Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Risk Factors of Stress in Female Students on the Menstrual Cycles: A Literature Review sari, gustina wulan; imantika, efriyan; happy, terza aflika; rodiani
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan dan Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jka.v12i2.pp75-85

Abstract

Menstruasi adalah saat lapisan rahim mengelupas dan mengeluarkan darah akibat tidak ada pembuahan. Stres adalah kondisi di mana tubuh dan pikiran merasa tertekan karena tuntutan dan perubahan dalam hidup. Menurut informasi World Health Organization (WHO) tahun 2020, sejumlah 45% wanita mengalami gangguan siklus menstruasi, dan di Indonesia, sekitar 13,7% perempuan mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi dalam kurun waktu satu tahun dengan 5,1% disebabkan gangguan psikis dan beban pikiran. Stres bisa diartikan juga sebagai tekanan atau ketegangan yang mengganggu, biasanya berasal dari situasi di luar diri seseorang. Stres dapat memicu sistem yang mengatur hormon dalam tubuh kita, yaitu sumbu korteks hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang menyebabkan tubuh memproduksi kortisol. Kortisol dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon-hormon lain, termasuk hormon reproduksi, yang berdampak pada siklus menstruasi. Tinjauan pustaka ini ditujukan untuk menganalisis faktor risiko stres dan siklus menstruasi, dengan merujuk pada literatur yang dipublikasikan antara tahun 2022-2025 di jurnal-jurnal baik nasional maupun internasional. Analisis terhadap 10 literatur menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan yang kuat antara stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Jarak Kehamilan dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil: Sebuah Tinjauan Literatur Muhammad Fauzan Iqbal; Sutarto; Anisa Nuraisa Jausal; Rodiani
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 12 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Desember 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i12.1456

Abstract

Decreased hemoglobin (Hb) levels during pregnancy are a public health problem that is still widely found, especially in low- and middle-income countries, and contributes to increased maternal and perinatal morbidity and mortality. Pregnant women are a vulnerable group due to increased iron requirements and physiological changes during pregnancy. This study aims to systematically review the relationship between education level and interpregnancy interval with hemoglobin levels in pregnant women. The method used was a structured narrative literature review with literature searches on the PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Garuda databases. The articles included were quantitative studies on pregnant women published in the last five years (2021–2025) and reporting the relationship between education level or interpregnancy interval and anemia or hemoglobin levels. The synthesis results showed that education level indirectly affects hemoglobin levels through health literacy, nutritional knowledge, adherence to iron supplementation, and utilization of antenatal services. Mothers with low education tend to have lower hemoglobin levels due to limited understanding and preventive behaviors against anemia, although this effect may be weakened in contexts with good access to information and health services. Short interpregnancy intervals (less than 24 months) are consistently associated with decreased hemoglobin levels through the mechanisms of incomplete recovery of iron reserves after childbirth and increased physiological stress. Overall, education and interpregnancy interval affect hemoglobin levels through interrelated cognitive, behavioral, and biological pathways, necessitating an integrated intervention approach for anemia prevention in pregnant women.
Peran Kontrasepsi terhadap Kembalinya Kesuburan Pada Wanita Aisyah Fitri Sabrina; Efriyan Imantika; Suryani Agustina Daulay; Rodiani
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1012

Abstract

Angka kelahiran global menunjukkan penurunan signifikan di banyak negara sebagai hasil dari upaya pengendalian populasi melalui program keluarga berencana dan penggunaan kontrasepsi modern. Meskipun kontrasepsi telah terbukti efektif dalam merencanakan kehamilan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi, terdapat kesenjangan pengetahuan yang luas di masyarakat mengenai reversibilitas kesuburan setelah penghentian penggunaan. Kekhawatiran bahwa kontrasepsi dapat menyebabkan infertilitas permanen masih tersebar luas, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, dan kekhawatiran ini terbukti menghambat penggunaan metode kontrasepsi modern yang efektif. Tinjauan literatur menggunakan metode Literature Review (LR) dari berbagai studi mengenai peran kontrasepsi terhadap kembalinya kesuburan pada wanita. Proses identifikasi dilakukan melalui basis data Scopus menggunakan kata kunci “Contraception” dan “Fertility”. Penelitian menunjukkan bahwa kontrasepsi modern, baik hormonal maupun non-hormonal, tidak menyebabkan infertilitas permanen, melainkan hanya menunda kesuburan secara sementara hingga fungsi ovulasi kembali normal dalam waktu kurang dari satu tahun setelah penghentian penggunaan. Faktor usia, jenis kontrasepsi, tingkat pendidikan, dan pengetahuan reproduksi berpengaruh terhadap kecepatan pemulihan kesuburan. Selain itu, kontrasepsi modern terbukti berperan dalam menurunkan Total Fertility Rate (TFR) dan membentuk pola kesuburan yang lebih terencana. Tren global memperlihatkan bahwa kontrasepsi kini tidak hanya menjadi alat pengendali kehamilan, tetapi juga sarana pemberdayaan reproduktif perempuan yang mendukung perencanaan keluarga secara sadar, sehat, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kontrasepsi berfungsi sebagai mekanisme pengatur kesuburan yang fleksibel, reversibel, dan aman bagi wanita di era modern.
Durasi Kembalinya Kesuburan Setelah Penggunaan Kontrasepsi DMPA Zien Najwa Nailul Haya; Efriyan Imantika; Terza Aflika Happy; Rodiani
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1013

Abstract

Pendahuluan: Pengendalian kelahiran merupakan pilar penting kesehatan reproduksi karena membantu pasangan mengatur jumlah dan jarak kelahiran, menurunkan kehamilan tidak direncanakan, serta menekan morbiditas dan mortalitas maternal. Masyarakat sering memilih kontrasepsi suntik, khususnya DMPA karena efektivitasnya tinggi dan tidak memerlukan kepatuhan konsumsi harian, dan dapat digunakan oleh ibu menyusui karena tidak mengandung estrogen. Di balik efektivitasnya, metode hormonal memiliki konsekuensi terhadap sistem reproduksi. DMPA bekerja menekan sekresi gonadotropin sehingga ovulasi terhenti selama masa pemakaian, dan karena bersifat depot, sisa hormon dapat bertahan lebih lama setelah suntikan terakhir. Metode: Kajian dilakukan melalui pendekatan Literature Review dengan pencarian artikel pada basis data Scopus, PubMed, dan Google Scholar. Pembahasan: Dari hasil telaah diperoleh delapan artikel yang relevan. Analisis menunjukkan bahwa DMPA menyebabkan keterlambatan kembalinya kesuburan karena adanya penekanan aktivitas hormon gonadotropin yang menghambat ovulasi. Rata-rata durasi kembalinya kesuburan berkisar antara 6 hingga 18 bulan, dengan pemulihan yang lebih lambat pada wanita dengan usia reproduktif lanjut dan durasi penggunaan lebih dari dua tahun. Simpulan: Secara keseluruhan, keterlambatan kesuburan akibat DMPA bersifat reversibel dan fisiologis, dengan pemulihan normal dalam waktu 1 hingga 1,5 tahun setelah suntikan terakhir.