Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PEMBUATAN TAMAN TOGA (TANAMAN OBAT KELUARGA) DI PUSKESMAS BARANA KECAMATAN BANGKALA BARAT KABUPATEN JENEPONTO Muhammad Sahlan Zamaa; Sulaiman; Iqbal Maban RM; Afini Nugrah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jgs.v4i1.424

Abstract

Latar Belakang : Tanaman bisa hidup di mana saja, baik di lingkungan rumah, taman, tanah terbuka, kebun atau hutan. Berbagai pengobatan menggunakan bahan dasar tanaman telah dikenal sejak lama oleh masyarakat di Indonesia. Itulah sebabnya kita dengan mudah dapat menemukan berbagai tanaman obat di sekitar tempat pemukiman warga. Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan tumbuhan obat di sekitar pemukiman warga agar bisa digunakan kapan saja, terutama jika ada anggota keluarga yang sakit. Tujuan : Tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan TOGA Metode :Kegiatan ini terbagi atas dua, yaitu renovasi taman TOGA dan edukasi pemanfaatan TOGA. Renovasi taman toga dilakukan dengan menambah jenis tanaman TOGA dan memasang pagar pengaman. Edukasi dilakukan dengan metode penyuluhan, evaluasi dilakukan secara lisan serta dilakukan demonstrasi pengolahan TOGA menjadi obat siap minum. Hasil : Taman TOGA tampak lebih rapi dan indah setelah renovasi dan pemberian edukasi terbukti mampu meningkatkan motivasi dan pengetahuan masyarakat terkait pemanfaatan TOGA Simpulan : Pemanfaatan TOGA bisa menjadi solusi dalam mengatasi berbagai penyakit dengan gejala ringan. Petugas kesehatan dapat memberikan edukasi secara rutin agar pemanfaatan TOGA di masyarakat bisa meningkat.
EDUKASI TENTANG TEPUNG SELACI PUPUT (6 LANGKAH CUCI TANGAN YANG BENAR) SD INPRES KAMPUNG PARANG DI DESA PA’BENTENGANG KEC.EREMERASA KAB.BANTAENG Ilham Syam; Muhammad Sahlan Zamaa; Renaldi M; Sitti Nurhadijah; Awalia Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT) Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Gerakan Aksi Sehat (GESIT)
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jgs.v4i2.454

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan salah satu cara masyarakat untuk dapat menjaga kualitas kesehatannya. Kebaruan kegiatan pengabdian ini karena memberikan pelajaran tentang pentingnya mencuci tangan pakai sabun (CTPS). Program PHBS ini terdapat beberapa indicator yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan PHBS, salah satunya adalah cuci tangan pakai sabun (CTPS). Perilaku CTPS yang baik dapat mencegahan kejadian diare dan ISPA yang rentan dialami oleh anak-anak khususnya usia sekolah. Sehingga petingnya untuk mengajar anak sejak dini mengenai CTPS yang baik dan benar. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk melakukan penyuluhan tentang 6 langkah cuci tangan dan meningkatkan pengetahuan dengan pengisian kuesioer pre-test dan post-test untuk mengetahui pengetahuan anak sekolah dasar dengan dibantu mahasiswa dalam pengisian kuesioner mencuci tangan, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi dengan metode yang digunakan yaitu penyuluhan, power poin, media poster, kuesioner dan gerakan lagu 6 langkah cuci tangan yang benar lalu mempraktekkan cuci tangan dibantu oleh mahasiswa. Hasil dari ini Sebelum dilakukan penyuluhan pada anak sekolah dasar yang kurang mengetahui cara mencuci tangan yang benar sebanyak 27 siswa (46,7%) sedangkan sesudah dilakukan penyuluhan berkategori baik sebanyak 44 (89,4%) dari 47 responden. Penyuluhan dilakukan pada tanggal 29 mei 2024 di SD Inpres Kampung Parang kelas 4 dan 5.Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat meningkatkan pengetahuan sebanyak 21 (44,7%) tentang 6 langkah cuci tangan yang benar.
PENGARUH KOMBINASI LATIHAN RANGE OF MOTION ANKLE DORSOLFEKSI DAN FOOT MASSAGE TERHADAP NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Muhammad Sahlan Zamaa
Jurnal Mitrasehat Vol. 6 No. 1 (2016): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v6i1.166

