Claim Missing Document
Check
Articles

Media Pembelajaran Kartu Poin dalam Meningkatkan Minat Belajar dan Kedisiplinan Siswa pada Pembelajaran PAK Priskila Issak Benyamin; Dalmasius Filemon; Aser Lasfeto; Frans Pantan; Gernaida Krisna Rosiminta Pakpahan
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 14, No 2 (2023): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v14i2.11829

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat di sekolah ini bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas minat belajar dan sikap disiplin siswa kelas VII melalui media pembelajaran kartu poin di SMP Negeri 7 Bonti. Subyek kegiatan ini adalah siswa yang duduk di kelas VII SMP Negeri 7 Bonti, di mana sembilan siswa digunakan sebagai subjek yang menerima tindakan. Kegiatan ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas dengan menekankan pada pemberian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan dan pengisian lembar evaluasi yang dilakukan siswa pada akhir pertemuan. Hasil kegiatan KKN yang telah dilaksanakan menunjukkan adanya peningkatan minat belajar dan kedisiplinan siswa duduk di kelas VII. Terdapat perubahan hasil belajar siswa yang signifikan dari kondisi awal dan situasi akhir melalui media pembelajaran kartu poin. Rata-rata siswa mengalami peningkatan kedisiplinan dan prestasi belajar yang terlihat dengan mulai rutin membawa alkitab, berpakaian rapi, aktif bertanya dan mengemukakan pendapat, serta kerjasama yang baik antar anggota kelompok dan pencapaian KKM dalam pembelajaran di kelas.
Dapatkah Perjumpaan Dengan Allah Terjadi Melalui Teknologi? Ricky Nelson Tampubolon; Timotius Shandery; Gilbert Emanuel Lumoindong; Gernaida K. R. Pakpahan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.341 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.9750

Abstract

Perjumpaan dengan Allah dialami oleh seseorang sebagai perwujudan dari kasih Allah yang dinyatakan secara unik dan spesifik kepada pribadi tersebut. Perjumpaan dengan Allah tersebut dibuktikan dengan terjadinya perubahan dalam diri pribadi yang mengalaminya. Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan mengamati fenomena yang ada, dituliskan pengalaman dari dua orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah melalui teknologi (siaran TV dan video YouTube) yang tervalidasi dengan terjadinya perubahan hidup dari dua pribadi ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan adanya fenomena perjumpaan dengan Allah yang terjadi dengan perantaraan teknologi. Sebagai kesimpulan penulis memaparkan saran-saran untuk pelayan Tuhan yang ingin melayani pemberitaan Injil melalui media teknologi.
Ketika Mendidik Anak dengan Kekerasan Tak Lagi Efektif: Meninjau Kembali Teks-teks Corporal Punishment pada Anak dalam Kitab Amsal Menggunakan Lensa Psikologis dalam Konseling Pastoral Gernaida Krisna R. Pakpahan; Eunike Wirawan; Andreas L. Rantetampang
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.470

Abstract

Children are in the most vulnerable position to experience injustice, neglect, suffering, and violence. Corporal punishment is a form of physical discipline, such as whipping or hitting, considered acceptable as a punishment for transgressions. Many religious figures, parents, and teachers justify this form of discipline, viewing it as a right of authority, sanctioned by the Book of Proverbs. Certain verses in the Book of Proverbs (e.g., Prov. 10:13; 13:24; 14:3; 23:13-14; 26:3) appear to legitimize education through violence on children. This stance appears to contradict research findings over the decades, stating that physical punishment yields more harm than good. This article attempts to revisit the verses on child violence in the Book of Proverbs using a psychological lens in pastoral counseling studies. Employing inductive reasoning and hermeneutics, it will be shown that corporal punishment verses in the Book of Proverbs fundamentally have a cultural context of their time and should be approached with caution in contemporary application. This is also due to psychological studies indicating that violence towards children, possibly intended as a form of education, leads to negative effects on their psychological development. Thus, the research thesis statement is that texts on child violence in the Book of Proverbs, when viewed through a psychological lens in pastoral counseling, necessitate a reevaluation of how parents educate children without violence. 
Sastra Satire Kitab Yunus: Analisis Naratif Prolog dan Epilog Kitab Yunus Muryati Muryati; Gernaida Pakpahan; Junifrius Gultom
SOTIRIA (Jurnal Theologia dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 3, No 2: Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan, Sumatra Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47166/sot.v3i2.25

