Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Early Screening of Pregnant Who Risk of Gestational Diabetes as An Effort to Prevent Stunting Births in Coastal Areas Hasneli, Yesi; Zahtamal, Zahtamal; Roni, Yunisman; Putri, Syeptri Agiani
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS6.5035

Abstract

Stunting is a condition of growth failure in children due to chronic malnutrition during growth and occurs from the womb to the age of two years which has an impact on the physical, cognitive, social development of children. One of the causes of stunting is pregnant women who suffer from Gestational Diabetes. Objective: To conduct an early examination of pregnant women at risk of gestational diabetes in coastal areas. Method: Descriptive with purposive sampling approach. Data collection techniques, namely: Determine the research problem followed by a literature study. The implementation stage of the study was carried out by examining temporary blood sugar, blood pressure, weight, height, abdominal circumference, and arm circumference. Furthermore, a pretest was conducted to assess the level of knowledge of pregnant women regarding the prevention of stunting and understanding related to gestational diabetes. Data analysis with univariate analysis. Results and Discussion: The age of most respondents was 20-35 years (80.8%), Real-time Blood Sugar: > 125 mg/dL (30.7%), 101-125 mg/dL (40.4%) and < 101 mg/dL (28.8%). Systolic Blood Pressure was mostly in the range of 90-120 mmHg (57.7%), Diastolic Blood Pressure 60-90 mmHg (86.5%). The Body Weight of most respondents was 35-60 Kg (55.8%), Respondents Height was 151-168 cm (53.8%), Abdominal Circumference about 92-107 cm (61.5%) and Arm Circumference was 21-27 cm (63.4%). Conclusions: Gestational diabetes can be one of the factors causing the birth of stunted children. Therefore, early examination is needed in pregnant women to find out health problems so that they can be prevented as early as possible such as conducting examinations, blood sugar, blood pressure, weight, height, arm circumference and conditions during pregnancy. Suggestion: Early detection of pregnant women is very important in health facilities such as health centers and hospitals. This right can determine the health condition of pregnant women and identify health problems early, so as to prevent complications. Efforts that can be made include managing a healthy diet, maintaining nutrition for the fetus during pregnancy and are expected to prevent the risk of gestational diabetes complications such as the birth of stunted children.
Hubungan Pola Makan, Kualitas Tidur, dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Hemoglobin Mahasiswa Tingkat Akhir Prahiba, Tisna; Roni, Yunisman; Nopriadi, Nopriadi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.18791

Abstract

Pendahuluan: Mahasiswa tingkat akhir, yang berada dalam tahap awal masa dewasa, sering mengalami gangguan tidur, pola makan yang buruk, tingkat aktivitas fisik yang rendah, dan penurunan kadar hemoglobin. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara pola makan, kualitas tidur, dan aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Keperawatan, Universitas Riau. Metode: Penelitian cross-sectional ini dilakukan dari 23 April hingga 14 Mei 2024, menggunakan teknik total sampling dengan 114 responden. Data diperoleh  menggunakan PSQI, GPAQ, SQ-FFQ, dan alat Point Care of Testing untuk pemeriksaan kadar hemoglobin. Analisis penelitian digunakan Uji Spearman’s Rho. Hasil: Penelitian ini menemukan hubungan yang signifikan antara pola makan dan kadar hemoglobin (nilai p = 0.000, r = 0.762), kualitas tidur dan kadar hemoglobin (nilai p = 0.001, r = 0.302), serta aktivitas fisik dan kadar hemoglobin (nilai p = 0.024, r = 0.211). Kesimpulan: Pola makan yang buruk, kualitas tidur yang rendah, dan tingkat aktivitas fisik yang rendah berhubungan dengan kadar hemoglobin yang rendah pada mahasiswa tingkat akhir.
Hubungan Self Efficacy dan Self Care terhadap Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Stroke Suduri, Nurmisbah; Roni, Yunisman; Woferst, Rismadefi
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 3 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i3.19325

