Claim Missing Document
Check
Articles

PENETAPAN KADAR LEMAK MARGARIN MERK X DENGAN KEMASAN DAN TANPA KEMASAN DENGAN METODE SOKLETASI Ade Maria Ulfa; Diah Astika Winahyu; Mia Jasuma
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.592 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v2i4.2144

Abstract

ABSTRAKMargarin adalah emulsi air dalam minyak dengan persyaratan mengandung tidak kurang dari 80% lemak. Lemak yang digunakan berasal dari lemak nabati seperti minyak kelapa, minyak kelapa sawit, minyak kedelai, dan minyak biji kapas. Komposisi margarin pada umumnya terdiri dari komponen-komponen yaitu lemak 80-81%, skim milk 14-16%, garam 3%, emulsifier 0,5%, dan vitamin 2,5%. Kebutuhan lemak tidak dinyatakan secara mutlak, World Health Organization (WHO) menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 20-30% kebutuhan energi total dianggap baik untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahi berapa banyak perbedaan kadar lemak yang ada pada margarin tanpa kemasan dan margarin kemasan yang fungsinya untuk mencukupi kebutuhan gizi tubuh. Penetapan kadar lemak dilakukan dengan menggunakan metode sokletasi dengan menggunakan pelarut petroleum eter. Hasil penelitian menunjukkan kadar lemak dalam margarin tanpa kemasan yaitu 82,74 % sedangkan kadar lemak dalam margarin kemasan yaitu 80,88 %, pada rata-rata kadar lemak margarin merk x dengan kemasan dan tanpa kemasan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu minimal 80% untuk kadar lemaknya.Kata kunci : Margarin Kemasan, Margarin Tanpa Kemasan, Lemak, Sokletasi.
UJI DAYA HAMBAT ANTI BAKTERI INFUSA DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatuni Ruiz & Pay) & DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI Agustina Retnaningsih; Ade Maria Ulfa; Dewi Maysaroh Komsatun
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.013 KB) | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2780

Abstract

Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan di masyrakat. Bakteri yang menyebabkan ineksi adalah Staphylococcus aureus, salah satu obat tradisional untuk pengobatan infeksi adalah menggunakan infusa daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Puv) dan daun sirih hijau(Piper betle L). Tanaman sirih hijau (Piper betle L) dan tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Puv) adalah tanaman obat yang telah banyak dimanfaatkan dan sama-sama memiliki kandungan zat kimia yang berfungsi sebagai antiseptik berupa kovikol, tanin, minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infusa daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Puv) dan daun sirih hijau (Piper betle L) memiliki zat antiseptik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi pada kulit. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar dengan farian konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100% dan dilakukan 2 kali pengulangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa infusa daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Puv) dan daun sirih hijau (Piper betle L) membentuk zona hambatan di sekitar kertas cakram. Daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Puv) memberikan zona hambatan tertinggi pada konsentrasi 100% dengan nilai rata-rata 18,2 mm sedangkan daun sirih hijau (Piper betle L) hambatan tertingginaya pada konsentrasi 100% dengan nilai rata-rata 28,6 mm. Kata kunci : Infusa Daun Sirih Merah dan Daun Sirih Hijau, Staphylococcus aureus, Difusi.
PENETAPAN KADAR RESIDU PESTISIDA DIAZINON PADA ANGGUR MERAH (Vitis Vinifera) DI PASAR BAMBU KUNING DENGAN VARIASI PENCUCIAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Ade Maria Ulfa; Gusti Ayu Rai Saputri; Wayan Sri Intan Sari
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 1 (2018): Volume 3 Nomor 1
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v3i1.2776

