Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pemberdayaan Perangkat Desa dalam Penguatan Kelembagaan Desa Talaki Sukarman Kamuli; Nopiana Mozin; Sandri J Dotutinggi
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 2 (2021): April, Pages 161-458
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i2.270

Abstract

Pembangunan desa memiliki peran penting dalam pembangunan nasional maupun daerah. Berhasil tidaknya pembangunan desa jelas tak luput dari dukungan aparat perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta kelembagaan yang ada di desa. Untuk itu diperlukan pemahaman yang luas dalam hal penyelenggaraan tata kelola pemerintahan desa, namun di desa Talaki Kabupaten Buol pemahaman tentang penguatan kelembagaan ini justru masih rendah. Hal ini disebabkan tidak adanya kerja sama, keterbukaan dan saling mendukung antara aparat desa dan kelembagaan desa dalam hal penyelenggaraan pemerintahan di Desa Talaki. Oleh karena itu diperlukan pemberdayaan dari seluruh organisasi pemerintahan desa dalam hal ini, agar unsur pemerataan pembangunan desa dapat menyeluruh hasilnya dirasakan masyarakat desa setempat. Sasaran pengbdian ini adalah aparat desa dan kelembagaan desa Talaki Kabupaten Buol. Adapun hasil dan kesimpulan dari pengabdian masyarakat ini adalah 1) membentuk karakter kelembagaan desa yang produktif sehingga desa mampu dan memahami kewenangan, tugas dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahannya sendiri, 2) perangkat desa mampu mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan kelembagaan desa guna menopang pembangunan di desa Talaki Kabupaten Buol.
Produksi Lampion Sabut Kelapa dalam Meningkatkan UMKM di Desa Buhu Kecamatan Telaga Jaya Sandri J. Dotutinggi; Rasid Yunus; Yayan Sahi
Jurnal Abdidas Vol. 2 No. 6 (2021): December Pages 1257-1486
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v2i6.472

Abstract

Pemanfatan limbah sabut kelapa yang sering dibiarkan begitu saja menjadi salah satu masalah utama di Desa Buhu yang saat ini memiliki perkebunan kelapa yang cukup luas. Faktor kurangnya kapasitas komunikasi masyarakat dan kurangnya kemitraan antara pemerintah dan masyarakat  membuat masyarakat khususnya kesulitan untuk mewujudkan program mengelolah potensi limbah sabut kelapa. Kegiatan ini dilakukan untuk menciptakan sebuah inovasi lampion dengan bahan dasar sabut kelapa untuk memanfaatkan limbah sabut kelapa yang ada dengan membentuk UMKM Lampion Sabut Kelapa. Adapun metode yang digunakan adalah memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada karang taruna dan PKK cara pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi bahan dasar pembuatan lampion sabut kelapa. Hasil dan kesimpulan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yakni meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan limbah sabut kelapa, kemudian terbentuknya UMKM Lampion Sabut Kelapa di Desa Buhu,Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo.
Penataan Masyarakat Multikultural Melalui Nilai Kearifan Lokal Mopalus di Desa Busak I Kabupaten Buol Dotutinggi, Sanri J.; Kamuli, Sukarman; Rahmatiah, Rahmatiah
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.36402

