Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Iklim Organisasi Dan Motivasi Kerja Terhadap Organizational Citizenship Behavior (Perilaku Keanggotaan Organisasi) Guru SMA Swasta Buddhis Se-DKI Jakarta Manggala Wiriya Tantra; Eliana Sari; Francis Tantri
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 4 No 3 (2018): JURNAL ILMIAH WAHANA PENDIDIKAN
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.933 KB)

Abstract

This study aims to determine the effect of (1) organizational climate, (2) work motivation, (3) organizational citizenship behavior of high school teachers in the capital city of Jakarta. In data analysis, this study uses causal survey method using Path Analysis Technicque. This study used a sample of 138 teachers in 7 Buddhist secondary schools in the capital city of Jakarta who were selected using the Slovin formula. The results revealed that: first, there was a positive effect between the organizational climate and organizational citizenship behavior of teachers in schools. This means that an increase in the organizational climate results in an increase in teacher's organizational citizenship behavior. Second, there is a positive effect between work motivation and organizational citizenship behavior of teachers in schools. This means that increasing work motivation results in an increase in teacher's organizational citizenship behavior. Third, there is a positive effect between the organizational climate and the work motivation of teachers in schools. This means that an increase in the organizational climate has resulted in an increase in teacher's work motivation.
TERBENTUKNYA BUMI DAN HANCURNYA BUMI (AGAMA BUDDHA MEMBERIKAN JAWABAN SEIRING DENGAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI) Manggala Wiriya Tantra Tantra
Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 1 (2020): JURNAL AGAMA BUDDHA DAN ILMU PENGETAHUAN
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/abip.v3i1.175

Abstract

Natural disasters that often occur after the 20th century lead many people to assume that the earth will soon experience destruction. Buddhism knows the process of the destruction of the earth contained in the Satta Suriya Sutta, Anguttara Nikaya, which explains the earth to collapse after the seventh sun appeared. However, that does not mean if the earth is destroyed then there is no more life. In Ananda Vagga, Anguttara Nikaya, the Buddha explains that there are more than one billion solar systems in the universe. The development of science and technology which is progressing very rapidly, has found many planets that can be inhabited by living things and some stars are also found in this galaxy. This shows the equivalence between Buddhism and the development of science and technology. The condition of the earth is greatly influenced by human behavior, if human morals degenerate the earth will experience more rapid destruction, on the contrary if human morals get better the earth will be sustainable, so the core of the explanation contained in Pattakammavagga, Anguttara Nikaya. The best solution given by Buddhism in overcoming the destruction of the earth is to eliminate the kilesa (defilement), that is, all the elements of lobha (greed), the element of sin (hatred), and the element of moha (ignorance) in humans. Self-control is the first step to extinguish the kilesas. If all three have been eroded away, the moral quality must be good and the earth more sustainable.
Politik Dalam Pandangan Agama Buddha Manggala Wiriya Tantra Tantra
Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Politik pada hakikatnya merupakan ilmu untuk mengatur negara agar membawa kemajuan dan kesejahteraan yang didasarkan pada kebijaksanaan. Kebijaksanaan dalam politik ditempatkan pada tempat yang paling mulia, sebagai landasan etik seorang politikus dalam melaksanakan tanggungjwabanya. Politik dalam pandangan agama Buddha diidentikan dengan syarat-syarat yang diajarkan Sang Buddha untuk kesejahteraan suatu bangsa. Tujuh syarat tersebut dilandasi dengan kebijaksanaan yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran. Istilah politik dan syarat kesejahteraan sama-sama bermakna cara untuk mengatur negara agar membawa kemajuan dan kesejahteraan. kata kunci: politik, politik agama buddha, ajaran buddha ABSTRACT Politics is essentially a science to regulate the state in order to bring progress and prosperity based on wisdom. Wisdom in politics is placed in the most noble place, as the ethical foundation of a politician in carrying out his responsibilities. Politics in the view of Buddhism is identified with the conditions taught by the Buddha for the welfare of a nation. The seven conditions are based on wisdom that upholds the principles of truth. The terms politics and welfare terms both mean a way to regulate the state in order to bring progress and prosperity. keywords: politics, buddhism politics, buddhist teachings
Implementasi Teknik Komunikasi Penyuluh Agama Buddha Dalam Menguatkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Di Kabupaten Banjarnegara Metta Selyna; Metta Puspita Dewi; Manggala Wiriya Tantra
Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Pendidikan, Sains Sosial, dan Agama
Publisher : STABN RADEN WIJAYA WONOGIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/pssa.v4i1.423