Abstract

Background: Stroke can affect a person's physical and psychological condition, emphasizing the importance of self-efficacy and self-care in an effort to improve their quality of life. The purpose of this study was to determine the relationship of self efficacy and self care to quality of life in post-stroke patients in the neurology clinic. Methods: This study is a quantitative study using descriptive and correlative research design with cross sectional approach. The sample in this study was 103 people using non-probability sampling techniques. Data collection using questionnaires and analysis used is spearman rho and kruskal wallis test. Results: The majority of respondents had a moderate level of self efficacy, namely 75 people (72.8%), self care in the independent category as many as 40 people (38.8%), and poor quality of life as many as 54 people (52.4%). %). The results of the Spearman Rho test showed that there was a relationship between self efficacy and the quality of life of post-stroke patients with a p value of 0.000 (p < 0.005), and there was also a relationship between self care and the quality of life of post-stroke patients with a p value of 0.000 (p < 0.005). The results of the Kruskal-Wallis test obtained a p value of 0.000 (p < 0.005) which means that there is a relationship between self efficacy and self care on the quality of life in post-stroke patients. Conclusion: there is a relationship between self efficacy and self care on the quality of life in post-stroke patients. Suggestions: health workers, especially nurses, are expected to not only provide physical care to post-stroke patients, but also pay attention to their psychological conditions through health education that emphasizes the importance of self efficacy and good self care practices to improve their quality of life.
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Pemanfaatan Spray Anti Nyamuk Berbahan Alami Untuk Menghindari Gigitan Nyamuk dan Penyakit DBD Roni, Yunisman; Ari Rahmat Aziz; Masrina Munawarah Tampubolon; Nurhanifa Rizky Tampubolon; Niken Yuniar Sari; Nia Khusniyati
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 7 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v7i2.2070

Abstract

Latar Belakang: Lahan basah merupakan ekosistem yang kaya akan keanekaragaman hayati, namun juga menjadi habitat yang ideal bagi berbagai vektor penyakit, terutama nyamuk. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat Kelurahan Pebatuan sepakat bahwa jumlah nyamuk di daerah kelolaan sangat mengganggu dan kondisi got yang sangat kotor perlu ditangani. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menghindari gigitan nyamuk dan penyakit DBD Metode: Penyuluhan dan demonstrasi pembuatan spray anti nyamuk berbahan alami yakni kulit jeruk nipis, serai, cengkeh, dan campuran minyak zaitun. Hasil: Meningkatnya pengetahuan warga mengenai DBD perihal pemanfaatan spray anti nyamuk berbahan alami dengan adanya peningkatan sebesar 31,4 poin. Dan warga aktif melakukan pencegahan DBD dengan membersihkan lingkungan sekitar, penyuluhan yang dilakukan memperoleh respon positif dari masyarakat Kesimpulan: Pada kegiatan pengabdian ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pencegahan DBD melalui pemanfaatan spray anti nyamuk berbahan alami serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya berkelanjutan dalam mengurangi risiko penyebaran penyakit
Pemberdayaan Lansia Dengan Hipertensi Melalui Latihan Aktivitas Fisik Di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Khusniyati, Nia; Yunisman Roni; Wardatul Uyuni; Wiwiek Delvira
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 7 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v7i2.2083

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang prevalensinya tinggi pada kelompok lanjut usia serta berperan signifikan dalam timbulnya komplikasi kardiovaskular. Salah satu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dalam penatalaksanaan hipertensi adalah rendahnya tingkat aktivitas fisik. Tujuan: untuk memberdayakan lansia dalam melakukan aktivitas fisik dalam menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Metode: pelaksanaan pengabdian masyarakat berupa pembelian Latihan fisik pada lansia dengan tujuan menurunkan tekanan darah yang terdiri dari tahap I: sharing materi perihal pentingnya aktivitas fisik terhadap tekanan darah sebanyak 1 kali pertemuan dan tahap II berupa kegiatan pelatihan aktivitas fisik berupa senam lansia 1 hari seklai dilakukan selama 3 kali seminggu dan diukur tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan senam lansia. Hasil: kegiatan ini menghasilkan meningkatnya pengetahuan lansia perihal pentingnya aktivitas fisik berupa senam lansia terhadpa tekanan darah dan menurunnya tekanan darah pada lansia yang menderita hipertensi. Kesimpulan: lansia dengan hipertensi sudah mampu melakukan aktivitas fisik untuk menurunkan tekanan darah dan mempraktekkan senam lansia secara mandiri ataupun golongan (secara bersama-sama dengan lansia yang lain).
Hubungan Pemberian Makan Orang Tua Terhadap Pola Makan Anak Usia Prasekolah Saputri, Lutfiani Indri; Safri, Safri; Roni, Yunisman
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.3729