Abstract

Kearifan lokal Mopalus (Gotong Royong) yang ada di Desa Busak I Kabupaten Buol  menunjukkan potensi signifikan sebagai referensi untuk mengelola keanekaragaman sosial dan konflik etnis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penataan masyarakat multikultural melalui kearifan lokal Mopalus di Desa Busak I. Kajian ini menggunakan pendekatan integrasi nasional yaitu integrasi normatif, fungsional, dan koersif. Metode  penelitian  yang  digunakan  adalah  penelitian  kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi.Proses analisis data menggunakan langkah-langkahyaitu, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi  data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mopalus berfungsi 1) secara normatif Mopalus menciptakan norma sosial yang mendasari interaksi antar etnis, tekanan nilai saling menghargai dan kerja sama; 2) Secara fungsional  Mopalus mengoptimalkan kontribusi setiap individu sesuai dengan keterampilannya, memperkuat peran mereka dalam kemajuan desa dan memfasilitasi integrasi sosial yang efektif; 3) Secara koersif , meskipun tidak ada aturan tertulis, kesadaran kolektif yang dibangun, Mopalus menjadi pendorong utama partisipasi masyarakat Busak I sementara beberapa etnis, seperti etnis Buton, mengusulkan peraturan formal untuk meningkatkan struktur partisipasi. Kesimpulan dari penelitian ini Mopalus berhasil menata masyarakat multikultural di Desa Busak I dengan memfasilitasi kesadaran kolektif dan mengelola keragaman sosial. Secara normatif, Mopalus menciptakan norma yang menekankan saling menghargai; secara fungsional, mengoptimalkan peran individu untuk kemajuan desa; dan secara koersif, partisipasi aktif terwujud melalui kesadaran bersama, meskipun tanpa aturan tertulis.   The local wisdom of Mopalus (Gotong Royong) in Busak I Village, Buol Regency shows significant potential as a reference for managing social diversity and ethnic conflicts. This study aims to analyze the arrangement of a multicultural society through the local wisdom of Mopalus in Busak I Village. The research method used is qualitative research with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The data analysis process uses steps, namely, data reduction, data presentation, and data verification. The results of the study show that Mopalus functions 1) normatively Mopalus creates social norms that underlie inter-ethnic interaction, value pressure of mutual respect and cooperation; 2) Functionally Mopalus optimizes the contribution of each individual according to his or her skills, strengthens their role in the progress of the village and facilitates effective social integration; 3) Coercively, although there are no written rules, a collective consciousness is built, Mopalus became the main driver of the participation of the Busak I community while some ethnicities, such as the Buton ethnicity, proposed formal regulations to improve the structure of participation. The conclusion of this study is that Mopalus succeeded in organizing a multicultural society in Busak I Village by facilitating collective awareness and managing social diversity. Normatively, Mopalus created a norm that emphasized mutual respect; functionally, optimizing the role of individuals for the progress of the village; and coercively, active participation is realized through collective awareness, even without written rules. 
Konservasi Preventif Atas Paham Radikalisme Pada Siswa SMK Negeri 1 Gorontalo Zulfikar Adjie; Asmun Wantu; Intan Tiara Kartika; Sanri J. Dotutinggi
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 4: Juni 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i4.9172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan upaya konservasi preventif atas paham radikalisme pada siswa SMKn 1 Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif, pendekatan deskriptif untuk menggambarkan strategi yang diterapkan oleh guru-guru dan pihak terkait dalam mencegah penyebaran paham radikal di kalangan siswa. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Wakasek Kesiswaan, guru PPKn, guru Bimbingan Konseling (BK), serta siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pencegahan paham radikalisme di SMKn 1 Gorontalo dilakukan melalui pendekatan pedagogis yang terintegrasi dalam tiga dimensi utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam dimensi kognitif, guru PPKn secara aktif mengintegrasikan nilai-nilai kebhinekaan dan prinsip-prinsip Pancasila dalam setiap aktivitas pembelajaran, yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap pentingnya demokrasi, toleransi, dan pluralisme. Pendekatan berbasis diskusi, studi kasus, dan problem-based learning terbukti efektif dalam membentuk daya nalar kritis siswa terhadap narasi intoleransi yang berkembang di media sosial. Di dimensi afektif, kegiatan ekstrakurikuler yang berorientasi pada moralitas dan kebhinekaan, seperti pramuka dan pentas seni budaya, berperan penting dalam membangun rasa empati dan solidaritas antar siswa dengan latar belakang yang berbeda. Dimensi psikomotorik menekankan pentingnya interaksi yang lebih personal dan humanistik antara siswa dan guru, terutama melalui konseling dan pendekatan yang mendalam terhadap perilaku menyimpang.Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa upaya preventif atas paham radikalisme harus bersifat terstruktur dan melibatkan kolaborasi lintas disiplin untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, yang mampu membentuk karakter siswa yang toleran dan menghindari paparan paham radikaslime.
Integrasi Sosial Umat Beragama Dalam Perspektif Nilai Kearifan Lokal Pada Masyarakat Gorontalo Rahmatiah*, Rahmatiah; Dotutinggi, Sanri J; Hasni, Achmad Husein; Lahay, Riyon
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 9, No 1 (2024): Februari, Educational Studies, History of Education and Social Science
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v9i1.29265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat integrasi sosial umat beragama dalam perspektif nilai kearifan lokal masyarakat Gorontalo. dengan penekanan pada penerimaan pada masyarakat multikulturalisme. Laporan SETARA Institute (2019-2021) mencatat bahwa banyak terjadi pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia, termasuk Gorontalo dengan beberapa kasus, menyikapi kondisi tersebut respon dari semua pihak diperlukan untuk mengurangi menekan kondisi tersebut di tengah tingginya sensitivitas masyarakat terhadap konflik agama. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (libery research), metode ini dilakukan dengan mengumpulkan data serta memahami teori-teori yang bersumber dari literatur yang berkaitan dengan penelitian, Pengumpulan data dengan cara ini adalah mencari sumber dari buku, jurnal dan penelitian terdahulu yang relevan dan mengkonstruksinya secara mendalam sehingga melahirkan kesimpulan yang dapat dipercaya validitasnya Kesimpulan dalam penelitian ini menjadi temuan baru yang telah diuji dan selanjutnya akan dibangun pada tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo dengan keragaman agama dan budaya, sangat menjaga kerukunan antar umat beragama, Islam sebagai agama mayoritas didukung oleh falsafah adat bersendi syara, syara bersendikan kitabullah sehingga agama menyatu dengan budaya mengakibatkan kondisi tidak ada isu konflik agama, dan partisipasi dalam perayaan keagamaan saling memperkuat hubungan keagamaan, Kemudian nilai kearifan lokal, khususnya prinsip tolopani, menciptakan ruang dialog konstruktif untuk penyelesaian konflik. Kesimpulan yang dapat kita pahami adalah bahwa Provinsi Gorontalo mampu menjaga kerukunan antar umat beragama melalui integrasi sosial berbasis nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan pondasi yang kuat untuk mewujudkan kerukunan di tengah keragaman agama dan budaya masyarakat Gorontalo.
Menegosiasikan yang Mustahil: BATNA, Hurting Stalemate, dan Runtuhnya Perundingan Damai Turki–PKK Kartika, Intan Tiara; Adjie, Zulfikar; Dotutinggi, Sanri J.
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr Vol 14 No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr
Publisher : Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jimrf.v14i2.13835