Abstract

Diabetes melitus (DM) yang telah diderita selama bertahun-tahun dapat mengarah ke berbagai komplikasi, diantaranya yaitu terjadinya peripheral arterial disease (PAD). Salah satu indikator terjadinya PAD pada pasien DM tipe 2 yaitu adanya penurunan nilai ankle brachial index (ABI) pada ekstremitas bawah pasien. Jika hal ini terus dibiarkan, maka bisa terjadi neuropati yang dapat memicu munculnya ulkus kaki diabetik. Intervensi yang dapat diberikan untuk meningkatkan nilai ABI yaitu dengan melakukan foot massage atau latihan ROM ankle dorsofleksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian kombinasi foot massage dan latihan ROM ankle dorsofleksi terhadap nilai ABI pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan metode pre and post test without control yang terdiri dari 2 kelompok intervensi dengan besar sampel 20 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian kombinasi latihan ROM ankle dorsofleksi dan foot massage terhadap peningkatan nilai ABI (p value = 0,033 untuk ekstremitas kanan dan p value = 0,001 untuk ekstremitas kiri). Rekomendasi penelitian ini yaitu agar para perawat dapat memberikan intervensi kombinasi latihan ROM ankle dorsofleksi dan foot massage dalam rangka mencegah terjadinya PAD pada pasien DM tipe 2.
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN CHF YANG MENGALAMI REHOSPITALISASI DI RSUD KAREL SADSUITUBUN LANGGUR KABUPATEN MALUKU TENGGARA Andi Wahyuni; Muhammad Sahlan Zamaa; Nicky Hery HN
Jurnal Mitrasehat Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v11i1.275

Abstract

Introduction CHF adalah gangguan struktural maupun fungsional dari ejeksi darah atau pengisian ventrikel yang menghasilkan sindrom klinis yang kompleks. Akibat dari gangguan pada kardiovaskuler menyebabkan 17,5 juta orang di dunia meninggal (WHO 2016). Prevalensi CHF di Indonesia menurut Riskesdas (2016) sebesar 0,3% dari total jumlah penduduk di Indonesia. Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk diketahuinya gambaran kepatuhan minum obat pada pasien CHF yang mengalami rehospitalisasi di RSUD Karel Sadsuitubun Langgur Kabupaten Maluku Tenggara Objectives Tujuan dilakukan penelitian adalah untuk diketahuinya gambaran kepatuhan minum obat pada pasien CHF yang mengalami rehospitalisasi di RSUD Karel Sadsuitubun Langgur Kabupaten Maluku Tenggara Methods Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Deskriptif menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penlitian ini sebanyak 55 orang Result Responden yang tidak patuh minum obat tertinggi yaitu 31 dengan persentase sebanyak 86,1% sedangkan responden yang patuh minum obat terendah 5 dengan persentase sebanyak 13,9%. Conclusion Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah mayoritas pasien CHF yang mengalami rehospitalisasi memiliki tingkat kepatuhan minum obat yang rendah. Diharapkan kepada pasien CHF untuk mematuhi terapi obat yang telah ditentukan karena kepatuhan minum obat merupakan aspek penting dalam keberhasilan penatalaksanaan gagal jantung kongestif.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pasien Gagal Ginjal Kronik dalam Menjalani Terapi Hemodialisis di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar Renaldi M; Muh. Sahlan Zamaa; Nur Arifin
Jurnal Mitrasehat Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v12i2.338

