Claim Missing Document
Check
Articles

PENETAPAN KADAR NIPAGIN (METHYL PARABEN) PADA SEDIAAN PELEMBAB WAJAH SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DANSPEKTROFOTOMETRI UV Nofita Nofita; Ade Maria Ulfa
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.269 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1158

Abstract

Pelembab wajah merupakan salah satu bentuk perawatan yang biasanya digunakan untuk mencegah kekeringan, melembabkan kulit, menutrisi kulit wajah dan mencegah kerusakan kulit akibat faktor-faktor eksternal. Didalam sediaan kosmetik biasanya ditambahkan pengawet yang dapat memperpanjang masa penyimpanan kosmetik selama mungkin contoh pengawet yang sering digunakan salah satunya nipagin. Penggunaan pengawet nipagin dalam sediaan kosemetik sangat penting untuk mengawetkan dan menahan laju pertumbuhan bakteri dan jamur. Berdasarkan peraturan BPOM RI No. HK.03.1.23.08.11.07517 kadar nipagin yang diperbolehkan yaitu tidak lebih dari 0,4% karena jika melebihi batas kadar yang telah ditetapkan dapat menyebabkan reaksi seperti iritasi dan alergi. Sampel diambil di jalan Kartini Lorong King, Bandar Lampung. Identifikasi sampel dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis dan penetapan kadar dilakukan dengan Spektrofotometri Ultraviolet. KLT merupakan suatu metode yang digunakan untuk identifikasi atau memisahkan suatu senyawa sehingga menjadi senyawa murni sedangkan Spektrofotometri Ultraviolet merupakan pengukuran cahaya oleh suatu sistem pada panjang gelombang tertentu. Dari hasil penelitian pada metode KLT semua sampel menunjukkan hasil positif mengandung nipagin sedangkan pada penentuan panajang gelombang dengan menggunakan Spektrofotometri Ultraviolet didapatkan kadar rata-rata tiap sampel yaitu sampel A 0,04% sampel B 0,02%, sampel C 0,03 % hal ini menujukkan sampel pelembab wajah sesuai  dengan peraturan yang telah ditetapkan BPOM RI No. HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 yaitu tidak lebih dari 0,4%. Kata Kunci : Pelembab Wajah, Pengawet, KLT, Spektrofotometri Ultraviolet 
UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI AUSTRALIA (Psidium guajava L) DENGAN METODE BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) Nofita Nofita; Ade Maria Ulfa; Miera Delima
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Vol. 9 No. 1 (2020): JFL: Jurnal Farmasi Lampung
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jfl.v9i1.326

Abstract

ABSTRACTGuava is one of the plants that can traditionally be used for the treatment of diseases. Many kinds of guava, one of which is the Australian guava has the characteristics of roots, stems, leaves, dark red fruit. This study aims to determine the toxicity of the ethanol extract of Australian guava leaves (Psidium guajava L) using the BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) method and determine the chemical content of Australian guava leaves (Psidium guajava L). The extract was made by the ultrasonic method using 96% ethanol solvent. Toxicity tests were carried out using 48-hour-old Artemia salina Leach shrimp larvae. The toxic effect of the extract was identified by the percentage of shrimp larvae mortality using probit analysis (LC50). From the research results, phytochemical content includes tannins, flavonoids, alkaloids, terpenoids and saponins, and flavonoid compounds have the highest content compared to the others. Research shows that the ethanol extract of Australian guava leaves is of a moderate category (LC50 441,977 ppm).Keywords :Australia guava leaves, BSLT, Artemia salina L, Ultrasonic
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI (SWAMEDIKASI) YANG RASIONAL OLEH PENGUNJUNG APOTEK “X” KOTA BANDAR LAMPUNG, TAHUN 2012 Ade Maria Ulfa; Zaenal Abidin
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 3, No 2 (2014): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v3i2.393