Abstract

The protracted conflict between the Turkish state and the Kurdistan Workers’ Party (PKK) remains one of the most enduring ethnopolitical confrontations in modern history. Despite initiatives such as the Oslo Process and the İmralı Talks, negotiations have consistently collapsed. This study examines the roots of these failures by integrating strategic negotiation theories—particularly BATNA and the Hurting Stalemate model—with perspectives from identity politics and collective trauma. Employing qualitative, thematic analysis of secondary sources, it argues that breakdowns cannot be explained solely through material or strategic lenses. Instead, they stem from entrenched ideological discord, symbolic marginalization, and structural asymmetries of power and recognition. The Turkish state’s reliance on coercion and systemic delegitimization of the PKK has impeded equitable dialogue. Conceptually, the article advances an interdisciplinary interpretation of negotiation failures and highlights the necessity of symbolic and psychosocial dimensions. Findings affirm that recognition, narrative pluralism, and legitimacy are essential to sustainable peace.
Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Penguatan Nilai Huyula di SMK Negeri 1 Limboto: Penelitian Rasid Yunus; Zulfikar Adjie; Sanri J. Dotutinggi; Nurlaila Dawanggi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3171

Abstract

The strengthening of character education through local cultural values has become an essential requirement in shaping competent and morally grounded students. This community service initiative aims to promote the implementation of the Huyula values which encompass mutual cooperation , responsibility, and social awareness in the character development of students at SMK Negeri 1 Limboto in a participatory and sustainable manner. The methodology employed a participatory approach with stages including initial observation, needs analysis, program formulation, coordination with the school, implementation of interactive socialization, as well as evaluation and reflection. Socialization was conducted through presentations, discussions, situational simulations, educational games, and collective reflection, with active student participation in analyzing real-life daily experiences. Data collection instruments consisted of observation questionnaires using a Likert scale, distributed to 125 students, followed by evaluation of 40 students in a representative sample. The results demonstrated a significant improvement in the implementation of Huyula values, evidenced by students’ awareness of linking academic achievement with character, their ability to interact across diverse backgrounds, understanding gained through daily experiences, and active participation in collective activities. The systematic and sustainable strengthening methods proved effective in fostering students’ intrinsic motivation to practice Huyula values in school life. This initiative underscores that character education based on local culture not only reinforces theoretical understanding but also cultivates tangible behaviors reflecting togetherness, responsibility, and social care, making it a relevant model for application in other vocational schools.