Abstract

The anomaly of Jonah's attitude in rejecting God's call (Jonah 1) and his anger at Nineveh's conversion caused various opinions on the genre of his book. This encourages the need to produce new findings to narrow the view of experts by placing the book of Jonah as satire literature. The purpose of this research is to describe the satire elements contained in the prologue and epilogue of the book of Jonah. The method used in this research is a narrative approach using a modified method that departs from the four narrative elements namely the narrator, character (characterization), point of view, and storyline then combined with some elements of general interpretation in it. through the narrative analysis method, the researcher sees the text as a "mirror" that projects a certain picture, namely the world of narratives that provides benefits to explore the forms and elements of the prologue and epilogical satire texts of the book of Jonah. The results showed that Irony underlies all elements of satire spread in articles 1 and 4. Researchers classify the elements of irony as personification, repetition, hyperbole, sarcasm, paronomasia, and parody. These characteristics indicate Jonah 1 and 4 are narratives containing satire. The implication of the teaching of the church by referring to the didactic values in the satire of the story of Satire Jonah can be used as a reference for learning the truth of God's Word. Abstrak Anomali sikap Yunus dalam menolak panggilan Tuhan (Yunus 1) dan kemarahannya pada pertobatan Niniwe menimbulkan beragam pendapat pada genre kitabnya. Hal ini mendorong adanya kebutuhan untuk menghasilkan temuan baru guna mempersempit pandangan para pakar dengan menempatkan kitab Yunus sebagai sastra satire. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur satire yang terdapat dalam prolog dan epilog kitab Yunus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan naratif menggunakan modifikasi metode yang berangkat dari empat unsur narasi yaitu narator, karakter (penokohan), sudut pandang, dan alur cerita lalu dikombinasikan dengan beberapa elemen penafsiran umum di dalamnya. melalui metode analisis naratif peneliti melihat teks sebagai sebuah “cermin” yang memproyeksikan gambaran tertentu, yaitu dunia narasi yang memberikan manfaat untuk mengeksplorasi bentuk dan unsur satire teks prolog dan epilog dari kitab Yunus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ironi mendasari semua unsur satire yang tersebar di pasal 1 dan 4. Peneliti mengelompokkan unsur ironi adalah personifikasi, repetisi, hiperbola, sarkasme, paronomosia dan parodi. Karakteristik ini mengindikasikan Yunus 1 dan 4 adalah narasi yang mengandung satire. Implikasinya terhadap pengajaran gereja dengan merujuk pada nilai-nilai didaktis dalam satire kisah Satire Yunus dapat dijadikan rujukan untuk mempelajari kebenaran Firman Tuhan.
PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN DI MASYARAKAT TIMUR TENGAH KUNO Gernaida Krisna R. Pakpahan; Onnie Lumintang
Diegesis : Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): DIEGESIS: JURNAL TEOLOGI
Publisher : Bethel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46933/DGS.vol9i11-30

Abstract

Women are always in a dilemma in the postmodern era. For those with a positive view, women are seen as having skills that men do not have. However, from the negative side, women are seen as inferior and weak. The feminist movement, which has spread to all levels of society, is also seen as the wrong response. Therefore, studies are needed that show women's education from ancient sources, namely the Ancient Middle East, which was the ancestor of Christianity, as the context for the birth of the religion of Israel. The research method used was descriptive qualitative. The research results show that women's participation in education in Ancient Middle Eastern society is evident. Even though they live in a patriarchal environment in Israel, women play a role in family, law, kinship, and religion in Ancient Middle Eastern society. The presence of women has colored the various roles of society at that time
Meneropong Efek Domino Pendidikan Karakter Imam Eli dan Samuel dalam Perjanjian Lama Tambunan, Tamara Maria Geraldine; Pakpahan, Gernaida Krisna R.
DIDAKTIKOS: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 7, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : STIPAK Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32490/didaktik.v7i1.209

Abstract

This study explores the parenting styles of Priest Eli and Samuel in the context of the Old Testament and their relevance to contemporary child-rearing practices. Using a qualitative method with a narrative approach and library research, this study examines biblical narratives that depict the interactions and parenting provided by Eli and Samuel to their children. The results show that Priest Eli's failure to discipline his children, Hophni and Phinehas, led to severe consequences in their lives and their service before God. Although Samuel succeeded as a respected spiritual leader, he faced similar failures in raising his children, Joel and Abijah. This study highlights the importance of balanced discipline and affection in parenting and the unique challenges faced by the families of God's servants. The findings are expected to contribute significantly to developing a more effective and comprehensive character education curriculum and inspire educators and policymakers to design educational strategies that shape young generations with strong moral and ethical values.
Roh Kudus dan Spiritualitas Navigator: Memetakan Karya Roh Kudus bagi Orang Percaya dalam Penggunaan Teknologi di Era Disrupsi Digital Pakpahan, Gernaida Krisna R.; Tangkas, Riki Leonardo
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10, No 2: Juni 2024
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v10i2.178