Abstract

Buah anggur dapat tumbuh balk di daerah subtropis, tanaman anggur dapat tumbuh balk di daerah dataran rendah dengan musim kemarau berkisar 4-7 bulan Karena kulit buah anggur yang tipis dan masa tumbuh buah anggur yang cukup lama tanaman ini rentan terserang hama sehingga dilakukan penyemprotan pestisida. Pestisida adalah substansi (zat) kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah apakah anggur yang dijual dipasar Bambu Kuning Bandar Lampung mengandung residu pestisida diazinon dan berapa kadar pestisida diazion pada buah anggur jika dilakukan dengan variasi pencucian menggunakan alat Spektrofotometri UV-Vis merk Spektrofotometri UV-1700 Series. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh penurunan residu pestisida diazinon dalam variasi pencucian. Sampel anggur tanpa perlakuan didapatkan residu pestisida sebesar 4,999 mg/kg. pada sampel anggur merah dengan LB pada pengulangan 1 dan 2 terbukti lebih besar menurunkan residu pestisida diazinon menjadi 3,1755 mg/kg, dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 2,9588 mg/kg, untuk sampel anggur merah dengan AH pada pengulangan 1 dan 2 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,4198 mg/kg, dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,3331 mg/kg, untuk sampel anggur merah dengan AB pada pngulangan 1 dan 2 didapatkan penurunan residu pestisida menjadi 3,475 mg/kg dan pada pengulangan 3 dan 4 didapatkan penurunan residu pestisida diazinon menjadi 3,8769 mg/kg. Berdasarkan hasil yang didapat oleh peneliti, kadar yang terdapat dalam sampel anggur menunjukkan penurunan kadar residu pestisida dengan beberapa variasi pencucian. Kata kunci : Diazionon, Anggur Merah, Spektrofotometri UV-Vis.
PERBANDINGAN KADAR KAFEIN DALAM SEDUHAN KOPI BUBUK DAN TEH BUBUK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV Ade Maria Ulfa; Nofita N
Jurnal Analis Farmasi Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v3i3.2810

Abstract

Minuman adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi setiaphari. Salah satu minuman yang terdapat di Indonesia adalah minuman xantin. Kopi,teh coklat, dan minuman kola merupakan minuman xantin yang paling popular.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kadar kafein pada kopi bubuk dan teh bubuk,mengetahui perbedaan kadar yang terdapat dalam kopi bubuk dan teh bubuk.Penetapan kadar kafein dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV, metode ini dipilih karena kafein mempunyai gugus kromofor dan auksokrom Larutan standar kafein dengan 5 variasi konsentrasi 3 ppm, 6 ppm, 9 ppm, 12 ppm, 15 ppm.Persamaan kurva kalibrasi dari kafein adalah y = 0,043x + 0,03 dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9993. Kadar rata-rata kafein dalam kopi bubuk yaitu 18,023 mg/gram, sedangkan dalam teh bubuk yaitu 16,18 mg/gram. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar yang signifikan dalam kopi bubuk dan teh bubuk.Kata kunci : kafein, kopi bubuk, teh bubuk, spektrofotometri UV.
PENETAPAN KADAR NIPAGIN (METHYL PARABEN) PADA SEDIAAN PELEMBAB WAJAH SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DANSPEKTROFOTOMETRI UV Nofita Nofita; Ade Maria Ulfa
Jurnal Analis Farmasi Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3
Publisher : Program Studi Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v2i3.1158

Abstract

Pelembab wajah merupakan salah satu bentuk perawatan yang biasanya digunakan untuk mencegah kekeringan, melembabkan kulit, menutrisi kulit wajah dan mencegah kerusakan kulit akibat faktor-faktor eksternal. Didalam sediaan kosmetik biasanya ditambahkan pengawet yang dapat memperpanjang masa penyimpanan kosmetik selama mungkin contoh pengawet yang sering digunakan salah satunya nipagin. Penggunaan pengawet nipagin dalam sediaan kosemetik sangat penting untuk mengawetkan dan menahan laju pertumbuhan bakteri dan jamur. Berdasarkan peraturan BPOM RI No. HK.03.1.23.08.11.07517 kadar nipagin yang diperbolehkan yaitu tidak lebih dari 0,4% karena jika melebihi batas kadar yang telah ditetapkan dapat menyebabkan reaksi seperti iritasi dan alergi. Sampel diambil di jalan Kartini Lorong King, Bandar Lampung. Identifikasi sampel dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis dan penetapan kadar dilakukan dengan Spektrofotometri Ultraviolet. KLT merupakan suatu metode yang digunakan untuk identifikasi atau memisahkan suatu senyawa sehingga menjadi senyawa murni sedangkan Spektrofotometri Ultraviolet merupakan pengukuran cahaya oleh suatu sistem pada panjang gelombang tertentu. Dari hasil penelitian pada metode KLT semua sampel menunjukkan hasil positif mengandung nipagin sedangkan pada penentuan panajang gelombang dengan menggunakan Spektrofotometri Ultraviolet didapatkan kadar rata-rata tiap sampel yaitu sampel A 0,04% sampel B 0,02%, sampel C 0,03 % hal ini menujukkan sampel pelembab wajah sesuai  dengan peraturan yang telah ditetapkan BPOM RI No. HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 yaitu tidak lebih dari 0,4%. Kata Kunci : Pelembab Wajah, Pengawet, KLT, Spektrofotometri Ultraviolet 
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Jantung Pisang Kepok (Musa x Paradisiaca L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Laila Novia Safitri; Ade Maria Ulfa; Selvi Marcellia
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 6 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7781846

