Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KALANGKALA (Litsea angulata) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis (In vitro) Nor Rahman Sugiarto; Yusrinie Wasiaturrahmah; Tri Nurrahman; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Juliyatin Putri Utami; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17742

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health has not been a major focus due to the low level of public awareness regarding the importance of maintaining dental and oral health in Indonesia. Periodontitis is a disease with a prevalence of 74.1% in Indonesia. The main cause of chronic periodontitis is the bacterium  Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin  0.2% is gold standard that preventing periodontitis. However Chlorhexidin  0.2% has long-term side effects such as tooth discolouration. Therefore, an alternative mouthwash that has antibacterial properties is needed. Kalangkala leaf (Litsea angulata) is known to have the potential to inhibit the growth of  Porphyromonas gingivalis bacteria. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against  Porphyromonas gingivalis bacteria with concentrations of 6.25%, 12.5%, 25%, and 50% based on the minimum inhibitory Concentration (MIC) and minimum bactericidal Concentration(MBC). Methods: True experimental research with posttest-only with control group design. The sample consisted of 6 groups with Chlorhexidin 0.2% as positive control and distilled water as negative control with 4 samples each. Data were analysed using normality, homogeneity, Krusskall wallis, and Mann-whitney tests. Results: From the test results, there was no minimum inhibition 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%. The testing was not pursued for MBC. Conclusion: There is no antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against Porphyromonas gingivalis.Keywords: antibacteria, leaf extract, litsea angulata,  porphyromonas gingivalis ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut belum menjadi fokus utama karena tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terkait pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia Periodontitis merupakan penyakit dengan prevalensi 74,1% di Indonesia. Penyebab utama periodontitis kronis yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin 0,2% merupakan gold standard dalam mencegah terjadinya periodontitis, tetapi Chlorhexidin  0,2% memiliki efek samping jangka panjang seperti perubahan warna pada gigi. Untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang tersebut perlu obat kumur alternatif yang memiliki sifat antibakteri. Daun kalangkala (Litsea angulata) diketahui memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% berdasarkan Kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) Metode: Penelitian eksperimen murni (True Experimental) dengan rancangan percobaan menggunakan posttest-only with control group design. Sampel terdiri dari 6 kelompok dengan Chlorhexidin 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif dengan pengulangan masing-masing sebanyak 4 sampel. Data dianalisis dengan uji normalitas, homogenitas, Krusskall wallis, dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil uji tidak terdapat KHM pada semua konsentrasi ekstrak kalangkala yaitu konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sehingga tidak dilanjutkan untuk pengujian KBM. Kesimpulan: Tidak terdapat efektifitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata Kunci: antibakteri, ekstrak daun, litsea angulata porphyromonas gingivalis
GAMBARAN NILAI PENGUKURAN POSISI INSISIVUS MAKSILA SUKU BANJAR DENGAN RADIOGRAF SEFALOMETRI LATERAL (Tinjauan pada Siswa SMAN 12 Banjarmasin) Nisa Azaria; Didit Aspriyanto; Tri Nurrahman; Nurdiana Dewi; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13105

Abstract

ABSTRACTBackground:. Each racial or ethnic group has different characteristic dentocraniofacial patterns. Identifying characteristics of  dentocraniofacial pattern can help establish a diagnosis and plan appropriate orthodontic treatment. One of the dentocraniofacial patterns that can be identified is the position of the incisor teeth. The incisors are the most anterior teeth in the oral cavity. Its position and tilt can be influenced by various genetic and external factors. Characteristics of dentocraniofacial pattern can be identified through cephalometric analysis. Purpose: This  study  aimed  to  determine  the value of maxillary incisor position measurements of SMAN 12 Banjarmasin students from Banjar ethnic in terms of lateral cephalometric radiography using Steiner analysis. Methods: Cephalometric measurements performed using the Steiner analysis method on dental landmarks; UI-NA. Data analysis was carried out using descriptive statistical methods. The sample in this study were students of SMAN 12 Banjarmasin who are Banjarnese, characterized by a minimum of two generations, who have never or are not currently undergoing orthodontic treatment and are willing to be subjects in the research.  Results: The average value of the U1-NA distance measurement, the U1-NA distance measurement value is 4.47 ± 1.66 mm and the U1-NA angle measurement value is 22.86˚ ± 4.95˚. Conclusion: The average value of the maxillary incisors postion for students of SMAN 12 Banjarmasin of the Banjar ethnic is still classified as ideal but tends to be proclined, the average inclination is also still classified as ideal but tends to be proclined from the normal standard value of Steiner analysis.Keywords :     Banjar Ethnic, Cephalometry, Lateral cephalometry, Steiner analysis ABSTRAK Latar Belakang: Setiap kelompok ras atau etnis memiliki karakteristik pola dentokraniofasial yang berbeda. Karakteristik fisik dari pola dentokraniofasial perlu diidentifikasi untuk mendapatkan informasi yang dapat membantu menegakkan diagnosis dan merencanakan perawatan ortodontik yang tepat. Salah satu pola dentokraniofasial yang dapat diidentifikasi yaitu posisi gigi insisivus. Gigi insisivus adalah gigi paling anterior dalam rongga mulut. Posisi dan kemiringannya dapat dipengaruhi berbagai faktor genetik dan faktor eksternal. Karakteristik pola dentokraniofasial ini dapat diidentifikasi melalui analisis sefalometri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pengukuran posisi insisivus maksila siswa-siswi SMAN 12 Banjarmasin yang berasal dari etnis Banjar ditinjau dari radiografi sefalometri lateral dengan menggunakan analisis Steiner. Metode: Pengukuran sefalometri dilakukan dengan menggunakan metode analisis Steiner pada landmark gigi; UI-NA. Analisis data dilakukan dengan metode statistik deskriptif. Sampel dalam penelitian ini merupakan siswa SMAN 12 Banjarmasin yang merupakan suku Banjar murni yang ditandai dengan minimal dua generasi (ayah, ibu, kakek, dan nenek) yang tidak pernah atau tidak sedang melakukan perwatan orthodonti dan telah bersedia menjadi subjek dalam penelitian. Hasil: Nilai rata-rata pengukuran jarak U1-NA nilai pengukuran jarak U1-NA sebesar 4.47±1.66 mm dan nilai pengukuran sudut U1-NA sebesar 22.86˚±4.95˚. Kesimpulan: Nilai rata-rata posisi insisivus maksila pada siswa SMAN 12 Banjarmasin suku Banjar masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi, rata-rata inklinasi nya juga masih tergolong ideal namun cenderung proklinasi dari standar nilain normal analisis Steiner. Kata kunci :  Analisis Steiner, Sefalometri, Sefalometri Lateral, Suku Banjar.