Abstract

This research explores the role of the Holy Spirit as a spiritual navigator in using digital technology. As the third person of the Trinity, the Holy Spirit functions as a teacher and guide who provides wisdom and knowledge to believers. In the era of continuously developing digital technology, the role of the Holy Spirit has become increasingly relevant. Information and communications technology offers broad access to spiritual resources but challenges filtering correct and valuable information. The Holy Spirit assists believers in evaluating this information and utilizing technology to strengthen their faith community and deepen their spiritual lives. This study uses a qualitative approach with an analysis of theological literature to dig deeper into how the wisdom and knowledge of the Holy Spirit can be applied in everyday life in the digital era. The results show that with the guidance of the Holy Spirit, believers can navigate the complexities of the digital world wisely, utilize technology for spiritual growth, and remain faithful to their spiritual goals. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi karya Roh Kudus sebagai spiritual navigator dalam penggunaan teknologi digital. Roh Kudus, sebagai pribadi ketiga dari Tritunggal, berfungsi sebagai pengajar dan pembimbing yang memberikan hikmat dan pengetahuan kepada orang percaya. Dalam era teknologi digital yang terus berkembang, karya Roh Kudus menjadi semakin relevan. Teknologi informasi dan komunikasi menawarkan akses yang luas ke berbagai sumber daya rohani, namun juga menghadirkan tantangan dalam menyaring informasi yang benar dan bermanfaat. Roh Kudus membantu orang percaya dalam mengevaluasi informasi ini dan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat komunitas iman dan memperdalam kehidupan spiritual mereka. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur teologis untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana hikmat dan pengetahuan dari Roh Kudus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bimbingan Roh Kudus, orang percaya dapat menavigasi kompleksitas dunia digital dengan bijaksana, memanfaatkan teknologi untuk pertumbuhan rohani, dan tetap setia pada tujuan spiritual mereka.
IMPLEMENTASI INERANSI DAN HARMONISASI DALAM PENAFSIRAN ALKITAB: MENGANALISIS DIVERGENSI DAN KONVERGENSI TEOLOGIS DALAM KONTEKS PRAKTIS Suratman, Efesus; Pakpahan, Gernaida Krisna R
Jurnal STT Gamaliel Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Gamaliel Vol. 6 No. 1 Maret 2024
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v6i1.259

Abstract

Penafsiran Alkitab merupakan aspek sentral dalam pemahaman teologi dan keyakinan Kekristenan. Penelitian ini mempelajarai peran ineransi dan harmonisasi dalam penafsiran Alkitab dengan fokus pada pemahaman divergensi dan konvergensi teologis. Masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana konsep ineransi dan usaha harmonisasi memengaruhi interpretasi Alkitab dan sejauh mana perbedaan teologis dapat disatukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap tulisan teologis terkait ineransi dan harmonisasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mendalami pemahaman tentang dinamika divergensi dan konvergensi teologis dalam penafsiran Alkitab, menggali peran ineransi dan harmonisasi dalam pemikiran keagamaan, dan mengeksplorasi bagaimana konsep-konsep ini memengaruhi persepsi terhadap otoritas Alkitab dan pemahaman iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ineransi dapat diimplementasikan sebagai landasan yang kokoh dalam menghadapi perbedaan teologis yang signifikan, dan serta harmonisasi berusaha menyatukan perspektif tersebut. Meskipun ada divergensi, terdapat juga konvergensi teologis di antara pemikiran yang beragam.
Eksistensi bahasa lidah dalam perspektif Pentakosta pada gereja masa kini Suparyadi, Zakharia; Pakpahan, Gernaida; Tumbelaka-Wieland, Josephine Mariana
Davar : Jurnal Teologi Vol 4, No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekola Tinggi Teologi Sangkakala Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55807/davar.v4i2.109