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik komunikasi yang digunakan penyuluh agama Buddha, implementasi teknik komunikasi dalam menguatkan nilai-nilai moderasi beragama, serta tanggapan umat terkait nilai-nilai moderasi beragama yang disampaikan oleh penyuluh agama Buddha di Kecamatan Pagentan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Berlokasi di Vihara Vajra Bumi Mertha Bodi, Vihara Genta Dharma Prabassa, Vihara Dhammasari, dan Vihara Metta Mandala. Subjek pada penelitian ini yaitu penyuluh agama Buddha, ketua vihara, tokoh agama Buddha, tokoh agama islam, dan pemerintah kecamatan pagentan. Pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data dalam penelitian menggunakan triangulasi dan referensi. Hasil penelitian menunjukan teknik komuniasi yang digunakan oleh penyuluh agama Buddha di Kecamatan Pagentan mengacu pada Peraturan Direktorat Jendral Nomor 298 Tahun 2017 yaitu teknik komunikasi informatif, teknik komunikasi persuasif, dan teknik komunikasi koersif. Penyuluh agama Buddha di Kecamatan Pagentan menguatkan nilai-nilai moderasi beragama melalui implementasi teknik konunikasi informatif, teknik komunikasi persuasif, dan teknik komunikasi koersif. Selain itu peneliti memiliki temuan baru teknik komunikasi yang digunakan yaitu dengan bercerita dan bernyanyi lagu buddhis. Teknik komunikasi tersebut dilakukan secara langsung dengan bertatap muka di vihara atau saat anjangsana dan tidak langsung dilakukan dengan media WhatsApp. Tanggapan umat Buddha berkaitan dengan implementasi teknik komunikasi penyuluh agama Buddha dalam menguatkan nilai-nilai moderasi beragama di Kecamatan Pagentan yakni umat merasa mendapatkan pengayoman dan binaan secara agama. Kata kunci: Teknik Komunikasi, Penyuluh Agama Buddha, Moderasi Beragama
Pengembangan Instrumen Penilaian Moralitas (Sila) Peserta Didik Pendidikan Dasar Manggala Wiriya Tantra
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4633

Abstract

Instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik pendidikan dasar menjadi sangat penting untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran moral siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama didapatkan sesuai dengan metodologi penelitian research and development. Analisis data secara deskriptif kualitatif menggunakan teknik delphi dan validitas Aikend’s. Analisis data secara kuantitatif menggunakan program SPSS 15.0 for windows. Hasil penelitian ini adalah instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian diri sendiri memiliki nilai KMO sebesar 0, 805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,939. Instrumen penilaian oleh guru pendidikan agama Buddha memiliki nilai KMO sebesar 0,805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,933. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama terdiri dari 8 indikator, yaitu (1) sīla di rumah, (2) sīla di sekolah, (3) sīla dalam pergaulan, (4) sīla di tempat ibadah, (5) menjalankan 5 sīla, (6) batin siswa, (7) menjalankan 5 dharma dan (8) sikap siswa. Instumen penelitian yang telah dikembangkan dapat digunakan secara praktis oleh guru untuk menilai moralitas siswa.
Pengembangan Instrumen Penilaian Moralitas (Sila) Peserta Didik Pendidikan Dasar Manggala Wiriya Tantra
Jurnal Basicedu Vol 7, No 1 (2023): February
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4633

Abstract

Instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik pendidikan dasar menjadi sangat penting untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran moral siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama didapatkan sesuai dengan metodologi penelitian research and development. Analisis data secara deskriptif kualitatif menggunakan teknik delphi dan validitas Aikend’s. Analisis data secara kuantitatif menggunakan program SPSS 15.0 for windows. Hasil penelitian ini adalah instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian diri sendiri memiliki nilai KMO sebesar 0, 805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,939. Instrumen penilaian oleh guru pendidikan agama Buddha memiliki nilai KMO sebesar 0,805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,933. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama terdiri dari 8 indikator, yaitu (1) sīla di rumah, (2) sīla di sekolah, (3) sīla dalam pergaulan, (4) sīla di tempat ibadah, (5) menjalankan 5 sīla, (6) batin siswa, (7) menjalankan 5 dharma dan (8) sikap siswa. Instumen penelitian yang telah dikembangkan dapat digunakan secara praktis oleh guru untuk menilai moralitas siswa.
Pengembangan Instrumen Penilaian Moralitas (Sila) Peserta Didik Sekolah Menengah Pertama Dengan Metode R&D Borg and Gall Manggala Wiriya Tantra
FOUNDASIA Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v13i2.57501