Abstract

Anak usia prasekolah berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sehingga membutuhkan asupan gizi yang seimbang dan adekuat. Namun, pola pemberian makan orang tua yang tidak tepat dapat memengaruhi kebiasaan makan anak dan berdampak terhadap status gizinya. Pemberian makan yang tepat dapat dilihat dari seberapa sering orang tua memberikan makanan, jenis atau jumlah makanan yang diberikan kepada anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola pemberian makan orang tua dengan pola makan anak usia prasekolah di wilayah kerja Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 97 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas anak perempuan sebanyak 42 responden (43%) dengan pola makan baik, dan laki-laki sebanyak 33 responden (34%) dengan pola makan baik. Orang tua yang memberikan pola makan dengan tepat sebanyak 79 responden (81%) dan sebagian besar anak memiliki pola makan yang baik sebanyak 74 responden (76%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan orang tua dengan pola makan anak usia prasekolah, dengan nilai p = 0,000 (alpha < 0,1). Terdapat hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan orang tua dengan pola makan anak usia prasekolah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan acuan dalam praktik keperawatan komunitas, serta memberikan rekomendasi kepada orang tua dalam menerapkan pola pemberian makan yang tepat guna mencegah masalah gizi pada anak usia prasekolah.
PELATIHAN TEKNIK RELAKSASI BENSON DALAM UPAYA MENGATASI SULIT TIDUR PASKA OPERASI BEDAH JANTUNG Nia Khusniyati; Tuti Herawati; Amelia Amelia; Hermin Esti Dyaningtyas; Yunisman Roni; Dewi Sartika
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.41447

Abstract

Pasien pasca-bedah jantung sering mengalami keluhan seperti nyeri, kecemasan, dan kesulitan tidur, yang dapat memengaruhi pengobatan, proses penyembuhan, dan kualitas hidup mereka. Tidur yang berkualitas membantu menjaga keseimbangan sistem endokrin dan kekebalan tubuh. Teknik Relaksasi Benson, yang terkenal sebagai salah satu teknik relaksasi otot, berfungsi dengan mengatur hipotalamus, mengurangi rangsangan simpatis dan parasimpatis, serta efektif dalam meningkatkan fungsi pernapasan, denyut nadi, dan beban kerja jantung, sehingga memperbaiki kualitas tidur.. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan teknik relaksasi benson terhadap pasien paska bedah jantung, dengan teknik pelaksanaan terdiri dari tahap I: sharing materi 1 kali pertemuan kepada pasien paska bedah jantung dan tahap II berupa kegiatan pelatihan kepada pasien paska bedah jantung yang terdiri dari pemberian pengetahuan dan simulasi keterampilan 2 kali pertemuan. Dampak yang dihasilkan adalah meningkatnya pengetahuan dan keterampilan pasien paska bedah jantung tentang teknik relaksasi benson sehinga skor pengetahuan perihal kualitas tidur meningkat dan meningkatnya keterampilan pasien paska bedah jantung yang semula tidak terampil menjadi terampil dalam melakukan teknik relaksasi benson. Pasien  sudah mampu melakukan teknik relaksasi benson dan mempraktekkan secara mandiri.
Hubungan Stres Terhadap Kualitas Tidur Pada Keluarga Yang Merawat Penderita Kanker Payudara Sella Nuraini; Nurul Huda; Yunisman Roni
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.675

Abstract

Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan utama dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga pada keluarga yang merawatnya. Keluarga memiliki peran penting dalam proses perawatan, namun tanggung jawab tersebut sering menimbulkan stres dan gangguan tidur yang dapat memengaruhi kemampuan mereka memberikan perawatan optimal. Namun, penelitian mengenai hubungan antara stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat pasien kanker payudara di Indonesia masih terbatas, terutama di lingkungan rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara di rumah sakit. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 79 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Kriteria inklusi meliputi keluarga inti pasien berusia ≥18 tahun, memberikan perawatan langsung minimal 4 jam per hari, telah merawat pasien kanker payudara stadium III atau IV lebih dari satu bulan, dan bersedia menjadi responden. Data dikumpulkan menggunakan skala stres dan kuesioner kualitas tidur, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil menunjukkan 38 responden (48,1%) mengalami stres berat dan 51 responden (64,6%) memiliki kualitas tidur buruk, dengan hubungan signifikan antara stres dan kualitas tidur (p-value = 0,007 < 0,05). Semakin tinggi tingkat stres, semakin buruk kualitas tidur keluarga. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara stres dengan kualitas tidur pada keluarga yang merawat penderita kanker payudara