Abstract

ABSTRACTTongue language (glossolalia) is a spiritual gift that has become a phenomenon in Christian spiritual life. This phenomenon has been associated with almost all revival movements within the Christian church, including the charismatic renewal movement. The use of tongues in worship, not a few frictions lead to divisions; some see it as a sign, while others see it as a mere gift. The focus and objective of this article is to explore the implementation of glossolalia in the contemporary church from the perspective of Pentecostal philosophy. The method used in this study is an analysis of the history of tongues in the early Church era with a qualitative approach. An approach method in philosophy that focuses on proof (verification) where in order for a statement to have meaning it must really be defined (analytical) or provable (synthetic). Pentecost was the beginning of God pouring out the Holy Spirit on the church and 120 of them started speaking in other languages/tongues and continued in the early church in the Acts of the Apostles (ontology). Tongues is a gift of the Holy Spirit which is given according to His will to believers to carry out their functions in the body of Christ according to His call. When someone speaks in tongues, he is not actually speaking himself, but it is the Spirit within him who is speaking (epistemology). The benefits of speaking in tongues are as follows: the language of prayer, as a means of self-development, and building emotional intelligence and to communicate with God (axiology).Keywords: existence, tongues, pentecost, church.ABSTRAKBahasa lidah (glossolalia) merupakan salah satu karunia rohani yang telah menjadi fenomena di dalam kehidupan spiritual kristen. Fenomena ini telah dihubungkan dengan hampir semua gerakan kebangkitan dalam gereja Kristen, termasuk di dalamnya gerakan pembaharuan kharismatik. Penggunaan bahasa lidah dalam ibadah, tidak sedikit friksi berujung pada perpecahan; ada yang menganggapnya sebagi tanda, dan sebaliknya melihatnya sekadar karunia semata. Fokus dan Tujuan artikel ini adalah mengeksplorasi implementasi glosolalia pada gereja masa kini dari sudut pandang Filsafat Pentakosta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis terhadap sejarah bahasa lidah era Gereja mula mula dengan pendekatan metode Kualitatif. Suatu metode pendekatan dalam filsafat yang memusatkan perhatian pada pembuktian (verifikasi) dimana supaya pernyataan mempunyai arti ia harus benar-benar dapat didefinisikan (analitis) atau dapat dibuktikan (sintetis). Pentakosta merupakan awal Tuhan mencurahkan Roh Kudus ke atas gereja dan 120 dari mereka mulai berbicara dalam bahasa lain /lidah dan terus berlanjut pada gereja mula-mula di Kisah Para Rasul (ontologi). Bahasa lidah merupakan karunia Roh Kudus yang diberikan seturut kehendak-Nya kepada orang percaya untuk menjalankan fungsinya di dalam tubuh Kristus sesuai dengan panggilan-Nya. Seseorang ketika mengucapkan bahasa lidah, sebenarnya ia tidak sedang berbicara sendiri, melainkan Roh yang ada di dalam dirinya itulah yang berbicara (epistemologi). Manfaat bahasa lidah sebagai berikut: sebagai bahasa doa, sebagai sarana membangun diri sendiri, dan membangun kecerdasan emosional dan untuk berkomunikasi dengan Allah (aksiologi).Kata kunci: eksistensi, bahasa lidah, pentakosta, gereja.
Membaca 2 Tawarikh 7:14 dalam Konteks Kebangunan Rohani di Kabupaten Supiori, Papua Ferra Wanggai; Gernaida Krisna R. Pakpahan
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 2: November 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study investigates the potential of intercessory prayer, as outlined in 2 Chronicles 7:14, as a transformative strategy for advancing Supiori Regency, recognized as the "Island of the Gospel." Intercessory prayer, which emphasizes humility, seeking God, and collective repentance, is pivotal in addressing the region's social, economic, and spiritual challenges. With a poverty rate nearing 40%, the integration of spiritual transformation through intercessory prayer with local cultural values—such as respect, unity, and mutual cooperation—serves as a foundation for fostering social harmony and community well-being. Employing a descriptive qualitative approach, this study utilizes theological hermeneutic analysis to assess the implementation of Gospel principles in societal governance and administration. The findings reveal that intercessory prayer functions as a catalyst for restoring spiritual connections with God while simultaneously strengthening social solidarity. Moreover, intercessory prayer provides a framework for local leaders to develop policies grounded in justice and communal welfare. The integration of prayer practices with cultural values presents a model for spiritual and social transformation applicable to other regions, aligning with Supiori's vision of becoming a harmonious, inclusive, and empowered society.