Abstract

Pengobatan sendiri adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk mengatasikeluhan dan penyakit ringan tanpa intervensi dokter. Presentase pengobatan sendiri diIndonesia pada tahun 2010 sebesar 68,71% dan di Provinsi Lampung sebesar 72,97%.Pengobatan sendiri dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medicationerror) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya.Dalam hal ini informasi yang tepat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga dapat terhindardari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drugmisuse).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuandengan perilaku pengobatan sendiri yang rasional oleh pengunjung Apotek “X” KotaBandar Lampung, Tahun 2012.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatifdengan pendekatan crosssectional. Jumlah responden sebanyak 169 dipilih secara systematic randomsampling.Data diperoleh dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner. Analisisdata menggunakan Uji Chi square, dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil uji statistik menunjukkan adahubungan pengetahuan (p value = 0,000),keyakinan pengobatan (p value = 0,023) dengan perilaku pengobatan sendiri yangrasional. Saran, hendaknya pelayanan informasi obat di apotek diberikan langsung olehapoteker (komunikasi interpersonal) dan tersedianya brosur dan leaflet obat bebasdengan bahasa yang sederhana dan informatif..Kata Kunci : Swamedikasi, pengetahuan
ANALISIS SENYAWA FENOLIK PADA EKSTRAK SEGAR DAUN SIRIH MERAH(Piper crocatum Ruiz & Pav) Ade Maria Ulfa; Annisa Primadiamanti; Hersa Novitasari
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 3, No 2 (2017): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v3i2.604

Abstract

Masyarakat Indonesia sejak dulu telah mengenal tanaman yang mempunyai khasiat obat.Salah satu tanaman yang memiliki khasiat obat adalah sirih merah Piper crocatum Ruiz & Pav.Sirih merah memiliki berbagai kandungan diantaranya alkaloid, flavanoid, tanin dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa fenolik dari ekstrak metanol daun sirih merah Piper crocatum Ruiz & Pav segar. Analisis ekstrak metanol daun sirih merah Piper crocatum Ruiz & Pav segar dilakukan secara kuantitatif, untuk mengetahui kadar senyawa fenolik dilakukan dengan metode Folin Cioceltau. Prinsip dari metode ini adalah terbentuknya senyawa komplek berwarna biru dari fosfomolibdat-fosfotungstat yang direduksi senyawa fenolik dalam suasana basa yang dapat diukur dengan spektrofotometri UV-Vis. Sebagai pembanding digunakan asam galat yang merupakan turunan dari asam hidroksibenzoat yang tergolong asam fenol sederhana serta merupakan senyawa polifenol yang terdapat di hampir semua tanaman yang bersifat stabil dan murni. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak segar daun sirih merah Piper crocatum Ruiz & Pav mempunyai kadar senyawa fenolik berturut-turut sebesar 171,00 ppm dan 172,07 ppm yang diukur pada panjang gelombang 785 nm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol daun sirih merah Piper crocatum Ruiz & Pav segar memiliki kadar senyawa fenolik sebesar 171,53 ppm. Kata kunci :Daun Sirih Merah, Senyawa Fenolik, Spektrofotometri UV-Vis
ANALISA ASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT DALAM OBAT PANU SEDIAAN CAIR Ade Maria Ulfa; Nofita Nofita
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v2i2.571

Abstract

Penyakit panu merupakan penyakit kulit yang banyak diderita oleh masyarakat di daerah tropis, salah satunya adalah Indonesia. Oleh karena itu diperlukan obat anti jamur yang mengandung zat-zat aktif tertentu yaitu kombinasi asam benzoat sebagai zat anti jamur dengan asam salisilat sebagai zat keratolitik. Telah dilakukan penelitian penetapan kadar asam benzoat dan asam salisilat pada obat panu sediaan cair yang beredar di toko obat di Pasar Tengah Bandar Lampung secara Alkalimetri dan Spektrofotometri UV-Visible dengan tujuan untuk mengetahui kadar asam benzoat dan asam salisilat seperti yang tertera pada etiket yaitu 4% (asam benzoat) dan 4-10% (asam salisilat). Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah dua sampel dengan kriteria sampel yaitu obat panu sediaan cair yang mencantumkan asam benzoat dan asam salisilat pada komposisi. Kesimpulan dari hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar asam benzoat pada sampel A yaitu 4,312% dan sampel B yaitu 4,422%. Hal itu menunjukkan bahwa kadar asam benzoat untuk sampel A dan B memenuhi kadar yang sesuai dengan kadar etiket yaitu 4%.  Untuk kadar asam salisilat pada sampel A yaitu 4,689% dan sampel B yaitu 4,651%. Hal itu menunjukkan bahwa kadar asam salisilat pada sampel A memenuhi kadar etiket yaitu 4% dan sampel B tidak memenuhi kadar yang sesuai dengan etiket yaitu 10%. Kata kunci :     Asam benzoat, asam salisilat, obat panu, alkalimetri, spektrofotometri Ultraviolet-Visible
ANALISA KADAR TABLET ANTASIDA DI BEBERAPA APOTEK KOTA BANDAR LAMPUNG SECARA ALKALIMETRI Ade Maria Ulfa
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v2i1.562