Abstract

Salah satu penyakit ginjal yang paling mematikan adalah gagal ginjal. Meskipun penyakit ginjal tidak menular, itu berakibat fatal. Gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis adalah dua jenis gagal ginjal. Gagal ginjal kronis berkembang menjadi gagal ginjal terminal karena telah terjadi kerusakan ginjal yang persisten dan fungsi ginjal belum kembali seperti semula. Terapi penggantian ginjal adalah salah satu pilihan terbaik untuk individu dengan CKD. Di RSUP Dr. Tadjuddin Chalid Makassar didapatkan jumlah jumlah kunjungan pasien hemodialisis Tahun 2018 sebanyak 469, Tahun 2019 sebanyak 813 kunjungan, Tahun 2020 sebanyak 6060 dan Tahun 2021 sebanyak 7120 kunjungan. Dengan jumlah pasien yang rutin melakukan terapi Hemodialisis sebanyak 73 orang. Pada penelitian ini dikaji dukungan dan kepatuhan keluarga pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Tajuddin Chalid Makassar. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik yang menggunakan metodologi cross-sectional, ukuran sampel total 73 individu, dan populasi 73 individu. Berdasarkan temuan analisis Univariat, 61 responden (92,4%) mendapat dukungan keluarga dengan baik. Sedangkan pada variabel kepatuhan pasien menjalani terapi HD diperoleh data responden yang patuh sebanyak 59 responden (89,4%). Uji statistik Fisher's Exact Test digunakan untuk mengetahui hasil analisis data, dan hasilnya adalah p = 0,00 (p 0,05). Menurut temuan uji statistik, ada hubungan antara kepatuhan pasien dalam menerima terapi hemodialisis dengan dukungan keluarga. Disarankan agar keluarga tetap membantu keluarga yang menjalani terapi hemodialisis dengan mendampingi pasien selama menjalani hemodialisis berdasarkan temuan analisis penelitian ini.
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP VULVA HYGIENE PADA REMAJA DI PUSKESMAS KOTA TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH Muhammad Hatta; Sulaiman; Muh. Sahlan Zamaa; Kartika Widya Manakarra
Jurnal Mitrasehat Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v13i1.393

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih. Pada tahun 2022 penderita ISK berjumlah 80 kasus di puskesmas kota Tolitoli. ISK dapat menyebabkan gagal ginjal akut, bakteremia, sepsis, dan meningitis. Pencegahan infeksi saluran kemih untuk membebaskan saluran kemih dari mikroorganisme dan mencegah infeksi berulang sehingga dapat menurunkan angka kecacatan serta angka kematian. Komplikasi ISK jangka panjang adalah hipertensi, gagal ginjal, komplikasi pada masa kehamilan seperti preeclampsia. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap vulva hygiene pada remaja di Puskesmas Kota Tolitoli. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Sampel sebanyak 80 orang, dengan metode total sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Hasil: Penelitian yang dilakukan selama 1 bulan pada pasien remaja yang datang ke puskesmas kota managaisaki didapatkan 57 (71%) responden dengan pengetahuan baik tentang infeksi saluran kemih dan 23 (29%) responden kurang paham dengan ISK. pada pengetahuan Vulva Hygiene responden dengan pengetahuan baik berjumlah 55 (69%) responden dan 25 (31%) responden kurang paham. Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan 57 (71%) responden mengalami infeksi saluran kemih terdapat kebiasaan menahan buang air kecil, kebiasaan minum air putih pada saat infeksi saluran kemih. saran Untuk peneliti selanjutnya diharapkan, dapat melanjutkan penelitian untuk menilai gambaran lain yang berpengaruh terhadap kejadian infeksi saluran kemih.
HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN HANDPHONE PADA ANAK DENGAN GANGGUAN PENGLIHATAN MIOPIA DI JAKARTA EYE CENTER ORBITA MAKASSAR Muhammad Sahlan Zamaa; Basri; Renaldi M; Jufri; Lenni Agus
Jurnal Mitrasehat Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v13i1.395

Abstract

Latar belakang: Rabun jauh atau miopia merupakan kesalahan refraksi paling terkenal pada anak-anak di seluruh dunia. Rabun jauh atau Miopia merupakan salah satu pemicu berkurangnya penglihatan pada anak-anak dan dewasa berumur 8-12 tahun, antara usia 13-19 tahun. Penyesuaian miopia sebagian besar adalah dengan menggunakan kacamata atau lensa kontak, namun bukan itu jawaban untuk kasus ini, karena kacamata atau lensa kontak tidak dapat memperbaiki kerusakan mata namun hanya membantu menjelaskan penglihatan dengan mengarahkan cahaya sehingga dibiaskan tepat di retina. Di Indonesia prevalensinya mencapai 10% dari 66 juta anak Indonesia pada tahun 2015 dan meningkat pada tahun 2019 sebanyak 22,1%. Tujuan: Untuk mengetahui ada hubungan lama penggunaan handphone pada anak dengan gangguan penglihatan myopia. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan Analitik dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Purposive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 61 responden. Hasil: Penelitian menggunakan uji ststistik Pearson Chi Square menunjukkan nilai p = 0,051 (p >0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara lama penggunaan handphone dengan gangguan penglihatan Miopia. Kesimpulan: Dari penelitian ini yaitu tidak ada hubungan antara lama penggunaan handphone dengan gangguan penglihatan Miopia. Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan masukan bagi peneliti selanjutnya agar terus mengembangkan ide terbaru untuk penelitian selanjutnya.
HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA PERAWAT DI RUANGAN INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD K.H. HAYYUNG KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR Muh. Sahlan Zamaa; Chitra Dewi; Endang Kurniati; Renaldi M; Muhammad Syahrir
Jurnal Mitrasehat Vol. 13 No. 2 (2023): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v13i2.410