Abstract

Gastrointestinal infection is an infection caused by several bacteria, including Staphylococcus aureus. The heart of Kepok Banana (Musa x paradisiaca L.) contains dietary fiber which can be used for human health, especially digestion. This study aims to determine the extract of the kepok banana flower contains antibacterial properties against Staphylococcus aureus bacteria using the ultrasonic method. Ultrasonic method, this method is an extraction method without heating, the extraction results obtained by the ultrasonic method were 17.58%, the results of the phytochemical screening of the kepok banana flower extract found the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and phenolics. The results showed that kepok banana flower extract had an inhibitory effect on the growth of Staphylococcus aureus bacteria with a diameter of 1.90 mm at a concentration of 24% which was included in the weak category. Antibacterial test results were analyzed using ANOVA. The results of the statistical analysis showed that there were significant differences in the inhibition zones, namely 0.000 (sig <0.005) between all concentrations. From this study it can be concluded that kepok banana flower extract (Musa x paradisiaca L.) has an inhibitory effect on Staphylococcus aureus bacteria in the weak category at all concentrations
PENGARUH PEMBERIAN INFUSA DAUN KELOR TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DALAM DARAH PADA MANUSIA YANG DIINDUKSI DENGAN LARUTAN DEXTROSE 40% Diana Ibrahim; Ade Maria Ulfa; Martianus Perangin Angin
Jurnal Farmasi Malahayati Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v6i2.7285

Abstract

Daun kelor mengadung antioksidan seperti flavonoid, vitamin A, vitamin E, vitamin C dan juga mengandung selenium yang membantu menurunkan kadar glukosa darah. Kandungan senyawa flavonoid dalam bentuk terpenoid dalam daun kelor sangat efektif dan lebih aman dalam penurunan kadar gula darah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata kadar gula dalam darah pada manusia sebelum dan sesudah diberikan infusa daun kelor Terhadap Penurunan Kadar Gula Dalam Darah Pada Manusia Yang Diinduksi Dengan Larutan Dextrose 40%. Jenis penelitian kuantitatif, rancangan penelitian Experiment dengan cara membandingkan antara kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan paparannya. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang ada Di Wilayah Kerja Puskesmas Non Rawat Inap Gilang Tunggal Makarta Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat yang berjumlah 9 orang dan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini  menggunakan purposive sampling. Berdasarkan hasil uji statistic diketahui Sebelum diberikan 100 ml infusa daun kelor, rata-rata gula darah responden adalah 122,67 dan sesudah diberikan menjadi 120,00 dengan nilai selisih 2,667. Sebelum diberikan 200 ml infusa daun kelor, rata-rata gula darah responden adalah 122,00 dan sesudah diberikan menjadi 118,67 dengan nilai selisih 3,33. Sebelum diberikan Larutan Dextrose 40%, rata-rata gula darah responden adalah 120,33 dan sesudah diberikan menjadi 122,00 dengan nilai selisih 1,667. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi kesehatan dan pengetahuan bagi responden tentang Pengaruh Pemberian Infusa Daun Kelor Terhadap Penurunan Kadar Gula Dalam Darah Pada Manusia Yang Diinduksi Dengan Larutan Dextrose 40%. Kata Kunci : Infusa Daun Kelor, Penurunan Kadar Gula Dalam Darah, Dextrose 40%
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi L.) Desf. Terhadap Bakteri Salmonella typhi dan Bacillus cereus Nabella, Visca; Dwi Susanti; Ade Maria Ulfa
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16 No 1 (2025): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v16i1.900

Abstract

Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) Desf. memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai antibakteri. Salmonella typhi dan Bacillus cereus merupakan bakteri penyebab penyakit diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) Desf. dan konsentrasi ekstrak etanol daun bidara yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dan Bacillus cereus. Metode maserasi dengan etanol 96% untuk ekstraksi dan difusi cakram untuk pengujian aktivitas antibakteri. Hasil uji aktivitas antibakteri diperoleh rata-rata diameter zona hambat Salmonella typhi pada masing-masing konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% yaitu 1,1 mm, 2,9 mm, 4,1 mm, 4,7 mm, 5,6 mm dan pada bakteri Bacillus cereus yaitu 1,4 mm, 2,3 mm, 4,7 mm, 5,5 mm dan 6,1 mm. Uji analisis statistik One Way ANOVA diperoleh nilai signifikasi P<0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.) Desf. memiliki aktivitas antibakteri dan konsentrasi paling baik dalam menghambat bakteri Salmonella typhi dan Bacillus cereus yaitu 100% dengan masing-masing diameter rata-rata zona hambat sebesar 5,6 mm dan 6,1 mm.