Abstract

Titrimetri merupakan suatu analisa kuantitatif yang berkaitan dengan pengukuran volume suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui, yang diperlukan untuk bereaksi dengan zat yang akan ditetapkan. Alkalimetri adalah metode yang digunakan untuk menetapkan kadar senyawa asam yang direaksikan dengan larutan baku bersifat basa. Antasida merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan lambung akibat dari produksi asam lambung yang berlebih. Kandungan zat aktifnya adalah campuran dari magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida yang merupakan basa lemah sehingga bereaksi dengan asam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar tablet antasida di beberapa Apotek di Kota Bandar Lampung dengan melihat batas kadaluarsa memenuhi persyaratan USP30_NF25 yaitu antara 90,0%-110% dari jumlah yang tertera pada etiket. Metode yang digunakan alkalimetri dengan teknik titrasi kembali yaitu sampel ditambahkan asam secara berlebih supaya bereaksi dengan antasida dan kelebihan asam dititrasi menggunakan natrium hidroksida dengan larutan fenolftalein sebagai indikator. Penelitian ini hanya dibatasi pada tablet antasida generik yang dikemas dalam botol isi 1000 tablet dan didapatkan sampel sebanyak 15. Dari hasil diperoleh semua sampel 100%  memenuhi syarat  The United  States Pharmacopeia (USP) 2007 yaitu dengan kadar 90,0%-110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Kata Kunci :   Antasida, alkalimetri
PERBANDINGAN KADAR AMPISILIN DALAM SEDIAAN TABLET DENGAN NAMA GENERIK DAN NAMA DAGANG SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Nofita Nofita; Ade Maria Ulfa
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v2i2.573

Abstract

Anggapan masyarakat yang cenderung menilai bahwa obat yang berkhasiat adalah obat yang mempunyai harga mahal, persepsi yang salah tersebut menyebabakan obat generik dinilai tidak bermutu maka, dalam penelitian ini, dilakukan penetapan kadar ampisilin dalam sediaan tablet generik dan nama dagang, dan membandingkan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara ampisilin generik dan nama dagang. Ampisilin adalah salah satu antibiotik yang digunakan untuk pengobatan infeksi pada saluran pernapasan, saluran cerna, dan saluran kemih. Agar dapat memberikan efek terapi yang diinginkan kadar ampisilin harus memenuhi persyaratan kadar yang telah ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 120,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. Sampel yang digunakan tablet ampisilin generik (A1) dan tablet nama dagang (B1). Penetapan kadar tablet ampisilin dilakukan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) menggunakan fase gerak campuran air : asetonitril : KH2PO4 : asam asetat dengan perbandingan 909:80:10:1 laju alir 1,0 ml/menit menggunakan kolom C18 dan detektor 254 nm. Berdasarkan hasil uji linearitas dari kurva kalibrasi diperoleh koefisien    korelasi   0,9954  dengan  persamaan  regresi  Y= 277,1707 X –   2238,44 Hasil kadar yang didapat dari tablet ampisilin generik dan nama dagang masing-masing adalah 107,7431% dan 107,6156%. Kadar ampisilin yang diperoleh melalui penetapan kadar kemudian diuji signifikannya dengan menggunakan statistik, yaitu uji t. Dari uji t diperoleh tpercobaan< ttabel yaitu 0,04090<2,920 maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga tidak terdapat perbedaan kadar secara signifikan antara tablet ampisilin generik dengan ampisilin nama dagang. Kata kunci : Ampisilin, Generik, Nama Dagang, KCKT
IDENTIFIKASI HIDROKUINON DALAM SABUN PEMBERSIH WAJAH YANG BEREDAR DI TOKO ONLINE (ONLINE SHOP) SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Annisa Primadiamanti; Ade Maria Ulfa; Putri Anggraini
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 2 (2018): Volume 3 Nomor 2
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.624 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i2.2782