Abstract

Latar belakang: Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan. Banyaknya tugas yang tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik, keahlian, dan waktu yang tersedia berdampak pada kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang sehingga menimbulkan stres kerja. Beban kerja di IGD perlu diketahui agar dapat menentukan kebutuhan kuantitas dan kualitas tenaga perawat yang di perlukan pada ruangan IGD sehingga tidak terjadi beban kerja yang tidak sesuai yang akhirnya menyebabkan stres kerja. Tujuan: penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di ruangan Instalasi Gawat Darurat RSUD K.H. Hayyung Kabupaten Kepulauan Selayar. Metode: Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bertugas di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD K.H. Hayyung Kabupaten Kepulauan Selayar sebanyak 22 perawat. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 22 perawat. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan jawaban dari lembar kuesioner. Hasil: Hasil penelitian ini menggunakan uji fishers exact test menunjukkan nilai p-value 0,009 terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di ruangan Instalasi Gawat Darurat RSUD K.H. Hayyung Kabupaten Kepulauan Selayar. Kesimpulan: Simpulan dari penelitian ini adanya hubungan antara beban kerja dengan stres kerja perawat di ruangan Intalasi Gawat Darurat RSUD K.H. Hayyung Kabupaten Kepulauan Selayar. Hendaknya rumah sakit melakukan evaluasi bagi perawat maupun petugas rumah sakit lainnya untuk lebih dipertimbangkan mengenai beban kerja agar dapat meminimalisir stres kerja.
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA Muhammad Sahlan Zamaa; Esse Puji Pawenrusi; Renaldi M; Gunawan
Jurnal Mitrasehat Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v14i2.501

Abstract

Latar belakang: Gangguan pada saluran pencernaan merupakan salah satu gangguan yang sering dikeluhkan dan telah menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Satu dari sekian banyak gangguan pada saluran pencernaan yang sering terjadi yaitu dispepsia. Buruknya pola makan seperti tidak sarapan pagi menyebabkan asam lambung yang diproduksi mengikis lapisan lambung sehingga menimbulkan berbagai gejala dispepsia. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dengan kejadian dispepsia pada pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Jumlah populasi sebanyak 900 dimana teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu accidental sampling dengan besar sampel 90 responden. Hasil: analisis statistik dengan menggunakan uji chi square didapatkan nilai p 0,000 (p < 0,05), yang berarti ada hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kejadian dispepsia. Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan kejadian dispepsia pada pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa. Disarankan kepada penderita dispepsia agar lebih memperhatikan pola makannya, terutama merutinkan sarapan pagi setiap hari untuk menurunkan gejala dispepsia yang diderita.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI DESA MATTUNRENG TELLUE KABUPATEN SINJAI Chitra Dewi; Muhammad Sahlan Zamaa; Wulan Sari; Muhammad Syahrir; Hardianti
Jurnal Mitrasehat Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v15i1.514

Abstract

Latar belakang: Stres diketahui sebagai faktor penyebab gangguan siklus menstruasi pada wanita, dengan prevalensi menstruasi tidak teratur 13,1% secara global. Remaja putri yang berada dalam fase perubahan fisik dan psikologis sangat rentan mengalami stres, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri di Desa Mattunreng Tellue, Kabupaten Sinjai Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi 235 remaja putri berusia 15-19 tahun. Sampel sebanyak 115 responden dipilih secara systematic random sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Dari 115 responden, mayoritas 73,9% mengalami tingkat stres sedang, sementara 69,6% mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan siklus menstruasi (p-value=0,003), dimana remaja dengan tingkat stress lebih tinggi cenderung mengalami gangguan siklus menstruasi. Simpulan: Penelitian ini menegaskan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk menjaga kesehatan mental melalui pengolahan stres yang efektif dan dukungan sosial. Penelitian lanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi pengaruh variabel lain seperti status gizi dan aktivitas fisik terhadap siklus menstruasi.