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen penilaian moralitas (sila)peserta didik sekolah menengah pertama. Proses pengembangan terdiri atas pleriminary study, main field test, dan operational field test.Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama didapatkan sesuai dengan metodologi penelitian research and development. Analisis data secara deskriptif kualitatif menggunakan teknik delphi dan validitas Aikend’s. Analisis data secara kuantitatif menggunakan program SPSS 15.0 for windows. Hasil penelitian ini adalah instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian diri sendiri memiliki nilai KMO sebesar 0, 805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,939. Instrumen penilaian oleh guru pendidikan agama Buddha memiliki nilai KMO sebesar 0,805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,933.Instrumen instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama terdiri dari 8 indikator, yaitu(1) sīla di rumah, (2) sīla di sekolah, (3) sīla dalam pergaulan, (4) sīla di tempat ibadah, (5) menjalankan 5 sīla, (6) batin siswa, (7) menjalankan 5 dharma dan (8) sikap siswa.
Pengembangan Instrumen Penilaian Moralitas (Sila) Peserta Didik Pendidikan Dasar Tantra, Manggala Wiriya
Jurnal Basicedu Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v7i1.4633

Abstract

Instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik pendidikan dasar menjadi sangat penting untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran moral siswa secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan instrumen penilaian moralitas (sila) peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama didapatkan sesuai dengan metodologi penelitian research and development. Analisis data secara deskriptif kualitatif menggunakan teknik delphi dan validitas Aikend’s. Analisis data secara kuantitatif menggunakan program SPSS 15.0 for windows. Hasil penelitian ini adalah instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama yang valid dan reliabel. Instrumen penilaian diri sendiri memiliki nilai KMO sebesar 0, 805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,939. Instrumen penilaian oleh guru pendidikan agama Buddha memiliki nilai KMO sebesar 0,805 dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,933. Instrumen penilaian sīla peserta didik sekolah menengah pertama terdiri dari 8 indikator, yaitu (1) sīla di rumah, (2) sīla di sekolah, (3) sīla dalam pergaulan, (4) sīla di tempat ibadah, (5) menjalankan 5 sīla, (6) batin siswa, (7) menjalankan 5 dharma dan (8) sikap siswa. Instumen penelitian yang telah dikembangkan dapat digunakan secara praktis oleh guru untuk menilai moralitas siswa.
Apakah Masuk Akal untuk Berdoa: Kajian Filsafat Agama Manggala Wiriya Tantra; Dida Wanti
Nian Tana Sikka : Jurnal ilmiah Mahasiswa Vol. 2 No. 5 (2024): Nian Tana Sikka : Jurnal ilmiah Mahasiswa
Publisher : Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59603/niantanasikka.v2i5.530

Abstract

Human anxiety about life leads to a prayer ritual for religious people. Praying is considered an effective way to realize dreams, but there is also an assumption that it is unreasonable. The purpose of this study is to present a perspective on prayer. The research methodology uses literature studies to support the achievement of research objectives. The results of the study are that prayer is not a shortcut to solving problems that require mastery of all relevant facts. Someone who prays only with the aim of using God to solve their own problems, means violating the basic principles of all social and moral relationships. Prayer has a great influence on humans psychologically, such as being able to calm, soothe and convince themselves of the life choices that have been decided to be lived. The essence of prayer is an extension of togetherness and community concern.
Kajian Nilai Sosio Religius Pada Upacara Pattidāna Masyarakat Buddha Tantra, Manggala Wiriya; Maharani, Septiana Dwiputri
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 7 No 1 (2024): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The death commemoration ceremony or pattidāna in Buddhism is a ceremony that has been carried out for generations by Buddhists, it is very interesting to research so that it can reveal its socio-religious values. The qualitative approach used in this research is phenomenology, considering that this research examines religious phenomena descriptively. There are two sources of data in this research, namely primary data sources obtained through interviews with the Buddhist community in Selorejo Village, Ngunut District, Tulungagung Regency. The results of this research reveal that the Pattidāna ceremony contains several socio religious values, including social values, religious moderation values and spiritual values. Social values are reflected in joint efforts in preparing food, drinks and various types of offerings voluntarily. The value of religious moderation can be seen in the neighbors and relatives who come to help with the pattidānaprayer process, not only Buddhists, but also from various religions including Islam, Christianity and Catholicism. Spiritual values appear during the preparation, implementation and after completion of the pattidāna ceremony, giving rise to a strong belief that the power of the good deeds that have been carried out provide happiness in itself which is actually part of spiritual maturity.