Abstract

Kosmetik termasuk sediaan farmasi yang digunakan untuk mempercantikwajah.Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari berbagai macamsenyawa kimia misalnya hidrokuinon.Penggunaan hidrokuinon menurut peraturanBPOM termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resepdokter, hidrokuinon dilarang digunakan tanpa resep dokter karena memiliki efeksamping berbahaya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapathidrokuinon pada sabun pembersih wajah yang beredar melalui Toko Online (Onlineshop).Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 12 merk sabun pembersihwajah yang beredar melalui toko online (online shop).Teknik pengambilan sampeldilakukan secara populative sampling.Zat hidrokuinon ini diidentifikasi denganmenggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis.Prinsip Kromatografi Lapis Tipis yaitupemisahan senyawa multi komponen dengan menggunakan dua fase yaitu fase diamdan fase gerak.Fase diam yang digunakan yaitu Silika Gel GF 254 nm dan fase gerakyang digunakan yaitu toluen dan asam asetat glasial (8:2). Diperoleh hasil dari 12sampel didapat 6 sampel teridentifikasi mengandung zat hidrokuinon dengan warnabercak ungu untuk sampel, baku pembanding dan sampel ditambah baku sertadiperoleh hasil harga Rf untuk masing-masing sampel yaitu sampel E = 0,05, F =0,05, G = 0,03, H= 0,05,J] = 0,03,L = 0,01.
VALIDASI METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT) PADA PEMISAHAN AMBROKSOL HCL DALAM SEDIAAN OBAT SIRUP MEREK X Ade Maria Ulfa; Diah Astika Winahyu; Resmawati Resmawati
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.842 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1163

Abstract

Ambroksol HCl merupakan metabolit aktif dari bromheksin. Zat ini banyak ditemukan pada obat batuk ekspektoran sebagai agen mukolitik yang berfungsi menurunkan viskositas mucus. Validasi metode menurut United States Pharmacopeia (USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Parameter yang digunakan pada validasi metode kali ini yaitu linearitas, selektivitas,  akurasi, dan presisi. Kondisi KCKT yang digunakan adalah fase terbalik dengan kolom ODS (C18) dengan panjang gelombang 310 nm dan fase gerak metanol:bufer fosfat (8:2 v/v), laju alir 1,0 mL/min dengan volume penyuntikan 4µg/mL. Pada validasi metode ambroksol HCl memperlihatkan nilai lineritas yang baik  r = 0,996,  selektivitas larutan standar 6,542 dan sampel 7,044 tidak memenuhi persyaratan karena rentang perbedaan waktu retensi lebih dari ±5%, presisi yang didapat 1,69 (%RSD)  memenuhi persyaratan yaitu ±2%, sedangkan pada uji akurasi kadar yang didapat yaitu 75-79 % tidak memenuhi  persyaratan yaitu 97-103%. Jika salah satu dari parameter tersebut tidak memenuhi persyaratan maka diperlukan validasi ulang, terjadinya kesalahan pada saat validasi bisa disebabkan karena kondisi perubahan sintesis bahan aktif obat, perubahan komposisi obat dan perubahan prosedur analisis, kemungkinan lain juga bisa dikarenakan variasi fase gerak yang berbeda. Jika tidak dilakukan validasi ulang maka validasi metode tidak bisa digunakan untuk penetapan kadar. Kata kunci: HPLC, ambroxsol HCl sediaan sirup, validasi metode
ANALISA KADAR NIKOTIN PADA TEMBAKAU DENGAN PERLAKUAN DALAM BENTUK ROKOK LINTINGAN DAN ROKOK KRETEK DI PASAR MANDALA, LAMPUNG TENGAH MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Ade Maria Ulfa; Diah Astika Winahyu; Desti Galuh Anggraini
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.38 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1154

Abstract

Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Indonesia. Kegunaan utama tembakau adalah sebagai bahan baku pembuatan rokok sigaret kretek, rokok filter, rokok lintingan dan biasa juga digunakan sebagai tembakau susur. Nikotin zat kimia yang terkandung dalam rokok, nikotin bersifat adiktif (kecanduan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar nikotin pada tembakau dengan perlakuan rokok lintingan dan rokok kretek yang beredar di wilayah Pasar Mandala, Lampung Tengah apakah kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi persyaratan Peraturan Pemerintah No. 81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Sampel yang digunakan adalah sampel tembakau dengan perlakuan dalam bentuk rokok lintingan dan rokok kretek pada pedagang yang berbeda. Analisis kuantitatif nikotin ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Dari hasil penelitian dengan panjang gelombang (λ) 261 nm dengan persamaan y= b.X+a sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) 0,9996. Hasil penelitian menunjukkan kadar rata-rata nikotin dalam ekstrak tembakau matahari sebesar 0,74 mg/batang, sampel rokok kretek sebesar 0,80 mg/batang. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel tersebut diperoleh hasil kadar nikotin yang diizinkan dalam sebatang rokok memenuhi syarat Peraturan Pemerintah No.81 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan yaitu 1,5 mg/batang. Kata Kunci:Nikotin, tembakau, spektrofotometri UV-Vis.