter anestesi, dokter kebidanan kandungan, dan ahli farmakologi dapat berkolaborasi untuk mengoptimalkan hasil pada ibu dan janin. Salah satunya adalah untuk mengatasi hipotensi yang terkait dengan anestesi. Pada anestesi obstetri, sering digunakan anestesi neuraksial. Anestesi neuroaksial tidak hanya mengurangi rasa sakit secara efektif, tetapi juga memungkinkan para ibu untuk tetap sadar dan terlibat dalam saat-saat penting persalinan, baik melalui pervaginam maupun pembedahan. Namun, pelaksanaan anestesi neuroaksial bukan tanpa tantangan, terutama potensi hipotensi, yang merupakan efek samping yang umum terjadi pada prosedur ini. Dalam mengatasi hipotensi yang terkait dengan anestesi, fenilefrin dapat digunakan sebagai intervensi farmakologis. Fenilefrin yang merupakan obat jenis amina simpatomimetik merupakan vasokonstriktor kuat, bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah, sehingga menangkal efek vasodilatasi anestesi dan mencegah/mengatasi penurunan tekanan darah yang signifikan. Penggunaan fenilefrin ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan yang tepat, memastikan bahwa manfaat pereda nyeri dan kesadaran ibu tidak terganggu oleh perubahan hemodinamik yang merugikan selama proses persalinan. Akhirnya dapat dinyatakan bahwa fenilefrin bermanfaat untuk digunakan dalam Anestesi Obstetri untuk mencegah hipotensi, menjadi vasokonstriksi, mempertahankan perfusi uteroplasenta dan meminimalkan komplikasi pada ibu dan janin
Manajemen Anestesi pada Epilepsi Prayunanto A.N, Eko; Apsari, Ratih Kumala Fajar; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 2 (2018): Volume 5 Number 2 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i2.7326

Abstract

Epilepsy is a manifestation of brain disorders with a variety of clinical symptoms, caused by the release of electrical charges from brain neurons excessively and periodically, reversibel with various etiology. Seizures can be localized to specific areas of the brain or thoroughly. Focal seizures may expand into generalized seizures. Physiology epilepsy is a disorder defined cerebral balance between excitation and inhibition is the tip of the uncontrolled excitation. Seizures are also caused by potassium conduction abnormalities, ion channel damage, and ATP deficiency associated with ion transport, may cause instability of neuron membranes. The best anesthetic treatment for epilepsy is with general anesthesia. General anesthesia has therapeutic benefits for seizure patients if the patient has been treated with anti-seizure medication then should be continued until surgery.
Penggunaan Ultrasound di Anestesi Obstetri Apsari, Ratih Kumala Fajar; Uyun, Yusmein
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 3 (2018): Volume 5 Number 3 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i3.7342

Abstract

The incidence of complex medical problems in obstetric populations is is rising, and anesthesia for parturient patients add another problem in this complexity. Ultrasound provides an accurate visualization of the internal anatomical structures that may help assess clinical conditions and improve the safety of therapeutic interventions. Ultrasound procedures in obstetric anesthesia have been used in guiding the neuraxial block, transversus abdominis plane block for post-caesarean section pain control, and vascular access. Ultrasound may also be performed to assess gastric volume, airway evaluation in critical obstetric patients, lung evaluation, transesophageal echocardiography, and intracranial pressure assessment as a surrogate marker of preeclampsia. To succeed in ultrasound guidance techniques, it requires familiarity with relevant cross sectional anatomy. Knowledge of anatomy, without any understanding of its structural formation on ultrasound will hamper the understanding of ‘sonoanatomy’.
Manajemen Perioperatif Seksio Sesarea Pasien G2P1A0 Hamil 38 Minggu dengan Plasenta Akreta dan Plasenta Previa Totalis Fajar A, Ratih Kumala; Jufan, Akhmad Yun; Kuncoro, Kusuma Edhi
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 6 No 3 (2019): Volume 6 Number 3 (2019)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v6i3.7359

Abstract

Placenta accreta is becoming more common and is the most frequent indication for peripartum hysterectomy. Management of cesarean delivery in the setting of a morbidly adherent placenta has potential for massive hemorrhage, coagulopathies, and other morbidities. Anesthetic management of placenta accreta presents many challenges including optimizing surgical conditions, providing a safe maternal delivery, preparing for massive hemorrhage and transfusion, preventing coagulopathies, and optimizing postoperative pain control. Balancing these challenging goals requires meticulous preparation with a thorough preoperative evaluation of the parturient and a well-coordinated multidisciplinary approach in order to optimize outcomes for the mother and fetus.
Manajemen Anestesi Pasien Obstetri yang Menjalani Sectio Caesarea Emergency Indikasi Gagal dengan Preeklampisa Berat dan Asma Intermittent Sedang Suryono, Bambang; Apsari, Ratih Kumala Fajar; Nurdiansyah, Elba
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 7 No 1 (2019): Volume 7 Number 1 (2019)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v7i1.7380

Abstract

Penanganan perioperatif asma pada ibu hamil, perlu mendapat perhatian lebih, dikarenakan selain menyangkut keselamatan ibu juga keselamatan janin. Sebisa mungkin pasien dioptimalkan kondisipreoperatifnya, namun bila tidak memungkinkan, diperlukan pemilihan tehnik anaestesi yang dapat meringankan kondisi asma ibu dengan memilih obat-obat yang memiliki efek bronkodilatasi, non histamine release dan meringankan edema jalan nafas. Pasien ini dipilih teknik epidural dikarenakan tidak menimbulkan gejolak hemodinamik yang berarti, memberikan fasilitas analgesia anestesia selama tindakan operasi, resiko sulit intubasi dapat dihindarkan serta dapat digunakan sebagai modal analgesi paska operasi yang adekuat. Dengan mengoptimalkan kondisi preoperatif pasien, morbiditas terhadap pasien dapat diminimalkan dan memberikan outcome yang baik terhadap ibu maupun bayinya.